
EPISODE 21 KEBETULAN
“Ah, te-terima kasih. Terima kasih banyak.” Jawab Luna sambil membungkuk. Ia kembali berdiri sambil berusaha menormalkan detak jantungnya yang tadi hampir saja hilang. “Huft, hampir saja. Jika bukan karena kamu, mungkin nyawaku sudah berada dilangit saat ini.” Ucapnya sembari melemparkan senyum pada Ignacio.
“Benarkah? Kalau begitu, bagaimana caramu untuk membalas kebaikanku itu?” Tanya Ignacio yang tiba-tiba mendapatkan sebuah ide baru yang sepertinya menguntungkan. “Eh? Hm, bagaimana kalau aku mentraktirmu makan siang?” Tanya Luna. ‘Dia tidak canggung sama sekali? Apa dia tidak mengenalku?’ Batin Ignacio.
Ignacio mengembangkan senyum di wajahnya, “Boleh. Aku Ignacio, salam kenal.” Ignacio memperkenalkan dirinya sendiri dengan gamblang. “Aku Luna, salam kenal.” Jawaban itu sama sekali tidak disangka oleh Ignacio. Ia menebak kalau perempuan bernama Luna ini adalah siswi yang terasingkan.
Tak lama kemudian, bel istrahat berbunyi. “Sudah waktunya makan siang, kau ingin makan apa?” Tanya Luna. “Apa saja?” Ignacio bertanya balik. “Hm, boleh. Selama aku bisa membayarnya.” Jawab Luna dengan gamblangnya. Mendengar pernyataan itu, Ignacio memutuskan untuk memesan minuman saja.
Sesampainya dikantin,
Semua orang menatap mereka. Luna mungkin tidak menyadarinya, tapi tidak dengan Igancio, ia sangat peka terhadap hal seperti itu.
“Itu? Bukankah itu Ignacio? Siapa perempuan itu? Selera nya sangat jelek.” – Siswa A
“Perempuan kampung mana lagi itu? Ayolah, setelah Sara kenapa harus ada lagi perempuan jelek seperti itu.” – Siswa B
“Kau lihat, dia terlihat akrab dengan perempuan itu. Ada apa ini?” – Siswa C
“Hm, aku tidak terlalu perduli dengan itu. Dia memang tampan, tapi tidak setampan pangeranku.” – Siswa D
“Ayolah, walaupun begitu, ia tetap salah satu dari pria terpopuler di sekolah ini. Apa kau benar-benar tidak perduli soal itu?” – Siswa C
__ADS_1
“Selera perempuan itu benar-benar jelek. Kenapa Ignacio mau bersamanya?” – Siswa B
“Yang benar saja, setelah Georgy sekarang Ignacio? Apa tidak ada perempuan lain?” – Siswa A
“Hm, apa kau tidak apa?” Tanya Ignacio. “Memangnya aku kenapa?” Jawab Luna dengan polosnya. “Ah, tidak. Lupakan saja.” Sambung nya.
“Boleh aku meminta sesuatu?” Tanya Luna tiba-tiba. “Apa?” Ignacio mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya pada Luna. “Namamu terlalu panjang. Boleh aku memberimu nama panggilan?” Tanya Luna. “Nama panggilan?” Ignacio sedikit kaget dan ia tidak menyangka bahwa yang diminta oleh gadis kecil ini hanyalah hal sederhana seperti ini.
“Iya. Hm, ngomong-ngomong aku belum tau kelas mu. Kau dikelas mana?” Tanya Luna sembari mengunyah makanan di dalam mulutnya. “2A.” Jawab Ignacio. Luna terbelalak, “Ya ampun, kakak senior.” Luna langsung berdiri dan membungkukkan tubuhnya, “Maafkan aku kakak senior, aku benar-benar tidak tau. Kumohon, maafkan aku.” Ucapnya dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
“Ada apa? Kenapa kau setakut itu? Apa aku terlihat menyeramkan?” Ignacio terus menatap Luna yang gemetar ketakutan. “Ku-kumohon maafkan aku, kakak senior. Ja-jangan hukum aku lagi.” Ucap Luna sembari menahan air matanya. “Hey, ada apa? Kenapa kau menangis?” Ignacio ikut berdiri dan menyamakan tinggi nya dengan Luna.
“Ah, ti-tidak.. a-aku tidak apa-apa.” Ucap nya sembari menghapus air matanya kemudian berlari meninggalkan Ignacio disana.
“Hiii, ba-baik bu. A-aku bayar, aku bayar.” Ignacio memberikan beberapa lembar uang kertas lalu ia berbalik dan bersiap untuk pergi. “Hey, Ignacio. apa yang kau lakukan padanya?” Tanya Ibu kantin sembari sibuk menghitung uang yang ia dapatkan hari ini. “Hah?” Ignacio berbalik dan menatap Ibu kantin dengan heran.
