The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 22 Masalah Baru


__ADS_3

EPISODE 22 MASALAH BARU


Malam harinya,


“Ah, menyebalkan. Aku harus bagaimana?” Ucap Arora. “Apa yang sudah terjadi biarlah terjadi.” Sahut Fimela. “Fimela, aku harus bagaimana sekarang? Tolong aku.” Ucap Arora sembari mengguncangkan tubuh Fimela. “Hey, hentikan. Aku pusing.”


“Masalahnya jadi rumit. Apa kita bisa melanjutkan sandiwara ini?” Gumam Chemira. “Arora, kurasa kau harus memanfaatkannya.” Sambung Chemira. “Hah? Memanfaatkan? Bagaimana caranya?” Tanya Arora.


“Hm, aku belum terpikirkan caranya. Intinya kau harus memegang kendali.” Jawab Chemira. Arora mengacak rambutnya frustasi. “Haah, bagaimana ini? Kalian tau, dia tidak mudah.” Ucap Arora.


“Dia pernah bilang kalau kau istimewa bukan?” Ucap Fimela. “Terus kenapa? Apa hubungannya?” Jawab Arora. “Hm, kurasa kau bisa mendekatinya.” Sahut Chemira. “ Hah? Maksudmu..?” Ucap Arora yang mulai mengerti susunan rencananya. “Ya, hanya itulah satu-satunya cara yang ada saat ini. Kita harus tetap bersandiwara.” Sambung Chemira.


“Hm, aku mengerti. Tapi apa bisa?” Tanya Arora. “Kau harus bisa. Lagipula ini menguntungkanmu.” Jawab Fimela. “Bagaimana denganmu, Fimela?” Tanya Chemira. “Aku? Haah, yaa.. seperti itulah.” Jawab Fimela.


“Masalah ini sungguh rumit..” Ucap Chemira sembari bersandar di sofanya. Mereka berdiam diri sejenak untuk menenangkan pikiran masing-masing. “Apa ini saatnya kita menjalankan rencana pembangunan?” Tanya Fimela tiba-tiba. “Oh, iya. Kau benar. Kenapa tidak terpikirkan oleh ku.” Jawab Chemira. “Apa ini saat yang tepat?” Tanya Arora ragu. “Kurasa iya, kita harus sibuk diri terlebih dahulu, supaya kita punya alasan untuk menjaga jarak.” Ucap Chemira dengan nada yakin.


“Tunggu, selama beberapa hari ini kepala sekolah seperti tidak terlihat. Apa kalian pikir ini aneh? Bukankah ia biasanya selalu memanggil kita untuk suatu hal?” Tanya Arora. “Hm, kurasa itu memang aneh. Ia seperti ingin kita melakukan sesuatu yang tidak dapat ia jelaskan. Dan hal itu selalu berkaitan dengan pria-pria aneh itu. Aku lelah bersandiwara terus-menerus.” Ucap Chemira.


“Bukankah bagus kalau ia tidak memanggil kita lagi? Kita tidak perlu melakukan kegiatanganda setiap harinya.” Sahut Fimela. “Benar juga, setidaknya kita bisa istirahat.” Jawab Arora yang diiringi anggukkan kepala.


“Hm, apa kalian pernah merasa kalau pak kepala sekolah itu sedikit mirip dengan Papah?” Tanya Chemira. “Begitukah? Aku tidak pernah memperhatikan wajahnya.” Sahut Arora. “Iya juga, sih. Aku bahkan sempat berpikir kalau dia itu punya ikatan darah dengan om Prasaja.” Jawab Fimela.


“Tapi aku tidak tau kalau kau punya paman, Chemira?” Ucap Arora. “Yah.. aku juga tidak pernah mendengar kalau aku punya paman. Kurasa itu hanya karena wajah Papah yang pasaran sampai go internasional.” Ucap Chemira sembari tertawa. Arora dan Fimela ikut tertawa mendengar pernyataan Chemira.


Di apartemen Delvin,

__ADS_1


Ia sedang menatap kosong ke langit-langit atap. Tanpa sengaja, terlintas dipikirannya tentang wanita ‘itu’. ‘Bagaimana dia sekarang?’ Pikirnya.


Tunggu, kenapa aku memikirkannya? Ada apa denganku? Tidak, tidak Delvin. Kau tidak bisa seperti ini. Dia sudah berlalu, lupakanlah dia.


“Haah, sialan.” Gumamnya. Ia memutuskan untuk mandi dan mendinginkan pikirannya.


Di apartemen Zhuzu,


“Hm, selanjutnya aku harus memasukkan yang ini terlebih dahulu. Lalu yang ini dan kemudian menunggu sekitar 8 jam. Bisa aku tinggalkan semalaman.” Ucapnya. Seperti biasa, ia selalu menghabiskan waktunya dengan mencoba berbagai obat-obatan baru.


Drrt.. drrt.. panggilan masuk.


“Ada apa sampai ia menelponku?” Gumam nya. Lalu ia mengangkat telpon itu dan mendengarkan kata-kata yang diucapkan dari sebrang sana. “Baiklah, aku akan pulang nanti.”


Setelah memutuskan panggilan itu, ia membanting tubuhnya ke tempat tidur. “Haah, selalu saja seperti ini. Apa arti diriku ini baginya?” Ucapnya diiringi dengan senyuman penuh ironi.


