The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 29 Kencan? (part 2)


__ADS_3

EPISODE 29 KENCAN? (part 2)


“Disini saja, terima kasih senior.” Ucap Fimela. “Hm? Rumah mu dimana?” Tanya Ivan. “Kau tidak mungkin tinggal disini kan? Ini masih kompleks sekolah.” Sambugnya. “Senior benar-benar akan mengantarku pulang?” Tanya Fimela. “Tentu saja. Bukankah tadi kau setuju?” Jawab Ivan.


Fimela terdiam sejenak, lalu ia menyuarakan pikirannya. “Bukankah kita hanya bersandiwara?” Tanya Fimela. Ivan terkesiap mendengar pertanyaan Fimela.


Jadi dia hanya menganggap ini sebagai sebuah sandiwara yang manis? Ah, benar. Ini hanya sandiwara, apa yang kau harapkan Ivan?


Ia mengembangkan senyum penuh ironi. “Ya, ini hanya sandiwara.” Jawabnya dengan senyum getir. Fimela merasa ada setitik rasa asing yang tidak pernah ia sangka memasuki relung hatinya.


Apa ini? Ada apa dengan rasa sesal ini? Ada apa dengan rasa bersalah ini?


“Hm? Kau kenapa?” Tanya Ivan. Ia melihat seberkas penyesalan di wajah Fimela. “Eh? Aku kenapa?” Pertanyaan itu lolos begitu saja. Ia tidak tau harus menjawab apa, karena ia sendiri tidak mengerti dengan perasaan nya saat ini.


“Tidak, tidak apa. Kau mau langsung pulang atau ingin kesuatu tempat terlebih dahulu?” Tanya Ivan. Disaat yang bersamaan, Fimela mendapatkan pesan dari Arora dan Chemira.


‘*Kami mungkin akan pulang telat. Jangan terburu-buru, nikmati saja harimu.’ – Arora.


‘Jangan menunggu kami pulang dan jangan terburu-buru untuk pulang. Kau bisa menikmati hari ini terlebih dahulu.’ – Chemira*.


‘Mereka mau kemana? Aku tidak punya teman dirumah. Jika aku tidak pulang, aku mau kemana?’ Pikirnya. ‘Menikmati hari? Apa maksudnya?’


Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga mengabaikan Ivan. “Fimela? Ada apa?” Pertanyaan Ivan membuatnya terlepas dari pikirannya. “Ah, tidak ada senior.” Jawab nya.


“Hm, kalau begitu, apa kau punya waktu sebentar?” Tanya Ivan. “Kenapa?” Tanya Fimela balik. “Tidak ada. Aku hanya ingin membawa mu ke suatu tempat yang mungkin kau suka.” Jawab nya yang sedikit salah tingkah. “Itu pun, em.. jika kau mau.” Sambung nya.


Fimela berpikir sejenak, ‘Tempat seperti apa yang dia maksud? Dia bilang saku mungkin akan suka tempat itu, tapi apa dia tau kesukaanku?’ Pikirnya. ‘Tapi jika aku pulang, tidak ada yang bisa aku lakukan. Apa lebih baik aku ikut saja?’


“Baiklah, aku ikut.” Jawab Fimela dengan senyuman dan kali ini terasa sangat tulus. “Kemari, ikut aku.” Ucap nya sembari menggandeng tangan Fimela. “E-eh?” Fimela terlihat bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba menggandengnya. Tapi Ivan mengabaikannya, ia terus menggenggam erat Fimela, ia ingin menikmati waktu seperti ini.


Mereka terus berjalan. Masuk ke daerah yang sepi penghuni, melewati berbagai macam lorong juga menyebrangi jembatan. Fimela sedikit takut, mereka semakin masuk ke pelosok yang jarang penduduk. “Se-senior, kita mau kemana?” Tanya nya lirih.


“Tidak perlu takut, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku punya integritas.” Jawabnya menenangkan Fimela. “Hm, baiklah.”

__ADS_1


Mereka melewati rumah-rumah penduduk sekitar, dan seperti nya Ivan sering kemari melihat begitu akrab nya dia dengan orang-orang disini. Mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah lorong yang lumayan panjang dan sangat sepi, hanya ada beberapa orang saja disana.


Saat hampir sampai di ujung lorong, terlihat sebuah lubang yang lumayan besar di salah satu sisi tembok. Ivan mengajak Fimela masuk ke sana. “Masuklah.” Ucapnya. Fimela takut, tapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.


