
EPISODE 44 LALAT PENGGANGGU
“Bisa kah kau tidak menunjukkan senyum menjengkelkan itu setiap saat? Orang lain (yang normal) akan sangat terganggu jika melihatnya.” Ucap Fimela. Urusan mereka dengan kepala sekolah telah diselesaikan dengan baik sekarang. Dan yang harus mereka lakukan adalah mencoba yang terbaik untuk menyelesaikan tugas yang dipercayakan pada mereka.
“Senyum ini hanya aku tunjukkan padamu. Kau tidak perlu cemburu seperti itu.” Jawab Ivan dengan menambahkan dosis senyum menjengkelkan nya agar dapat mengganggu Fimela. Dan benar saja, Fimela benar-benar terganggu. Dia sangat ingin memukul senior tidak tau malu ini, walaupun hanya sekali saja.
“Aku tidak bercanda senior. Berhenti mengganggu ku atau aku akan benar-benar memukulmu. Tangan ku sudah gatal untuk melakukannya, kau tau?” Ucapnya mengancam dengan senyuman mengerikan. Dia menunjukkan tangannya yang terkepal, yang telah sangat siap untuk memukul seseorang.
“Haah.. kau ini..” Lagi-lagi Ivan tidak menggubris ancamannya. Ia malah kembali merangkul pundak Fimela dengan sama posesifnya seperti sebelumnya. “Kau..” Kalimat Fimela berhenti karena seseorang menyerukan namanya.
“Fimela!”
Fimela menoleh dan mendapati sosok Devano, “Kenapa bocah bermarga Ferely itu ada disini sih? Yang satu sudah membuatku muak, datang lagi satu orang lainnya. Benar-benar..” Gumam Fimela. “Hey, aku bisa mendengarmu loh.” Ucap Ivan tepat di telinga Fimela. “Ja-jangan dekat-dekat.” Fimela mendaratkan tangan di sisi wajah Ivan untuk memberikan rasa sakit (tamparan), tanpa ia sadari.
Tangan Ivan bergerak untuk mengusap sisi wajahnya yang terasa panas dan sedikit perih, ia melihat (sedikit) noda darah disana. “Wow, kekuatanmu diluar dugaanku. Benar-benar luar biasa.” Ucapnya yang masih setia dengan sikap santainya walaupun disituasi seperti ini.
“A-ak-aku min-minta ma-maaf.. aku, aku..” Ucap Fimela terbata. Ia menjalan mendekat dan terus mendekat hingga jarak yang semula tercipta (akibat serangan tiba-tiba sebelumnya) kini perlahan menipis lalu menghilang.
“Ah.. a-apakah sakit? Maaf.. aku-“
“Fimela.. please..” Ivan berusaha untuk mengendalikan perasaan yang saat ini sedang tak karuan. Ia berada diantara dinding dan Fimela yang terus mendekat. Melihat ekspresi khawatir Fimela saat ini membuat perasaannya menjadi tak karuan.
“Eh? Wajahmu memerah.. apa terlalu sakit? Aku-“
“Stop. Please.. berhenti disana.” Ucap ivan dengan wajah nya semakin memerah. Dia bahkan tidak tau apa yang terjadi padanya. Perasaan seperti itu membuatnya tidak nyaman.
“Tapi.. aku hanya ingin memeriksa lukanya..”
“Bisakah kalian tidak bermesraan seperti itu dihadapanku?”
“Ehem..” Ivan menetralkan perasaannya sesegera mungkin setelah menyadari kehadiran Devano disana. Tangannya bergerak untuk memeluk Fimela, menariknya mendekat hingga tak ada jarak sedikitpun diantara mereka.
“Memangnya kenapa?” Balas Ivan dengan tatapan sini menantang.
Devano hanya menggedikkan bahu. Ia bersandar pada dinding dengan tangan dilipat didepan dada tepat dihadapan Ivan dan Fimela. “Bisa aku meminjam Fimela sebentar, senior? Aku hanya ingin bicara.” Devano sengaja menekankan kata ‘senior’ berniat untuk mengejek.
