
EPISODE 43 DEVANO FERELY
“Haah.. sangat melelahkan. Senior dimana ya? Apa aku harus keliling sekolah?” Gumam Fimela. Ia baru saja selesai dengan tugas-tugasnya. Dan yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari keberadaan seseorang.
Seseorang lelaki sedang berjalan dengan arah yang berlawanan dengan Fimela. Mereka berpapasan. Ketika melihat Fimela, ia teringat dengan seorang perempuan di masa lalunya. “Fimela?”
Fimela yang tak tau apa-apa tentangnya, berlalu melewatinya begitu saja. “Tunggu, Fimela!” ia menarik lengan Fimela, membuat sang empunya berbalik. “Apa yang..?” Sebelum Fimela sempat menyelesaikan kalimatnya, lelaki asing itu menyela ucapannya.
“Fimela? Itu kau kan? Kau ingat aku?” Ucap lelaki itu menghujami Fimela dengar berbagai pertanyaan. Fimela mengernyitkan dahi, ia tak mengerti apa yang dibicarakan lelaki ini. ia tak mengenalnya sama sekali
“Iya benar, aku Fimela. Tapi, kau siapa? Aku tidak mengenalmu.” Jawab Fimela. Lelaki itu terbelalak mendengar jawaban Fimela, “Kau tak ingat aku? Ini aku, Devano Ferely.” Ucapnya sedikit meninggikan intonasinya.
“Devano? Siapa? Aku tidak kenal. Maaf, aku buru-buru.” Ucap Fimela, ia segera menepis tangan lelaki itu dan melanjutkan pencariannya yang tertunda. “Fimela, tunggu. Kau benar-benar tidak ingat? Kita pernah berteman. Kita bahkan pernah saling menyatakan perasaan.” Lelaki itu berdiri tepat dihadapan Fimela, membuatnya mau tak mau mendengarkan ucapannya yang tidak masuk akal.
“Apa? Ayolah, itu tidak lucu. Aku bahkan tidak mengenalmu.” Ucap Fimela dengan nada sarkas. Ia benar-benar terganggu kali ini.
Lalu, seseorang dari arah belakang Fimela tiba-tiba datang dan menyapa Fimela. “Fimela? Apa yang kau lakukan disini?” Ucapnya. Karena mendengar suara yang familiar, Fimela berbalik dan menemukan sosok yang dikenalnya. “Senior? Ah, pas sekali. Aku mencarimu kemana-mana. Kepala sekolah ingin bertemu denganmu.” Ucap Fimela tanpa memperdulikan Devano.
“Kepala sekolah? Ada apa?” Tanya Ivan yang tidak meyadari kehadiran Devano disana. “Mana aku tau? Sebaiknya kita cepat kesana.” Ucap Fimela, kemudian ia dengan sengaja menggandeng tangan Ivan lalu menariknya pergi dari sana.
Ivan melepaskan genggaman tangan Fimela, lalu bergerak merangkul pundaknya posesif. “Baiklah, ayo.” Ucapnya. Fimela membalasnya dengan senyum kaku.
Devano tampak memanas melihat kedekatan mereka, “Tunggu, kalian.. apa hubungan kalian?”
Mereka kembali menoleh padanya, “Kau siswa baru ya?” Tanya Ivan dengan tatapan sinis.
Lalu, seseorang menarik lengan Devano, “Ahaha.. iya dia siswa baru, jadi dia tidak tau. kalian silahkan lanjutkan kegiatan kalian, biar aku saja yang jelaskan padanya.” Ucap Nicholas dengan senyum palsunya yang entah datang darimana.
Ivan dan Fimela pergi dari tempat itu, meninggalkan Devano dan Nicholas disana. “Hey, kau benar-benar siswa baru ya?” Tanya Nicholas. “Ya. Kau siapa?” Ucap Devano balik bertanya. “Kelas?” Sambung Nicholas tanpa memperdulikan pertanyaan untuknya. “1B” Jawabnya.
__ADS_1
Nicholas mengulur kan tangannya, “Nicholas, 1A” Ucapnya memperkenalkan diri. “Devano.” Ucapnya sembari menerima uluran tangan Nicholas.
“Sekarang, mari ke intinya. Apa hubungan mereka?” Tanya Devano dengan tidak sabar. “Woah.. sangat tidak sabar ya.. bagaimana kalau kita bahas dikelasmu saja?” Ucap Nicholas mencoba untuk bernegosiasi. “Terserah.” Jawab Devano sebelum ia pergi mendahului Nicholas. “Hey, tunggu.”
-----
“Ee.. bisa kau lepaskan ini sekarang senior?” Tanya Fimela yang mulai tidak nyaman dengan kedekatan mereka. “Apa kau kenal anak baru itu?” Tanya Ivan tanpa memperdulikan permintaan Fimela. “Lepaskan du..”
“Jawab aku. Setelah aku selesai bertanya, akan aku lepaskan.” Ucap Ivan menyela kalimat Fimela. Fimela menghela napas, “Baiklah. Tapi janji ya..” Ivan mengangguk “Iya, janji.”
“Tidak, aku tidak kenal dia.” Jawab Fimela. “Lalu, kenapa dia terlihat mengenalmu?” Tanya Ivan. “Aku tidak tau. Dia bilang kalau dia mengenalku, lalu dia menanyakan apa ini memang aku, lalu bertanya apakah aku ingat dengannya.” Jawab Fimela. “Kau tidak ingat dia?” Tanya Ivan (lagi).
Fimela menggeleng, “Tidak, aku tidak ingat apapun tentang dia. Aku juga merasa bahwa dia terasa sangat asing bagiku.” Jawab Fimela. “Lalu.. apa yang membuatmu marah padanya?”