Ia masuk ke dalam lubang itu dan menemukan sebuah lahan kosong yang luas dan dipenuhi dengan berbagai macam tanaman dengan warna-warna yang indah dan menyejukkan mata. “Kau suka?” Tanya Ivan yang juga ikut masuk kesana. “Hm, aku suka.” Jawab Fimela dengan gembira.


,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’,’


“Jadi senior, ada apa dengan tubuhku?” Tanya Arora menyelipkan nada tidak sabar dalam kalimatnya. “Bisakah kita membicarakanya ditempat lain?” Jawab Zhuzu dengan pertanyaan. “Haah, baiklah. Aku tidak tau tentang lingkungan sekitar, jadi bisakah senior saja yang memimpin?” Ucap Arora.


“Hm, bagaimana kalau taman kota?” Tanya Zhuzu. “Terserah.” Jawab Arora singkat. “Baiklah, ayo.” Ucap Zhuzu sembari mengambil langkah memimpin.


Arora mengikuti langkah Zhuzu, yang katanya akan menuju ke taman kota. Tapi Arora sedikit tidak yakin tentang itu, sedari tadi mereka hanya menyusuri lorong yang yang cukup luas tapi sangat sepi, tidak ada satupun orang disana.


“Senior, kita akan ke taman kota kan?” Tanya Arora. Zhuzu berbalik dan menatap Arora, “Kau tidak percaya padaku?” Tanya nya dengan tatapan menyelidik. ‘Aku tidak bisa percaya seorang pun dari keluargamu, termasuk dirimu.’ Batin Arora.


“Tidak, aku percaya padamu.” Jawab Arora dengan nada malas. Zhuzu sedikit kesal dengan jawaban Arora, tapi ia memilih untuk mengabaikannya dan kembali memimpin jalan.


Mereka terus berjalan di lorong itu. Dan di satu sisi, Arora melihat seorang anak kecil lusuh yang mendekati Zhuzu. “Kakak, kau kembali? Ada apa?” Tanya anak kecil itu. “Tidak ada, aku hanya ingin pergi ke taman kota. Kau sendirian? Dimana kakak mu?” Tanya Zhuzu sembari mengusap kepala anak kecil itu.


Zhuzu pergi dengan cepat dari sana, meninggalkan Arora dan anak kecil itu. “Kakak cantik, apa kau pacar nya kak Zhuzu?” Tanya anak kecil itu pada Arora. “Bukan, aku bukan pacarnya.” Jawab Arora sembari menunduk dan ikut mengusap kepala anak kecil itu.


“Kau masih kecil. Belum saatnya bagimu tau tentang pacaran.” Sambung Arora dengan seyum manis. “Kakak, kau sangat cantik. Kenapa kau tidak menjadi pacarnya kak Zhuzu saja? Dia adalah orang yang baik.” Ucap anak kecil itu dengan gamblang, membuat Arora menggelengkan kepala.


“Siapa yang mengajarimu untuk berbicara seperti itu? Keputusan untuk bersama seseorang tidak dapat diambil dengan mudah, harus punya banyak pertimbangan.” Jawab Arora. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang menariknya dari belakang dan kemudian langsung memeluknya. “Aaa! Lepaskan!”


“Cantik, bagaimana kalau kau bersama dengan ku saja? Aku jamin kau akan puas.” Seorang lelaki asing tiba-tiba datang dan memeluknya. “Hey, jelek. Lepaskan kakak cantikku.” Ucap anak kecil itu mengancam.


“Heh, kau mengancamku?” Tanya lelaki itu dengan tajam. Dia dan anak kecil itu serasa saling mengirimkan sinyal peringatan. “Lepaskan kakak cantik jika kau masih ingin punya masa depan.” Jawab anak kecil itu dengan berani.


“Berani juga kau, aku ingin tau apa yang bisa kau lakukan.” Seru lelaki itu dengan percaya diri. “Hmp, hmph.” Arora ingin segera menyuruhu anak kecil itu untuk segera pergi dari sana. Tapi tidak bisa, lelaki itu membekap mulutnya dan menahan tangannya.


