
EPISODE 17 PERLINDUNGAN TAK KASAT MATA
Di gerbang sekolah,
Arora, Chemira dan Fimela pulang dengan beban pikiran yang bertambah. Pikiran mereka berantakan tak karuan. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini. Dan mereka memutuskan untuk segera pulang dan beristirahat dirumah.
Selama diperjalanan, mereka tidak berbicara sepatah katapun. Mereka hanya larut dalam pikiran masing-masing yang semakin hari semakin rumit, merenungkan bagaimana keadaan mereka untuk kedepannya.
Sesampainya di rumah, Fimela dan Arora pergi untuk membersihkan diri mereka terlebih dahulu. Sedangkan Chemira, ia langsung berkutat dengan segudang pekerjaan di ruang belajarnya. Chemira menaggil salah satu pekerja dirumah mereka untuk mneghadapnya sekarang juga. Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu, “Permisi, Nona.”
“Masuklah.” Jawab Chemira memberikan izinnya. “Apa ada perkembangan hari ini?” Tanya Chemira kepada seorang lelaki tua yang bertugas melaporkan setiap hal dari pekerjaan mereka. “Semua jenis bibit sudah ditanam dan sekarang sedang dalam perawatan.” Jawab lelaki itu.
“Butuh waktu berapa lama lagi untuk semuanya tumbuh?” Tanya Chemira. “Sekitar 2-3 bulan lagi, Nona.” Jawab lelaki itu. “2-3 bulan ya.” Gumam Chemira. Ia menghela napas, sebelum melanjutkan kalimatnya. “Baiklah, temira kasih sudah membantu, pak Yan.” Ucap Chemira dengan tulus.
“Ah, tidak nona. Sebagai pekerja disini, sudah menjadi kewajiban kami untuk menyelesaikan pekerjaan.” Jawab pak Yan sembari mengulas senyum. “Hm, baiklah. Bapak bisa kembali.” Ucap Chemira sembari beranjak dari tempat duduknya. Ia memutuskan untuk berendam sejenak untuk melepaskan penat.
Setelah selesai dengan urusan dikamar mereka masing-masing, mereka kembali berkumpul seperti biasanya. “Makan malam apa hari ini?” Tanya Arora dengan gembira. “Kalian mau apa?” Tanya Chemira. “Wahh, kau akan memasakkannya untuk kami?” Tanya Arora dengan mata berbinar. “Tidak, kalian masak sendiri.” Jawab Chemira dengan ekspresi datar.
“Haa? Lalu untuk apa kau bertanya jika akhirnya kami sendiri yang memasaknya?” Tanya Fimela. “Tidak ada, aku hanya ingin menambah kosakata percakapanku hari ini. Sepertinya aku terlalu sedikit bicara.” Jawab Chemira sembari tersenyum puas. “Emangnya ada orang yang menggunakan energi nya hanya untuk menambah kosakata percakapan?” Tanya Fimela dengan wajah kesal. “Ada, dia contohnya. Dan mungkin hanya dia.” Jawab Arora sembari menunjuk Chemira.
__ADS_1
Setelah selesai menyantap makan malam, mereka kembali memasuki suasana serius yag melelahkan. Dan disaat itu pula Fimela memutuskan untuk menceritakan kejadian di kantin. Ia menceritakan semuanya dari sudut pandangnya, tanpa melewatkan detail sedikitpun.
Mendengar cerita Fimela, Arora dan Chemira membelalak kan mata, tak percaya. “Hah? Pacar? Ya ampun apa yang dipikirkan nya.” Ucap Arora. Fimela hanya mengangkat bahunya, ia sendiri tak mengerti tentang itu. “Mungkinkah itu semacam perlindungan tak kasat mata? Ia menggunakan namanya untuk melindungimu.” Ucap Chemira menyuarakan pemikirannya.
Arora dan Fimela masih tak mengerti dengan apa yang diucapkan Chemira. “Semua orang di sekolah tau tentang mereka dan kekuasaan mereka disana. Mungkin ia mendengar seseorang memiliki niat buruk padamu? Sehingga ia memutuskan untuk memberikan namanya sebagai perlindungan.” Chemira menjelaskan secara singkat. Arora dan Fimela mengangguk pertanda bahwa mereka sudah mengerti.
“Tapi kenapa ia melindungiku?” Tanya Fimela. “Mana kau tau, kau tanya saja pada ‘pacarmu’ itu.” Jawab Chemira sembari mengulas seringai di wajah cantik nya. Wajah Fimela merah padam mendengar ucapan Chemira, ia segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.”Lihat lah wajahmu itu, lebih mirip sebuah tomat.” Ucap Arora. “iiihh, awas saja kalian.” Seru Fimela. Arora dan Chemira tertawa melihat tingkah Fimela.