__ADS_1
Walaupun Ivan menunjukkan wajah tanpa ekspresi, tapi terlihat jelas dari sorot matanya yang menatap dengan tatapan merendahkan bahwa dia tidak suka. “Bicara saja disini.” Ucapnya singkat penuh peringatan.
“Ini masalah pribadi, bisakah aku membawanya pergi sebentar?” Devano tetap tak mau kalah, ia tetap bersikeras ingin bicara berdua saja dengan Fimela.
Mendengar kata ‘masalah pribadi’ membuat Fimela mendongakkan kepala. “Senior..” Panggilnya. Ivan menundukkan pandangannya, membuat mata mereka bertemu. Seketika itu juga, Fimela menatapnya dengan tatapan memelas.
Seolah tersihir dengan tatapan melemahkan itu, dengan berat hati Ivan melepas pelukannya dan membebaskan Fimela. “Jangan lama. Aku menunggumu dikantin.” Ucapnya lalu segera pergi dari sana tanpa menunggu jawaban Fimela. Ia tidak ingin sampai dirinya berubah pikiran.
-----
Diperjalanan menuju kantin, Ivan benar-benar jengkel dengan seorang pria bernama Devano itu. Mengganggu kesenangannya saja.
“Oy, kenapa? Lihat penampakan? Tunggu.. wajahmu kenapa?”
Mendengar suara yang sangat tidak asing itu membuat Ivan semakin jengkel dan kesal. “Berhenti mengganggu ku sebelum aku berpikir untuk melampiaskan kekesalanku padamu.”
“Bukankah kau sudah berpikir begitu? Berarti aku tidak harus berhenti.” Ucap nya menantang. Ia tau sekejam dan sesadis apa orang yang sedang ia tantang ini. Tapi semenakutkan dan sekesal apapun Ivan, dia tidak akan mengacaukan apa yang dia susun sendiri dengan susah payah.
Ivan mempercapat langkahnya, ia tidak mau berurusan dengan makhluk astral satu itu. “Ayolah, katakan saja. Siapa yang berani membuatmu kesal? Kurasa dia sudah tidak menginginkan hidupnya lagi.”
Tiba-tiba saja dia berhenti, namun keadaan masih hening. ‘Kesambet apa sih?’ Batin Ignacio.
“Ahh, sudahlah. Aku lelah..” Ivan pergi begitu saja meninggalkan Ignacio disana. “Devano Ferely ya? Siapa sebenarnya dia? Dia bisa sampai membuat Ivan sekesal ini sekaligus tidak bisa apa-apa. Menarik..”
-----
“Apa yang ingin kau katakan?” Fimela bertanya dengan nada mendesak, ingin segera menyelesaikan pembicaraan ini. Ia merasa sedikit tidak nyaman bersama dengan orang ini. Seperti ada rasa marah, benci, frustasi, dendam, dan segala macam bentuk perasaan negatif lainnya jika bersama dengannya.
“Bisakah aku berbasa basi sebentar? Kita sudah lama tidak bicara berdua seperti ini.” Ucapnya. Sorot matanya menggambarkan kesedihan dan penyesalan dengan sangat jelas. Namun.. ini berbeda dengan yang dirasakan Fimela. Perasaan negatif yang Fimela rasakan tertuju pada Devano. Sedangkan, perasaan yang tergambar dalam tatapannya tertuju untuk dirinya sendiri.
“Bagaimana keadaan nenekmu? Apakah beliau baik-baik saja? Aku sudah lama tidak mendengar kabar tentangnya.”
Ini baru kalimat pertama dan sudah berhasil membuat Fimela terguncang. “Kau.. k-kau tau tentang nenekku?” Ucap Fimela lirih dengan bibir gemetar. Matanya terasa panas dan berkaca-kaca, berusaha untuk mengeluarkan air mata. Tapi Fimela bertahan sekuat mungkin untuk tidak menangis.