“Diam. Aku akan melepaskan anak kecil itu jika kau menurut.” Bisik lelaki itu di telinga Arora. “Tidak kakak cantik, jangan turuti dia. Dia berbahaya.” Ucap anak kecil itu. “Heh, bocah. Kau jangan sok berani, kau tidak akan bisa apa-apa. Ini daerah kekuasaan ku.” Jawab lelaki itu lebih percaya diri dari sebelumnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, datang beberapa orang lagi. Mereka punya tubuh yang besar dan terlihat sangat kuat dengan otot-otot besar ditubuh mereka. “Hey cantik, menurutlah dan ikut aku. Aku jamin anak kecil itu akan baik-baik saja.” Bisiknya lagi.


“Kau, lepaskan dia.” Ucap seseorang dibelakang. “Heh, siapa kau? Berani-beraninya ikut campur urusanku.” Jawab lelaki itu dengan nada kesal. “Kakak! Akhirnya kau kembali.” Ucap anak kecil itu sembari berlari menuju ke sumber suara itu. Arora tidak bisa menoleh ke belakang, tapi ia kenal suara itu.


Itu Zhuzu.


“Kurasa kau salah tentang suatu hal.” Ucap Zhuzu seakan mennatang lelaki asing itu. “Hey, jangan mendekat atau aku menghabisimu.” Ucap lelaki itu mengancam. “Ini bukan daerah kekuasaanmu.” Ucap Zhuzu.


Bersamaan dengan diluncurkannya kalimat-kalimat itu, terdengar gemuruh dari arah berlawanan. Suara itu semakin kuat dan terasa mendekat. Tak lama kemudian orang-orang berdatangan dengan membawa berbagai jenis barang yang dapat melukai.


“Ini daerah kekuasaanku.” Sambung Zhuzu. Setelah kalimat itu diluncurkan, mereka yang baru saja datang segera mengangkat senjata mereka dan mulai menyerang pasukan lelaki asing itu. “Hey, kalian. Cepat habisi mereka.” Perintah lelaki itu kepada anak buah nya.


Sementara anak buahnya bertarung, ia ingin pergi menyelinap dari sana dengan membawa Arora. “Kau, berhenti.” Ucap Zhuzu dengan menodongkan sebuah jarum perak kecil dari arah belakang. “Kau belum boleh pergi. Lepaskan dia.” Sambungnya.


“Kau, aku tidak akan melepaskannya. Dia milikku. Anak buah ku akan segera mengurusmu.” Ucap lelaki itu yakin bahwa anak buahnya akan menang. “Kubilang, lepaskan dia.” Kalimat itu diucapkan dengan penuh penekanan, membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri.


“Kau..” Sebelum lelaki itu menyelesaikan kalimatnya, Zhuzu menusuk tubuhnya dengan jarum-jarum perak itu di bagian-bagian tertentu. Tubuhnya berubah lunglai dan segera melepaskan Arora. “Huaa, kakak cantik. Kau selamat.” Ucap anak kecil itu sembari berlari memeluk Arora.


Setelah tubuh lelaki itu tersungkur tanpa daya, Zhuzu hanya mengabaikannya, membiarkannya tergeletak ditanah. Ia lebih memilih melihat keadaan Arora. “Kau baik-baik saja?” Tanya Zhuzu. Arora menatap mata biru kehitaman yang indah itu. “Hm, a-aku baik-baik saja.” Jawab Arora.


Zhuzu mengulurkan tangannya, “Mau aku bantu berdiri?” Tanya nya. Arora merasa kakinya lemas karena takut, dan ia memilih untuk menerima bantuan Zhuzu. “Hm, terima kasih.” Jawabnya.


Lalu suara keributan yang tadi melingkupi, mulai mereda dan akhirnya menghilang. “Bos, kami sudah menyelesaikan mereka.” Ucap seorang pemuda yang sama lusuhnya dengan anak kecil tadi. “Mereka harus diapakan, bos?” Tanya pemuda lainnya lagi.


“Bawa mereka ke kantor polisi, biarkan para polisi yang menyelesaikan.” Jawab Zhuzu. Lalu ia pergi dan mengambil sebuah kantong plastik berukuran besar. “Ini, berbagilah.” Ucapnya sembari memberikan kantong itu pada salah satu pemuda tadi.


“Terima kasih untuk yang tadi.” Ucapnya tulus dengan aura lembut yang ramah. “Santai saja, bos. Kami pasti akan melindungi pacarnya bos. Kami tidak akan mengecewakan mu.” Jawab lelaki itu sembari menyentap makanan yang ada di dalam kantong pemberian Zhuzu.


*******************


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.

__ADS_1


Thank you all ~~


__ADS_2