
EPISODE 4 SIAL ATAU BERUNTUNG? (part 1)
“Pagi ini, saya mengucapkan selamat datang untuk para siswa baru, baik dari dalam negri maupun siswa internasional. Mulai hari ini, anda memasuki tahap pendidikan lanjutan, setelah berhasil menyelesaikan tahap pendidikan sebelumnya. Pada tahap pendidikan lanjutan ini, ada tiga hal pokok penunjang yang menentukan keberhasilan mengikuti pendidikan yaitu kedewasaan, kemandirian dan kerja keras… Bla bla bla” Pidato yang diucapkan para kepala sekolah saat penyambutan siswa baru merupakan hal yang membosankan, tidak terkecuali bagi Arora, Chemira dan Fimela. Walaupun membosankan, tetapi mereka tetap mendengarkan dengan khidmat sebagai bentuk rasa hormat mereka.
Setelah acara penyambutan siswa baru telah berakhir, mereka segera berkeliling sekolah mencari dimana letak kelas mereka. mereka tidak sempat mencari kelas sebelum acara penyambutan dimulai. Tidak banyak waktu yang tersisa saat itu, lalu tanpa pikir panjang mereka bergegas menuju ke aula.
*flashback on*
“Fimela!! Arora!! Bangun!!” Chemira berteriak membangunkan kedua sahabatnya yang masih tertidur pulas. “Hoaam… Ada apa pagi-pagi begini, Chemira?” Tanya Arora yang baru saja terbangun dari tidurnya. “Buruan bangun! Kita kesiangan.” Seru Chemira. Mendengar bahwa dirinya bangun kesiangan, Arora melihat kearah jam digital di sebelah tempat tidurnya untuk memastikan. ’08:17 AM’ . “Hah?! Sudah jam segini? Gawat gawat gawat. Harus cepet.” Arora bergerak secepat yang dia bisa untuk mengejar waktu.
“Fimela!! Bangunlah! Kau mau ditinggalkan sendirian disini?!” Seru Chemira membangunkan Fimela. “Fimela, bangunlah! Kita kesiangan! Kau mau kita terlambat dihari pertama?” Chemira menggedor pintu kamar Fimela sembari berteriak untuk membangunkannya. “Haah?! Astaga! Aku kesiangan!” Fimela bergerak dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya.
*flashback off*
__ADS_1
Setelah berkeliling setidaknya setengah dari seluruh gedung yang ada di sekolah itu, mereka tetap saja tidak dapat menemukan kelas mereka. Karena mereka kesiangan dan kebanyakan orang sudah masuk ke kelas mereka masing-masing, mereka jadi kesulitan untuk mencari kelas mereka. Sekolah itu juga memiliki banyak sekali gedung-gedung bertingkat yang kebanyakan gedung itu berisikan ruang kelas.
Di tengah kebingungan yang melanda mereka, ada seseorang yang memanggil mereka dari arah belakang. “Hey, apa kalian tersesat? Kalian kelihatan ling-lung? Kalian siswa baru ya?” Tanya seorang perempuan asing yang menyapa mereka.
“Ah, iya. Kami siswa baru disini. Bisa bantu kami menemukan kelas kami?” Ucap Chemira. “Tentu saja, sudah tugasku sebagai seorang senior untuk membantu para siswa baru.” Ucap perempuan itu seraya tersenyum. “Oh iya, perkenalkan, namaku Saralee Calliany. Kalian bisa panggil aku Sara. Dan ingat untuk tidak memanggilku dengan sebutan ‘senior’.” Ucap Sara dengan nada tegas. “Hm, apa kalian sudah tau kalian ada di kelas mana?” Sambung Sara. “Tidak, kami belum tau.” Jawab Fimela. “Jadi begitu. Mari, aku antar ke pusat informasi.” Sara memimpin perjalanan mereka kali ini. Sebenarnya, mereka sangat bersyukur dapat bertemu seseorang di saat seperti ini, apalagi dia adalah seorang senior yang sudah dapat dipastikan bahwa ia benar-benar paham dengan layout sekolah ini.
Sara membawa mereka ke gedung pertama yang letaknya berada di sebelah aula utama. “Nah, kalian sudah sampai. Di pusat informasi ini, ada sebuah mading yang berisikan semua informasi yang pasti nya akan sangat dibutuhkan oleh para siswa baru seperti kalian. Disini juga terdapat peta sekolah. Dan ini adalah daftar nama siswa baru beserta kelasnya.” Ucap Sara selayaknya seorang professional. Tiba-tiba bel berbunyi, yang menandakan bahwa 30 menit telah berlalu. Sara terlihat panik dan kemudian langsung bersiap untuk pergi. “Ah, kalian cari saja kelas kalian di daftar ini, dan kalian juga bisa mengikuti arah petunjuk pada peta ini. Aku harus segera pergi, sampai jumpa. Jangan lupa untuk menungguku di bawah pohon cherry di taman sekolah pada jam istirahat.” Sambung Sara yang segera berlari menuju kelasnya. “Sara, tunggu! Kami belum sempat mengucapkan terima kasih!” Seru Arora. “Tidak apa-apa, nanti saja!” Balas Sara yang ternyata masih dapat mendengar perkataan Arora.
