
EPISODE 33 PERASAAN BERSALAH
Arora membuka matanya perlahan, ‘Huh? Dimana aku?’ Pikirnya. Ia masih merasakan sakit dikepalanya. Kemarin, kesadarannya seperti direnggut dengan paksa dari dirinya. Dan sekarang ia tidak tau dia ada dimana.
Disekelilingnya terdapat banyak perabotan mewah yang sepertinya tidak dipakai lagi. Tempat itu sangat luas dengan pencahayaan yang sangat sedikit.
Saat ini di terbangun disebuah sofa empuk yang bernuansa mewah, benar-benar khas orang kaya. Arora terkesiap saat mendapati bahwa ada seseorang yang masuk ke ruangan itu. Orang itu masuk dengan membawa lilin di tangan kirinya dan nampan berisi makanan juga minuman di tangan kanannya.
“Kau.. siapa?” Tanya Arora yang berusaha mengalahkan rasa takutnya. “Tenang saja, kakak ipar. Kau akan baik-baik saja.” Ucap seorang gadis kecil yang menghampirinya. “Kakak ipar?” Arora bingung kenapa dia dipanggil dengan sebutan kakak ipar. “Iya, kakak cantik. Naufal bilang kau akan segera menjadi kakak ipar kami.” Jawab gadis kecil itu dengan senyum ceria.
“Eh? Ta-tapi..” Ia ingin menyangkal, tapi ia terlalu bingung hingga kehabisan kata-kata. “Ohya, kakak cantik. Ini, aku membawakanmu makanan juga minuman.” Ucap gadis kecil itu sembari meletakkan nampan ke atas meja di hadapan Arora.
“Kakak habiskan ya. Aku pergi dulu.” Ucap nya dengan senyum lebar yang manis. “Tunggu!” Seru Arora. “Ya? Ada apa kak?” Jawab nya. “Em, bisa kau temani aku sebentar?” Tanya Arora dengan memelas.
‘Ba-bagaimana ini? Aku harus apa? Tugasku hanya sekedar membawa makanan, kan? Apa aku perlu tinggal?’ Batinnya. Gadis kecil itu menatap ke arah pintu, ia meminta bantuan dari seseorang yang ada disana. Orang itu memberi kode agar dia bisa pergi dan menyerahkan sisanya padanya.
“Em, maaf kak, bukannya aku tidak mau. Tapi aku harus membantu yang lain dibawah.” Jawab nya dengan rasa bersalah yang disengajakan. “Ah, ti-tidak. Tidak apa jika kau tidak bisa.” Ucap Arora mengalah. Ia tidak tahan melihat wajah sedih anak itu, karena memang anak kecil adalah kelemahannya.
“Baik, kalau begitu aku permisi kakak cantik.” Anak itu segera pergi dari ruangan itu, meninggalkan Arora sendirian disana, ditempat yang lumayan gelap itu. Seseorang dibalik pintu masih berdiam diri di tempatnya, ‘Takut gelap, heh?’
Arora memandangi sekelilingnya. Gelap. Hanya itu yang bisa ia lihat. “Kenapa disini gelap sekali sih? Apa tidak ada lampu ya?” Gumamnya. Ia berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan itu untuk mencari saklar lampu.
“Saklar nya dimana? Tempat ini sangat luas.” Tempat itu terlalu gelap untuk nya dan ia terlalu sibuk mencari, hingga ia tidak menyadari jika orang yang ada dibalik pintu kini telah mendudukan dirinya di sofa awal tempat Arora terbangun.
Seletah beberapa menit mencari-cari di sekeliling ruangan, ia tidak mendapati saklar lampunya berada. Ia terduduk lemas di lantai, “Gelap sekali. Aku takut.. “ Ia terisak memeluk tubuhnya yang gemetar.
Tiba-tiba seseorang menyalakan sebuah lilin dan berjalan mendekati Arora. “Bangunlah, aku temani.” Ia mengulurkan tangannya. Arora mendongakkan kepala untuk melihat siapa orang itu, “Eh? Se-senior?”
Arora menerima uluran tangannya. Ia memapah Arora menuju sofa dan meletakkan lilin yang ia bawa ke atas meja. “Makanlah, aku akan menyalakan lilin yang lain.” Ucapnya lalu pergi mengeliling ruangan sembari menyalakan setiap lilin yang ada.
Arora hanya menatap makanannya, ia tidak berselera. “Kenapa tidak dimakan? Tidak suka?” Suara itu membuat Arora terkesiap, tapi tak lama ia kembali menatap kosong makanan itu.
