The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 35 Gaun Pesta


__ADS_3

EPISODE 35 GAUN PESTA


Arora merasa tersentuh dengan cerita masa lalu lelaki menyebalkan dihadapannya saat ini. ia turun dari sofa dan mendekati Zhuzu yang sepertinya larut dalam kenangan pahit masa lalu. Ia mengambil tempat di hadapan Zhuzu dan ikut duduk bersila disana.


“Hm, senior. Aku merasa tidak enak karena membuatmu mengingat kembali kenangan pahit itu.” Ucapnya, ia bingung harus bagaimana untuk memulai pembicaraan. Zhuzu menatap mata hitam berkilau dari seorang gadis cantik dihadapannya.


“Tidak apa. Aku tak masalah untuk kembali mengenang semua itu. Jangan salahkan dirimu sendiri.” Ucapnya untuk mengalihkan perasaan bersalah Arora. Arora berusaha untuk menepis semua perasaan yang melingkupi dirinya. “Senior, kenapa kau dipanggil ‘Zhuya’ oleh keluargamu?” Tanya Arora karena penasaran.


“Itu nama asliku. Zhuya Sherwin.” Jawabnya dengan senyum tipis. Entah kenapa, sejak ia bertemu Arora ia jadi sering tersenyum. “Oh, itulah kenapa kepala sekolah pernah beberapa kali memanggilmu dengan sebutan ‘Zhuya’. Aku pikir dia salah orang.” Ucap Arora dengan senyum lebar.


“Kenapa kau tidak memakai nama aslimu?” Tanya Arora yang memindahkan posisi duduknya lebih dekat pada seniornya itu. “Tidak tau. Hanya saja, aku tidak ingin.” Jawab nya singkat, senyum lembutnya berganti dengan senyum ironi.


Suasana kembali sunyi. Arora benar-benar ingin menyampaikan sesuatu, tapi ia tidak tau cara menyampaikannya agar perkataan nya tidak membuat suasana menjadi canggung. “Hm, senior.” Panggil nya.


Zhuzu menoleh, “Ya? Ada apa?” Tanya nya penasaran. Arora ragu untuk melanjutkan kalimatnya, ia tidak ingin membuat salah paham. Tapi ia sudah terlanjur membuat fokus seniornya padanya.


“Em, aku hanya ingin bilang, menurutku tidak ada anak haram didunia ini. Mereka hanyalah korban dari kesalahan orang tua mereka.” Ujarnya dengan sedikit terbata karena gugup. “Jadi, kau tidak perlu memperdulikan perkataan buruk dari orang lain.” Sambungnya.


Zhuzu memandangi gadis kecil itu, “Kau mencoba memberiku semangat?” Ucap nya dengan sebuah senyuman kecil. “A-aku, a-aku hanya.. em.. yah, jika kau membutuhkannya. K-kau juga bisa mencariku jika kau membutuhkan aku. Em.. yah walaupun a-aku tidak yakin kau bisa membutuhkan aku. S-setidaknya.. “ Jawabnya terbata.


Kalimatnya terhenti ketika Zhuzu memeluknya secara tiba-tiba. “Hm, terima kasih. Aku sangat membutuhkannya.” Ucapnya lirih. Arora diam mematung, ia tidak siap dengan sikapnya yang serba tiba-tiba itu.


‘Hm? Punggunnya gemetar. Dia.. apa dia menangis?’ Pikir Arora. Ia tidak tau harus bagaimana sekarang. Ia hanya berdiam diri sembari membiarkan lelaki itu melampiaskan semua emosi yang bergejolak dalam dirinya.


-----


Chemira dan Delvin terlalu menikmati berkeliling mall hingga melupakan waktu yang terus berjalan. Mereka mendatangi setiap toko yang ada, setidaknya hanya untuk melihat-lihat dan menuntaskan rasa penasaran.


“Senior, karena kau yang memintaku untuk menjadi pasanganmu di acara bulan depan, maka kau yang bertanggung jawab atas semua keperluanku.” Ucap Chemira dengan senyum cerah tanpa dosa.


Mendengar kalimat Chemira yang diucapkannya dengan nada ringan tanpa beban, membuat Delvin sedikit menyesal menerima tantangannya. Tapi mau bagaimana lagi? Jika ia tidak menerimanya maka ia akan menyesalinya seumur hidup.


“Baiklah, kau mau beli apa untuk pesta?” Tanya nya mengalah. Chemira tampak menghentikan langkah sejenak untul berpikir. “Aku mau gaun yang cantik.” Jawabnya dengan senyuman yang sama manisnya.