“Dia benar-benar menyebalkan. Kau tau? dia bahkan bilang kalau kami pernah saling menyatakan perasaan, padahal aku tidak kenal dia. Hmph, menyebalkan.” Ucap Fimela dengan melipat tangannya di depan dada.
“Apakah masih ada pertanyaan, senior?” Tanya Fimela dengan tatapan sinis. “Hm, sebentar.. aku pikir-pikir dulu.” Ucap Ivan dengan sikap santai menanggapi tatapan yang tidak bersahabat itu.
“Ayolah senior. Jangan bermain-main seperti ini. Aku tidak tau sampai kapan aku bisa tahan untuk tidak memukulmu.” Ucap Fimela dengan tangannya yang terkepal menahan emosi. Ivan hanya tersenyum menanggapi ancaman tersirat dibalik kalimat Fimela.
-----
Sesampainya di kelas 1B, baik Devano maupun Nicholas disambut dengan baik disana. Devano lumayan populer dikelasnya sendiri saat ini karena siswa baru dirinya telah mendapat banyak pujian dari ara guru karena prestasi nya. Bukan hanya itu, wajahnya yang lumayan tampan juga menjadikan popularitasnya meningkat.
Sedangkan Nicholas.. tentu saja dia populer. Setiap orang yang terpilih untuk menjadi siswa kelas A bukanlah orang sembarangan. Untuk masuk ke sana, mereka harus memenuhi berbagai macam syarat dan kualifikasi agar dapat masuk ke sana. Orang-orang yang berhasil sudah pasti akan terkenal dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
Di kelas 1B sendiri, Nicholas mendapatkan sambutan yang bisa dibilang sangat baik. Berbagai kalimat sapaan dan pujian dari hampir semua orang yang ada di kelas itu Ia dapatkan.
“Ayolah.. waktu istirahat akan habis sebentar lagi.” Ucap Devano dengan tak sabar ingin segera mendengar penjelasan dari masalah nya sebelumnya. Nicholas menghentikan aksi tebar pesona nya, lalu duduk di bangku di hadapan Devano.
__ADS_1
“Kau ingin dengar dari yang mana?” Tanya Nicholas. “Apa hubungan mereka?”
Nicholas menggeleng pelan lalu menghela napas frustasi, “Sudah jelas bukan? Mereka sepasang kekasih.” Ucapnya santai. Mendengar hal itu, Devano tampak memanas. Wajahnya murung dan tampak jelas raut kesedihan dan penyesalan disana.
‘Apa benar seperti itu? Apa Fimela melupakan janji itu? Apa dia benar-benar lupa? Apa yang terjadi selama aku pergi? Atau.. ini salahku? Apa seharusnya aku tidak pergi?’ Batinnya.
“Hey, kau melamun. Apa ada hal lain yang ingin kau tau?” Tanya Nicholas sambil melambaikan tangannya. “Hm? Oh ya.. ada satu hal lagi. Kenapa kau terlihat takut pada senior itu?”
Lagi-lagi dia menggeleng, “Ya ampun. Sudah berapa hari kau disini?” Tanya Nicholas sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan padanya. “Aku baru masuk hari ini.” Jawab Devano.
Dia menghela napas lagi, dia tidak tau harus mulai darimana kali ini. “Apa kau pernah mendengar tentang para ‘Idola sekolah’?” Tanya nya. “Idola sekolah? Sepertinya pernah. Kenapa?”
“Baiklah, aku mulai dari mereka saja. ‘Idola sekolah’ yang sudah terklarifikasi sejauh ini ada lima orang. Mereka ada dalam satu kelas yang sama, yaitu kelas 2A. Sebagai seorang idola, bukan hanya prestasi dan penampilannya saja yang mempesona. Mereka juga punya kekuasaan disekolah ini. Dan salah satu dari mereka adalah senior yang kita temui tadi.” Ucapnya.
Devano mengernyitkan dahi mendengar penjelasan itu, “Kekuasaan? Apa maksudnya? Bukankah kita semua siswa disini?” Tanya nya lagi.
“Mereka terkadang ditunjuk sebagai perwakilan langsung dari kepala sekolah. Bisa dibilang mereka juga pimpinan sekolah ini. Setiap keputusan mereka akan berpengaruh pada sekolah. Dan sebagian dari sekolah ini diatur oleh mereka.”
Kali ini Devano mengangguk mengerti, “Kalau begitu.. bis beritahu aku siapa saja para ‘idola’ ini? Dan apa jabatan mereka?”
“Delvin, ketua pengurus organisasi siswa. Ivan, senior yang kau temui tadi, wakil ketua pengurus organisasi siswa. Zhuzu, bendahara organisasi dan wakil suster Dairy dari unit kesehatan. Georgy, perwakilan serta penanggung jawab untuk pengajuan kerja sama dengan sekolah lain dan investor terbesar sekolah. Dan Ignacio, tugasnya sedikit rahasia jadi aku tidak tau terlalu banyak tentang dia, yang aku tau dia merupakan penanggung jawab penyelesaian masalah internal di sekolah. Ada juga yang bilang bahwa dia intel khusus yang bertugas untuk menyelidiki kasus yang berhubungan dengan sekolah. Tapi aku tidak tau itu benar atau tidak.” Ucapnya.
Devano mengangguk mengerti, “Baiklah, aku mengerti. Terima kasih atas informasinya.” Ucapnya. “Yah.. sama-sama. Jika ada pertanyaan lain, kau bisa cari aku. Tapi, jika kau punya masalah dengan mereka, jangan libatkan aku.” Ucap Nicholas lalu melangah kembali ke kelasnya.
*************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~