
EPISODE 26 IDE CEMERLANG
“Jadi itu misi detektifnya? Ibu serius?” Tanya Ignacio. “Ibu serius. Ini mudah untuk mu kan? Jadi lakukan saja.” Jawab bu Vivian. “Baiklah. Lalu apa misi jangka panjangnya?” Tanya Ignacio lagi. Bu Vivian melirik ke arah Luna.
“Pertama-tama, boleh Ibu meminta sesuatu? Luna, apa boleh?” Tanya bu Vivian kepada Luna. entah sejak kapan, Ignacio sudah berdiri di belakang bu Vivian. Ia memberi isyarat kepada Luna untuk tidak menerima permintaannya. Luna hanya terdiam bingung.
“Diam kau.” Ucap bu Vivian sembari menarik Ignacio untuk duduk disampingnya ditambah dengan senyuman maut yang mengerikan. “Jadi, bagaimana Luna?” Ibu Vivian kembali mengalihkan fokusnya pada Luna.
“Eh? Ah, aku..” Luna masih ragu, ia melirik ke arah Ignacio. “Tidak usah dengar kan bocah sialan ini jika kau tidak ingin berada dijalan yang sesat.” Ucap bu Vivian sembari mendorong Ignacio sampai ia terjatuh dari sofa. “Aduh, ini sakit. Kau selalu jahat padaku, bu.” Ucap Ignacio sembari mengelus pantatnya.
“Sudah, jadi bagaimana?” Tanya bu Vivian lagi. “Hm, baiklah. Apa permintaan ibu?” Jawab Luna. “Bagaimana kalau kau menjadi asisten ku? Kau bisa mendapatkan poin tugas sekaligus perlindungan. Kau juga bisa bekerja bersama dengan bocah sialan itu. Apa kau mau?” Tanya bu Vivian.
“Ah bu Vivian. Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak punya pengalaman sama sekali. Aku tidak ingin jadi beban.” Jawab Luna. “Ya ampun, nak. Kau bisa menjadikannya guru sementara jika kau tidak mengerti tentang sesuatu. Kau juga bisa mendapat perlindungan jika kau bersama dengannya.” Sambung bu Vivian.
“Jadi itu misi jangka panjang nya??” Tanya Ignacio. “Kenapa? Kau tidak mau? Apa kau mau jika gadis lugu nan polos seperti Luna terus menerus di ganggu oleh orang lain?” Tanya bu Vivian dengan sedikit nada mengancam.
“Haah, baiklah. Aku akan setuju jika Luna setuju.” Jawab Ignacio sembari menunggu keputusan Luna. “Eh? A-aku? Hm, ba-baiklah. Aku mau.” Jawab Luna sedikit malu-malu. Mendengar persetujuan Luna, bu Vivian bersorak ria di dalam hatinya. ‘Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya menjodohkan seseorang.’ Batin bu Vivian.
“Ehem, baiklah itu saja untuk hari ini. Ignacio kau harus memperlakukan adik kelasmu dengan baik dan benar. Kau mengerti?” Tanya bu Vivian. ‘Hah? Dengan baik dan benar?’ Pikir Ignacio. “Ignacio?” Panggil bu Vivian lagi-lagi dengan aura menyeramkan di sekelilingnya. “Ah, ba-baik bu. Aku mengerti.” Jawab Ignacio.
“Nah, Luna. kau juga harus baik-baik menjadi beban untuk kakak kelas mu itu. Jangan kecewa kan Ibu.” Ucap bu Vivian pada Luna. “Eh? Maksud Ibu.. ?” Pertanyaan Luna terhenti karena Ignacio menyela. “Bu, kurasa yang mengajak pada jalan yang sesat itu bukan aku.” Ucap Ignacio.
“Yah, apapun itu. Kalian harus selalu bersama. Sekarang kembalilah ke kelas kalian masing-masing.” Ucap bu Vivian sembari menuntun kedua orang itu menuju pintu keluar, lalu menutupnya kembali.
__ADS_1
Maafkan Ibu, Ignacio. Ibu hanya kasihan melihat mu yang sering berbicara sendiri. Ibu khawatir dengan kondisi mentalmu jika kau terus menerus seperti itu. Jadi Ibu harap perjodohan ini berjalan lancar.
