
EPISODE 32 RINTIHAN AWAN
Selama di perjalanan, Sara memutuskan untuk tidak berbicara sedikitpun. Ia terlalu lelah untuk berbicara. Ia hanya berdiam diri sambil sesekali melirik seorang lelaki yang ada di sebelahnya. ‘Dia memang sangat tampan. Tapi sayang, sifatnya seperti itu.’ Batin Sara.
Kali ini, Sara melihatnya dengan tatapan iba. Setidak suka apapun ia pada Georgy, tapi dia masih punya rasa manusiawi. ‘Dia tidak bersuara sedikitpun, apa dia baik-baik saja?’ Pikir Sara.
“Kau terus melirikku seperti itu. Apa kau khawatir?” Kalimat menyebalkan yang keluar tiba-tiba dari Georgy membuat Sara terkesiap. Ia memalingkan wajahnya yang memerah karena malu, tak menyangka bahwa ia akan ketahuan.
“Kau pikir aku tidak tau?” Tanya nya lagi dengan tatapan menyebalkan yang disengaja. Sara merasa sangat kesal, lelaki itu sedang sakit dan ia masih saja menyempatkan diri untuk mengganggunya.
“Kau, kau sedang sakit. Sebaiknya kau istirahat saja.” Ucap Sara sembari beringsut menjauh dari Georgy dan merapat pada pintu. Georgy hanya terkekeh pelan, ia merasa seluruh tubuhnya remuk dan staminanya seakan menguar keluar dari tubuhnya.
Ia menuruti perkataan Sara untuk beristirahat, memejamkan mata lalu membiarkan dirinya terbuai dan merengsek masuk ke dalam mimpi indah. Sara melihatnya dengan tatapan senang bercampur bingung. Ini adalah pertama kalinya lelaki keras kepala itu menuruti kata-katanya.
Sara melihat ke luar dari balik jendela mobil, hanya ada pohon-pohon besar yang berjajar rapi disepanjang jalan ini. Dan jalanan ini sangat panjang, seolah tidak berujung. Seketika itu, rasa penasaran membuat pikirannya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
Rumahnya akan terlihat seperti apa? Apakah berupa sebuah gedung besar bertingkat dengan berbagai dekorasi mewah nan mengkilap? Apakah akan seperti rumah-rumah para tuan muda yang sering ia lihat di film-film?
Ia bahkan tidak tau darimana datangnya pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi ia ingin sekali mendapatkan jawabannya. Karena rasa penasaran, Sara memberanikan diri untuk bertanya. Ia memajukan posisi duduknya sedikit untuk bisa bertanya dengan frekuensi suara yang tidak akan mengganggu istirahat Georgy.
“Em, paman. Boleh aku bertanya?” Tanya Sara setengah berbisik. “Boleh, nona. Apa yang ingin anda tanyakan?” Jawab paman Wen yang sedang mengemudi dengan nada formal penuh hormat.
Ia tampak menimbang pertanyaan, pertanyaan yang mana yang akan ia tanyakan terlebih dahulu?
“Apakah perjalanannya masih jauh?” Sara bertanya dengan sedikit rasa canggung. “Tidak akan lama lagi. Jika nona Sara merasa lelah, nona bisa istirahat terlabih dahulu.” Jawaban paman Wen sangat tepat, ia memang merasa lelah. Tapi bagaimana ia bisa beristirahat disini?
Sara kembali menyandarkan tubuhnya. Ia kehilangan selera untuk bertanya karena paman Wen selalu berbicara menggunakan nada formal padanya. Dan itu membuatnya merasa canggung.
__ADS_1
Keheningan kembali melingkupi mereka. Sepertinya paman Wen sudah terbiasa untuk tidak bicara jika tidak dibutuhkan. Lalu tiba-tiba saja ia berdehem dan membuat Sara terkesiap. “Ehem, maafkan saya bila saya lancang nona. Tapi, apa hubungan anda dengan tuan muda?”
Pertanyaan itu mengambang begitu saja di udara. Sara sendiri tidak tau ia punya hubungan apa dengan Georgy. Pertemuan mereka benar-benar tak disangka-sangka, dan kejadian itulah yang mengawali hubungannya dengan lelaki menyebalkan itu.
Jadi, aku dan dia punya hubungan apa?
“Kami hanya teman.” Jawab Sara cepat karena menyadari tatapan curiga yang ditunjukkan paman Wen. Ia sendiri ragu apakah Georgy menganggap ia sebagai teman atau tidak. ‘Dia adalah seorang tuan muda kaya raya yang punya kekuasaan. Apakah ia mau menganggap diriku yang hanya orang biasa ini?’ Pikirnya.
Paman Wen tidak menanggapi jawaban Sara. Ia kembali fokus pada kemudinya.
Tak lama kemudian, kecepatan mobil mulai melambat dan berhenti di depan sebuah gerbang besar dan tinggi dengan ukiran yang indah. Ia menurunkan kaca jendela dan menunjukkan semacam kartu nama pada satpam yang berjaga disana.
