
EPISODE 31 KENCAN? (part 4)
“Kakak ingin mengajak aku kemana?” Tanya Luna. “Hm, kau mau kemana?” Ignacio tidak tau akan mengajak Luna kemana, ia hanya ingin lebih lama bersama dengannya. “Apa disekitar sini ada taman?” Tanya Luna lagi.
“Kau mau ke taman bermain?” Tanya Ignacio. “Aku mau.” Jawab Luna dengan semangat. “Baiklah, aku tau sebuah taman bermain yang bagus.” Ucapnya sembari menarik Luna untuk berjalan beriringan dengannya.
Selama perjalanan, mereka mengisi keheningan dengan beberapa topik ringan untuk dibicarakan. Beberapa orang menatap mereka dengan tatapan iri, tapi mereka mengabaikannya. Mereka hanya ingin menikmati waktu-waktu seperti ini dengan damai.
Sesampainya di taman bermain,
“Kak, boleh aku coba itu? Aku bayar sendiri kok.” Tanya Luna penuh semangat. ‘Dia pikir aku kekurangan uang? Biarlah dia berpikir seperti itu.’ Batin Ignacio. “Kalau kau bayar sendiri, kenapa kau bertanya?”
“Eh? Benar juga ya.. yasudah, aku mau main ini sebentar ya kak.” Ucapnya senang.
“Haah, gadis ini.. “ Gumam Ignacio, ia memilih untuk duduk dan menunggu sampai Luna selesai bermain. Ia mengeluarkan ponselnya dan menyibukkan dirinya dengan benda kecil itu.
Setelah beberapa menit berdiam diri disana, “Haah, aku bosan.” Ia mencari-cari keberadaan Luna, tapi ia tidak menemukannya dimanapun. “Luna? Kemana dia?”
Ignacio memutuskan untuk berkeliling taman, mencari keberadaan Luna. “Sebenarnya dia kemana?”
Di sisi lain, Luna berkeliling taman sendirian. Ia ingin mencoba semua jenis permainan disana, setidaknya ia ingin sedikit bersenang-senang dan melepas penat. Ia terlalu senang hingga ia sendiri tidak sadar jika ia terpisah dari Ignacio.
Saat ia sedang berkeliling, ia melihat Aline di sebuah kedai es krim. “Aline!” Serunya. Aline menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya. “Luna? Apa yang ia lakukan disini?” Gumam Aline. “Aline, sedang apa kau disini?” Tanya Luna.
‘Loh? Dia? Apa yang ia lakukan disini? Dia sendirian?’ Batin Friska. “Oh, kau sedang bersama temanmu ya? Apa aku mengganggu?” Tanya Luna sedikit merasa tidak enak. “Ah, tidak-tidak, sama sekali tidak mengganggu.” Jawab Friska.
“Ohya, perkenalkan aku Friska.” Ucap Friska sembari mengulurkan tangan. “Oh, ah aku Luna. salam kenal.” Ucap Luna sembari berjabat tangan dengan Friska. “Em, Luna. Kami belum membayar belanjaan kami. Permisi sebentar ya?” Ucap Aline sembari menarik Friska kembalike kasir.
“Aline, kau kenapa? Kita sudah bayar tadi.” Ucap Friska memprotes. “Friska, apa kau tidak apa-apa?” Tanya Aline menggantung. “Apa? Memangnya aku kenapa?” Friska balik bertanya. “Kau tau dia kan? Kalau dia disini, kemungkinan besar dia bersama dengan..”
__ADS_1
“Luna!” Seru Ignacio. “Eh? Kakak?” Luna terlihat kebingungan dengan raut wajah Ignacio yang dipenuhi kekhawatiran. “Kau kemana saja sih? Aku mencarimu kemana-mana.” Ucapnya menumpahkan semua rasa khawatirnya.
“Kau lihat itu? Aku baru saja ingin membicarakannya.” Bisik Aline pada Friska. Friska tidak merespon, ia hanya diam mematung ditepatnya. “Friska? Friska? Kau dengar aku tidak?” Alien berusaha menyadarkan temannya itu.
