The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 3 Penyesuaian Diri


__ADS_3

EPISODE 3 PENYESUAIAN DIRI


Mereka sampai di London pada pukul 08:20 PM waktu setempat. Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan, akhirnya mereka sekarang telah sampai di sebuah rumah yang akan mereka tinggali selama di London. Karena mereka hanya ingin tinggal bertiga saja dirumah itu, mereka meminta kedua orang tua mereka untuk tidak mengirimkan orang untuk mengikuti mereka. Mereka suka kebebasan. Untuk itu, mereka harus dapat meyakinkan orang tua mereka, dengan mengatakan bahwa mereka akan selalu menjaga diri mereka dan tidak akan melakukan hal yang melanggar norma dan etika. Kalimat-kalimat tersebut bagaikan sebuah janji yang tidak boleh mereka langgar. Sebagai warga negara Indonesia, tentu saja mereka sangat memperhatikan norma dan etika, baik dalam berbicara maupun bertingkah laku.


Setelah sampai di rumah baru, tentu saja mereka tidak bisa langsung bersantai seperti biasanya. Mereka harus merapihkan serta menyusun barang-barang mereka.


“Aku mau kamar yang disebelah sana.” Ucap Fimela dengan nada tak terbantahkan. “Tidak! Itu kamar ku.” Seru Arora yang tak mau mengalah. “Yasudah, kalian silahkan berdebat. Aku akan menempati kamar yang itu.” Ucap Chemira sembari menunjuk sebuah ruangan di sudut rumah. Lalu, ia pun segera membawa barang-barang nya ke ruangan tersebut.


Arora dan Fimela tak menggubris ucapan Chemira, mereka sibuk dengan kompetisi mereka. “Aku yang lebih cocok tinggal dikamar itu. Kamu di kamar yang itu saja.” Ucap Fimela sembari menunjuk sebuah ruangan yang berhadapan dengan ruangan Chemira.


“Tidak, aku tidak mau. Kau saja yang tinggal dikamar itu. Lagi pula semua kamar disini sama, tidak ada yang cocok dengan mu dan tidak cocok denganku.” Arora memalingkann wajahnya, ia hendak menuju ruangan yang dia inginkan. Tetapi, ada sebuah tangan mungil yang tiba-tiba menahannya. “Jika menurutmu semua kamar disini sama. Kenapa tidak kau saja yang mengalah dan membiarkan ku tinggal di kamar yang ini?” Ucap Fimela yang seakan menantang Arora. “Aku ingin tinggal di kamar ini, kenapa aku harus mengalah?” Ucap Arora yang membalas tantangan dari Fimela. “Bukan kau saja yang ingin tinggal di kamar ini, aku juga ingin.” Balas Fimela.

__ADS_1


Chemira yang sudah terbiasa menjadi penengah di saat Fimela dan Arora berdebat, tidak dapat menahan dirinya untuk tidak ikut campur. “Sudah, sudah. Kau ingin tetangga kita terganggu dengan suara kalian dimalam hari seperti ini bukan?” Ucap Chemira yang akhirnya memutuskan untuk ikut campur. “Tapi, aku ingin tinggal di kamar inii..” Ucap Fimela dengan muka memelas, seolah-olah sedang mengadu kepada kakaknya. “Sekarang begini saja, kita akan menggunakan metode permainan ‘Suwit Jepang’*?. Yang menang akan tinggal di kamar ini.” Ucap Chemira yang berusaha mencari jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan masalah kedua sahabatnya ini.


Arora dan Fimela setuju dengan usulan dari Chemira. Mereka mengambil posisi siap dengan kuda-kuda layak nya seseorang yang siap bertarung. “Jangann salahkan kau jika kau kalah.” Ucap Fimela dengan percaya diri tinggi. “Heh, belum tentu kau akan menang, jangan terlalu cepat merasa senang.” Ucap Arora untuk menimpali ucapan Fimela. “Apa kau yakin akan menang dari ku?” Ucap Fimela diiringi dengan seringai di wajahnya. “Tentu saja. Jangan menangis jika ternyata kau kalah.” Ucap Arora dengan maksud mengejek yang tidak ditutup-tutupi. Sebelum keadaan semakin rumit, Chemira memutuskan untuk menyelesaikan ini secepat mungkin. “Sudah-sudah. Sekarang kita mulai, tiga… dua… satu!”


