
EPISODE 18 MEMAINKAN DRAMA
“Istimewa? Apa maksudmu?” Tanya Arora. “Kondisi tubuhmu berbeda.” Jawab Zhuzu yang kemudian beranjak pergi menuju ruangan yang disediakan khusus untuk beristirahat, tempat Arora, Chemira dan Fimela tertidur kemarin. “Haahh, anak itu selalu seperti itu. Aku bahkan tidak bisa merubahnya.” Ucap suster Dairy.
“Hm, suster. Aku juga pergi istirahat.” Ucap Ivan yang pergi menyusul Zhuzu. “Baiklah. Kalian juga pergilah beristirahat. Masalah surat izin, biar aku saja urus.” Ucap suster Dairy sembari beranjak dari tempat duduknya. Arora, Chemira dan Fimela menuruti perkataan suster Dairy.
Di dalam ruangan tidak hanya ada Zhuzu dan Ivan, tapi juga ada Delvin. Tempat itu sudah seperti sebuah markas bagi mereka. “Oh, hay. Kalian datang lagi? Ada apa?” Tanya Delvin. “Bukan urusanmu.” Jawab Chemira singkat. Jawaban itu membuatnya merasa seperti ada sebuah pedang tajam yang menusuk nya dengan kejam. “Oh, baiklah.” Balasnya singkat.
Arora, Chemira dan Fimela segera menempati tempat tidur yang berseberangan dengan Zhuzu, Delvin dan Ivan, jarak nya juga lumayan jauh. Mereka memutuskan untuk istirahat dengan tenang tanpa memperdulikan tiga lelaki aneh dihadapan mereka. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tertidur pulas dan mengikuti alur mimpi indah.
“Apa mereka benar-benar sudah tertidur?” Tanya Delvin. “Sepertinya iya.” Jawab Ivan sembari memperhatikan ketiga gadis kecil dihadapannya. Sejenak, terjadi keheningan disekeliling mereka. Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing, dan akhirnya Ivan lah yang memecah keheningan tersebut. “Apa kau akan memberitahu Arora tentang kondisinya?” Ivan melihat terdapat setitik rasa ragu di sorot matanya, tapi sepertinya Zhuzu sudah memutuskan.
“Iya.” Jawabnya singkat. Ivan dan Delvin saling bertukar pandang, mereka tidak begitu yakin dengan pilihan yang diambil Zhuzu. “Apa kau yakin?” Tanya Delvin. Zhuzu seperti memikirkan kembali keputusannya, ia sendiri tidak yakin dengan pilihannya.
‘Apa hal ini sudah benar?’ Batinnya. ‘Bagaimana reaksinya jika dia tau yang sebenarnya? Apa dia akan membenciku? Bagaimana kalau dia membenciku? Apa yang harus aku lakukan?’ Zhuzu mengacak rambutnya dengan penuh rasa frustasi. Dan tentu saja hal itu tak lepas dari pengamatan Ivan dan Delvin.
Mereka sudah mengenal Zhuzu sejak lama, dan bisa dibilang mereka yang paling bisa mengerti Zhuzu. Dia tak pernah se-frustasi ini sebelumnya, ia biasanya akan mengambil keputusan dengan mengikuti instingnya. Tapi sekarang berbeda, ia begitu memikirkan dampak dari keputusannya.
“Kalau kau tidak yakin, kita bisa mengundur waktu pengobatannya.” Ucap Delvin berniat memberikan waktu tenang bagi Zhuzu untuk memikirkan kembali keputusannya. Zhuzu menggeleng capat, “Tidak, tidak bisa. Jika kita terus mengundur waktu, bisa berbahaya bagi tubuhnya.” Zhuzu semakin frustasi memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi.
__ADS_1
“Apa bisa membujuknya tanpa memberitahunya? Dia seorang yang jenius, kurasa tidak mudah untuk memenangkan kepercayaannya.” Ucap Ivan. Delvin mengangguk setuju, “Dia benar, mereka tidak mudah. Jadi kurasa kau harus beritahu dia.” Sambung Delvin memberikan sarannya.
Zhuzu tetap bergeming. Ia juga memikirkan tentang kemungkinan kecil itu, tapi ia masih ragu untuk memberitahunya, terlebih hal itu terjadi karena keluarganya. Seolah menyadari kekhawatiran Zhuzu, Ivan angkat bicara. “Ini bukan salahmu, kau tidak terlibat dalam kejadian itu. Kurasa ia masih bersedia berteman, setidaknya untuk menyembuhkan dirinya sendiri.”
Mendengar ucapan Ivan, Zhuzu semakin meyakinkan hatinya. Aku akan beritahu dia.