“Hah? Apa? Apa yang kau katakan?” Tanya Friska. “Haah, kau ini. Bukankah kau bilang bahwa kau sudah menyerah?” Bagi Friska, Aline seperti mengucapkan sebuah kenyataan pahit dengan gamblang.
“Ya, seperti yang kau katakan, aku sudah menyerah. Karena itulah aku ingin berteman dengannya.” Friska terlihat seperti menahan tangis. Aline melihat sahabatnya itu dengan raut wajah prihatin, “Kau mau kembali kesana? Atau kita langsung pulang saja?”
“Tidak, aku mau kesana. Cepat atau lambat aku harus menghadapinya.” Ia mencoba untuk menguatkan hatinya. “Kau yakin?” Tanya Aline untuk memastikan. “Aku yakin, percayalah padaku.” Ucapnya meyakinkan Aline.
“Maafkan aku, aku tidak akan pergi sembarangan lagi.” Ucap Luna menyesali perbuatannya. Ia tertunduk, ia merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya pergi sendirian tanpa waspada. “Angkat kepalamu.” Perintahnya.
Luna mengangkat kepalanya, mata nya melirik ke seniornya itu. Ignacio tampak memperhatikan Luna dari atas sampai bawah, tanpa terlewatkan suatu apapun. Lalu tak lama, ia kembali dengan senyum hangatnya, “Syukurlah, kau baik-baik saja.”
‘Memang aku baik-baik saja kan? Siapa yang bilang aku tidak baik-baik saja?’ Pikir Luna. “Luna! Kamu melamun? Mikirin apa?” Ucap Friska sembari menepuk pundak Luna dari belakang. “Eh? Kalian sudah bayarnya?” Tanya Luna.
“Ya iyalah. Kalau kami belum bayar, bisa-bisa dimarahin sama yang jaga kasir.” Jawab Friska sambil tertawa kecil. Luna ikut tertawa bersama Friska. ‘Dia benar-benar.. aku sudah bilang padanya untuk menjauh dari gadis sialan itu. Tapi ia masih saja bersikeras.’ Batin Aline.
Di satu sisi yang lainnya lagi,
Fimela sedang berkeliling memetik beberapa bunga dengan warna-warna pudar dengan bentuk sederhana yang tumbuh di lahan kosong itu. Ia telah lumayan lama berjalan, tapi ia masih belum sampai di tempat awal.
“Huft, luas juga tempat ini. aku lelah..” Fimela memandangi sekelilingnya, yang ia lihat hanyalah hamparan rumput luas dan beberapa jenis tanaman dengan warna yang tidak mencolok dan menyatu sempurna dengan alam.
Ia lelah, ia tidak tau kenapa tapi dia lelah. “Haah, pemandangan disini benar-benar indah.” Ucapnya sembari mengambil posisi duduk bersila di atas rumput-rumput hijau nan segar itu. Lalu ia merasa ada sesuatu yang menyentuh kakinya, sesuatu yang halus.
Ia mencari-cari makhluk apa yang sedang menggayuti kakinya. Ia memegang sesatu yang panjang, halus serta dipenuhi bulu-bulu panjang yang sangat lembut. “Meong! Meong!” Sahut benda halus itu. “Ah, kucing! Aaa~ kau imut sekali.” Ucapnya sambil menggendong kucing itu gemas.
“Fimela! Kau tidak apa?” Tanya Ivan. Ivan terlihat cemas, tapi sepertinya Fimela tidak menyadari kedatangan Ivan disana. Ia terlalu sibuk bermain dengan kucing putih yang ia temukan.
__ADS_1
Ivan tersenyum melihat Fimela yang begitu bahagia. Tapi tatapannya berubah saat melihat kucing putih itu. “Shiro! Aku sudah bilang padamu untuk tidak menyentuh tamu perempuan sembarangan kan? Dimana tata karma yang aku ajarkan padamu?” Tanya nya sembari mengambil kucing itu dari pangkuan Fimela.