“Gadis kecil yang tadi. Kenapa ia sampai menangis seperti itu?” Sambung Ibu kantin. “Ibu melihatnya? Bu, percayalah. Aku bahkan tidak tau kenapa dia tiba-tiba menangis seperti itu.” Jawab Ignacio sembari duduk kembali. “Aku bahkan tidak tau dia dikelas mana, aku hanya tau namanya. Aku kebetulan bertemu dengannya ditangga.” Sambungnya.
“Ya ampun, nak. Jika kau ingin mendekati wanita, harusnya kau konsultasi dulu pada Ivan.” Jawab Ibu kantin. “Ivan? Ada apa dengan jerapah kabur yang satu itu?” Tanya Ignacio dengan sedikit candaan. “Kau tidak tau? Ivan sudah punya pacar, dan ia sangat cantik. Tapi Ibu lupa namanya.” Jawab Ibu kantin sembari menatap ke langit-langit.
“Oohh.” Jawab Ignacio santai, ia belum mencerna sepenuhnya ucapan Ibu kantin. Setelah beberapa waktu berpikir, akhirnya ia mengerti juga. “Hah? Ivan? Punya pacar cantik? Ah, Ibu yang benar saja. Aku tidak percaya kalau tiang listrik itu bisa pacaran.” Jawab Ignacio sembari melambaikan tangan nya.
“Hey, Ibu serius. Kalau kau tidak percaya kau bisa tanya sendiri padanya.” Ucap Ibu kantin sembari berjalan meninggalkan Ignacio. “Hah? Benarkah pohon kelapa itu punya pacar? Aku harus memastikannya sendiri.” Gumamnya. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi, dan semua siswa langsung beranjak pergi meninggalkan kantin.
__ADS_1
Sepulang sekolah,
“Woy, tiang. Kata Ibu kantin, kamu punya pacar?” Seru Ignaco kepada Ivan. “Kalo iya kenapa? Iri yaa..” Jawab Ivan. “Eh, itu benar? Mana pacarmu itu? Katanya cantik.” Sahut Georgy. “Dia sudah pulang.” Jawab Ivan dengan santainya. “Pacar??” Tanya Delvin dan Zhuzu bersamaan.
“Wah, cepat juga ya.” Sambung Delvin. “Kenapa kamu gak kasih tau kita?” Tanya Zhuzu. “Ya, aku gak terlalu suka membicarakan hal seperti itu. Jadi aku mengandalkan Ibu kantin.” Jawab Ivan. “Ya, setidaknya kasih tau kita dulu. Kamu gak minta restu nih?” Sahut Georgy. “Gak gitu. Lagi pula buat apa aku minta restu kalian? Aku juga gak kepikiran kalau Ibu kantin bakal kasih tau bocah sialan ini duluan.” Ucapnya sembari menunjuk Ignacio.
“Ibu kantin memang pilihan yang tepat. Satu sekolah sudah tau masalah ini. Tapi mereka tidak mengenal pemeran wanitanya, jadi mereka menyangka itu Wendy.” Sambung Georgy. “Kenapa Wendy?” Tanya Ivan. “Ya, karena apa lagi? Tentu saja karena dia asisten mu.” Jawab Ignacio.
“Jadi apa benar pemeran wanitanya itu Wendy?” Sambung Ignacio. “Fimela.” Jawab Ivan singkat. “Sudah kuduga.” Sahut Delvin dan Zhuzu bersamaan. “Fimela? Adik kelas yang popular itu? Yang super cantik, imut, manis dan polos layaknya malaikat itu?” Ucap Georgy yang sengaja memancing kemarahan Ivan.
“Hah? Apa? Coba katakan lagi. Aku tidak dengar.” Jawab Ivan dengan kepalan ditangannya dan aura menyeramkan yang meluap keluar dari tubuhnya. “Wah, posesif juga ya.” Sahut Ignacio. “Tunggu, bagaimana dengan dua orang temannya itu? Mereka sangat menyeramkan jika menyangkut urusan Fimela.” Sambung Georgy. “Tenang, ada mereka yang mengatasinya.” Jawab Ivan sembari menunjuk Delvin dan Zhuzu. “Benarkah?” Tanya Ignacio. Delvin hanya mengangkat bahu, sementara Zhuzu tidak menjawab apa-apa.
Di kantor kepala sekolah,
“Hm, pacar ya? Cepat juga. Dan dia memilih Fimela? Menarik. Aku harus segera melaporkan hal ini.” Ucap kepala sekolah.
*******************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1