__ADS_1


“Hm, aku juga ingin membelikan Arora dan Fimela gaun. Juga beberapa aksesorisnya. Oh, aku juga ingin beberapa pakaian sebagai hadiah untuk orang tuaku.” Sambungnya sembari melirik penuh arti pada Delvin.


“Boleh ya? Ya? Ya?” Ucapnya memohon dengan wajah imutnya yang tak tertahankan.


‘Ya ampun. Jangan, menunjukkan ekspresi seperti itu, kumohon. Keimutanmu itu diluar batas kemampuanku.’ Batin Delvin. Chemira yang sedari tadi menunggu jawaban dari Delvin, tapi ia tidak mendapatkannya.


“Hm, senior? Tidak boleh ya?” Tanya nya dengan nada kecewa yang dibuat-buat. “Eh? Ah, boleh-boleh. Ambil saja yang mana yang kau mau.” Jawab Delvin cepat. Chemira tersenyum licik mendengar jawaban itu.


“Hehe, terima kasih senior. Kau yang terbaik.” Ucapnya dengan kebahagiaan yang terpancar jelas. Delvin merasa ia telah terjebak dalam pesona gadis kecil itu tanpa ia sadari. Tapi saat ini, ia tidak ingin mencari jalan untuk keluar. Biarlah ia terjebak disana selama mungkin.


Sesampainya di sebuah toko pakaian,


“Waaahh, cantik sekali.” Chemira berkeliling dengan semangat, ia hampir mengagumi setiap pakaian yang ia lihat. “Kau mau yang mana?” Tanya Delvin dari belakang. “Sebentar, aku ingin lihat-lihat dulu.” Jawab Chemira yang tak henti-henti nya melangkah.


“Permisi, ada yang bisa saya bantu adik?” Tanya seorang pelayan toko. “Ah, tidak. Aku hanya ingin melihat-lihat.” Jawab Chemira. “Kalau begitu, mari saya pandu berkeliling.” Ucap pelayan toko itu. Chemira menoleh ke arah Delvin, “Kau pergilah berkeliling. Aku akan tunggu disini.” Ucapnya sembari mendudukkan diri di sebuah sofa yang disediakan disana.


“Adik ingin cari apa?” Tanya pelayan toko itu. “Aku mau gaun pesta.” Jawab Chemira. Pelayan toko itu mengangguk dan memimpin langkah. Dengan semangat Chemira mengikuti dibelakangnya. ‘Apa tidak masalah jika aku membayar semua nya dengan uang nya? Sudahlah, dia juga bukan orang yang kekurangan uang.’ Pikir Chemira.


“Dress itu terlihat sangat cantik jika adik memakainya. Lihatlah, ukurannya benar-benar pas.” Ucap pelayan toko itu dengan senyuman penuh arti. Chemira melihat dirinya sendiri dicermin, ‘Ini cantik, ukurannya juga pas. Warna nya juga tidak terlalu terang dan motifnya sederhana.’ Batin Chemira.


Setelah puas bercermin, ia melihat harga yang tertera di gaun itu. “500?” ia terbelalak, dan kemudian berdehem. “Ehem, sepertinya yang ini tidak usah.” Ucapnya sembari mengembalikan gaun itu pada tempatnya semula.


“Aku ingin lihat-lihat yang lain.” Sambungny. Kemudian mereka kembali berkeliling mencari pakaian yang ia inginkan. Pelayan toko yang memperhatikan semuanya merasa sedikit heran, ‘Bukankah 500 tidak terlalu besar untuk orang sepertinya? Setiap gerakannya terlihat sangat elegan, seperti putri keluarga-keluarga kaya. Apa aku salah lihat?’ Pikirnya.


Setelah lumayan lama berkeliling akhirnya ia menemukan sebuah gaun yang benar-benar cocok untuknya. “2.000?” ia menimbang-nimbang sejenak. “Tapi ini lumayan, bahannya lembut dan cocok dengan tubuhku. Sudahlah, aku ambil saja.” Ucapnya sembari memberikan 3 gaun yang serupa tapi tak sama kepada pelayan toko.


“Hanya ini saja adik?” Tanya nya. “Aku mau sepatu dan beberapa aksesoris tambahan.” Jawab Chemira. “Oh, baiklah. Mari ikut saya.” Ajak pelayan toko itu.


