The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 10 Kecurigaan (part 2)


__ADS_3

EPISODE 10 KECURIGAAN (part 2)


“Zhuzu, siswa tingkat kedua, kelas 2A.” Lelaki itu memperkenalkan diri dengan singkat. “Dia baru diizinkan pulang nanti sore, dia harus istirahat. Kalian kembalilah dulu untuk menghadiri kelas siang, sekalian berikan surat ini pada guru yang mengajar kalian.” Ucap Zhuzu sembari memberikan sebuah surat berukuran kecil. “Baiklah. Tolong jaga dia.” Ucap Chemira, lalu ia dan Fimela pergi meninggalkan ruang kesehatan.


“Hahh, merepotkan.” Ucap Zhuzu sembari menatap Arora yang terbaring lemah tak berdaya. Ia mencari kegiatan yang bisa dia lakukan di ruangan itu. Lalu, ia memutuskan untuk memeriksa kembali kondisi Arora.


Setelah memastikan bahwa tidak ada hal lain lagi yang akan mengganggu istirahat perempuan itu, Zhuzu melepaskan jas putih khas seorang petugas kesehatan yang ia kenakan. Kemudian ia membantingkan tubuhnya pada sebuah sofa kecil yang terletak di dekat ranjang Arora. ‘Aku lelah.’ Zhuzu memutuskan untuk memejamkan mata nya. Ia berharap agar ia bisa tidur, walaupun hanya sebentar.


Setelah Zhuzu ikut terlelap dalam tidurnya, seseorang membuka pintu. “Zhuzu?” Ucap Ignacio dengan ekspresi bingung. ‘Apa yang ia lakukan disini? Apa dia menggantikan suster Dairy untuk berjaga di sini?’ Batin Ignacio. Lalu, karena penasaran, Ignacio membuka tirai di sebelah Zhuzu. “Ini? Bukankah..?” Ucapan Ignacio terputus karena Zhuzu mencengkeram tangannya.


“Ignacio, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Zhuzu dengan ekspresi datar seperti biasa. “Aku? Apa lagi? Tentu saja aku kemari untuk membolos kelas.” Jawab Ignacio dengan nada santai. “Jika kau ingin membolos silahkan saja, tapi jangan ganggu dia.” Zhuzu mengucapkan setiap kalimatnya dengan ekspresi yang selalu sama. Tapi kali ini, dia mendesis kan nada mengancam di sela-sela kalimatnya. “Eh? Ada apa ini? Apakah ini benar dirimu, Zhuzu? Sejak kapan kau begitu perhatian terhadap seorang perempuan?” Tanya Ignacio dengan sikap mengejek. “Dia tanggung jawabku.” Jawab Zhuzu singkat. Ignacio begitu terkejut melihat sikap Zhuzu yang tidak seperti biasanya.


“Tu-tunggu, Zhuzu.. kau..” Ucap Ignacio terbata-bata. “Jika kau tidak dapat bersikap tenang dan sampai mengganggu istirahatnya, aku tidak akan segan-segan untuk melaporkanmu pada guru.” Ancam Zhuzu.


Sepulang sekolah,

__ADS_1


“Dia harus banyak istirahat. Aku sudah berikan suplemen untuk membantu proses penyembuhannya. Kondisi nya sekarang tidak perlu dikhawatirkan, tetapi harus tetap mendapat penanganan secepatnya. Jika keadaannya memburuk segera bawa dia untuk berobat.” Zhuzu mengucapkan sederat perintah layaknya seorang dokter professional. “Baik, kami akan memperhatiknnya.” Jawab Chemira. “Terima kasih, kak senior.” Mereka segera pulang kerumah setelah berpamitan dengan Zhuzu.


Sesampainya di rumah,


“Untuk sekarang, kita tidak bisa melibatkan Arora. Dia butuh istirahat.” Ucap Chemira. “Ya, kau benar. Sebaiknya kita jangan libatkan dulu dia dalam hal ini.” Sambung Fimela. Mereka sedang berada di dapur untuk membuat makan malam bersama. Sedangkan Arora, ia sedang beristirahat di kamarnya.


Setelah itu, Fimela membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Arora. “Aroraaa~ makanan mu sudah datang.” Ucap Fimela sembari mengetuk pintu kamar Arora. “Jangan bawa masuk itu. Aku tidak akan makan makanan hambar seperti ituuu.” Seru Arora dari dalam kamar. “Ayo makanlaahh. Aku sudah susah payah membawakan ini kemari. Kau tidak ingin menyia-nyiakan niat baik ku kan?” Goda Fimela. “Tidaakk!. Aku tidak mau.” Ucap Arora sembari menutup mulut menggunakan tangannya.