Sesampainya di ruang kelas
Tok.. tok.. tok.. “Permisi, Bu. Maaf kami terlambat.”
Mendengar suara dari arah pintu, Bu Vicha langsung mengarahkan pandangan nya kea rah pintu. Ia kaget melihat tiga orang siswa nya datang terlambat. “Kalian masuklah. Berdiri didepan kelas.” Perintah Bu Vicha. Arora, Chemira dan Fimela hanya bisa menurut. “Baiklah, sekarang Ibu Tanya, kenapa kalian bisa terlambat di hari pertama kalian di sekolah ini?” Tanya Bu Vicha dengan senyuman ramah. “Hm, maaf Bu. Tadi kami tersesat.” Ucap Chemira memberanikan diri nya. “Haah, kalian ini. Sudahlah, nanti saja. Sekarang perkenalkan diri kalian masing-masing.” Perintah bu Vicha.
__ADS_1
“Hay teman-teman. Namaku Arabella Arora Clarissa.” Ucap Arora. “Namaku Aristelya Chemira Kirania.” Ucap Chemira. “Aku Ayunindya Fimela Zhafira.” Ucap Fimela. “Salam kenal teman-teman semua.” Ucap Arora, Chemira dan Fimela kompak sembari membungkukkan tubuh.
“Baiklah, kalian boleh duduk.” Ucap Bu Vicha sembari menunjuk tiga bangku kosong di barisan belakang. “Baik, terima kasih Bu.” Ucap mereka bertiga serempak.
“Wihh cantik-cantik tuh.” Ucap Nicholas. “Wihh bener. Cantik-cantik banget tuh.” Ucap Raymond. “Mau coba ajak ngobrol gak?” Pancing Nicholas. “Boleh banget. Kesempatan langka ini, bisa ketemu sama cewe-cewe cantik kaya mereka.” Ucap Raymond setuju. “itu yang dipojok jangan asik ngobrol sendiri ya.” Tegur Bu Vicha kepada Nicholas dan Raymond. “Baik, Bu.” Jawab Raymond.
“Permisi, Bu Vicha.” Seseorang berucap dari balik pintu. “Ya, masuklah.” Ucap Bu Vicha memberikan izinnya. “Nah, anak-anak dengarkan Ibu. Mereka adalah kakak senior kalian, mereka akan memandu kalian berkeliling sekolah.” Ucap Bu Vicha. “Hallo adik-adik. Perkenalkan nama kakak Ignacio. Dan ini teman kakak , Zhuzu.” Ucap salah satu dari 2 kakak tingkat mereka di sekolah ini. “Baiklah anak-anak, sekarang kalian bisa berkeliling area sekolah. Ingat untuk selalu mendengarkan penjeasan dan arahan dari kakak senior kalian, mengerti?” Jelas Bu Vicha. “Baik, Bu.” Jawab seluruh siswa dikelas itu.
“Oh ya, untuk kalian yang baru saja terlambat, sekarang ikut Ibu ke kantor.” Perintah Bu Vicha. Arora, Chemira dan Fimela sontak berdiri mendengar bahwa mereka dipanggil untuk mengikuti Bu Vicha. “Baik, Bu” Jawab mereka serempak.
Melihat mereka bertiga, Ignacio sontak membatin. ‘Wah, cantik sekali. Mereka terlambat? Tapi kenapa? Mereka terlihat seperti siswa yang patuh. Tapi, mereka sangat cantik, paras nya begitu menawan hati.’ Batin Ignacio. “Hey, Cio. Apa yang kau lamunkan?” Tanya Zhuzu dengan polosnya.
Zhuzu adalah satu-satunya lelaki yang tidak pernah tertarik dengan paras seseorang, secantik apapun perempuan itu. Jadi, Ignacio sudah biasa melihat ekspresi Zhuzu yang tidak berubha sedikit pun melihat para perempuan-perempuan cantik di dunia ini. “Tidak, tidak ada. Ayo kita lanjutkan saja tugas kita.” Ucap Ignacio sembari menarik pergelangan tangan Zhuzu. “Bisa kau lepaskan itu?” Tanya Zhuzu sembari menatap tajam ke arah tangan Ignacio yang memegang tangannya. “Baiklah. Aku tidak sengaja, maaf kan aku.” Balas Ignacio yang mencoba untuk mengajaknya bercanda. Tapi sepertinya itu tidak berhasil, melihat ekspresi Zhuzu yang tidak berubah sama sekali.
__ADS_1