Devano mengangguk, “Tentu. Kau mungkin tidak ingat tentang ini, tapi.. beliau adalah sosok yang sangat menginspirasi, bagiku.. beliau adalah pribadi yang teguh dan kuat, sangat hebat. Dan aku ingat betul bahwa dia adalah orang yang sangat penting bagimu. Kau selalu menceritakan tentangnya saat kita sedang jalan-jalan mengitari taman bermain di sore hari.”
__ADS_1
Potongan-potongan memori ketika dirinya bermain bersama Devano mengelilingi sebuah taman, menaiki berbagai macam permainan terlintas dalam ingatan Fimela. Seketika itu, kepalanya terasa sakit, pusing. Seperti ada sebuah benda keras yang menghantam kepalanya dengan sangat kuat.
“Argh..” Fimela memegangi kepalanya yang didera rasa sakit yang teramat sangat ini. Pandangannya mulai kabur. Kegelapan berusaha untuk mengambil kesadarnnya, tapi Fimela menepisnya sekuat tenaga. Ia tidak mau pingsan disaat seperti ini.
“Kau.. tidak apa? Mau aku antar ke ruang kesehatan?” Tanya Devano. Perasaan khawatir terdengar jelas disuaranya.
Fimela menggeleng cepat, “Tidak, tidak perlu. Aku.. permisi dulu.” Fimela melangkahkan kaki dengan cepat pergi menjauh dari Devano. Seharusnya ia mengikuti instingnya untuk menjauh saja dari nya.
Jika ada didekat lelaki itu, Fimela selalu merasa waspada. Jantungnya berdegup kencang, dadanya terasa sesak seolah menahan amarah. Seperti ada sesuatu yang selalu menyulut amarah nya ketika ia bersama Devano. Apa yang sebenarnya terjadi? Hal apa yang ia lupakan? Kenapa ia bisa sedendam ini pada lelaki itu?
Fimela menggeleng kuat untuk mengusir semua pertanyaan itu dari kepalanya. Tanpa pikir panjang, ia melangkahkan kaki nya menuju kantin.
-----
Melihat reaksi Fimela yang seperti itu, terlihat sedang menahan sakit yang luar biasa, membuat Devano menjadi ragu dengan keputusannya untuk mengembalikan ingatan Fimela akan kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama.
Apa aku salah? Aku harus bagaimana?
Ia sedang menyusuri koridor menuju ke kelasnya dan pertanyaan it uterus berputar dikepalanya. Ia tidak peduli dengan guru yang akan memarahinya karena telat masuk ke kelas ataupun reputasinya yang akan hancur karenanya. Ia terus berpikir tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Lamunan nya terpecah ketika seseorang memanggilnya dari belakang, “Nak, tunggu sebentar.” Devano menoleh dan mendapati sosok wanita cantik dengan balutan seragam formal khas seorang guru.
“Bisakah kau membantu Ibu? Berikan ini pada suster Dairy. Minta dia memeriksa berkas ini lalu menandatanganinya. Setelahnya, bawa kembali ke ruangan Ibu di kantor.”
Devano mengambil berkas itu, “Maaf bu, saya siswa baru disini. Saya tidak tau nama Ibu.” Ucapnya dengan sopan, ia tidak ingin melakukan kesalahan ketika berbicara dengan seorang guru.
“Ah, benarkah? Ibu tidak tau jika ada siswa baru hari ini. Panggil saja ‘Bu Vicha’. Jika kau tidak tau dimana lokasi ruangan tertentu, bertanya saja pada siapapun yang kau temui. Lakukan secepat mungkin, Ibu benar-benar membutuhkannya segera.”
Devano mengangguk lalu membungkuk hormat, “Baik, bu.”
Bu Vicha meresponnya dengan anggukan kecil lalu segera berbalik dan pergi dari sana, persis seperti seseorang yang sibuk dengan setumpuk pekerjaan yang menunggu untuk dikerjakan.
*************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
__ADS_1
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~