The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 15 Pembicaraan Rahasia


__ADS_3

EPISODE 15 PEMBICARAAN RAHASIA


“Bagaimana kau tau cara untuk meracik obat-obat dengan khasiat yang luar biasa itu?” Pertanyaan Ivan membuat Zhuzu terdiam untuk sejenak. Tapi tak lama kemudian ia menjawab pertanyaan Ivan dengan sebuah pertanyaan baru. “Apa kau tau tentang ‘Pandora Corporation’?”


“Pandora Corporation? Perusahaan farmasi yang terkenal itu?” Jawab Delvin. “Apa hubunganmu dengan mereka?” Sambung Ivan. Zhuzu tampak sedikit ragu untuk bicara, tapi ia tetap menjawab pertanyaan dari dua teman baiknya itu.


“Aku adalah putra ketiga dari pemilik Pandora Corporation terdahulu.” Jawab Zhuzu dengan nada santai yang dibuat-buat. Sebenarnya ia sedikit tak nyaman untuk membongkar identitasnya yang telah ia sembunyikan selama ini.


“Hah?! Kau bercanda kan?” Seru Ivan dengan ekspresi tak percaya. “Untuk apa aku berbohong pada kalian? Aku tau kalau kalian akan menanyakan tentang itu suatu hari nanti, jadi paling tidak aku sudah mempersiapkan diri.” Balas Zhuzu.


“Kau selama ini selalu mengatakan kalau kau hanya orang biasa yang kebetulan bertemu dengan seorang guru baik hati yang mau mengajarimu cara meracik obat-obatan. Apa itu semua hanya alasan untuk menutupi identitasmu?” Tanya Delvin. Zhuzu yang mendengarnya mengulas senyum penuh ironi di wajahnya.


“Kau sudah tau hal itu bukan? Aku bertaruh kalian tidak akan percaya pada apa yang aku katakan. Kalian bukanlah orang yang bisa ditipu dengan mudah.” Jawab nya. Ivan yang sedari tadi memikirkan sesuatu memutuskan untuk menyuarakan pertanyaan yang ada di pikirannya.


“Kalau pemimpin Pandora Corporation yang terdahulu adalah orang tua mu, maka yang menduduki jabatan pemimpin saat ini adalah saudaramu?” Ivan menyuarakan pemikirannya. “Ya.” Zhuzu menjawab nya dengan ekspresi datar seperti biasanya.


Karena mendapat respon yang sedikit tidak mengenakkan dari Zhuzu, Ivan memutuskan untuk tidak mengungkit tentang saudaranya itu. ‘Apa aku salah bicara? Apa hubungan persaudaraan mereka tidak terjalin dengan harmonis? Seperti nya aku harus menghindari pembicaraan yang melibatkan keluarganya.’ Batin Ivan.


Setelah pembicaraan yang melelahkan tersebut, mereka memutuskan untuk membicarakan hal lain yang lebih menyenangkan untuk dibahas.


Mereka terlarut dalam pembicaraan mereka, hingga mereka tak sadar kalau sedari tadi Arora yang dari awal tak bisa tidur, telah mendengar semuanya.

__ADS_1


Dan seperti hendak memecahkan kecanggungan yang terjadi, Fimela bangun dari tidur pulasnya.


“Hoaam. Senior, berapa lama aku tertidur?” Tanya Fimela dengan wajah polosnya yang terlihat masih mengantuk. Ivan yang melihat Fimela masih dalam keadaan setengah sadar, tiba-tiba mendapat dorongan untuk mengerjainya.


“Kau sudah tertidur salam 4 jam.” Jawab Ivan. Fimela yang mendengar jawaban itu tetap terlihat tenang, mungkin karena ia masih dalam keadaan setengah sadar. “4 jam? Apa Arora dan Chemira meninggalkan ku sendirian disini?” Tanya nya lagi.


Ivan sedikit tidak menduga kalau respon nya akan seperti itu. Tapi ia memutuskan untuk tetap mengerjainya. “Bagaimana kalau iya? Apa yang akan kau lakukan?” Balas Ivan. Delvin dan Zhuzu memutuskan untuk menjadi penonton dan tidak mengganggu kesenangan Ivan.


“Lagi pula , kau tak sendirian disini. Aku ada disini untuk menjaga dan menemanimu sampai kau bangun.” Ivan melanjutkan kalimatnya sembari mendekat perlahan kearah Fimela. “Kau yang menjagaku?” Tanya Fimela sembari mengusap matanya. “Tapi aku tak mengenalmu.” Sambung Fimela lagi-lagi dengan kepolosannya.


