
EPISODE 6 KEPINGAN PUZZLE
Waktu istirahat,
“Darimana kau bisa tau kalau Delvin menguping pembicaraan kita?” Tanya Fimela. “Ya, bagaimana kau bisa tau? Aku saja tidak menyadarinya.” Sambung Chemira. “Aku tidak tau tentang itu, aku hanya menebak. Dan ekspresinya mengatakan yang sebenarnya.” Jawab Arora santai.
*flashback on*
“Kak, kau menguping pembicaraan kami?” Tanya Arora tepat sasaran. “Eh? A-Aku? A-Aku tidak…” Delvin menjawab dengan ekspresi gugup yang tak bisa disembunyikan. “Kakak tidak menguping pembicaraan kami kan?” Sambung Arora. “Ah, tidak. Tentu saja tidak. Kalian percaya padaku kan? Aku tidak akan melakukan sesuatu yang dapat melanggar privasi seseorang.” Jawab Delvin yang mencoba menutupi kegugupannya. Tapi hal itu sia-sia, ekspresi nya telah mengatakan kebenarannya. “Baiklah. Kami percaya pada kak senior.” Jawab Arora dengan mengembangkan senyum ramah di wajahnya.
“Ah iya. Aku harus menemui Pak kepala sekolah sekarang.” Ucap Delvin sembari bergegas pergi menuju kantor kepala sekolah. “Dia sudah pergi, sekarang apa yang harus kita lakukan?” Tanya Chemira. “Bu Vicha bilang bahwa waktu untuk berkeliling area sekolah akan berakhir setelah waktu istirahat. Dan masih ada beberapa waktu lagi untuk kita berkeliling. Bagaimana?” Ucap Fimela memberikan kode. “Baik. Mari kita berkeliling-keliling sekolah sembari membicarakan misi kita selanjutnya.” Ajak Chemira.
*flashback off*
“Sepertinya kita juga harus berhati-hati pada Delvin. Dia sudah mendengar setidak nya setengah dari seluruh pembicaraan kita. Dia bisa saja mengumbarnya.” Ucap Fimela. “Ya, kurasa dia ada benarnya. Mulai sekarang kita harus berhati-hati padanya.” Sambung Arora. “Ya, aku juga berfikir begitu.” Jawab Chemira.
__ADS_1
“Ohya, apa kalian melupakan sesuatu?” Tanya Chemira. “Sara!” Jawab mereka serempak. “Kita harus segera ke taman belakang sekolah.” Ajak Arora. “Ya, ayo!” Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka sampai di taman belakang sekolah. Mereka segera mengambil tempat duduk yang terletak di bawah sebuah pohon Cherry. “Apa Sara belum datang?” Tanya Fimela sembari melihat ke sekeliling. “Mungkin.” Jawab Arora singkat. “Hey, itu Sara. Saraa! Disini!” Chemira hendak memanggil Sara sembari melambai-lambaikan tangan.
Tak lama setelahnya, Sara datang wajah cemberut. “Huh, aku kesal sekali hari ini. Pak Rey memarahi ku habis-habisan, hanya karena aku terlambat.” Gerutu Sara. “Kalian terlihat baik-baik saja. Kalian tidak dimarahi karena terlambat? Kalian ada di kelas mana?” Sambung Sara. “Kami di kelas 1A.” Jawab Fimela. “Waw, kalian satu kelas?” Tanya Sara penasaran. “Ya, kami satu kelas.” Jawab Arora. “Tunggu, kalian kelas 1A? Serius? Kelas 1A hanya di isi oleh orang-orang elite dan orang-orang berprestasi tinggi.” Ucap Sara dengan ekspresi takjub bukan main. “Wahh, aku tidak menyangka bahwa aku berkesempatan berteman dengan orang-orang elite dari kelas 1A.” Sambung Sara dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.
“Ohya, ngomong-ngomong, aku belum tau nama kalian loh.” Tanya Sara. “Aku Arora, ini Chemira, dan ini Fimela.” Arora memperkenal kan dirinya dan kedua sahabatnya. “Oh, okay. Salam kenal semua.” Jawab Sara. Mereka pun tak henti-henti nya mengobrol. Menceritakan segala hal yang bisa mereka ceritakan.
