The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 41 Pembicaraan apa ini?


__ADS_3

EPISODE 41 PEMBICARAAN APA INI?


“Haah, apa yang mereka inginkan sekarang?”


Walaupun merasa sangat sungkan, tapi tak urung juga ia menerima panggilan yang datang tiba-tiba di layar ponselnya itu.


“Apa?” Tanya nya ketus.


“Oh, Zhuzu. Aku tidak menyangka kalau… “ – Delvin


“Apa?” Sela Ivan dan Ignacio bersamaan.


“Heh, bocah. Kenapa kau ikut-ikutan aku?” – Ivan


“Idih, siapa juga yang mau barengan sama kadal jingkrak.” – Ignacio


“Ini belum apa-apa, sudah mau ribut?” – Delvin


“Maaf.” – Ivan dan Ignacio bersamaan (lagi)


“…”


“Sepertinya kalian memang ditakdirkan untuk bersama.” – Zhuzu


“Sudah-sudah. Aku menelpon kalian untuk membahas sesuatu.” – Delvin


“Bagaimana dengan kencan kemarin? Apakah menyenangkan?” – Delvin, dengan senyum penuh arti yang sayangnya tidak dapat dilihat oleh teman-temannya.


“Bagaimana kalau kita mulai dari Ivan saja?” – Zhuzu


“Aku? Kenapa aku?” – Ivan


“Sudah, cerita saja. Tidak usah banyak basa-basi.” – Ignacio


“Yah, kemarin biasa saja. Tapi, berjalan sesuai rencana. Kalian tenang saja.” – Ivan, sembari memainkan jari-jari tangannya.


“Baguslah, apa ada hal tertentu yang terjadi diluar rencana?” – Delvin


“Hal tertentu… aku tidak tau apa ini termasuk ke dalam hal tertentu yang kau maksud, tapi aku merasa dia merencanakan sesuatu yang baru, yang aku tidak tau apa itu.” – Ivan, sedikit ragu-ragu


“Yah, kita akan cari tau hal itu nanti. Sekarang… Ignacio, sampai kapan kau akan bermain-main dengannya?”- Delvin


“Haah, yaa… bagaimana ya? Kurasa.. dia cukup berguna. Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja kan?” – Ignacio


“Apa maksud mu?” – Delvin


“Yah, kurasa dia bisa berguna untuk kita. Dia bisa membantu mencari informasi. Kalian tidak bisa hanya mengandalkan aku bukan? Lagi pula, dia punya hubungan dengan orang ‘itu’. Walaupun hubungan mereka tidak terlalu baik.” – Ignacio


“…”


“Baiklah, ada hal lain?” – Delvin


“Hm… kurasa tidak. Tidak ada kendala berarti.” – Ignacio


“Sekarang aku?” – Zhuzu


“Wah, tumben sekali. Kerasukan apa kau?” – Ivan


“Diamlah, sudah bagus kakak kedua membuka diri untuk bercerita. Kita tidak perlu berusaha keras untuk membuatnya bercerita. Dia itu terlalu dingin.” – Ignacio


“Yah, kau benar. Dan itu akan memudahkanmu karena kau tidak perlu repot-repot mencarikan informasi-informasi yang dia minta. Ini benar-benar kesempatan langka.” – Ivan


“Dia terlalu dingin, aku setuju. Kita sudah berteman lama dan dia masih saja seperti itu. Tidak ada yang berubah sedikitpun.” – Delvin


“Ya, setiap hari terasa seperti musim dingin jika bersamanya.” – Ignacio


“Aku penasaran, bagaimana Arora bisa tahan dengan sikapnya yang seperti itu. Kita saja kadang merasa jengah. Bagaimana dengan adik kelas yang super cantik itu?” – Delvin


“Dan kalian tau? Aku saja terpesona saat pertama kali melihat mereka. Bukankah kalian juga begitu? Tapi kakak kedua tak terpengaruh sedikitpun. Wajahnya benar-benar datar.” – Ignacio