Setelah puas mengerjai Fimela, akhirnya mereka kembali memasuki suasana formal. “Sudah, sekarang kita membicarakan hal yang lebih serius.” Ucap Chemira. “Kita akan menyiapkan peralatan dan kebutuhan toko. Juga membangun sebuah ruangan bawah tanah untuk White dan Blue juga kelompok-kelompok mereka.” Sambung Chemira.
“Bagaimana dengan tanamannya?” Tanya Arora. “Menurut pak Yan, mereka akan siap sekitar 2-3 bulan lagi.” Jawab Chemira. “Lalu siapa yang akan bertugas membuat ruang tambahannya?” Tanya Fimela. “Hm, aku belum tau soal itu. Apa kalian ada ide?” Ucap Chemira. “Aku juga belum terpikirkan tugas itu akan diberikan untuk siapa. Kita harus berhati-hati dalam memilih.” Jawab Arora.
Keesokkan harinya disekolah,
Arora, Chemira dan Fimela sedang asik mengobrol, lalu aad seorang perempuan mendekati mereka. “Hay, perkenalkan aku Aline. Senang bertemu kalian.” Ucap perempuan itu memperkenalkan dirinya. “Oh, hay. Senang bertemu denganmu.” Jawab Arora.
“Biar aku perkenalkan..” Ucapan Arora terpotong karena Aline menyela. “Tidak, tidak perlu. Aku sudah tau kalian.” Jawab Aline. “Kalian begitu popular disekolah. Semua orang tau kalian.” Sambung Aline. “Oh? Benarkah?” Tanya Chemira dengan ekspresi kaget. “Kalian tidak percaya padaku? Kalian bisa tanya orang lain.” Jawab Aline.
“Kita tak sempat berkenalan karena kalian begitu sibuk. Kalian selalu dipanggil kesana-kemari. Terkadang aku berpikir, apakah kalian tidak lelah dengan semua panggilan itu?” Ucap Aline. “Ah, kami tidak terlalu lelah.” Jawab Arora.
__ADS_1
Aline menatap mereka bertiga dengan tatapan menyelidik. “Kalian berbohong. Arora sakit dan tidak masuk selama 3 hari, Fimela dan Chemira juga izin. Aku pernah lihat kalian beberapa kali tertidur di kelas. Kemarin juga, senior Delvin membawakan surat izin istirahat kalian ke kelas.” Ucap Aline.
“Eh? Ah, soal itu, kami..” Ketukan pintu menghentikan kalimat Chemira. “Suster Dairy meminta kalian untuk ke ruang kesahatan sekarang.” Ucap Ivan. “Baik, senior.” Jawab mereka bertiga serempak. Sebelum melangkah keluar dari ruang kelas, Ivan sempat menetap Fimela. ‘Dia terlihat sangat lelah,’ Batinnya.
Sesampainya di ruang kesehatan,
“Permisi, suster.” Ucap Chemira. “Masuklah.” Sahut suster Dairy. Arora, Chemira dan Fimela masuk kedalam kemudian duduk di pinggir ranjang. Mereka menyembunyikan rasa lelah mereka dengan senyuman ramah, tapi itu sia-sia, mereka masih saja ketahuan. ”Oh, murid-murid ku tersayang. Kalian terlihat sangat lelah. Apa yang kau lakukan selama di sini Zhuzu? Apa konsentrasimu menurun?” Tanya suster Dairy.
“Aku melakukan yang seperti biasa aku lakukan.” Jawab Zhuzu yang entah datang dari mana. “Benarkah? Kenapa kalian pucat sekali? Apa kalian kurang istirahat? Beritahu aku, berapa lama kalian istirahat dalam sehari?” Tanya suster Dairy dengan nada khawatir. “Em, sekitar 3-4 jam?” Sahut Fimela. “3-4 jam? Ya ampun, sayanag. Kalian harus istirahat yang cukup. Kesehatan itu yang utama.” Ucap suster Dairy sembari memberikan sebuah kotak kecil berisi suplemen.
“Jika kalian merasa ada sesuatu yang aneh dalam suplemen itu, kalian bisa salahkan dia.” Ucap suster Dairy sembari menunjuk Zhuzu. “Eh? Aku? Apa salahku?” Tanya Zhuzu sembari menunjuk dirinya sendiri. Suster Dairy hanya tersenyum.
“Haah, baiklah. Tapi suster, aku harus memberitahu mu sesuatu.” Sambung Zhuzu. “Dan apakah itu?” Sahut suster Dairy. “Aku tidak tau tentang yang lain, tapi yang satu itu istimewa.” Ucap Zhuzu sembari menunjuk Arora.
********************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~