The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 45 Kawan Lama


__ADS_3

EPISODE 45 KAWAN LAMA


Devano segera menuju ruang kesehatan untuk meminta tanda tangan. Ia tidak tau siapa itu suster Dairy dan bagaimana orangnya. Yang ia tau, sebagai seorang suster, ia pasti bekerja dibagian kesehatan.


Selama perlajanan, ia tidak mendapati masalah berarti. Persis seperti yang ia harapkan.


Sesampainya di tujuan, ia mengetuk pintu perlahan. Tempat itu merupakan tempat untuk beristirahat, ia tidak ingin mengganggu. “Permisi..”


“Masuklah.” Sahut seseorang dari dalam. Devano mengernyitkan dahi karena merasakan sebuah keanehan disana. Seseorang dengan nama ‘Dairy’ pastilah seorang perempuan. Sedangkan, suara yang menyahutinya dari dalam sana lebih terdengar seperti suara laki-laki.


Tiba-tiba dia teringat dengan perkataan Nicholas. ‘Apa dia salah satu dari mereka yang disebut idola sekolah yang juga bekerja dibagian kesehatan?’ Pikirnya. Ia menggeleng cepat, mencoba menepis pemikiran itu. ‘Mereka orang-orang sibuk. Mungkin saja itu suara seseorang yang sedang beristirahat disana kan?’ Pikirnya lagi.


“Jika kau tidak mau masuk, sebaiknya segera kembali ke tempatmu.” Ucap orang itu dari dalam sana, membangunkan Devano dari lamunannya. Tangannya bergerak memutar knop pintu, lalu membukanya perlahan.


“Permisi, saya Devano dari kelas 1B. Saya kemari membawakan dokumen atas perintah Bu Vicha.” Ucapnya sembari membuka pintu. Setelah pintu terbuka dengan sempurna, ia melihat sesosok pria tampan dengan postur tubuh yang sangat pas dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi, serta jas putih khas seorang dokter yang melekat ditubuhnya. Sebagai sesama pria, ia mengakui kekagumannya atas penampilan orang ini.


“Dokumen? Apakah itu untuk suster Dairy?” Tanya nya. Devano menganggukkan kepala, membenarkan ucapannya. “Suster Dairy sedang tidak ada. Letakkan saja dimeja.” Ucapnya dengan nada memerintah.


Ketika ia hendak meletakkan dokumen itu diatas meja, persis seperti perintah, ia teringat kalimat bahwa Bu Vicha membutuhkan ini secepat mungkin. “Butuh waktu berapa lama? Bu Vicha bilang ia membutuhkannya sesegera mungkin.” Ucap Devano memberanikan diri untuk menatap wajah dingin yang terasa sangat mengintimidasi itu.


Zhuzu mengambil dokumen itu lalu membacanya. Setelah selesai membacanya, ia kembali meletakkan dokumen itu diatas meja lalu mengambil bolpoin, kemudian menandatangani dokumen itu atas nama dirinya. “Ambilah.”


Devano mengambil dokumen itu, “Bukankah ini untuk suster Dairy?” Tanya Devano mengutarakan pikirannya. “Sama saja bukan? Disitu tertulis dengan jelas bahwa yang menandatangani nya adalah pengurus bagian kesehatan.”


Devano tertegun mendengar pernyataan itu. Bukan karena kalimat itu dikatakan dengan nada sarkas, tapi karena kenyataan dibalik kalimat itu sendiri. Dia bukan lah orang bodoh, ia langsung dapat menilai situasi saat ini dan mengetahui dengan siapa ia berbicara sekarang.


Dugaan awalnya benar, dia memang salah satu dari sang ‘idola sekolah’ itu.


“Ah, baiklah. Kalau begitu..” Kalimatnya terhenti karena suara dari sudut ruangan yang tiba-tiba terdengar.

__ADS_1


“Uhh, se-senior..” Suara itu terdengar sangat lirih. Zhuzu langusng mengalihkan pandangannya dan melangkah mendekati sumber suara tersebut. “Kau sudah bangun? Butuh sesuatu?” Tanya nya dengan nada lembut. Pandangannya yang dingin berubah menjadi hangat seketika.


Ketika tirai pembatas yang menutupi ranjang itu terbuka, Devano terkejut karena melihat seseorang yang tak asing baginya. “Arora?” Ucapnya spontan. Arora menoleh mendengar ada yang memanggil namanya. “Kau..? Devano?” Arora terbelalak tak percaya. “Eh? Kau ingat aku?” Tanya Devano yang sama terkejutnya.


Arora hanya terdiam, ia tak mau menjawab. “Kenapa Fimela nggak ingat aku? Kenapa kau bisa ingat aku tapi dia nggak?” Ucapnya menggunakan bahasa Indonesia yang tidak dimengerti oleh Zhuzu. Ia sengaja menggunakannya supaya seniornya itu tidak dapat mengikuti alur pembicaraan mereka.


“Aku.. aku nggak tau. Pergilah, menjauh dari Fimela.” Jawab Arora sembari mengalihkan pandangannya, seolah tak sudi menatap lelaki itu. “Kenapa? Apa salahku? Kenapa aku nggak boleh? Kau tau kan kalau aku suka dia. Sebenarnya apa yang terjadi selama aku pergi?” Ucap devano dengan meninggikan nada bicaranya.


