
EPISODE 39 RETAK
Saat Arora tiba di rumah, dia langsung disambut hangat oleh kedua sahabat terbaiknya sepanjang masa. “Aroraa. Selamat datang kembali di rumah.” Ucap Fimela dengan senyuman lebar yang terlihat manis dan menampakkan keimutannya, disertai aura yang sangat bertolak belakang dengan wajah nya yang berseri.
Bagi orang-orang yang tidak mengenal Fimela dengan sangat mendalam seperti Arora, tidak akan dapat merasakan aura mengerikan yang menguar keluar dari dirinya saat ini. Yang terlihat hanya wajah ceria dari seorang gadis cantik layaknya bidadari yang turun dari langit.
Senyuman itu menjadi begitu mengerikan dengan kekehan kecil diakhir kalimatnya. Arora hanya bisa mematung di depan pintu, bersamaan dengan otaknya yang terus mencari alasan yang dapat meredakan aura tidak mengenakan itu.
Tak lama kemudian, Chemira datang menghampiri mereka yang hanya terpaku di depan pintu. “Oh, kau pulang? Kupikir kau bertemu dengan seorang malaikat maut yang tampan sehingga kau memilih untuk ikut dengannya.” Ucap Chemira yang sudah setengah sadar. Ia sangat lelah dan mengantuk.
“Tidak, tentu saja tidak. Jika aku bisa memilih, maka aku akan memilih untuk pulang, setampan apapun dia.” Jawab Arora spontan. Ia bahkan hampir melupakan perasaan tidak mengenakkan yang datang kepadanya secara bertubi-tubi.
“Ehem.” Fimela berdehem, kemudian melontarkan kalimatnya. “Kenapa kau bisa pulang selarut ini, eh? Apa kau tersesat?” Senyum yang terkembang di wajah Fimela terlihat semakin menyeramkan, seolah ingin menelannya hidup-hidup saat ini juga.
Arora berpikir sejenak, tidak ada gunanya jika dia berbohong. Akhirnya ia memilih untuk mengatakan yang sejujurnya. “Em, maaf. Aku ketiduran. Hehe.. “ Ucapnya dengan senyum canggung. Setelah kalimat itu terlontar dari mulut Arora, keheningan langusng melingkupi mereka.
Arora merasa tidak nyaman dengan kecanggungan ini, udara diatmosfer saat ini terasa menyesakkan baginya. Dan tentu saja itu karena ia merupakan pihak yang akan tersudutkan. Tapi, otaknya yang cemerlang tiba-tiba mendapati sebuah kejanggalan dibalik kata-kata Chemira.
“Tunggu. Chemira, apa maksudmu dengan ‘malaikat maut’?” Tanya Arora yang langsung memecahkan keheningan diantara mereka. Chemira sedikit tak percaya jika Arora masih sempat untuk mencerna makna sesungguhnya dari kata-katanya disaat dia sedang dalam posisi tersudut seperti ini.
“Apa kau.. menemukan sesuatu?” Sambungnya dengan nada menuntut jawaban. Fimela melempar tatapan mengejek pada Arora, “Heh, ternyata otakmu masih bisa dipakai juga.” Ucapnya dengan niat memprovokasi yang kental. Arora mengepalkan tangan kesal, ia bahkan telah mempersiapkan diri untuk berdebat dengan Fimela sesaat setelah Fimela menyelesaikan kalimat provokasinya.
Chemira menghela napas, menggelangkan kepala melihat tingkah dua sahabatnya itu. “Ya, kurasa kau menemukan sesuatu. Jadi berhentilah bertengkar dan mari bahas hal ini bersama.” Ucapnya untuk meredakan konfrontasi antara dua orang anak kecil dihadapannya ini.
Mereka pun mendudukkan diri di sofa, dan mulai memasuki suasana serius dengan udara yang kembali menjadi sedikit menyesakkan dada.
“Baiklah, mari kita mulai dengan Arora. Apa yang kau dapatkan dari hasil sandiwara mu seharian ini?” Tanya Chemira tanpa basa-basi. Arora bersedekap, berusaha mengingat kembali setiap detail yang terjadi hari ini.
