The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 2 Tempat Yang Asing


__ADS_3

EPISODE 2 TEMPAT YANG ASING


Selama perjalanan berlangsung, yang mereka bertiga lakukan hanyalah diam tanpa kata, berdiam diri dalam keheningan disekitarnya. Ya, mereka tertidur pulas. Tidak ada kata diam diantara mereka. Mereka selalu punya topik baru yang sangat menarik untuk dibicarakan, apapun itu. Dan tentu saja hal itu hanya berlaku untuk mereka, karena sebagian orang berfikir bahwa mereka terlalu berisik jika sedang bersama-sama. Jika keheningan terjadi diantara mereka, maka mereka sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk bicara, misalnya tidur dan menghadiri kelas.


Keluarga mereka mempunyai hubungan persahabatan yang sangat erat, sehingga mereka sudah terbiasa satu sama lain. Terkadang orang tua mereka mengadakan acara makan malam kecil-kecilan, hanya untuk mempererat hubungan diantara keluarga. Arora, Chemira dan Fimela sudah berteman sejak kecil, mereka bahkan selalu bersekolah di tempat yang sama. Yah walaupun kelas mereka tidak selalu sama, tapi mereka selalu menyempatkan diri untuk bermain bersama atau bahkan hanya sekedar duduk-duduk dan saling bercerita. Hubungan erat itulah yang membuat mereka selalu bersama dan saling melengkapi.


Ketika langsung tebangun begitu pesawat mereka mendarat. Bagaimana tidak, benturan yang terjadi saat pesawat melakukan pendaratan adalah satu hal yang tidak dapat dihindari. Yah, mungkin itu hanya berlaku bagi Chemira dan Fimela, sedangkan Arora masih tertidur pulas dengan ekspresi damai tanpa dosa.


“Aroraa, Aroraa, bangunlahh.” Bisik Fimela tepat di telinga Arora. Arora tak kunjung bangun dari tidur pulasnya. Karena penumpang pesawat sudah semakin sepi, karena kebanyakan dari mereka sudah keluar dari pesawat, akhirnya Fimela memberanikan diri untuk meninggikan nada bicara nya. “Arora!! Bangun!! Kebakaran!!” Seru Fimela. Mendengar hal tersebut, Arora langsung terbangun dari tidur nya. “Hah?! Kebakaran?! Dimana?!” Seru Arora. Chemira dan Fimela sontak tertawa melihat reaksi Arora yang seperti itu. “Fimelaa!” Arora merasa kesal Karena sahabatnya yang satu itu selalu saja menjahilinya.


Tentu saja, bagi Fimela tidak ada hari tanpa menjahili Arora, seakan-akan hal itu adalah suatu kewajiban yang harus ia lakukan setiap harinya. “Kamu sih, pesawat nya udah mendarat kamu masih aja tidur. Emang kamu mau ditinggal?” Ucap Fimela dengan nada mengejek yang dibuat-buat. “Ya nggak lah, siapa juga yang mau ditinggal dipesawat.” Jawab Arora dengan wajah cemberut. “Kalo nggak mau ditinggal beneran, buruan turun sana. Nanti malah dianter pulang balik ke Indonesia.” Ucap Chemira. Tak lama setelah itu, mereka pun turun dari pesawat.

__ADS_1


Di bandara


Setelah mereka bertiga mengambil semua barang-barang, mereka berjalan menuju pintu keluar dan hendak mencari taksi. “Aduhh!!” Seru Fimela kesakitan. “Aduh maafkan aku Nona. Sini, aku bantu berdiri.” Kata lelaki asing yang tiba-tiba menabrak Fimela. Fimela menolak uluran tangan lelaki itu, lalu Chemira dan Arora membantu nya berdiri. Karena uluran tangan nya tidak diterima oleh perempuan dihadapannya, lelaki itu merasa sedikit canggung.


“Anda tidak apa-apa Nona?”Tanya lelaki asing itu dengan rasa bersalah. “Aku tidak apa-apa.” Jawab Fimela dingin. “Saya benar-benar minta maaf atas kejadian hari ini Nona.” Ucap lelaki itu sembari membungkuk kan tubuhnya. Fimela hanya menjawab nya dengan anggukan singkat. “Hm, bolehkah saya tau nama Nona?” Tanya lelaki itu antusias. “Tebak saja sendiri.” Jawab Fimela singkat lalu segera pergi bersama teman-temannya. Jawaban itu membuat lelaki asing itu semakin penasaran dengan perempuan yang baru saja menolak nya. ‘Hm,,menarik. Semoga kita bertemu lagi gadis kecil.’ Batin lelaki itu.