Kucing itu sepertinya sangat menyukai Fimela, ia bahkan berani membantah Ivan hanya untuk bermain dengan Fimela. Mereka terlihat saling bertukar tatapan tajam penuh arti. “Sudah, senior. Biarkan dia bermain ya?” Ucap Fimela.
Ivan tidak menggubris permintaan Fimela, ia memperhatikan Fimela dari atas sampai bawah, memastikan bahwa ia baik-baik saja. “Hm? Ada apa senior?” Fimela sedikit tidak nyaman dengan tatapan itu.
“Kau tidak apa-apa kan? Shiro suka mencakar bahkan menggigit. Kau tidak terluka kan?” Tanya nya memastikan. “Hm? Begitukah? Tapi, aku tidak apa-apa. Dia terlihat seperti kucing yang baik.” Jawab Fimela ragu.
Mendengar kalimat Fimela, Ivan semakin menatap tajam kucing itu, tapi dia terlihat seperti mengacuhkan Ivan. Dia malah kembali mendekati Fimela dan mengajaknya untuk bermain. 'Kucing sialan.’ Batin Ivan.
“Kucing yang manis, namamu Shiro ya? Nama yang bagus. Siapa yang memberimu nama?” Tanya Fimela. Kucing itu melirik sebentar kearah Ivan lalu melanjutkan bermain dengan Fimela. Fimela sedikit melirik kearah Ivan, ia melihat senior tampannya itu sedang sibuk dengn ponselnya. ‘Dia selalu sibuk, apa dia tidak lelah?’ Pikir Fimela.
Saat tengah asyik bermain, tiba-tiba Fimela merasa ada tetesan air yang jatuh dari atas kepalanya. “Hujan?” Gumam nya. “Kenapa kau bengong? Sudah tau hujan, ayo berteduh.” Ivan menarik Fimela dari duduknya dan membawanya menuju ke sebuah rumah kecil yang ada di ujung lahan kosong itu.
Rumah terlihat sangat bersih dan rapi, seperti ada seseorang yang datang setiap hari untuk membersihkannya. “Rumah siapa ini?” Tanpa sadar Fimela menyuarakan pertanyaan yang ada dipikirannya.
“Shiro.” Jawab Ivan singkat. “Shiro?” Fimela mengulang jawaban Ivan seperti orang bodoh. “Meong, meoong.” Sahut Shiro. “Jadi ini memang rumahmu?” Tanya Fimela. “Meongg..” Jawabnya dengan wajah sombong yang sengaja ia tunjukkan pada Ivan.
Mereka berteduh dan menunggu hujan berhenti di dalam rumah kecil nan sederhana itu. Karena rumah itu diperuntukkan untuk Shiro, jadi tidak tersedia selimut atau penghangat lainnya bagi tamu. Hanya tersedia satu selimut tebal dengan ukuran kecil disana.
Suhu disana lumayan dingin, dan itu membuat Fimela tanpa sadar memeluk dirinya sendiri untuk menghangatkan tubuhnya. Ivan yang memperhatikan setiap gerak-gerik Fimela, membalut tubuh Fimela dengan jas miliknya. “Eh? S-senior..?” Fimela ingin membantah tapi ia kalah cepat.
“Pakai saja, kau kedinginan kan?” Tanya Ivan. Sebenarnya pertanyaan itu tidak memerlukan jawaban sama sekali, karena ekspresi wajah dan reaksi tubuh Fimela mengatakan semuanya. “Tapi, senior bagaimana?” Tanya Fimela, ia tau pada suhu sekarang ini, siapapun pasti akan kedinginan dibuatnya.
“Kau pakailah itu, aku punya satu lagi.” Jawab Ivan sembari mengambil jas nya yang satu lagi dari dalam tas. “Oh, kalau begitu, terima kasih senior.” Ucap Fimela dengan senyuman tulus.
*******************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
__ADS_1
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~