
EPISODE 42 TRAUMA
Gelap sekali..
Tempat apa ini? Kenapa aku disini? Apa yang terjadi?
Aku tidak bisa lihat apapun..
“Hallooo.. apa ada orang?”
Tidak ada siapapun disini? Lalu, kenapa aku disini? Bagaimana bisa?
Apa aku cari jalan keluar sendiri saja? Tapi, apa tempat ini tak berujung? Aku sudah lumayan lama berjalan.. dimana jalan keluarnya? Apakah ada jalan keluarnya?
“Chemira..”
Seseorang memanggilku..
“Siapa? Siapa disana? Ada orang? Halloo?”
“Chemira..”
Siapa yang memanggilku?
“Siapaa?? Gelap sekali.. aku tidak bisa lihat apapun..”
“Chemira.. kemari lah, nak...”
Eh? Ini? Seperti suara..
“Mamah?? Mah?? Itu Mamah??”
Seseorang berjalan mendekat.. apa itu Mamah?
“Mah?”
“Kemarilah, sayang.. Mama rindu padamu.”
A-aku.. aku memeluknya? Ini.. ini sungguhan kan? Ini Mamah sungguhan kan? Jadi.. ini hanya mimpi?
“Jangan menangis, sayang.. Mama selalu disini.. jangan menangis..”
Tangannya menyentuh wajahku.. dingin sekali..
“Mah.. Mamah tenang saja.. aku akan cari kebenarannya.. aku pasti akan temukan kebenarannya.. hiks..”
“Tidak, sayang.. lupakanlah dendam itu. Mama baik-baik saja. Jangan hidup dalam dendam..”
“Tidak, ma. Aku tidak dendam.. aku hanya ingin tau yang sebenarnya.. aku ingin tau kebenarannya..”
“Sayang.. lupakanlah masa lalu.. hiduplah dengan damai.. Mama baik-baik saja, sungguh.. kau harus bahagia sayang.. temukanlah kebahagiaanmu sendiri..”
“Hiks.. hiks.. Ma.. aku..”
__ADS_1
Eh? Mamah? Ada apa? Kenapa melepaskan pelukannya?
“Mama harus pergi.. jaga dirimu, sayang.. jangan menangis lagi.. Mama sayang padamu..”
“Tidak. Jangan.. Mah.. jangan tinggalkan aku..”
“Tidak.. Mamah!!”
Chemira terbangun dari mimpinya..
“Ada apa? Kenapa kau menangis? Kau mimpi apa sih sampai menangis seperti itu?” Tanya Fimela yang sejak tadi berusaha membangunkan Chemira. “Aku.. menangis?” Chemira terlihat bingung, memorinya terpecah dan tak beraturan.
Arora mengusap pipi Chemira yang basah karena air mata. “Kau kira ini apa?” Ucapnya menunjukkan tangannya yang basah. Chemira tak menjawabnya, ia hanya tertunduk lesu.
Arora dan Fimela mengerti bahwa Chemira butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. “Kami tunggu dibawah. Sarapan sudah siap. Kau bersiaplah, kita hampir terlambat.” Ucap Fimela sebelum menarik Arora keluar dari sana.
Seolah tersadar, Chemira bergegas turun dari tempat tidurnya dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
-----
“Ada apa dengannya? Saat makan bersama dua hari lalu dia baik-baik saja. Kemarin juga dia terlihat baik-baik saja, bukan? Ada apa dengannya hari ini?” Tanya Fimela pada Arora.
“Mana aku tau? Tiba-tiba saja dia menangis seperti itu. Tapi, kemarin malam aku melihatnya melamun di balkon kamarnya.. aku tidak tau dia kenapa.” Jawab Arora sedikit ragu.
Fimela mengangguk, “Hm.. kemungkinan karena ‘itu’?”
“Mungkin saja.. setuju denganmu.” Sahut Arora.
-----
Tak lama setelah itu, Bu Vicha datang ke kelas lalu menyampaikan materi pembelajaran seperti biasanya.
Bu Vicha meninggalkan kelas lebih cepat dari biasanya karena ia sedang ada urusan. “Hoam.. kurasa aku bisa tidur sekarang. Aku sangat lelah.” Arora segera membereskan semua barang-barangnya yang ada di atas meja, sehingga membuat meja itu kosong.
“Enak sekali ya yang bisa tidur.” Ucap Fimela kesal, ia tidak bisa tidur di jam istirahat ini karena ia punya beberapa tugas yang harus ia serahkan. Chemira tampak diam saja, ia terlihat seperti tak tertarik dengan apapun disekitarnya.
Diamnya Chemira hari ini menjadi tanda tanya besar bagi Arora dan Fimela. “Chemira kenapa sih? Kayak gak ada semangat hidup aja.” Bisik Fimela pada Arora. “Shh.. jangan diomongin dulu. Mungkin dia butuh waktu sendiri.” Balas Arora yang juga berbisik.
Tiba-tiba, Arora merasa ponselnya bergetar. ‘Pesan? Dari siapa?’
From : Zhuya
Datang lah kemari saat jam istirahat.
‘Zhuya? Dia.. menyimpan nomornya di ponselku? Kapan? Nama kontaknya.. agar orang lain tidak tau?’ Pikirnya.
‘Ya sudah lah. Kesana sekarang saja. aku tidak ingin waktu istirahatku terganggu.’ Arora segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang dimaksud oleh sang pengirim pesan.
