
EPISODE 20 MENCARI PASANGAN
Setelah seharian tertidur, Chemira bangun dari tidurnya. Ia melihat kesekeliling, memperhatikan sekitarnya dan mencoba menyusun kembali ingatannya yang berantakan. Zhuzu menyadari hal itu, ia segera memberitahu Delvin.
“Apa ada yang terasa tidak enak?” Tanya Delvin dengan nada lembut. “Hm?” Chemira hanya menatap Delvin dengan tatapan yang tidak terbaca. Kemudian ia mengalihkan pandangannya dari Delvin, ia melihat ke arah Arora dan Fimela yang masih tertidur.
Cukup lama Chemira memandangi kedua sahabatnya itu, kemudian ia kembali menatap Delvin. “Aku lapar.” Ucapnya lirih. “Baiklah, tunggu sebentar. Akan aku bawakan.” Ucap Delvin yang bergegas pergi menuju kantin.
Ivan dan Zhuzu hanya diam dan menonton. Chemira yang sebelumnya menatap kepergian Delvin, kini beralih menatap ke Ivan dan Zhuzu. “Senior? Kalian juga disini? Berapa lama aku tertidur?” Tanya Chemira.
“7 jam.” Jawab Zhuzu. Chemira tidak merespon, seperti nya ia masih butuh waktu untuk mengumpulkan kesadarannya. “7 jam? Benarkah?” Tanya nya setelah berhasil mencerna 2 kata singkat yang baru saja Zhuzu ucapkan.
‘Iya, apa kau merasa tidak nyaman?” Sambung Zhuzu. “Aku pusing, memoriku berantakan, penglihatanku sedikit berkabut, tenggorokanku sakit, tubuhku lemas dan sakit semua.” Jawab Chemira.
Zhuzu beranjak dari kursinya dan pergi menuju lemari besar yang penuh dengan obat-obatan. Ia mengambil beberapa bubuk setengah jadi dan kemudian mencampurkannya dengan segelas air. Ia memberikan air itu pada Chemira, “Minumlah, itu akan meredakan efek suplemennya.”
Chemira meneguk habis air dalam gelas itu. Dan benar saja, ia merasa bahwa tubuhnya sedikit lebih baik dari yang sebelumnya. Rasa pusing yang menderanya mulai mereda, dan pandangan nya mulai fokus kembali. “Terima kasih, senior.” Ucap Chemira dengan tulus.
Tak lama setelah itu, Delvin kembali dengan membawa kan menu makan siang yang terlihat sangat lezat. Delvin menaruh anmpan berisi makanan itu di atas yang terletak di samping tempat tidur. Ia melihat gelas kosong disana, ‘Aku ingat kalau tadi tidak ada gelas disini.’ Batin Delvin.
Ia membalik tubuhnya dan langsung melihat ke arah Zhuzu yang sedang sibuk menyusun kembali bubuk yang barusan ia gunakan. “Apa yang kau berikan padanya?” Tanya Delvin. Zhuzu berbalik, “Aku memberikan obat pereda efek samping padanya.” Jawab Zhuzu singkat.
__ADS_1
“Kenapa kau selalu bisa menciptakan obat-obatan luar biasa seperti itu? Apa kau bisa mengajariku?” Tanya Ivan yang ikut-ikutan bertanya. “Apa kau akan beralih profesi sekarang?” Tanya Zhuzu balik. Ivan hanya mengangkat bahu, “Yah, aku tidak tau.” Jawabnya singkat.
“Aku hanya kagum padamu.” Sambungnya kemudian. Delvin membanting tubuhnya ke sofa. “Yah, bahan apa saja yang kau gunakan? Aku tebak itu semua barang yang langka.” Tanya Delvin sembari mengulas senyum menjengkelkan di wajah nya. Chemira hanya memperhatikan dari jauh sembari menikmati makan siangnya yang sedikit terlambat.
“Tidak juga, hanya sari kurma, ekstrak meniran, rosella ungu, anggur hitam dan sedikit rosella merah.” Jawab Zhuzu dengan santainya. Semua orang yang mendengar penuturannya hanya bisa berdiam diri tanpa kata dan dilingkupi oleh rasa tak percaya.
Tak lama setelah itu, Arora dan Fimela bangun bersamaan. “Hm? Kalian juga sudah bangun? Apa kalian lapar?” Tanya Zhuzu dengn senyuman ramah. Mendengar sesuatu tentang makanan, Arora menganggukkan kepalanya cepat. Sementara Fimela balik bertanya, “Apakah ada es krim?” Tanya nya dengan sinar mata polos layaknya anak kecil.
“Tidak, tidak akan ada es krim jika kau tak habiskan makan siangmu.” Jawab Ivan sembari menaruh dua nampan yang terisi dengan makanan-makanan lezat di atasnya. “Satu untukmu, dan satu untukmu. Habiskan.” Ivan memberikan kalimat perintah nan tegas yang tak dapat dibantah. Fimela memakan nya dengan sedikit rasa tertekan. Sedangkan Arora, ia memakannya dengan hati gembira tanpa beban sedikitpun.