Kenapa dia? Kenapa harus dia? Aku mencoba untuk membencinya. Tapi aku tak bisa.
“Kau kenapa? Masih sakit kah?” Tanya Zhuzu. Arora menggeleng. ‘Ada apa dengannya? Apa dia masih marah padaku?’ Pikir Zhuzu. Ia menghela napas lalu kembali mendudukan dirinya di sebelah Arora.
“Arora?” Tanya nya sedikit khawatir. “Apa?” Jawabnya lirih. “Ada apa?” Tanya nya lagi. Arora terdiam sejenak. “Bisakah kau sedikit menjauh?” Pintanya setengah berbisik. Zhuzu segera berdiri dan melangkahkan kaki menuju ke sebuah jendela besar yang jaraknya lumayan jauh dari Arora lalu duduk bersila di lantai. “Apa seperti ini cukup?”
__ADS_1
“Maksudku bukan menjauh yang seperti itu.” Ucapnya. “Lalu? Yang bagaimana?” Tanya nya. Arora tampak menahan isak tangis. “Aku.. aku selalu ingin membencimu.. tapi aku tidak bisa.” Ucapnya diiringi dengan air mata yang mengalir dan suara isak tangis yang memenuhi ruangan.
Zhuzu membiarkan Arora menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala beban dihatinya. Ia hanya duduk terpaku ditempatnya.
Di luar ruangan,
“Kakak ipar menangis? Kenapa?” – Naufal
“Aku tidak tau. Apa kak Zhuzu melakukan sesuatu padanya?” – Nathalie
“Jika itu benar, maka aku akan memarahinya habis-habisan setelah ini. beraninya dia membuat kakak cantik ku menangis.” – Naufal
“Hey, kalian masih kecil. Jangan ikut campur urusan orang dewasa.” – Bibi Jia
“Tapi, bi. Kenapa kakak cantik menangis? Bukankah bibi bilang jika menangis maka cantiknya akan hilang?” – Nathalie
“Kau ini, itu hanya berlaku bagimu. Mau bagaimana pun kakak ipar tetap cantik.” – Naufal
“Sudah sudah. Kalian kembali lah kekamar kalian dan pergi tidur.” – Bibi Jia
“Tidak mau. Aku ingin tetap disini.” – Naufal
“Haah, kalian ini, benar-benar keras kepala.” – Bibi Jia
Di dalam ruangan,
Arora sudah lumayan tenang, tangisannya sudah mereda. Walaupun begitu, mereka tetap dalam keheningan satu sama lain. “Akhirnya kau mengatakannya.” Ucap Zhuzu yang memulai pembicaraan.
“Kau.. kau tau masalah itu?” Tanya Arora yang masih dengan isak tangisnya. “Aku tau. Dari saat kau pura-pura tidur dan menguping pembicaraan kami, hingga hal yang membuatmu ingin membenciku.” Jawabnya. Arora bergeming, ia hanya ingin menjadi pendengar.
“Jika aku mengatakan ini, apakah kau akan percaya?” Ia terdiam sejenak lalu kembali bicara. “Aku tidak terlibat dalam kejadian itu dan aku ingin membantu menyembuhkan dirimu sebagai permintaan maaf atas nama keluarga ku.” Sambungnya.
Arora terdiam, ia mencoba untuk mencerna kata-kata yang dilontarkan seniornya itu. “Kau.. akan benar-benar membantuku sembuh?” Tanya nya untuk memastikan. “Ya.” Jawabnya singkat namun pasti.
“Tapi, apa kau benar-benar tidak terlibat? Kau tidak menipuku kan?” Tanya Arora yang masih ragu. “Aku hanya lebih tua satu tahun darimu. Saat kejadian itu, mungkin saja dirimu lebih tinggi dariku.” Jawabnya meyakinkan.
“Jadi, Kau mau menerima permintaan maafku?” Sambung nya. “Apa kau bisa dipercaya?” Tanya Arora masih meragukan Zhuzu. Zhuzu hanya terdiam, menunggu jawaban. “Baiklah, aku akan percaya padamu.” Jawabnya dengan senyuman.
__ADS_1
“Terima kasih sudah percaya padaku.” Ucapnya sembari membalas senyuman Arora. “Sekarang, makan makananmu.” Perintahnya dengan lembut. “Tapi ini dingin.” Jawab Arora. “Makan saja, masih akan terasa enak.” Jawab Zhuzu.
