
EPISODE 9 KECURIGAAN (part 1)
Malam hari, kediaman Arora, Chemira dan Fimela.
“Huh, bikin kesal saja.” Gerutu Arora. “Sudahlah, Arora.” Ucap Chemira menenangkannya. “Aku benar-benar kesal. Dia bersikap seenaknya saja. Benar-benar menyebalkan.” Ucap Arora yang masih ingin melampiaskan kekesalannya.
Seperti biasanya, kegiatan mereka setiap malam adalah berkumpul bersama dengan tujuan untuk membahas tentang misi dan rencana mereka untuk kedepannya. “Daripada memikirkan hal itu, aku lebih tertarik untuk membahas informasi baru yang telah White kirimkan padaku.” Ucap Chemira untuk mengalihkan fokus kedua sahabatnya itu kepadanya. “Informasi baru apa?” Tanya Fimela. “Aku akan kirimkan file nya pada kalian sekarang juga.” Jawab Chemira. “Informasi ini berkaitan dengan Delvin.” Sambung Chemira.
“Hanya ini saja?” Tanya Arora. “Hanya ini saja? Ada apa dengan kemampuan analisa mu?” Celetuk Chemira. “Chemira benar, Arora. Apa yang terjadi pada kemampuan analisa mu? Apa kepalamu terbentur sesuatu?” Ucap Fimela dengan candaan yang dipaksakan. Mendengar ucapan kedua sahabatnya itu, Arora sontak mengarahkan seluruh fokus nya kepada file yang ada didepannya. “Apa yang kalian dapatkan dari informasi ini? Ini hanya biodata diri biasa.” Ucap Arora dengan raut wajah bingung. “Perhatikan bagian informasi orang tua dan riwayat pendidikannya.” Jawab Chemira. “Kau akan menemukan sesuatu yang ganjal sekaligus menguntungkan disana.” Sambung Fimela.
Keesokkan hari nya,
Arora, Chemira dan Fimela sedang duduk termenung di bawah salah satu pohon cherry di taman belakang sekolahnya. Hari masih pagi, sehingga keadaan taman saat ini tidak sedang ramai. Ditengah lamunan mereka, tiba-tiba ada orang yang datang menghampiri mereka. “Hey, kalian sedang apa pagi-pagi disini?” Tanya Nicholas. Mendengar suara Nicholas, membuat lamunan mereka buyar seketika. “Ah? Apa?” Tanya Arora. “Kalian sedang melamunkan apa pagi-pagi begini?” Tanya Nicholas sembari berusaha untuk terlihat bersahabat. “Maaf, itu privasi.” Jawab Arora singkat. “Jika kalian ada masalah, sebagai teman aku mungkin bisa membantu.” Balas Nicholas. “Maaf, bukannya kami ingin menolak niat baikmu. Tapi hal ini tidak ada hubungannya denganmu.” Jawab Chemira.
__ADS_1
“Ayo teman-teman. Bel masuk akan segera berbunyi. Kita harus bergegas menuju ke kelas.” Ucap Chemira sembari memimpin langkah menuju ke kelas, dan meninggalkan Nicholas sendirian disana. ‘Aih, kenapa sulit sekali?’ Batin Nicholas.
Saat bel istirahat berbunyi, menendakan bahwa waktu istirahat telah tiba. “Arora, bisakah kau membantu Ibu mengembalikan buku-buku ini ke perpustakaan?” Pinta Bu Yolanda. “Baik, bu.” Jawab Arora sembari mengangkat tumpukan buku yang lumayan berat.
Saat di perjalanan menuju perpustakaan, Arora masih terus memikirkan tentang masalah yang mereka hadapi kali ini. ‘Ini benar-benar rumit. Aku sampai tidak bisa memetakannya dengan benar. Dimanakah akar masalahnya? Siapa dalang dibalik semua ini? Terlalu banyak informasi baru, aku jadi tidak bisa mencerna nya dengan sempurna.’ Batin Arora. Karena fokusnya sedang teralihkan, Arora tidak sadar kalau ia berjalan menuju arah yang salah. Saat ia sadar sedang menuju arah yang salah, Arora segera memutar arahnya menuju ke arah yang berlawanan.