“Baiklah, boleh aku bertanya satu hal?” Pinta Zhuzu. Arora dan Fimela mengangguk sembari memakan makanan mereka. “Apa kalian merasa sedikit tidak nyaman? Bisa kalian deskripsikan yang kalian rasakan saat ini?” Sambungnya.
Ia menakar bubuk itu terlebih dahulu sebelum mencampurkannya ke dalam air yang sudah tersedia di dalam gelas. “Ini, minumlah.” Ucap nya sembari memberikan gelas dengan air campuran obat didalamnya. Fimela menghabiskan air itu, lalu mengembalikan gelas kosong itu pada Zhuzu. “Terima kasih, senior.”Ucap Fimela tulus.
“Arora, bagaimana denganmu?” Tanya Zhuzu dengan aura yang lebih hangat dari sebelumnya. “Aku? Hm, aku merasa sedikit mual dan sakit di bagian dada, terasa seperti sedikit sesak. Aku juga merasa seperti…” Ucapan Arora terhenti karena tiba-tiba ia merasakan sakit di kepalanya, seperti dihantam dengan sesuatu yang keras. “Aargh, sa-sakit sekali…” Piring yang tadi tergenggam erat di tangannya kini terjatuh, hancur hingga berkeping-keping.
Zhuzu langsung berlari menghampiri Arora. “Baringkan tubuhmu. Pelan-pelan saja.” Ucapnya sembari membantu Arora membaringkan tubuhnya kembali. Arora masih merintih kesakitan. “Huhu, sakit sekali.”
“Hm, se-senior. Dia sudah seperti selama kurang lebih 6 tahun. Terakhir kali ia seperti itu sekitar 1 bulan yang lalu.” Ucap Chemira. ‘6 tahun?’ Zhuzu duduk di sebelah Arora dan kembali memposisikannya dalam posisi duduk. Tangan Arora yang terasa sangat dingin, menggenggam erat pakaian Zhuzu. “Se-senior.. sa-sakit sekali. Huhuu..”
“Tenang lah, tenang.” Ucap Zhuzu sembari mengusap kepala Arora, menenangkannya. Setelah merasa bahwa rasa sakitnya telah berkurang, tangannya yang semula memeluk erat lengan Zhuzu, kini mulai terlepas. “M-maaf kan aku, s-senior.” Ucap Arora beriringan dengan isak tangisnya.
__ADS_1
“Tidak, tidak apa.” Ucap Zhuzu sembari memalingkan wajahnya yang merah padam. “Eh? Senior? Ada apa? Kenapa wajahmu memerah? Apa kau juga sakit?” Tanya Arora dengan nada khawatir. “Eh? Ah, ehem. Tidak, aku tidak apa.” Jawab Zhuzu sembari melangkah menjauh dari Arora. Ia kembali ke lemari penyimpanannya dan mencampur sedikit lebih banyak bubuk obat dan beberapa tetes obat-obat cair ke dalam segelas air lalu memberikannya kepada Arora.
“Aku kadang berpikir kalau ia terlalu jenius sampai ia melupakan sifat dan perasaan manusiawi yang telah dibawa seseorang sejak lahir.” Bisik Ivan pada Delvin. “Kurasa kau benar, mau sedingin apapun dia pada wanita, ia tetap seorang pria.” Sahut Delvin. Zhuzu yang mendengar percakapan tersebut, hanya melemparkan senyuman mengancam pada mereka berdua.
Di lorong menuju tangga,
“Aku harus minta tolong siapa? Aku tidak cantik, penampilanku sangat buruk. Apa ada orang yang mau membantuku?” Luna merutuki dirinya sendiri yang tidak pernah tertarik untuk berdandan, dan sekarang ia merasa menyesali keputusannya sendiri yang tidak mau belajar berdandan dan mengubah penampilannya.
“Argh, aku harus bagaimana sekarang?” Ucap Luna frustasi. “Apa ada orang yang mau menjadi pasanganku di acara tahunan bulan depan? Aku yakin pasti tidak ada yang mau. Apa aku boleh bersama perempuan saja? Setidaknya aku punya Aline. Argh, tidak. Aku tidak masalah jika harus dihujat, tapi aku tidak akan melibatkan Aline, dia terlalu baik.” Luna terus berjalan menuruni anak tangga satu per satu sembari merutuki dirinya sendiri.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Luna terpeleset dan hampir saja jatuh dari tangga. Beruntung Ignacio yang kebetulan lewat sempat menariknya kembali berdiri sebelum ia terjatuh.
“Kurasa kau harus memperhatikan langkah mu, nona. Terlalu berbahaya jika kau terjatuh.” Ucap nya lembut.
*******************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1