Arora memakan makanan itu. “Hm, ini enak.” Ucapnya sembari tersenyum. “Siapa yang memasaknya?” Sambung Arora. “Nathalie.” Jawabnya singkat. “Nathalie? Siapa?” Tanya Arora. Zhuzu melirik ke arah pintu, “Dia yang membawakan makanan mu kemari.” Jawabnya dengan cepat mengalihkan kembali pandangannya menuju Arora.
“Eh? Dia? Jadi nama nya Nathalie?” Ucapnya antusias. “Bukan itu yang ingin kau katakan bukan?”Tanya Zhuzu dengan ekspresi tak percaya. “Tidak, aku memang ingin mengatakan itu. Kau tau apa tentang diriku?” Jawabnya dengan sikap menyebalkan yang memang disengaja untuk membalas dendam.
Zhuzu hanya menggeleng kecil. Ia sudah tidak tau harus bagaimana. Perempuan itu selalu membuatnya merasakan hal baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. “Ohya, bagaimana kau bisa kenal mereka semua?” Tanya Arora lagi.
“Saat aku berjalan-jalan berkeliling sekitar sekolah, aku menemukan mereka semua di lorong yang tadi.” Ia sengaja menjawab setengah-setengah untuk memperpanjang pembicaraanya dengan Arora.
“Lalu kenapa mereka memanggilmu ‘bos’?” Tanya nya sembari mengunyah makanan dalam mulutnya. “Aku tidak tau.” Jawabnya. Ia benar-benar tidak tau dan tidak ingin tau. Arora hampir tersedak mendengar jawaban singkat, padat dan jelas itu.
“Jadi, kau hanya menerimanya saja? Bagaimana kau bisa menerima mereka begitu saja? Juga anak kecil itu, kau terlihat sangat dekat dengannya.” Ucap Arora menumpahkan semua isi pikirannya.
“Anak kecil itu, aku dan dia sama. Tidak, aku dan mereka semua sama.” Sorot matanya berubah, penuh kesedihan dan rasa sakit yang menyesakkan. “Sama? Apa maksudmu?” Arora menjadi penasaran dengan cerita dari senior menyebalkan yang baru saja ia percaya ini.
“Bolehkah aku bercerita padamu? Apa kau bisa dipercaya?” Tanya dengan senyum penuh arti. “Kau! Dasar menyebalkan!” Seru Arora dengan bantal-bantal sofa yang sudah berterbangan. “Senior pasti sengaja kan?! Ah, menyebalkan!” Zhuzu yang menerima serangan bertubi-tubi itu hanya menghindar walaupun ia bisa membalas.
… (dan pertarungan itu terus berlanjut sampai semua bantal di sofa habis) …
“Haah, aku lelah. Aku ingin tidur saja.” Arora beranjak dari sofa, ia benar-benar lelah setelah pertarungan itu, terlebih ia habis menangis. “Apa aku masih punya kesempatan bercerita?” Pancing Zhuzu. Arora segera menangkap umpan itu, ia kembali duduk tenang di sofanya.
“Ehem, baiklah. Kau bisa jelaskan apa maksud perkataanmu yang sebelumnya.” Ucap Arora mempersilahkan layaknya seorang pembawa acara professional. “Yang mana? Apakah bagian ‘apa kau bisa dipercaya’?” Tanya nya yang sengaja mengungkit bagian yang paling bisa membuat Arora kesal.
Tahan Arora, tahan. Aku tau kau bisa Arora. Dia hanya ingin melihatmu kesal. Kau harus sabar menghadapi brengsek ini.
“Ah, bukan yang itu senior. Tapi yang sebelumnya lagi.” Jawab Arora dengan senyum dipaksa dan sedikit mengancam. “Haha, baiklah. Yang sebelumnya lagi kan?” Ucapnya sembari tertawa lepas. Ia tak menyangka, berinteraksi dengan Arora semakin lama semakin membuatnya nyaman hingga ia lupa akan beban berat yang harus ia tanggung setiap harinya, walaupun hanya sejenak.
Arora tertegun melihat pemandangan langka dihadapannya saat ini.
Dia? Senior yang terkenal sangat dingin itu? Lelaki yang terkenal dengan sifat gunung es nya itu? Itu dia? Dan saat ini ia tertawa? Apa aku salah lihat? Tapi dia yang seperti itu juga tak masalah, dan senyumannya yang seperti itu membuatnya terlihat.. sangat..tampan.
*******************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~