“Permintaa maaf nya, peluang kesembuhanku, masa lalunya, identitas aslinya, bayangan dari tujuannya, juga menjadi pasangannya di acara bulan depan.” Jawab Arora santai. Chemira dan Fimela sedikit tertegun mendengar jawaban Arora. “Waw, kau berhasil mendapatkan begitu banyak informasi dan hal berguna.” Ucap Chemira memuji.
Arora tersipu mendengar pujian itu, “Ehem, tentu saja. Aku bisa saja mendapatkan lebih jika ada lebih banyak waktu.” Ucapnya dengan sedikit kesombongan didalamnya, dan masih dalam batas wajar.
__ADS_1
“Tapi, kurasa ia sengaja memberikan informasi itu padaku.” Sambung Arora tiba-tiba. Fimela memiringkan kepalanya, “Apa maksud mu, Arora?” Tanya nya penuh arti. Arora terdiam sejenak untuk menyusun kata-kata. “Apa kalian ingat dengan pembicaraan mereka di ruang kesehatan yang pernah aku ceritakan?” Arora mengawali penjelasannya dengan sebuah pertanyaan.
Chemira dan Fimela mencoba untuk mengingat-ingat pembicaraan yang Arora maksud. “Maksudmu, pembicaraan tentang jati diri?” Tanya Chemira memastikan. “Ya, yang itu. Pembicaraan yang terdengar olehku karena aku berpura-pura tertidur.” Jawab Arora.
-----
“Aku adalah putra ketiga dari pemilik Pandora Corporation terdahulu.” Jawab Zhuzu dengan nada santai yang dibuat-buat. (episode 15 pembicaraan rahasia).
-----
“Dia tau aku tidak tidur dan membiarkan aku mendengarkan pembicaraan mereka.” Sambung Arora dengan nada yakin. “Hmm, kurasa itu masuk akal.” Sahut Fimela setuju. Chemira hanya mengangguk menunjukkan persetujuannya.
“Tapi kurasa ini juga ada hubungannya dengan Delvin dan Ivan. Untuk orang seperti mereka yang selalu waspada akan setiap situasi dan kondisi, tidak akan berteman dekat dengan orang yang bahkan mereka tidak tau asal usul, latar belakang serta masa lalunya.” Ucap Chemira mencoba untuk menyuarakan pendapatnya.
“Dan mereka sengaja membicarakan alasan (yang dibuat selogis mungkin) dibalik ketidaktahuan mereka mengenai latar belakang masing-masing. Mereka juga sengaja menambahkan sedikit nostalgia tentang masa-masa awal pertemanan mereka untuk menyamarkan tujuan.” Sahut Fimela yang juga mempunyai pendapat yang selaras dengan kedua sahabatnya.
-----
“Ya, tapi kurasa itu tidak terlalu aneh. Wajar saja jika kita cenderung tidak tau tentang latar belakang teman sendiri, karena semasa kita masih di sekolah yang dulu, pembicaraan mengenai latar belakang keluarga merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan.” Jawab Ivan. (episode 19 acara tahunan*)
-----
Mereka bertiga mengangguk bersamaan. Mereka setuju dengan semua pendapat yang ada yang berhubungan erat satu sama lain. Karena hari sudah melewati tengah malam, mereka memutuskan untuk menunda pembicaraan mereka dan melanjutkannya kembali di esok hari.
Mereka kembali ke kamar masing-masing dengan raut wajah lelah dan mengantuk, sehingga ketika mereka menyentuh tempat tidur, mereka akan dengan mudahnya tertidur dan masuk ke alam mimpi mereka.
-----
“Baiklah. Karena kau setuju, maka aku akan memberitahumu beberapa poin penting yang harus selalu kau ingat.” Zhuzu mengucapkan kalimatnya dengan penuh penekanan. Ketegangan yang melingkupi ruangan itu masih tetap berlanjut hingga sekarang.
