
EPISODE 12 ADA APA DENGANKU? (part 2)
“Apakah aku harus datang?” Tanya seorang lelaki dengan wajah lesu dan sedikit pucat. “Ada apa denganmu? Kau terlihat tidak sehat.” Tanya Delvin pada lelaki itu. “Ah, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing.” Jawab Lelaki itu. “Aku tidak yakin dengan itu. Bagaimana kaau kita pergi ke ruang kesehatan?” Tanya Delvin dengan nada khawatir. “Sudah ku bilang, aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin istirahat sebentar. Kau tidak perlu menunda rapat hanya karena aku.” Jawab Lelaki itu sembari beranjak dari kursinya. “Aku akan ke ruang kesehatan sendiri. Kau tak perlu menemaniku.” Ucap Lelaki itu sebelum pergi meninggalkan Delvin.
Di ruang kesehatan,
“Permisi suster, aku merasa sedikit pusing. Bolehkah aku beristirahat disini sebentar?” Ucap Lelaki itu. “Ivan?” Tanya Zhuzu. “Loh? Kenapa kamu? Kemana suster Dairy?” Ivan balik bertanya pada Zhuzu. “Suster Dairy sedang pergi dinas.” Jawab Zhuzu. “Ternyata begitu. Aku tadi semoat berpikir kalau suster Dairy berubah menjadi seorang lelaki dengan penuh aura dingin sepertimu.” Ucap Ivan untuk mencairkan suasana.
“Berbaringlah.” Ucap Zhuzu untuk mengalihkan pembicaraan. “Hah? Apa? Kenapa? Kau mau apa?” Ucap Ivan sembari memeluk dirinya sendiri. “Kau tadi bilang kalau kau merasa pusing. Kau ingin diperiksa atau tidak?” Tanya Zhuzu dengan tenang. “Dan jangan katakana hal ambigu seperti itu. Aku masih lurus.” Sambung Zhuzu dengan sedikit nada bercanda.
“Hey, apa ini. Kau sudah bisa bercanda seperti itu? Ku pikir kau masih saja seorang lelaki yang dingin dan kaku. Apa yang terjadi selama aku pergi? Siapa yang mengubah mu menjadi seperti ini?” Ivan membalas dengan sederet pertanyaan yang tak tanggung-tanggung. “Tidak ada. Aku tidak merasa ada yang berubah dari diriku. Yah, kecuali satu hal.” Jawab Zhuzu diiringi seringai yang terlukis di wajahnya.
“Tidak, tidak. Aku merasa kalau aura mu sedikit berubah. Dulu kau selalu dikelilingi oleh aura dingin yang tak mengenakkan, kurasa sekarang hal itu sedikit berkurang?” Ucap Ivan. “Apa yang terjadi, beritahu aku. Apa kau punya seorang kekasih? Atau orang yang kau suka? Siapa?” Sambung Ivan dengan sedikit menggodanya. “Jangan sembarangan, aku tidak tertarik pada siapapun.” Jawab Zhuzu.
“Ooh~ Benarkah? Apakah itu adik kelas? Secantik apa dia? Aku kagum padanya yang bisa membuat gunung es sepertimu berubah.” Goda Ivan. “’Ivan. Jangan bicara sembarangan. Sudah ku bilang padamu kalau aku tidak tertarik pada siapapun.” Balas Zhuzu. “Jika kau kemari hanya untuk membuang waktu ku, sebaiknya kau pergi sekarang. Aku punya setumpuk pekerjaan yang harus aku kerjakan.” Jawab Zhuzu dengan niat mengusir secara terang-terangan.
__ADS_1
“Ah tidak-tidak. Jangan mengusirku.” Pinta Ivan dengan nada memohon. “Jika berbicara mengenai perempuan, apa kau mau mendengarkan ceritaku?” Tanya Ivan. Zhuzu tidak menjawab nya, ia hanya mengubah posisi duduk nya. Yang awalnya dalam posisi siap untuk bekerja, sekarang ia menyandarkan tubuhnya, menandakan bahwa ia siap mendengarkan.
“Kau yang terbaik, Zhuzu. Kau selalu setia mnedengarkan ceritaku. Tidak sia-sia aku mengangkatmu sebagai musuhku.” Ucap Ivan terharu dengan sikap seseorang yang selalu ia anggap sebagai musuh terbaiknya itu. “Bicaralah atau aku akan melanjutkan pekerjaanku.” Tegur Zhuzu. “Baik, baik. Aku akan bicara.” Ivan mencoba menceritakan semua hal yang ada dipikirannya.