Setelah melihat kartu nama itu, satpam itupun segera membukakan gerbang dan mempersilahkan mobil ini untuk masuk ke dalam sana. Saat melewati gerbang, Sara langsung disuguhi dengan pemandangan taman yang indah dengan air mancur yang cantik.
Ia terlalu sibuk dengan apa yang ia lihat, sampai ia tidak sadar jika sedari tadi ada seseorang yang memperhatikannya secara terang-terangan. “Apa kau suka?” Bisik Georgy tepat di telinga Sara. Sara terkesiap dibuatnya. “Kau, kau sudah bangun?” Tanya nya dengan gugup.
Tiba-tiba saja sesuatu yang jatuh dari langit mengetuk kaca mobil. Dan tak butuh waktu lama, tetesan air itu turun semakin deras diiringi dengan langit yang semakin gelap dipenuhi awan hitam. Seakan sedang meluapkan kesedihan yang amat mendalam.
Di sisi lain,
“S-sudah aku bilang, aku bukan pacarnya.” Ucap Arora dengan wajah memerah mendengar para pemuda-pemuda tadi yang terus menggodanya dengan mengatakan bahwa ia dan ‘bos’ mereka sedang menjalin suatu hubungan asmara.
“Ayolah, kakak cantik. Akui saja. Aku akan sangat senang mempunyai mu sebagai kakak ipar.” Ucap anak kecil bernama Naufal. “Hey, aku bilang bukan ya bukan.” Jawab Arora dengan wajah kesal yang tidak ditutup-tutupi.
“Ini, minumlah dulu.” Zhuzu memberikan botol minuman pada Arora. “Hm? Apa ini?” Tanya Arora sedikit curiga. Pasalnya ia baru saja minum segelas besar air beberapa menit lalu. Tidak mungkin ia merasa haus secepat itu bukan?
“Kau takut aku meracunimu?” Zhuzu tersenyum kecil. Arora termenung sejenak, ia bingung akan menerima minuman itu atau tidak. “Kau tidak akan meracuniku kan?” Tanya nya lagi untuk memastikan.
__ADS_1
Zhuzu menggeleng, “Tidak.” Jawabnya singkat. Arora menerima minuman itu dan membukanya sedikit untuk memeriksa. Setelah yakin bahwa tidak ada obat atau racun apapun di dalamnya, Arora meminumnya sedikit untuk mencicipi minuman itu.
Awalnya ia hanya ingin minum sedikit saja, tapi setelah menelan beberapa tetes, rasa hausnya seakan datang kembali secara tiba-tiba. Tubuh nya menginginkan minuman itu. Ia terlalu hanyut pada cita rasa minumannya, hingga tanpa sadar air yang ia minum telah tandas, habis tanpa sisa.
Zhuzu kembali mengulas sebuah senyum dan kali ini terasa sedikit menyebalkan. “Apa kau tidak takut aku meracunimu?” Tanya nya dengan niat usil. “Jadi kau mncampurkan sesuatu ke dalamnya? Apa itu Digoxin? Atau Polonium? Oh, mungkinkah itu Botulinum? Atau Amatoxin?” Arora merasa ia kehilangan kendali tubuhnya, ia bahkan tidak dapat mengontrol kata-katanya dan menumpahkan begitu saja kata-kata yang ada dalam pikirannya.
Zhuzu terperangah mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Arora. “Kau tau banyak tentang racun?” Ia bertanya spontan. “Tentu, Chemira sering meneliti bahan-bahan kimia.” Ia menjawab pertanyaan itu begitu saja, dengan sangat jujur.
Apa yang dia masukkan dalam minumannya? Apa dia sengaja menjebakku untuk mendapatkan informasi? Apa tujuannya?
“Haah, aku tau efeknya akan seperti ini. Tapi aku terpaksa.” Ucapnya dengan sedikit penyesalan. Arora tampak ling-lung. Kepalanya pusing dan tubuhnya terasa ringan. Dan seketika itu, ia merasa kegelapan hampir melingkupi dirinya sepenuhnya.
Arora merangkak dengan susah payah mendekati Zhuzu yang duduk tak jauh dari dirinya. Ketika jarak diantara mereka sudah sangat dekat, Arora menarik kerah baju lelaki itu. “Kau.. Apa yang.. kau masukkan.. dalam minumannya?”
Arora bertanya dengan amarah yang terpancar jelas dari sorot matanya. Tapi sebelum ia sempat mendengar jawaban, kegelapan telah berhasil mengambil alih dirinya. Kesadarannya lenyap seketika hingga ia terjatuh begitu saja dalam dekapan hangat lelaki itu.
Pada saat yang bersamaan, langit pun ikut merasakan kegelisahan dan penyesalan. Awan-awan hitam berkumpul dan menumpahkan tetesan demi tetesan air yang semakin lama semakin menjadi-jadi.
“Wah, suasananya romatis sekali.” Kata seorang pemuda lainnya yang baru saja bergabung dengan mereka. “Shtt, kau tidak ingin mengganggu waktu pribadi bos kan?” Ucap pemuda lainnya dengan sedikit ancaman. “Ya, tapi ada apa ini?” Tanya yang lainnya lagi. Mereka sendiri tidak paham dengan situasi sekarang.
*******************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1