“Sebagai teman yang baik, terkadang aku mempertanyakan apakah orientasinya masih lurus atau tidak.” – Ivan

__ADS_1


“Apakah ini yang dinamakan ‘tidak menusuk dari belakang’?” – Zhuzu


“Ayolah, kami selalu menusuk mu dari depan.” – Delvin


“Ya, terlalu membosankan jika melakukannya dibelakangmu.” – Ivan


“Aku cerita atau tidak?” – Zhuzu


“Hm, apa ada sesuatu yang berbeda dari rencana?” – Delvin, Ia merasa sikap Zhuzu saat ini sedikit aneh.


“Tidak. Hampir semuanya diluar rencana.” – Zhuzu, dengan santainya


“Hah? Yang benar saja.. ah maksudku, apa saja yang terjadi?” – Ignacio


“Yah.. banyak. Diawali dengan sekelompok penjahat jalanan yang membuatku menghabiskan dua jarum perak. Lalu, kondisinya tiba-tiba menurun. Selain harus membuat obat-obatan, hal itu juga membuatku harus bercerita suatu hal yang tidak ingin aku ingat, agar dia bisa percaya padaku.” – Zhuzu


“Du-dua? Tunggu, apa mereka sehebat itu? Kau sampai menggunakan dua jarum perakmu…” – Ivan


“Aku tebak dia pasti menggunakan Arora, benar kan?” – Delvin


“Ya, seperti itulah. Kurasa kalian bisa menggambarkannya sendiri, kan?” – Zhuzu


“Hal yang tidak ingin kau ingat? Masa lalumu?” – Ignacio


“…”


“Ya.. begitulah. Tapi aku tidak menceritakan semuanya secara lengkap hingga ke detail-detail yang menyakitkan. Hanya secara garis besarnya saja.” – Zhuzu, dengan nada pilu.


“Ah, bagaimana denganmu, Delvin?” – Ivan, yang segera mengganti topik pembicaraan.


“Aku? Seperti nya cukup lancar. Hanya saja ada beberapa hal yang tidak aku mengerti.” – Delvin


“Apa?” – Ivan dan Ignacio bersamaan (lagi) #2


“…”


“Mati sajalah kau, menyebalkan sekali.” – Ivan


“Pfft..” – Zhuzu


“Apa aku masih disini?” – Delvin


“Ya, lanjutkan lah.” - Zhuzu


“Chemira, dia.. selalu mengatakan yang sebenarnya..” – Delvin, dengan sedikit ragu-ragu.


“Hm? Bukankah bagus jika seperti itu?” – Ignacio


“Tidak, masalahnya… dia terlalu stabil.” – Delvin


“Stabil? Apa maksudmu?” – Ivan


“Aku.. tidak bisa membaca apapun dari dirinya.. baik itu pikirannya ataupun emosinya.” – Delvin


“Benarkah? Apa ada yang salah dengan dirimu?” – Zhuzu


“Aku sempat berpikir seperti itu sebelumnya, tapi kurasa bukan itu masalahnya.. aku masih bisa membaca orang lain, tapi tidak dengannya.. aku merasa.. dia terlalu stabil. Tidak ada emosi apapun dalam dirinya, juga.. tidak ada satupun pikirannya yang bertentangan dengan apa yang dia ucapkan.” – Delvin


“Apa dia juga sama sepertimu?” – Ivan


“Tidak, kurasa tidak. Aku tidak merasakan apapun darinya.” – Delvin


“…”


“Okay, sekarang ada banyak hal baru yang harus kita selidiki.” – Ignacio


“Chemira.. aku dengar dari Arora.. kalau Chemira adalah seorang Toksikolog.” – Zhuzu


“Toksikolog?” – Delvin


“Ya, awalnya aku pikir dia itu seorang kimiawan. Tapi, setelah aku pikirkan lagi, sepertinya dia lebih fokus dengan bahan-bahan kimia yang bersifat racun.” – Zhuzu