“Setelah kau menyelesaikan urusan dengan ‘perempuanmu’ itu. Kau bisa kembali sebagai pengurus organisasi.” Ucap Delvin sembari tersenyum penuh makna. “Bukankah aku selalu seperti itu? Walaupun aku sedang bertugas sebagai pengganti suster Dairy, aku tetap menjalankan tugasku sebagai pengurus organisasi. Jangan buat seolah-olah aku melalaikan tugasku.” Balas Zhuzu yang ikut mencairkan suasana.
Setelah lumayan lama tertidur, Chemira akhirnya terlepas dari mimpi indahnya di siang hari ini. Ivan yang melihat adanya pergerakan dari arah seberang. “Chemira?” Panggilnya. Delvin yang mendengar nama Chemira, langsung mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Chemira. Melihat Chemira yang masih linglung dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, Delvin langsung berdiri dan mengambilkannya segelas air.
“Apa kau haus? Yang aku tau, meminum suplemen itu akan membuat kerongkonganmu terasa sedikit tidak nyaman.” Ucap Delvin dengan tulus. Chemira langsung meneguk air itu, ia benar-benar haus. ‘Menggemaskan.’ Batin Delvin.
“Hey, kau lihat itu? Dia berusaha keras untuk mendapatkan kepercayaannya.” Bisik Ivan. “Ya, kurasa ia tidak ingin kalah darimu.” Balas Zhuzu. Melihat Ivan dan Zhuzu yang saling berbisik sembari menatap ke arah nya, Delvin memandang mereka dengan tatapan penuh peringatan.
“Hoaam. Senior, aku mengantuk.” Ucap Chemira sembari mengembalikan gelas yang telah kosong itu kepada Delvin. Tanpa menunggu respon dari Delvin, Chemira langsung membanting kembali tubuhnya ke tempat tidur dan ia kembali memasuki alam mimpi.
“Zhuzu, apa yang kau masukkan ke dalam suplemennya? Kenapa reaksinya seperti itu?” Tanya Delvin. “Tidak ada, aku hanya memasukkan bubuk sari dari beberapa tumbuhan yang biasa aku pakai untuk obat tidur. Dan satu bahan khusus yang dapat mengatur waktu tidurnya, untuk mengembalikan waktu istirahatnya yang kurang.” Jawab Zhuzu.
Delvin menganggukkan kepala, ia mengerti yang diucapkan Zhuzu. “Jika ia memang benar-benar kurang waktu istirahat, ia bisa saja tertidur seharian setelah meminum suplemen itu.” Sambung Zhuzu. “Baiklah, aku mengerti.” Jawab Delvin sembari melirik ke arah jam di pergelangan tangan nya.
__ADS_1
“Gawat. Ivan, aku lupa memberitahu mu kalau kita ada rapat siang ini.” Seru Delvin. “Hah? Rapat apa lagi? Aku sangat lelah setelah bekerja seharian.” Ucap Ivan malas. “Cepat, tidak ada waktu mengeluh.” Jawab Delvin sembari memakai kembali jas kehormatannya.
“Baiklah, tunggu aku. Selamat menikmati waktumu, Zhuzu. Jangan lupakan pekerjaanmu.” Ucap Ivan yang juga menyusul Delvin memakai jas kehormatan itu. “Tentu.” Jawab Zhuzu.
Beberapa saat setelahnya,
“Salah lagi? Dibagian yang mana? Apa aku harus menghitungnya lagi dari awal? Bagaimana dengan anggaran acara bulan depan? Apa aku salah catat?” Gumam Zhuzu kesal. “Tidak, tidak bisa seperti ini. Aku harus mendinginkan kepalaku.” Ucapnya. Zhuzu beranjak dari tempat duduknya, ia mendekati sosok Arora yang masih tertidur pulas.
Kenapa kau selalu memenuhi pikiranku dan merenggut konsentrasiku? Apa kau begitu membenciku sehingga kau selalu menggangguku setiap kali aku mengerjakan pekerjaanku?
Zhuzu membanting tubuhnya di sofa, ia tertarik untuk beristirahat sebentar. Saat ia hampir tertidur, pikiran logisnya kembali menarik kesadarannya. “Tidak, aku harus segera menyelesaikan laporan itu.” Saat hendak berdiri dari duduknya, tiba-tiba ada sebuah tangan mungil yang menahannya.
“A-air, a-aku haus..” Ucap Arora dengan suara lirih. Dengan sigap, Zhuzu memberikan gelas berisi air kepada Arora. “Ini, minumlah.” Ucapnya sembari memposisikan Arora dalam keadaan duduk. Arora langsung menghabiskan air di gelas itu, kemudian ia langsung berbaring dan bersiap untuk kembali ke alam mimpi. Tanpa sadar Zhuzu tersenyum melihat tingkah Arora.
Lalu tiba-tiba ada orang lain yang memasuki ruang istirahat, “Senior Zhuzu!” Serunya dengan nada gembira.
********************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
__ADS_1
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~