
EPISODE 16 APA YANG TERJADI?
Di ruang kesehatan,
“Bagaimana dengan mereka?” Tanya Delvin sembari menunjuk Arora dan Chemira. “Biarlah mereka istirahat.” Jawab Zhuzu singkat. Karena tidak ada yang bisa ia lakukan, Delvin memutuskan untuk membantu Zhuzu menyelesaikan pekerjaannya. “Apakah ini di susun disini?” Delvin mnegambil sebuah botol obat, kemudian memasukkan nya kedalam lemari.
“Ya, susun saja disana.” Jawab Zhuzu yang masih sibuk dengan laptop nya. Delvin memusatkan perhatiannya kepada pekerjaannya sekarang. Ia menyusun obat-obatan itu dengan rapih dan teliti. “Zhuzu, apa tidak apa-apa jika kau menggunakan obat racik keluarga mu di tempat terbuka seperti di sekolah?” Tanya Delvin. Zhuzu menghela napas panjang dibuatnya.
“Tidak masalah, kenapa kau peduli tentang itu?” Balas Zhuzu. Delvin membalik tubuhnya menghadap Zhuzu. “Tidak, aku hanya berpikir apakah tidak apa jika obat racikan turun temurun keluargamu di pakai begitu saja dengan percuma?” Jelasnya.
“Tidak apa. Selagi itu untuk kebaikan, tidak jadi masalah. Dan selama resep racikannya tidak tersebar, aku bisa membuat nya sesuka hatiku.” Jawab Zhuzu dengan santainya tanpa menoleh kearah Delvin. Delvin tampak berdiam diri untuk sejenak, “Baiklah. Lakukanlah sesukamu.” Balasnya singkat.
Mereka menetap dalam keheningan untuk beberapa saat, sampai Chemira hadir untuk memecahkan keheningan tersebut. “Hm? Mamah.” Gumam Chemira. Suara samar yang terdengar dari Chemira membuat Delvin dan Zhuzu mematung selama beberapa waktu.
Tak lama kemudian, Delvin mendekat dan duduk di sofa yang terletak di sebelah tempat tidur Chemira.
“Apa kau sudah bangun?” Tanya Delvin dengan suara lirih. Tetapi, Chemira tak memberikan respon. “Dia masih tidur rupanya.” Ucap Delvin. Delvin tetap duduk disana dalam diam, sembari memperhatikan Chemira. Sementara Zhuzu, memutuskan untuk menjadi figuran seperti biasanya.
Suhu di ruangan itu bisa dikatakan cukup rendah, sekitar 24°C. Karena merasakan hawa dingin yang menusuk tubuhnya, tanpa sadar Chemira bergerak memeluk tubuhnya untuk memberikan kehangatan kepada dirinya sendiri. Delvin yang memang sedari tadi memperhatikan setiap gerak-gerik Chemira, mengambil sebuah selimut yang tersedia disana kemudian menyelimuti Chemira hingga pundaknya.
“Bisa kau naikkan suhu ruangan nya? Aku sedikit merasa kedinginan.” Ucap Delvin pada Zhuzu. Kemudian Zhuzu bergerak menuju alat pengatur suhu ruangan yang ada disudut ruangan untuk menaikkan suhunya.
Di kantin,
“Apa kau begitu menikmati es krim itu?” Tanya Ivan kepada Fimela. Fimela hanya menjawab dengan anggukkan singkat. Ivan memiringkan kepalanya, “Apa aku tidak lebih baik dari es krim itu?” Ivan bertanya seolah ingin memastikan keberadaannya tak dilupakan disana. “Tidak, es krim yang terbaik.” Jawab Fimela dengan wajah polosnya. Ivan tersenyum, ia benar-benar merasa seperti berbicara dengan seorang anak kecil.
__ADS_1
Ketika Ivan sedang sibuk memperhatikannya, Fimela merasa sedikit tidak enak hati. “S-senior.” Panggil Fimela. “Ya? Ada apa?” Jawab Ivan dengan nada lembut. “Terima kasih, aku merasa lebih baik.” Ucap Fimela. “Tidak perlu sungkan seperti itu, aku bisa jaga rahasia.” Jawab Ivan tepat sasaran. Mendengar bahwa Ivan telah mengetahui maksudnya, Fimela tertunduk malu. “Hm, terima kasih senior.” Ucap nya. ‘Sepertinya ia sudah kembali pada dirinya sendiri.’ Batin Ivan.