“Tapi aku membawakan ini berdasarkan rekomendasi dari dokter Viona. Benar kan, dok?” Ucap Fimela sembari menatap ke arah dokter Viona yang sedari tadi duduk di sebelah tempat tidur Arora. “Itu benar. Nona, untuk beberapa waktu kedepan anda sebaiknya hanya memakan bubur ini. Aku akan memasukkan suplemen kedalamanya.” Ucap dokter Viona sembari tersenyum. Dokter Viona adalah dokter pribadi keluarga Gunadya. Ia bergegas pergi ke London setelah mendengar bahwa Arora sedang sakit.


“Dokter Viona, bagaimana keadaannya sekarang?” Tanya Fimela. “Ah elah. Gak usah sok perhatian gitu ya.” Jawab Arora. “Kapan aku bilang kalau aku memberikan perhatianku padamu?” Balas Fimela. “Itu kamu nanya-nanyain kondisi aku. Itu artinya kamu perhatian dong sama aku.” Jawab Arora dengan percaya diri. “Oh itu, aku cuman mau tau kamu masih kuat bertahan atau nggak. Kalau emang sebentar lagi, aku bakalan bantuin Chemira siapin keperluan kamu kok. Kamu gak perlu khawatir, pergi aja yang tenang.” Balas Fimela. “Fimelaa!” Arora benar benar kesal dengan ucapan sahabatnya itu. “Hehe, just kidding.” Ucap Fimela dengan memasang wajah menyebalkan.


FIMELA : ARORA \= 1 : 0


“Jadi dokter Viona, bagaimana keadaannya?” Tanya Fimela untuk kedua kalinya. Belum sempat dokter Viona menjawab, Chemira memanggil Fimela dari bawah. “FImelaa! Turun dulu, bantu aku menyelesaikan ini.” Pinta Chemira. “Baiklah! Tunggu aku.” Fimela pun beranjak pergi menuju ke ruang belajar di lantai bawah.

__ADS_1


Setelah ia membantu Chemira, Fimela kembali ke kamar Arora. “Jadi dokter Viona, bagaimana keadaannya?” Tanya Fimela untuk ketiga kalinya. “Fimela, nih.” Ucap Arora sembari memberikan mangkuk bubur yang kosong padanya. “Hah? Apaan nih?” Tanya Fimela. “Kamu yang bawa ini, jadi kamu juga yang kembali kan.” Jawab Arora. “Haahh, baiklah.” Fimela pun pergi membawa nampan dengan mangkuk kosong diatasnya, hendak membawanya ke dapur.


Setelah nya, Fimela kembali ke kamar Arora. “Jadi dokter Viona, bagaimana keadaannya?” Tanya Fimela untuk yang keempat kalinya. “Ah, sebentar Nona. Ada telepon masuk. Saya permisi sebentar, Nona.” Ucap dokter Viona. Fimela hanya bisa membanting tubuh nya di sofa. “Pfft.” Arora mentertawakannya. “Apa yang lucu hah?” Tanya Fimela dengan tatapan sinis. “Ekspresimu.” Jawab Arora dengan santai. Fimela tidak menimpali ucapan Arora.


Tak lama kemudian, dokter Viona kembali memasuki ruangan. “Jadi dokter Viona, bagaimana keadaan si k*mpr*t ini?” Tanya Fimela untuk kelima kalinya, disertai dengan kekesalan yang sudah lama terpendam. “Nona tidak perlu khawatir, Nona Arora baik-baik saja.” Jawab dokter Viona. “Jadi aku bolak-balik bertanya sebanyak lima kali hanya untuk mendengar bahwa dia baik-baik saja.” Gumam Fimela. “Jadi kau berharap aku tidak baik-baik saja?” Celetuk Arora. “Yahh, setidaknya kau tidak diperbolehkan untuk sekolah terlebih dahulu. Jadi aku dan Chemira punya alasan untuk bolos sekolah juga.” Jawab Fimela dengan nada puas sekaligus menyebalkan.


“Jadi, dokter. Sebenarnya dia itu kenapa?” Fimela kembali bertanya. “Nona Arora mengalami Anemia.” Jawab dokter Viona. “Jadi yang dikatakan Zhuzu benar?” Sambung Chemira. “Zhuzu? Siapa?” Tanya Arora dengan ekspresi bingung. “Manusia.” Jawab Fimela sembari mengangkat bahu. “Oh, aku kira siluman kodok loh.” Balas Arora dengan sebuah kepalan tangan yang sudah siap mendarat di wajah seseorang.


“Ya, Nona. Suplemen yang diberikannya juga merupakan suplemen dengan kualitas yang bagus. Suplemen itu akan sangat membantu penyembuhan nona Arora.” Ucap dokter Viona. “Benarkah begitu?” Ucap Chemira dengan nada ragu.


********************


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.

__ADS_1


Thank you all ~~


__ADS_2