“Akhirnya aku bisa santai sejenak dan berendam air hangat.” Ucap Ivan dengan gembira. Baru saja ia keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ada sebuah suara lembut yang memanggilnya. “Kakak? Apa kakak bisa menemaniku bermain?” Tanya seorang perempuan mungil disampingnya.


Ivan melirik ke arah jam, “Sekarang tidak bisa, nanti saja ya. Ini juga sudah malam, tidurlah.” Ucap Ivan dengan senyuman sembari mengelus kepala gadis mungil itu. “Kenapa kakak selalu tidak bisa menemaniku bermain? Apa kakak sesibuk itu?” Tanya nya dengan wajah muram.


“Thalisa, dengarkan kakak. Sekarang kakak tidak bisa. Ini sudah larut, kau tidurlah.” Ivan mengambil laptopya, ia duduk disebuah sofa dan segera mengerjakan pekerjaannya. “Kakak, apa aku bisa membantu?” Tanya Thalisa yang ikut duduk disebelahnya.


“Kau masih kecil. Belum bisa membantu kakak. Sekarang kau tidurlah dulu, besok kau harus ke sekolah.” Jawabnya sembari berdiri dan mengantarkan Thalisa ke kamarnya. Saat Ivan hendak keluar dari kamar Thalisa, tiba-tiba gadis kecil itu bertanya. “Kakak, apa Ayah dan Ibu akan mengunjungi kita?” Tanya Thalisa. Langkah Ivan terhenti, ia berbalik dan menghampiri adik kesayangannya itu. “Ya. Jadi sekarang kau tidurlah.” Ucapnya sembari tersenyum paksa.


Keesokkan harinya, kelas 2A

__ADS_1


“Hoam, aku mengantuk. Apa aku bisa bolos pelajaran selama beberapa jam?” Tanya Ivan. “Kau tidak tidur lagi? Kau mau kalau sampai Zhuzu yang turun tangan?” Sahut Georgy. “Aku bisa apa? Pekerjaanku banyak sekali.” Jawab Ivan. “Lagi pula aku bukannya tidak tidur, aku hanya kurang tidur.” Sambungnya.


“Kau kurang tidur? Lagi?” Tanya Delvin tiba-tiba. “Lagi? Apakah sesering itu?” Tanya Ivan. “Kenapa kau balik bertanya padaku? Harusnya kau bertanya pada dirimu sendiri.” Jawab Delvin. “Bagaimana dengan adik kecil mu itu? Apa kabarnya?” Sahut Ignacio. “Thalisa?” Tanya Ivan. “Kau punya adik yang lain selain dia?” Tanya Delvin. “Yahh, dia baik-baik saja.” Jawab Ivan.


Zhuzu yang baru datang, melangkah dengan langkah gontai dan ia terlihat sangat lelah. “Kau baru datang? Biasanya kau yang paling rajin disini.” Ucap Georgy. “Aku lelah, jangan ganggu aku.” Jawab Zhuzu. “Haah, kau lelah juga kan? Mari bolos bersama.” Ajak Ivan. “Bolos? Boleh-boleh.” Jawab Zhuzu.


“Aku ikut.” Sahut Delvin. “Haah, kalian kompak sekali jika urusan bolos.” Ucap Ignacio. “Kau mau ikut?” Tanya Ivan pada Ignacio. “Boleh.” Jawabnya cepat. “Hey, ngomong-ngomong, jangan beritahu Zhuzu kalau aku kurang tidur lagi.” Bisik Ivan. “Apa? Kau pikir aku tidak dengar?” Sahut Zhuzu. ‘Matilah aku.’ Batin Ivan.


Di kelas 1A,


“Hey, Aline. Rajin sekali kau, pagi-pagi begini sudah bekerja?” Ucap Friska. “Haah, kau tau tugas ku dan seniorku.” Jawab Aline. “Lagipula apa yang membuatmu ingin menjadi wakil bendahara organisasi? Kau itu payah dalam pengelolaan keuangan.” Ucap Friska.


“Ayolah, Friska. Kau tau sikapku, kita sudah berteman sejak kecil.” Jawab Aline. “Hm, yah. Aku tau. Karena seniormu itu kan? Sudah jelas terlihat kalau dia tidak mudah, untuk apa kau masih tetap mengejarnya? Kenapa kau tidak mengincar yang satunya saja.” Tanya Friska.


“Justru karena dia itu susah, baru aku tertarik untuk mengejarnya. Lagipula kau pikir aku benar-benar menyukainya? Yang benar saja. Dia itu orang biasa, tidak sebanding dengan diriku yang merupakan orang kaya dan terpendang. Aku hanya bermain-main dengannya, daddy juga pasti telah menyiapkan calon suami yang cocok dan sebanding denganku.” Ucap Aline dengan sombongnya.


“Tapi, apa kau yakin kalau dia itu orang biasa? Dia bisa masuk kesekolah ini pasti karena suatu alasan. Apalagi kelas yang ia tempati saat ini bukanlah kelas biasa, dia bisa masuk kelas A pasti karena sesuatu.” Ucap Friska.


“Hah, terlihat jelas kalau dia itu miskin. Barang-barang yang aku gunakan sekarang, harganya berkali-kali lipat dari yang ia pakai. Dia hanya menang wajah dan otaknya saja. Dia mana bisa memberikan kecukupan materi.” Jawab Aline dengan kesombongan yang melonjak tinggi.


*******************


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.

__ADS_1


Thank you all ~~


__ADS_2