“Arora, kau mau kemana?” Tanya Fimela. Langkah Arora terhenti, “Ruang kesehatan.” Jawab Arora tanpa menoleh, lalu kembali melangkahkan kakinya.
Tepat setelah Arora keluar dari kelas, bel istirahat berbunyi. “Baiklah, aku harus menyerahkan tugas-tugas ini segera.” Ucap Fimela, lalu beranjak dari kelas dan menemui guru-guru yang bersangkutan.
-----
__ADS_1
Ruang kesehatan,
“Permisi, senior.” Ucap Arora sambil mengetuk pintu. “Masuklah.” Sahut seseorang dari dalam.
Arora membuka pintu dengan perasaan cemas. Ini aneh. Ya, aneh. Dia bahkan tidak tau kenapa dia merasa cemas. Perasaan itu muncul begitu saja.
Rasa cemas yang terpatri jelas diwajah Arora, membuatnya terlihat pucat pasi dengan keringat dingin yang menetes perlahan, juga sinar ketakutan yang terlihat jelas dari matanya. Zhuzu yang hendak menyambut kedatangannya, terlihat bingung dengan keadaan Arora.
“Kau kenapa?” Ia berharap akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Tapi sayangnya, ia harus menelan rasa kecewa karena Arora hanya menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah, duduklah dulu.” Ucapnya diikuti dengan anggukan dari Arora.
Arora mendudukkan dirinya di salah satu ranjang yang tersedia disana. Ia mencoba untuk menetralkan detak jantungnya dan mengatur napasnya supaya perasaan yang mengganggu itu hilang, tapi hasilnya nihil. Rasa cemas dan gelisah tetap saja menguasai dirinya untuk saat ini.
Zhuzu memperhatikan gerak-gerik Arora yang semakin lama semakin aneh. Kemudian ia memutuskan untuk menyeduh secangkir teh hangat untuk membantu menenangkan perempuan itu.
Dia menghampiri Arora dengan secangkir teh hangat ditangannya. “Kau.. punya trauma?” Pertanyaan itu membuat berbagai macam perasaan muncul dihatinya, sedih, marah, takut, gelisah, membuat rasa sesak yang amat sangat di rongga dadanya. Membuat tubuh mungil Arora bergetar.
Karena tak kuasa menampung semua itu, air mata pun menetes sebagai bentuk luapan emosi yang muncul secara tiba-tiba itu. ‘A-aku kenapa? Ke-kenapa aku menangis?’
Zhuzu mengambil tempat di sofa disamping ranjang. Ia hanya diam dan membiarkan Arora menangis meluapkan emosinya dihadapannya, untuk kedua kalinya.
Setelah beberapa lama, Arora sudah terlihat sedikit tenang. “Ini, minumlah dulu.” Zhuzu memberikan secangkir teh Chamomile yang sudah hampir dingin. Arora menerimanya, ia meminumnya hingga habis tak bersisa, kemudian meletakkan cangkir yang telah kosong itu ke atas nakas.
Setelah meminum tah itu, Arora merasa dirinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Perasaan negatif yang sebelumnya begitu melingkupi dirinya, kini perlahan mulai menghilang. Begitu juga dengan pusing yang sebelumnya ia rasakan.
“Lebih baik, hm?”
Arora mengangguk, “Ya, terima kasih senior.”
“Baiklah, aku memintamu kemari untuk memberikan ini.” Ucap Zhuzu sembari menunjukkan sebuah botol kaca berisikan cairan bening yang tampak berkilau. “Apa itu?” Tanya Arora. “Penawar racunmu.” Jawab Zhuzu dengan santainya.
Arora terbelalak mendengar jawaban itu, “Racun?”
“Ya. Yang membuat tubuhmu seperti sekarang adalah racun. Racun itu membuat kinerja peredaran darahmu terganggu. Itulah sebabnya kau bisa terkena berbagai macam penyakit yang berhubungan dengan darah. Bukan hanya pada darahnya, tapi juga organ-organnya. Itu juga bisa berimbas pada sum-sum tulang yang berfungsi menghasilkan sel darah.” Zhuzu mengucapkan kalimatnya secara perlahan agar Arora bisa mencernanya dengan baik.
Arora nampak tidak terkejut sama sekali. Ia hanya tampak lebih muram dari biasanya.
Benarkah? Apa benar seperti yang dia katakan? Kalau memang seperti itu.. apa dia tau penyebab kematian kakak?
“Kau dan kakakmu berbeda. Jenis racunnya sama, tapi cara kerja dan kerugian yang dihasilkan berbeda. Racun di tubuhmu bekerja dengan cara menggangu sistem peredaran darah, tapi tidak sampai menghentikan atau mematikannya. Sedangkan racun yang ada pada kakakmu berkeja dengan cara merusak dan mematikan organ peredaran darah. Sehingga darah tidak dapat mengalir ke tubuhnya.”
Kali ini Arora tampak lebih pucat dan lebih muram dari sebelumnya. Seluruh tubuhnya menegang. Ia tak menyangka kalau penyebab kematian kakaknya adalah suatu hal yang sama dengannya.
‘Orang-orang dibalik ini semua ingin membunuhku dan kakak. apa yang mereka inginkan? Apa yang mereka dapatkan dengan menghancurkan keluarga kami? Apa tujuan mereka sebenarnya?’
*************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1