Di ruang kepala sekolah,
“Apa Ivan sudah pulang?” Tanya pak kepala sekolah. “Sudah, pak.” Jawab Delvin. “Kenapa ia tidak ikut rapat kali ini? Apa terjadi sesuatu?” Sambung kepala sekolah. “Ivan bilang padaku kalau ia merasa sedikit tidak enak badan. Jadi ia pergi beristirahat di ruang kesehatan.” Pak kepala sekolah merasa sedikit khawatir setelah mendengar pernyataan dari Delvin. “Dia itu, selalu seperti itu. Kenapa dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri? Aku bingung padanya.” Gumamnya.
“Bapak tidak perlu terlalu khawatir. Kurasa dia sudah cukup dewasa untuk mengerti pentingnya menjaga kesehatan.” Ucap Delvin menenangkan. “Hah, baiklah. Bagaimana pun, ia tetap termasuk siswa kebanggaan ku disekolah ini. Jika kondisinya sudah membaik, minta dia untuk menemui ku di kantorku.” Ucap kepala sekolah. “Baik, Pak.” Jawab Delvin.
“Permisi, apa Ivan ada?” Tanya Delvin. “Aku disini, ada apa?” Jawab Ivan. “Pak kepala sekolah meminta mu menemuinya.” Ucap Delvin terus terang. “Baiklah. Aku segera kesana.” Jawab Ivan yang segera beranjak pergi meninggalkan ruangan.”Tunggu, Ivan. Suplemen mu.” Ucap Zhuzu sembari memberikan botol kecil. “Ah iya, aku hampir lupa. Terima kasih, Zhuzu.” Ucap Ivan yang kemudian segera menuutp pintu ruangan dan meninggalkan Delvin bersama Zhuzu disana.
“Haahh, aku sangat lelah.” Gumam Delvin. “Zhuzu, apa kau tidak bosan dengan pekerjaanmu? Apakah menjadi pengurus ruang kesehatan begitu menyenangkan?” Tanya Delvin. “Jika kau bertanya apakah aku bosan atau tidak, tentu saja iya. Aku melakukan tugas yang sama setiap harinya, juga bergaul dengan urusan yang sama dan itu terus berulang setiap harinya.” Jawab Zhuzu. “Tapi aku suka melakukannya. Dan hal itu yang membuatku terus bertahan sampai sekarang.” Sambungnya.
Mendengar jawaban Zhuzu, tanpa sadar Delvin mengulas sebuah seringai diwajah nya. “Kau tidak pernah bicara panjang lebar seperti ini sebelumnya. Kau selalu menjawab pertanyaan yang diajukan dengan jawaban sesingkat mungkin. Kau yang sekarang tidak seperti dirimu yang biasanya. Ada apa denganmu?” Tanya Delvin dengan nada penasaran.
__ADS_1
“Tidak ada. Jika kau tidak punya hal lain yang ingin dibicarakan, silahkan keluar dari sini.” Jawab Zhuzu. “Baik, baiklah. Jangan usir aku keluar. Aku ingin beristirahat sebentar.” Ucap Delvin sembari membaringkan tubuhnya di atas salah satu ranjang yang tersedia di sana.
Zhuzu kembali mengerjakan pekerjaannya. Tapi ia kembali teringat dengan perkataan Ivan dan Delvin yang mengatakan kalau dia sekarang telah berubah. ‘Apa benar aku sudah berubah? Tapi kenapa? Karena apa? Mengapa? Sejak kapan? Siapa yang mengubahku? Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku? Ada apa denganku?’ Batinnya.
Di ruang kepala sekoah,
“Permisi, Pak. Delvin bilang padaku kalau bapak memanggilku.” Ucap Ivan. “Oh, Ivan. Apa kondisimu sudah membaik? Aku dengar kau sedang tidak sehat?” Tanya kepala sekolah. “Kondisiku sudah lumayan, pak. Ini juga karena Zhuzu sudah merawatku selama aku beistirahat di ruang kesahatan.” Jawab Ivan sembari mengulas senyum. “Ah, Zhuzu. Dia memang seperti itu.” Gumam kepala sekolah. “Aku memanggilmu kesini karena aku ingin mendengar pendapatmu tentang ketiga orang ini.” Ucap kepala sekolah sembari menunjukkan data-data Arora, Chemira dan Fimela.
Ivan membaca data-data itu, dan ia teringat sesuatu. ‘Tunggu, gadis ini? Bukankah dia orang yang bertabrakan denganku di bandara? Jadi dia juga sekolah disini?’ Batin Ivan. “Ivan? Ada apa? Apa kau kenal mereka?” Tanya kepala sekolah. “Aku tidak kenal mereka, Pak.” Jawab Ivan dengan nada pasti. “Hm, baiklah. Kau bisa kembali ke kelasmu.” Ucap pak kepala sekolah. “Baik, Pak. Permisi.” Ucap Ivan yang segera beranjak pergi. ‘Ayunindya Fimela Zhafira, 1A. Hm, menarik.’ Batinnya.
********************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~