“Dan poin ini sangat perlu diperhatikan jika di tubuhnya terbukti masih terdapat bakteri penghasil toksin tersebut. Tapi jika tidak, maka poin ini tetap berlaku tapi tidak terlalu ditekankan. Walaupun begitu, sebaiknya kau menerapkannya selama kau merawatnya.” Sambung nya yang sengaja menguraikan maksud dari kalimatnya supaya Sara dapat mengingatnya dengan baik.
__ADS_1
“Pertama, ingat untuk selalu menjaga kebersihan dan mencuci tangan serta membersihkan barang-barang lain yang ada di ruangan itu. Kalau perlu, kau sebaiknya pergi mandi setelah kau selesai. Kedua, pertimbangkan semua nya dengan matang. Kau bisa bertanya jika mendapati kendala. Ketiga, dia akan menjadi sangat menyebalkan. Kuharap kau mampu mengendalikan emosimu.” Tuturnya dengan menggunakan kata-kata sejelas mungkin akan ia bisa segera istiharat.
Sara segera mencatat semua poin-poin penting yang dikatakan Zhuzu di secarik kertas. “Hm, aku mengerti.” Jawabnya dengan lantang. Secara tidak langsung ia menyatakan bahwa dirinya sudah siap untuk menjadi seorang perawat dadakan.
“Bagus. Kalau begitu, Paman Wen, apa aku bisa menumpang beristirahat disini?” Tanya Zhuzu yang segera mengalihkan pandangannya pada paman Wen yang sedari tadi ikut menyimak dan menangkap semua poin-poin penting pembicaraan mereka.
“Tentu saja, tuan muda. Mari ikut saya.” Jawab paman Wen yang segera beranjak dari duduknya lalu memimpin jalan menuju ke kamar tamu.
Sara memutuskan untuk menunggu disanaa sembari kembali mencerna informasi-informasi yang ia dapat dari pembicaraan mereka barusan. Dia juga memutuskan untuk menunggu hasil pemeriksaan dari dokter Laura.
Beberapa menit kemudian, Sara telah berhasil menghapal serta mencerna semua poin penting yang baru saja dibicarakan. Ia merasa bosan sendirian disana, karena para pelayan yang ditugaskan untuk membersihkan serpihan gelas yang ia jatuhkan, bisa membereskannya dalam hitungan detik. Juga tanpa meninggalkan sisa serpihan sedikitpun disana.
‘Mereka benar-benar seorang professional.’ Pikir Sara. Karena tidak ada yang bisa ia lakukan, Sara memutuskan untuk berdiir dan berjalan menuju ke rak-rak buku yang tersusun berjajar rapi di sisi kiri dan kanan ruangan itu.
Ia mengambil beberapa buku yang menarik perhatiannya, kemudian kembali ke sofa tempat ia duduk sebelumnya dan mulai membaca.
Tak lama kemudian, dengan langkah kaki yang mendekat ke ruangan itu. Lalu, ia melihat dokter Laura datang kesana dengan membawa sebuah amplop berukuran sedang. Ia menghampiri Sara, “Nona, apa anda melihat temannya tuan muda?”
“Dia sedang istirahat.” Jawab Sara. Dokter Laura membelikkan badan malas, “Haah, baiklah. Terima kasih, Nona. Saya permisi.” Ucapnya yang kemudian pergi meninggalkan Sara. “Tunggu, dokter.” Panggil Sara, berusaha menghentikan langkah dokter Laura yang terlihat sedikit gontai.
Ia berbalik, “Ya? Ada apa nona?” Sahutnya. Sara sedikit ragu untuk bertanya, tapi ia tidak tega membuat dokter Laura yang saat ini tampak sangat lelah menunggunya terlalu lama. “Hm, apa aku boleh masuk ke kamar Georgy?” Tanya nya.
Dokter Laura mengangguk, “Boleh, nona. Tuan sedang istirahat. Tolong jaga dia.” Jawab dokter Laura yang kemudian berbalik dan pergi dari sana. Sara terdiam sejenak, tapi tak urung juga ia melangkah kan kaki menuju kamar Georgy dan memutuskan untuk menghabiskan malamnya dengan membaca buku sembari berjaga disana.
*************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1