Di luar ruang konseling,
“Apa maksud bu Vivian tadi ya?” Gumam Luna. “Tidak usah terlalu dipikirkan. Itu hanya akan membuat kepalamu pusing memikirkannya.” Jawab Ignacio tiba-tiba. Keheningan melingkupi mereka selama beberapa waktu, hingga Luna memecahkannya dengann sebuah pertanyaan.
“Senior, seperti yang pernah aku sampaikan, bolehkah aku memberimu nama panggilan?” Tanya Luna. “Boleh, panggil aku dengan sebutan apa saja yang kau mau.” Jawab Ignacio. Luna berpikir sejenak untuk menentukan nama panggilan yang cocok untuk seniornya itu.
“Bagaimana kalau aku memanggilmu ‘kak cio’? itu lebih pendek dan mudah diucapkan.” Tanya Luna meminta persetujuan. “Sudah kubilang bukan? Kau bisa panggil aku apa saja. Jadi jangan bertanya lagi.” Jawab nya dengan rona merah di wajahnya.
“Hehe, baiklah kak Cio.” Ucapnya dengan senyum manis yang tulus. Ignacio hanya membalasnya dengan senyuman yang sama hangatnya.
“Oh ya, kak. Sebenarnya aku masih punya banyak pertanyaan tentang poin tugas itu. Boleh aku bertanya?” Ucap Luna menyuarakan pikirannya. “Tanyakan saja. Tapi jangan beritahu siapa-siapa ya? Ini masih rahasia.” Jawab Ignacio setengah berbisik.
“Tunggu, kenapa kau yakin jika aku juga mendapat poin dari orang lain selain bu Vivian?” Tanya Ignacio. “Aku tidak akan percaya jika poin kakak hanya dari bu Vivian saja, walaupun jika kakak sendiri yang bilang begitu aku juga tetap tidak akan percaya.” Jawab Luna dengan yakin.
“Baiklah, baiklah. Biar aku jawab. Bu Vivian hanya bisa memotong poin yang ia berikan sendiri, ia tidak bisa memotong poin yang diberikan oleh orang lain. Dan jika bu Vivian benar-benar melakukan itu pada poin ku, maka aku akan kehilangan hampir setengah dari poin yang telah aku kumpulkan selama ini. Tentu saja ini karena sebagian besar poinku berasal dari bu Vivian.” Jawab Ignacio dengan santainya.
“Oh, begitu. Lalu untuk apa kita mengumpulkan poin tugas itu?” Tanya Luna lagi. “Kau perlu mengumpulkan poin sebanyak-banyak nya, karena selain nilai dan prestasi, poin itu juga merupakan syarat dari kelulusan.” Jawab nya.
“Apakah ada batasan tertentu dari poin tugas itu sebagai syarat kelulusan?” Tanya luna. “Ada, tapi tidak tetap. Batasannya bisa berubah-ubah tiap semesternya.” Jawab Ignacio.
… (sesi wawancara itu terus berlanjut dan baru akan berhenti ketika mereka telah sampai di tujuan) …
__ADS_1
Sesampainya di kelas 1C,
Saat ini di kelas nya Luna, tepatnya dikelas 1C sedang berlangsung mata pelajaran nya Pak Rey, guru paling killer di sekolah ini. “Permisi pak, saya mengantarkan Luna kembali ke kelasnya.” Ucap Ignacio. “Oh, masuklah.”
Luna segera masuk dan duduk di bangkunya. “Baiklah, aku permisi dulu pak.” Ucap Ignacio sembari membungkuk kan tubuhnya. “Tunggu, Ignacio.” Panggil pak Rey. “Ya? Ada yang bisa saya bantu pak?” Tanya Ignacio dengan penuh sopan santun.
“Mari kita bicara sebentar.” Ucap Pak Rey lalu ia keluar dari ruang kelas.
“Apa pak Rey akan memarahinya?” – Siswa A
“Mungkin iya, aku merasa kasihan pada senior. Ia tidak salah, yang seharusnya dimarahi itu si Luna. ia yang datang terlambat sehingga mengganggu pak Rey mengajar.” – Siswa B
Luna yang mendengar orang lain membicarakannya hanya diam dan tak melawan. Ia sudah biasa dikucilkan seperti itu.
Beberapa menit kemudian, pak Rey kembali masuk kekelas dengan senyum terkembang diwajahnya juga aura hangat yang melingkupinya. Semua orang dikelas heran dengan perubahan ekspresi dan aura yang tidak disangka-sangka itu.
*******************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1