Lagi-lagi membutuhkan waktu lama bagi Chemira untuk memilah barang-barang keperluannya untuk pesta. Delvin yang telah menunggu sekitar 1 jam 40 menit merasa sangat bosan. Ia tidak tau harus melakukan apa. Dan setelah penantian yang panjang, Chemira kembali dengan beberapa barang-barang yang ia pilih.


Mereka pergi ke daerah kassa untuk membayar belanjaan Chemira. “Ini, totalnya 23.500. Mau tunai atau pakai kartu?” Tanya penjaga kassa itu. “Kartu.” Delvin mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam kemudian memberikannya.


“Baiklah, ini kartu anda. Terima kasih sudah berbelanja di toko kami.” Ujar nya dengan senyuman hangat. “Sama-sama.” Jawab Chemira sembari mengambil barang belanjaannya. “Aku saja.” Delvin merebut tas belanjaan itu dari tangan Chemira. “Hm, terima kasih.” Ucap Chemira tulus.

__ADS_1


Di luar toko,


“Terima kasih senior.” Ucap Chemira dengan senyum manisnya. “Ah, tidak perlu. Ini sebagai permintaan maafku.” Jawab Delvin dengan wajah tersipu. Chemira melirik barang-barang yang ia beli. “Um, senior. Apa tidak masalah kau membayar semuanya?” Tanya Chemira, ia sedikit merasa bersalah.


“Tidak apa. Sebenarnya aku awalnya mengira aku akan menghabiskan 200.000 hari ini. Jika dibandingkan dengan kakak perempuanku, belanja mu masih tergolong hemat.” Jawab Delvin dengan santainya. “Ah, harga total semuanya ditambah dengan makanan dan minuman menjadi 87.300. Sebenarnya ini pertama kalinya bagiku berbelanja di atas 50.000.” Ucap Chemira.


Kedua nya sama-sama terdiam. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.


‘Jadi dia terbiasa berbelanja dibawah 50.000? Andai saja jika kak Tika juga punya kebiasaan seperti itu, betapa bahagianya dompet Papa.’ Batin Delvin.


‘200.000? Itu jumlah yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Apa uangnya tidak habis? Tidak, bukan. Apa hubungan keluarga nya masih baik-baik saja? Papah selalu bilang jika kita harus berhemat, jadi dia tidak pernah memberiku diatas 50.000’ Batin Chemira.


Mereka berjalan melewati pintu utama, “Eh? Hujan?” Ucap Chemira. “Ya, hujannya sudahh berlangsung cukup lama.” Sahut Delvin. “Bagaimana kalau donat?” Sambung Delvin ingin mengulur waktu, ia tidak ingin berpisah sekarang, dan ia benar-benar tidak perduli tentang uang saat ini. “Baiklah, kali ini aku traktir.” Jawab Chemira.


“Eh, tapi..” Delvin ingin memprotes, tapi ia berakhir dengan ancaman. “Atau aku pulang sekarang.” Sambung Chemira tegas. Delvin benar-benar tidak ingin momen ini berakhir begitu saja. Dan pada akhirnya ia setuju untuk membiarkan Chemira yang membayarnya.


Di toko donat,


“Chemira, aku ingin bertanya sesuatu.” Ucap Delvin. “Tanyakan saja, senior.” Jawab Chemira sembari mengunyah donatnya. “Siapa kau sebenarnya?” Tanya Delvin tanpa basa-basi. “Eh? Aku? Memangnya kenapa?” Tanya Chemira balik.


“Kau bilang bahwa kau biasa berbelanja dibawah 50.000. Dan itu bukan jumlah yang sedikit.” Ucap Delvin. Chemira sempat berpikir sesaat seeblum akhirnya menjawabnya dengan sebuah pertanyaan baru, “Apa senior tau tentang keluarga Prasaja?” Tanya Chemira dengan hati-hati.


“Prasaja? Aku ingat bahwa orang tua ku selalu ingin menjalin hubungan baik dengan keluarga Prasaja.” Jawab Delvin. “Yah, aku tau itu. Dan aku adalah putri tunggal keluarga Prasaja.” Ucap Chemira dengan suara pelan setengah berbisik.


“Kau.. anak tunggal?” Tanya Delvin memastikan. Chemira mengangguk. “Hm, baiklah.” Ucap Delvin. Dan mereka pun melanjutkan menikmati hidangan berbagai macam donat yang tersedia disana diiringi dengan beberapa topik ringan lainnya.


*******************


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.


Thank you all ~~

__ADS_1


__ADS_2