Mereka bertiga pun meninggalkan lelaki itu dengan sikap acuh tak acuh. Mereka tidak memperdulikan lelaki asing yang baru saja mereka temui. “Huh, dasar lelaki. Fimela, kau jangan sampai tertipu dengan lelaki seperti itu.” Ucap Arora. “Tenang saja, Arora. Bukankah kita sudah biasa menghindar dari lelaki seperti itu? Aku sudah cukup terbiasa dengan perubahan sikap dan ekspresi yang mendadak jika harus dihadapkan dengan situasi seperti tadi.” Ucap Fimela tenang.


“Hahh, aku hanya mengkhawatirkanmu.” Ucap Arora kemudian. “iya, kau tau itu.” Ucap Fimela.”Taksinya sudah sampai, mau sampai kapan kalian ngobrol?” Tegur Chemira. “Baiklah.” Arora dan Fimela serempak memutarkan bola mata mereka dengan malas.


“Ini rumah yang akan kita tinggali?” Tanya Arora tak percaya. “Ya, ada masalah?” Celetuk Chemira. “Tidak, aku hanya tidak menyangka rumah seperti ini yang akan kita tinggali. Rumah biasa, sederhana dan minimalis. Aku suka tempat tinggal yang seperti ini.” Ucap Arora sembari mengamati pemandangan di lingkungan sekitar. “Aku yang meminta nya pada Papah.” Ucap Chemira sembari menyeringai puas.

__ADS_1


*flashback on*


“Tempat tinggal seperti apa yang kau inginkan disana, Chemira?” Tanya Amzar pada putrinya. Chemira diam selama beberapa waktu untuk berfikir. “Aku suka yang rumah yang biasa dan sederhana dengan pemandangan sekitar yang menyejukkan mata.” Jawab Chemira. “Hm, baiklah. Akan Papah carikan untukmu.” Tak lama setelah itu, Chemira kembali angkat bicara. “Pah, boleh aku minta sebuah rumah kecil lainnya di pinggiran kota?” Tanya Chemira kembali.


Amzar sedikit kaget mendengar pernyataan Chemira. Putri semata wayang nya itu tidak pernah meminta sesuatu seperti itu sebelumya. “Untuk apa, sayang?” Tanya Amzar. “aku berfikir untuk membuka sebuah usaha disana, agar Papah dan Mamah tak perlu repot mengirimi ku uang setiap bulannya.” Jawab Chemira antusias. Amzar terharu dengan perkataan putrinya itu. “Ya ampun nak, kau tak perlu berfikir sejauh itu. Sudah tugas Papah untuk memberikanmu uang jajan dan hidup yang nyaman. Kau tak perlu repot-repot membuka usaha sendiri.” Ucap Amzar yang benar-benar tersentuh dengan ucapan anaknya.


“Tidak, Pah. Keputusan ku sudah bulat. Jika Papah tidak bisa memenuhi permintaan ku, tidak apa-apa. Aku akan buka usaha ku sendiri dengan tabungan yang aku punya. Aku juga berfikir untuk menjadikan kesempatan ini untuk ku belajar bagaimana cara mengatur bisnis.” Jawab Chemira dengan nada tak terbantahkan.


Amzar pun tak bisa membantah ucapan putrinya. Ia sadar bahwa jika keputusan Chemira sudah bulat, maka tidak ada yang bisa merubah hal itu. “Baiklah, sayang. Papah akan mencarikan mu sebuah tempat untuk membuka usaha. Kau ingin membuat usaha seperti apa?” Tanya Amzar kembali. “Aku bersama Arora dan Fimela pernah sepakat untuk membuka sebuha toko bunga. Papah tidak keberatan kan?” Jawab Chemira dengan nada ingin memastikan.


“Tidak. Papah tidak keberatan sayang. Lakukanlah sesuka mu. Papah juga akan memberikan sebuah lahan kosong yang bisa kalian gunakan untuk menanam bunga yang akan kalian jual.” Jawaban dari Amzar membuat Chemira sangat senang, kemudian ia langsung mendekati Papahnya dan kemudian memeluk nya sembari mengucapkan terima kasih. “Terima kasih, Papah. Aku sayang padamu.” Ucap Chemira sembari mengecup pipi Papahnya, lalu kemudian ia langsung menghambur keluar dari ruang kerja Amzar Prasaja.

__ADS_1


Amzar yang jarang sekali melihat tingkah putrinya yang seperti itu, hanya bisa mengurai senyum diwajah nya. “Aku harus beritahu Emely tentang ini. Dia pasti akan iri denganku.” Ucap Amzar sembari meninggalkan ruang kerjanya.


*flashback off*


__ADS_2