“Pfft.” Delvin dan Zhuzu tak bisa menahan diri untuk tidak mentertawakan Ivan. Ivan hanya membalasnya dengan tatapan tajam yang menusuk. Tatapan itu cukup untuk membuat mereka berdua kembali berdiam diri dan berperan sebagai makhluk astral yang tak terlihat.


Lalu tak lama, Fimela mulai meneteskan air mata. “Kenapa semua orang berbohong padaku? Kenapa mereka mengatakan kalau aku tidak akan punya teman? Kenapa mereka selalu bilang kalau aku tidak berguna? Apa salahku?” Fimela berucap pilu sembari meneteskan air mata.


Ivan yang melihat hal itu, langsung merasa bersalah. “Eh? Aku tidak bilang kalau kau tidak berguna. Apa aku salah bicara? Aku minta maaf. Jangan menangis lagi.” Ucap Ivan sembari menenangkan Fimela. “Sepertinya kesadarannya masih belum terkumpul sepenuhnya. Dengan kata lain, ia masih berada dialam mimpi nya. Sepertinya ia mimpi buruk.” Delvin memutuskan untuk ikut campur.


“Kurasa ia mengalami trauma terhadap suatu hal. Kita tidak bisa bicara sembarangan disaat seperti ini.” Ucap Zhuzu yang juga ikut campur. “Jadi ini salah ku?” Tanya Ivan dengan ekspresi bingung. “Ya, ini salahmu.” Jawab Delvin dan Zhuzu serempak.


Ivan menunduk dengan wajah muram yang dipenuhi rasa bersalah. “Jadi aku harus bagaimana sekarang?” Tanya Ivan dengan nada putus asa. “Mungkin kau bisa membujuk nya dengan sesuatu?” Jawab Delvin. Ivan berpikir untuk sejenak, lalu ia merogoh kantong nya untuk mengambil sesuatu.


“Kau mau permen?” Tanya Ivan. ‘Hah? Permen? Yang benar saja.’ Batin Delvin me,ihat tingkah konyol Ivan. Mendengar pertanyaan Ivan, Fimela mengangkat kepalanya. “Hah? Siapa kau?” Tanya Fimela yang masih diiringi suara isak tangisnya. “Namaku Ivan, seniormu.” Jawab Ivan dengan senyum ramah di wajahnya.

__ADS_1


Fimela tidak memberikan respon, ia hanya terdiam disana tanpa kata. “Tenang saja, aku janji tidak akan menyakitimu. Kau bisa percaya padaku.” Sambung Ivan dengan sorot mata yang menyiratkan ketulusan pada ucapannya. ‘Apa ini berhasil?’ Batin Delvin yang masih tak oercaya dengan apa yang dia lihat.


Fimela memandangi permen yang ada di tangan Ivan. “Aku mau es krim.” Jawab Fimela dengan tatapan lembut bagaikan anak kecil yang minta dibelikan sesuatu. Delvin dan Zhuzu tak menyangka kalau ‘trik’ Ivan akan berhasil. ‘Respon nya benar-benar seperti anak kecil.’ Batin Zhuzu.


“Baiklah, ayo kita beli es krim.” Ucap Ivan sembari mengulurkan tangan. “Hm? Aku tidak boleh menerima uluran tangan orang asing.” Jawab Fimela untuk kesekian kalinya dengan kepolosan yang berlebih. Ivan yang mendengar itu hanya bisa tersenyum kecut. “Baiklah, tak apa. Mari ikut aku, kau mau es krim rasa apa?” Tanya Ivan kemudian.


Fimela langsung berdiri mendengar kalau ia akan mendapat es krim yang dia suka. “Hm, aku mau es krim coklat.” Ucap Fimela dengan penuh semangat. Mereka berdua pun pergi menuju kantin.


Di kantin,


Kantin terasa sepi karena ini sedang jam pelajaran. Tapi hal itu tak berpengaruh pada Ivan. Sebagai salah satu murid dengan prestasi tinggi, ia diberi kelonggaran tambahan waktu istirahat. Tentu saja itu juga didukung dengan begitu besar kontribusi dirinya untuk sekolah.


“Bu, aku mau beli dua es krim rasa coklat.” Ucap Ivan sembari menyodorkan uang. “Eh? Ivan? Siapa perempuan ini? Pacarmu ya?” Tanya Ibu kantin sembari melirik ke arah Fimela. Fimela tak mendengar pertanyaan Ibu kantin karena dirinya sibuk mengagumi es krimnya. Ivan melirik sedikti ke arah Fimela. “Iya.” Jawabnya sembari mengulas senyum licik.


********************


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.


Thank you all ~~

__ADS_1


__ADS_2