“Ini salahmu sendiri. Aku nggak tau dan nggak pernah mau tau tentang perasaanmu, aku juga bodoamat tentang itu. Pokoknya kau harus menjauh dari nya. Kalau sampai dia kenapa-napa karena kau, aku nggak akan melepaskanmu kali ini. Ngerti?” Ucap Arora dengan ancaman yang tersurat dengan jelas.


Devano mengalah, dia tidak ingin memperpanjang konfrontasi dengan perempuan yang sedari dulu memang keras kepala itu. “Well, I excuse me.” Dia sedikit membungkukkan tubuhnya lalu berbalik.


“Kau harus meminta tanda tangan ketua pengurus organisasi sebelum menyerahkan berkas itu pada Bu Vicha.”


Hanya beberapa kata dan itu dapat membuat Devano menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan tubuhnya, “Ketua pengurus organisasi?” Dia mengulang kata-kata itu layaknya orang bodoh.


“Ya, Bu Vicha tidak memberitahu mu?”


“Kau kenal dia?” Tanya Zhuzu dengan penuh rasa ingin tau. Arora menghela napas panjang sebelum menjawab, “Yah, bisa dibilang begitu.” Jawabnya singkat. Dia tidak ingin membahas tentang itu, setidaknya untuk saat ini.


Seolah mengerti jika Arora tidak ingin membahasnya, Zhuzu segera menepis semua pertanyaannya tentang kejadian yang baru saja terjadi. “Kau sudah baikan?” Tanya nya untuk mengalihkan topik awal.


Arora mengangguk, “Aku malas ke kelas, aku ingin bolos saja. Apa ada sesuatu yang bisa aku kerjakan? Menghitung koin misalnya?”


Zhuzu tersenyum, dia tidak menyangka jika gadis itu akan menurunkan kewaspadaannya seperti itu. Atau itu tipuan lain? Entahlah. Setidaknya pekerjaannya terbantu. “Itu, disana. Tolong dihitung dengan benar ya..” Ucapnya sembari menunjuk sebuah tas berukuran sedang disamping meja kerjanya.


“Eh? Aku benar-benar menghitung koin?” Tanya Arora dengan tampang polosnya. “Ya, terima kasih atas bantuannya. Aku sangat-sangat terbantu.”


Arora masih sedikit tidak percaya, apakah seorang bendahara juga bertugas menghitung koin sebanyak itu? Tapi tak apa, setidaknya dia bisa bolos dengan alasan ini. Arora turun dari ranjangnya. Dia berjalan mendekati tas berisi koin itu, lalu duduk di lantai yang posisinya cukup dekat dengan tas itu.

__ADS_1


“Lantainya dingin, nanti kau sakit. Di atas meja saja.”


Arora menggeleng, menolak tawaran itu mentah-mentah, “Tidak, aku sudah terbiasa menghitung koin dilantai, itu terasa lebih nyaman. Lagipula, ini tidka terlalu dingin, aku tidak akan sakit karenanya.”


-----


“Haah.. aku terlalu terburu-buru. Aku tidak tau orang itu ada dimana. Apa aku harus keliling sekolah untuk mencarinya?”


Devano memutuskan untuk bertanya daripada harus berkeliling sekolah hanya untuk meminta tanda tangan pada satu orang saja. Seperti kata pepatah ‘Malu bertanya, sesat dijalan’. Dan itu benar-benar terjadi padanya sekarang.


“Permisi, pak. Saya mau tanya. Apa bapak lihat senior Del-vin?” Ia sempat ragu dengan nama yang baru saja ia sebutkan. Tapi sepertinya yang ia telah menyebutkan nama yang tepat.


“Tadi bapak lihat dia masuk ke ruangan rapat, disana.” Jawab seorang lelaki paruh baya yang membawa peralatan kebersihan, seperti seorang cleaning service? Sembari menunjuk sebuah ruangan. “Sampai sekarang belum keluar.” Sambungnya.


“Oh, baik, terima kasih pak.”


Devano melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dimaksud. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu itu dibuka oleh orang lain dari dalam.


“Bye, senior. Thanks anyway.” Suara seorang perempuan dari dalam ruangan itu terdengar sangat familiar, membuat Devano mengernyitkan dahi, mencari-cari suara itu di dalam memorinya. Belum sempat ia menemukan siapa pemilik suara itu, pintu terbuka dan menampilkan sesosok perempuan yang lagi-lagi ia kenal.


“Chemira?”


Langkah Chemirah terhenti ketika mendengar orang lain menyebut namanya. Dia mendonggakkan kepala untuk melihat siapa yang berdiri dihadapannya sekarang. “Ya?”


Ketika melihat siapa orang itu, tanpa sadar ia melangkah mundur perlahan dengan wajah kaget lalu memalingkan wajah. “Permisi.” Ucapnya lalu pergi begitu saja.


*************


Terima kasih untuk para pembaca semua.

__ADS_1


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.


Thank you all ~~


__ADS_2