Setelah mendengar aba-aba dari Chemira, mereka segera memulai permainan. Arora ‘gunting’, Fimela ‘batu’ . “Yay, aku menang!” Seru Fimela penuh semangat. “Nah, karena Fimela yang menang, Arora kamu mengalah lah. Kita sudah sepakat diawal.” Ucap Chemira dengan tegas. “Baiklah, aku mengalah. Kau bisa menempati kamar ini.” Ucap Arora dengan ekspresi muram. “Sudah, jangan berdebat lagi. Fimela, Arora, kalian rapihkanlah barang-barang kalian. Setelah itu, kumpul di ruang makan. Kita makan bersama, aku juga ingin membicarakan sesuatu dengan kalian.” Sambung Chemira. “Baik.” Jawab Fimela dan Arora serempak.


Setelah merapikan barang-barang, Fimela dan Arora menuruni tangga bersama dan mendapati bahwa makan malam sudah siap tertata rapi di atas meja makan. “Kau yang menyiapkan semua ini?” Tanya Arora. “Kau pikir siapa lagi?” Jawab Chemira singkat. “Aku hanya ingin berbasa-basi sedikit. Tidak perlu segalak itu.” Ucap Arora yang kemudian mengambil tempat disalah satu kursi yang tersedia di sana.


Setelah menghabiskan makan malam, mereka berkumpul di ruang tengah. Mereka pun memasuki suasana yang lebih serius daripada yang sebelum-sebelumnya. “Apa yang ingin kau bicarakan? Apakah ini tentang program?” Tanya Fimela. “Ya, aku ingin seidkit membahas soal program.” Jawab Chemira. “Hanya tentang program? Kau pasti punya sesuatu yang lain untuk dibicarakan selain mengenai program.” Dan ternyata tebakan Arora tidak salah. “Ya, kau benar Arora. Aku memang punya hal lain yang ingin aku katakan.” Jawab Chemira membenarkan dugaan Arora.


Tok tok tok... “Permisi.”

__ADS_1


Mendengar bahwa ada yang mengetuk pintu depan, perhatian mereka bertiga teralihkan kepada pintu itu. Arora dan Fimela sedikit kaget, karena mereka tidak menyangka akan ada seseorang berkunjung selarut ini. Tapi tidak dengan Chemira, dia sudah menduga akan ada seseorang yang datang. “Masuklah.” Ucap Chemira memberikan izinnya.


Tak lama setelah itu, pintu pun terbuka. Seorang perempuan yang memakai pakaian sederhana dan tidak mencolok berjalan masuk. “White? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Fimela kepada perempuan itu. “Aku yang memanggilnya kemari. Dia bilang padaku kalau dia menemukan informasi baru. Aku sudah membaca file nya secara garis besar, dan aku yakin bahwa kalian akan tertarik dengan informasi yang White bawakan kali ini.” Sambung Chemira. “Iya, Nona. Saya membawakan sebuah informasi baru untuk anda.” White segera memberikan sebuah map yang berisikan berbagai macam file kepada Fimela. “Bukalah, dan beritahu aku pendapat kalian mengenai informasi itu.” Ucap Chemira.


Butuh waktu beberapa lama bagi Arora dan Fimela untuk mencerna semua informasi yang telah mereka dapatkan. Lalu, Arora memutuskan untuk angkat bicara. “Hal ini yang ingin kau bicarakan?” Tanya Arora. “Ya, bagaimana pendapat mu tentang itu?” Jawab Chemira sambil mengulaskan seringai di wajah nya.


“Sebelumnya, aku benar-benar harus memuji seseorang.” Ucap Fimela. Lalu ia berjalan mendekati White. “Aku harus memujimu kali ini White. Kerja bagus.” Ucap Fimela sembari menepuk pundak White. “Terima kasih, Nona.” Jawab nya dengan sebuah senyum di wajahnya. “Informasi yang kau bawakan kali ini benar-benar sangat berguna. Aku sangat puas. Bukankah kau juga berpikir demikian, Arora?” Celetuk Fimela. “Tentu saja, aku sangat puas. Kerja bagus, White.” Sambung Arora yang ikut memuji White.


Note :


*Suwit Jepang (gunting-batu-kertas) --> adalah sebuah permainan tangan sederhana. Permainan ini biasanya digunakan untuk pemilihan acak, seperti urutan pelemparan koin, dadu, dan lain-lain. Di kalangan anak-anak Indonesia, permainan gunting-batu-kertas sering dikenal dengan nama ‘Suwit Jepang’.

__ADS_1


__ADS_2