Tetapi, sesaat setelah memutar arah nya, ia menabrak sesuatu yang keras layaknya sebuah dinding kokoh. “Aduh!!” Seru Arora yang tengah berusaha berdiri. Buku-buku yang ia bawaa terjatuh, berserakan di lantai. “Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Mari, aku bantu berdiri.” Orang asing itu menawarkan bantuan untuk Arora, tetapi ia menolaknya. “Tidak tidak. Aku tidak apa-apa. Aku bisa berdiri sendiri.” Ucap Arora menolak bantuan dari orang yang baru saja menabraknya.
Saat sedang berusaha untuk berdiri, Arora merasa ada sesuatu yang aneh dengan kepalanya. Ia merasa sangat pusing, sehingga membuatnya terhuyung. Dengan sigap orang asing yang baru saja menabrak Arora, langsung menangkup tubuh Arora yang terkulai lemas. “Aku akan membawamu ke ruang kesehatan.” Ucap orang asing itu. “Tapi, bukunya…” Ucap Arora dengan suara tertahan. “Biar aku saja yang urus itu.” Ucap nya sembari menawarkan bantuan yang tak bisa Arora tolak.
‘Apa yang terjadi pada tubuhku? Kepalaku sangat pusing, pandangan ku semakin kabur.’ Arora tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Dan sekarang ia tidak tau harus berbuat apa. Hal yang dapat ia lakukan hanyalah menunggu orang asing yang sudah membantunya. Sejujurnya, Arora lebih mengharapkan bahwa Chemira atau Fimela yang akan datang. Tetapi mereka pasti sedang sibuk sekarang. Lagipula, Chemira dan Fimela tidak tau kalau Arora sedang dalam keadaan seperti ini. Terkulai lemas di ranjang ruang kesehatan dengan wajah yang pucat pasi serta kesadaran yang hampir lenyap.
Tak lama setelah itu, seorang lelaki dengan tubuh tegap dan wajah yang lumayan tampan membuka pintu ruang kesehatan dengan perlahan, karena ia tak ingin mengganggu istirahat seseorang. Saat ia sampai kedalam ruangan, ia mendapati Arora yang sedang tertidur pulas disana. Ia tak heran sama sekali akan hal itu, ia sudah menebak dari awal kalau Arora akan tertidur untuk mengembalikan stamina nya.
__ADS_1
Lelaki itu bergerak untuk mengambil kotak obat, lalu ia duduk di sebelah ranjang Arora untuk memeriksa keadaannya. Awalnya ia berniat untuk memanggil suster yang seharusnya berjaga di ruang kesehatan. Tetapi, salah satu staff sekolah mengatakan kalau suster sedang tidak bisa berjaga di ruang kesehatan karena sedang menjalankan tugas. Sebagai seorang anggota pengurus ruang kesehatan, ia diminta untuk menggantikan suster untuk berjaga.
Dan sekarang, sebagai penjaga pengganti, ia mulai untuk memeriksa keadaan Arora terlebih dahulu. ‘Kulit pucat, napas pendek, sakit kepala, detak jantung cepat.’ Batin lelaki itu sembari memeriksa kondisi Arora. “Anemia.” Ucap lelaki itu dengan nada pasti. Lalu, ia beranjak pergi dari tempat duduknya untuk mengambil beberapa suplemen. Sedetik kemudian, ia mendengar seseorang membuka pintu ruangan.
“Arora!” Ucap Chemira dan Fimela dengan nada panik. Lelaki itu sontak mengarahkan pandangan nya ke arah Chemira dan Fimela. “Tidak perlu panik seperti itu. Kondisinya tidak terlalu parah. Dan jangan terlalu berisik, dia perlu istirahat.” Ucap lelaki itu dengan nada serta ekspresi datar, kemudian ia kembali melanjutkan aktivitasnya sebelumnya, mencari suplemen yang ia butuhkan.
Chemira dan Fimela pun menuruti perkataannya. Mereka mengambil tempat duduk di sebelah ranjang Arora. “Siapa kamu? Bukankah seharusnya suster yang berjaga disini?” Tanya Chemira. “Aku pengurus ruang kesehatan. Suster sedang tidak ada, aku disini untuk menggantikannya. Kenapa? Kau tidak yakin dengan diagnosaku?” Jawab lelaki itu dengan ekspresi yang tidak dapat terbaca sama sekali.
********************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~