“Fimela, boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Ivan kemudian. Fimela menatap nya dengan tatapan penuh tanya. “Apa?” Jawab nya. Ivan berdiam diri sejenak, ia merasa ragu untuk menyuarakan pertanyaan yang ada di pikirannya.
Sebelum Ivan sempat bertanya, Ibu kantin datang dengan membawa menu pesanan Ivan. “Ini makanan nya, silahkan dinikmati.” Ucap Ibu kantin. “Ah, terima kasih Bu.” Jawab Ivan. Ibu kantin melirik kearah Fimela, kemudian ia mendekat kearahnya. “Nak, boleh aku tau nama mu?” Tanya Ibu kantin pada Fimela. “Eh? Namaku Fimela, Bu.” Jawabnya. Ibu kantin mengangguk pelan. “Nama yang indah. Oh ya, sejak kapan kalian bersama?” Tanya Ibu kantin dengan sengaja menggoda nya.
“Hah? Bersama? Apa maksud…” Sebelum Fimela menyelesaikan kalimatnya, Ivan dengan cepat menyela. “Baru-baru ini, Bu. Belum terlalu lama.” Jawab Ivan dengan cepat. “Oh, kalau begitu semoga langgeng yah. Ibu pergi dulu.” Ucap Ibu kantin. Fimela yang tak mengerti arah pembicaraan mereka, hanya bisa berdiam diri.
Setelah Ibu kantin pergi, Fimela bertanya pada Ivan. “Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti.” Tanya Fimela. Ivan dilema antara keputusan untuk memberi tau nya atau tidak. ‘Apa aku harus beritahu dia?’ Batin Ivan. Fimela masih setia menunggu jawaban dari Ivan. Walaupun membutuhkan sedikit waktu tambahan baginya untuk berpikir, tapi pada akhirnya ia tetap memutuskan untuk memberi tau Fimela.
“Aku bilang pada Ibu kantin kalau kita pacaran. Apa kau tidak keberatan?” Tanya Ivan. Fimela tersedak karena mendengar hal mengejutkan seperti itu. “Apa? Ah, s-senior, k-kau.. kau pasti sedang bercanda kan?” Balas Fimela dengan kalimat terbata. Ivan menghela napas panjang sebelum ia melanjutkan kalimatnya.
“Aku tidak sedang bercanda, Fimela. Aku melakukan ini demi melindungimu.” Jawab Ivan dengan nada serius. Fimela kaget bukan main, ia tidak menyangka kalau seniornya akan berbuat nekat seperti ini. “Melindungi ku? Senior, maksudnya apa?” Tanya Fimela dengan nada menentang.
*flashback on*
“Haah, walaupun aku selalu diberikan banyak pekerjaan. Tapi jujur saja, aku merindukan sekolah ini.” Ucap Ivan. Ia memutuskan untuk berkeliling sekolah sembari melihat keadaan sekitar. Selagi ia berkeliling, tanpa disengaja ia mendengar percakapan beberapa orang siswa.
“Hey, apa kalian tau? Tadi aku sempat bertemu dengan adik-adik kelas yang cantik dan popular itu.” – Siswa A
“Benarkah? Apa mereka secantik yang dirumorkan?” – Siswa B
“Ya, mereka sangat cantik. Kau akan langsung jatuh kedalam pesonanya jika kau melihatnya.” – Siswa A
“Wah, aku jadi penasaran seperti apa mereka.” – Siswa C
__ADS_1
“Tapi aku rasa Delvin dari kelas 2A tertarik pada salah satu dari mereka.” – Siswa A
“Yang mana? Kita harus berhati-hati jika memang itu benar.” - Siswa D
“Jika menurut rumor, gadis itu bernama Chemira. Tapi aku tidak tau pasti yang mana.” – Siswa B
“Aku lihat salah satu diantara mereka sepertinya mudah untuk didekati. Bagaimana kalau kita coba?” – Siswa A
“Boleh-boleh. Siapa takut, siapa namanya?” – Siswa C
“Kalau aku tidak salah lihat, namanya Fimela.” – Siswa A
“Baiklah, ini saatnya bagiku untuk kembali bersinar di sekolah ini.” – Siswa D
Ivan yang mendengar percakapan tersebut merasa kalau emosinya hampir tak terkendali, meminta untuk dilampiaskan. ‘Fimela.’ Batin Ivan. Entah kenapa ia merasa tak rela jika orang lain berniat untuk mendekatinya.
*flashback off*
********************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1