Sepulang sekolah, kediaman Arora, Chemira dan Fimela
“Hah, aku sangat lelah.” Ucap Arora sembari membanting kan tubuhnya ke sofa. “Bersihkan dulu dirimu. Setelah itu kita makan malam bersama.” Ucap Chemira. “Baiklah.” Ucap Arora dan Fimela. Setelah beberapa saat, “Boleh aku membantumu?” Tanya Fimela. “Siapa yang tidak ingin pekerjaannya dibantu orang lain?” Celetuk Chemira. “Ada loh orang yang pekerjaanya tidak ingin dibantu orang lain.” Ucap Fimela sembari mengambil pisau lalu ikut memotong bahan-bahan yang diperlukan.
Chemira sedikit kaget mendengar pernyataan Fimela, ia larut dalam pikirannya sendiri selama beberapa waktu. Chemira juga berpikir bahwa kemungkinan kepala sekolah juga terlibat dalam kejadian tersebut sangat masuk akal. Tetapi ia tidak ingin menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas. “Kita tidak bisa sangkut paut kan kepala sekolah dengan kejadian itu tanpa bukti yang jelas.” Ucap Chemira. “Tapi kita bisa cari bukti nya bukan?” Ucap Fimela meyakinkan. “Ya, dia benar. Kita bisa cari bukti nya.” Sambung Arora yang sedari tadi duduk diam di tangga sambil mendengarkna dan mencerna pembicaraan kedua sahabatnya itu. “Ya, kurasa kalian benar. Kita bisa cari kebenarannya.” Ucap Chemira sembari meyakinkan diri nya sendiri.
Setelah selesai memasak, mereka menyantap hidangan bersama-sama, seperti biasanya. Setelah selesai menyantap makan malam, merek aberkumpul seperti biasa di ruang keluarga.
“Aku harus memanggil White dan Blue kemari secepatnya, agar kita bisa diskusi kan hal ini bersama.” Ucap Chemira. Lalu ia pun menekan serangkaian angka yang bagaikan kode-kode yang tak dapat dimengerti oleh orang lain selain mereka. Lalu setelah menunggu beberapa saat, akhirnya yang mereka tunggu datang juga.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok.. “Permisi, Nona. Kami disini untuk memenuhi penggilan anda.”
“Masuklah.” Ucap Chemira memberikan izinnya. Lalu masuk lah dua orang perempuan yang memakai pakaian sejenis jubah, yang satu berwarna putih dan yang lainnya berwarna biru. “Ada apa anda memanggil kami kemari, Nona?” Tanya salah seorang dari perempuan misterius itu. “Aku memanggil kalian kemari untuk memberikan kalian sebuah tugas baru.” Jawab Chemira. “White, bisakah kau mencari sebanyak mungkin informasi tentang orang ini?” Tanya Arora sembari memberikan seberkas file yang berisikan data-data diri dari sang kepala sekolah. “Ohya, dan juga seseorang bernama Delvin Caliandra.” Sambung Fimela. “Baik, Nona. Akan saya laksanakan.” Jawab perempuan berjubah putih. “Dan Blue, bisakah kau mengawasi setiap gerak-gerik dari dua orang yang tadi?” Tanya Chemira. “Baik, Nona. Akan saya laksanakan.” Jawab perempuan berjubah biru. “Bagus. Laporkan setiap detail yang kalian temukan pada kami.” Ucap Arora. “Baiklah, itu saja. Kalian sudah boleh pergi.” Sambung Fimela. “Baik, percayakan pada kami, Nona.” Jawab dua perempuan berjubah itu.
Setelah pintu tertutup rapat, Arora angkat bicara, “Apakah menurut kalian tidak apa-apa jika begini?” Arora mneyuarakan pikirannya. “Mungkin, tidak apa-apa. Lebih baik jika kita melakukan persiapan terlebih dahulu.” Jawab Fimela. “Kita memerlukan lebih banyak informasi untuk menyelesaikan masalah ini.” Sambung Chemira.
“Oh aku hampir lupa. Tunggu sebentar!” Ucap Fimela sembari bergegas mengambil barang di kamarnya. Tak butuh waktu lama bagi Fimela untuk kembali ke ruang keluarga. “Ini, aku menyempurnakan ini semalam, bersamaan dengan anting-anting perekam itu.” Ucap Fimela sembari memamerkan penemuan terbarunya. “Robot?” Tanya Arora dan Chemira bersamaan.
************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1