__ADS_1


-----


Zhuzu terperangah mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Arora. “Kau tau banyak tentang racun?” Ia bertanya spontan. “Tentu, Chemira sering meneliti bahan-bahan kimia.” Ia menjawab pertanyaan itu begitu saja, dengan sangat jujur. (Episode 32 Rintihan Awan)


-----


“Haah, berurusan dengan mereka benar-benar rumit. Ngomong-ngomong, ada yang lihat Georgy?” – Ivan


Tuut.. tuut.. panggilan terhubung..


“Apa?” – Georgy


“Loh? Kamu..” – Ivan


“Aku yang telepon dia.” – Zhuzu


“Ohh.” – Ivan


“Ada apa? Bukankah aku harus istirahat?” – Georgy


“Kau sakit?” – Delvin


“Kalian tidak tau? Wah, teman macam apa ini.” – Georgy


“Sudahlah, sekarang kita tau kan? Bagaimana keadaanmu?” – Ivan


“Yah, lebih baik dari sebelumnya. Tapi aku masih sering muntah pagi-pagi.” – Georgy


“Sudah berapa bulan?” – Ignacio


“…”


“Pfft..” – Zhuzu, Delvin


“Hahaha!! Tidak, tidak. Haha.. aku berubah pikiran. Aku tidak ingin kau mati, Ignacio. Kalau kau mati, hidupku akan terasa hampa.. Haha.. “ – Ivan


“Sialan.. aku tidak hamil.“ – Georgy, dengan kekesalan yang tidak dapat disembunyikan.


“Haha.. hah. Ya sudah, sepertinya kakak tertua butuh istirahat. Kita akhiri saja sampai disini. Dan Georgy, kami akan beritahu kondisi terbaru rencana kita nanti. Kau bisa istirahat terlebih dahulu.” – Delvin


“Baiklah.” – All


Tuut.. Panggilan berakhir


-----


“Haah, kau tau.. yang tadi siang itu berbahaya.” Ucap Arora sembari membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur (Fimela). “Ya, aku tau itu. Tapi untunglah dia memaafkan kita lebih awal.” Sahut Fimela yang ikut berbaring di samping Arora.


“Ya, jika kita salah jawab maka habislah kita.” Arora kembali berucap. Fimela terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Arora barusan. “Kurasa kau salah.” Ucapnya kemudian.


Dengan cepat Arora bangkit dan memposisikan dirinya dalam posisi duduk bersila, “Apa maksudmu?” Tanya nya. Fimela menatap kearah Arora, “Kau tau, semua pilihan yang kita punya adalah jawaban yang salah. Jika kita menjawab ‘Iya’ maka ia akan marah dan mengatakan bahwa kita kekanakkan. Jika kita menjawab ‘tidak’, dia juga akan marah karena kita tidak tau diri. Dan jika kita diam saja, sudah tentu dia akan marah karena kita tidak menghormati pertanyaannya.” Jawab Fimela mencoba menjabarkan pendapatnya.


Arora mengangguk, “Hm, kurasa kau benar.”


Keheningan melingkupi mereka selama beberapa saat, sampai Fimela memecahkan keheningan tersebut. “Ngomong-ngomong, kenapa kau ada dikamar ku?” Tanya nya. “Hah? Kamarmu?”


“Ya, kamarku.” Fimela terlihat sedikit heran dengan Arora yang tampak bingung. “Kau salah makan obat ya?” Ucapnya dengan tatapan jengkel, namun tersirat arti lain didalamnya.


“Iya ya, kenapa aku dikamarmu? Harusnya aku ada dikamarku dan mengerjakan tugas sekarang.” Arora beranjak dari duduknya dan segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar Fimela.


“Ada apa dengannya?” – Fimela


“Ada apa denganku?” – Arora


*************


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.


Thank you all ~~

__ADS_1


__ADS_2