
EPISODE 19 ACARA TAHUNAN
“Senior Zhuzu!” Seru Aline dengan gembira. Zhuzu langsung menjauh dari tempat tidur Arora, dan kembali pada meja kerjanya. Ia kembali memasang ekspresi datar andalannya. Aline berjalan mendekati meja kerja Zhuzu. Yang ia perhatikan hanya senior super dingi yang sekarang ada dihadapannya, ia bahkan tidak menyadari kehadiran Arora, Chemira dan Fimela disana.
“Senior, apa yang sedang kau kerjakan?” Tanya Aline. Zhuzu tidak menjawab, ia hanya fokus pada pekerjaannya. “Senior, tidak perlu terlalu dingin seperti itu. Aku hanya ingin tau hal apa saja yang akan ku kerjakan saat aku resmi menjadi wakil bendahara organisasi.” Sambung Aline dengan wajah imut yang dibuat-buat.
‘Wakil bendahara? Ada apa ini?’ Batin Zhuzu. Ia menghela napas sebelum membalas ucapan Aline. “Kurasa kau cukup cerdas untuk seseorang yang terpilih sebagai wakil pembendaharaan. Tapi sepertinya aku salah, kau bahkan tidak mengerti tentang tugas seorang bendahara.” Ucap Zhuzu dengan nada mengejek.
Aline tertegun mendengar jawaban Zhuzu, ia tidak menyangka bahwa responnya sebagai senior yang berdedikasi tidak sesuai dengan harapan Aline. “Ah, se-senior, bukan begitu maksudku. Aku mengerti tentang pembendaharaan, aku hanya ingin..” Ucapannya terpotong karena ia sudah kehabisan kata-kata untuk membela dirinya.
‘Dia benar-benar.. aku sampai kehilangan kata untuk membalasnya. Lihat saja, aku pasti akan membuatmu menjadi milikku.’ Batin Aline kesal. Zhuzu menatapnya dengan tatapan mencela, “Jika tidak ada hal lain, kau bisa pergi.”
“Ta-tapi, senior. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Senior Delvin bilang, jika ada sesuatu yang tidak dimengerti tentang sistem pengaturan di bidang tertentu, kami bisa bertanya pada kakak-kakak senior yang sudah berpengalaman dibidangnya.” Ucap Aline. ‘Delvin, tapi ini bukan salahnya. Ia hanya menjalankan prosedur pembimbingan anggota baru, memang sudah tugas ku mengajarinya.’ Zhuzu akhirnya mengalah dan membiarkan Aline melihat nya bekerja.
Setelah beberapa waktu yang dihabiskan untuk memberikan pelajaran mengenai sistem pengelolaan keuangan di sekolah ini, Zhuzu berpikir bahwa semua hal yang ia sampaikan harus sudah cukup untuk menjadi panduan bagi Aline dalam bekerja. “Sudah, kau cukup mempelajari yang barusan aku jelaskan. Itu sudah cukup untuk kau jadikan panduan.” Ucap Zhuzu. “Sekarang ambil laptopmu, dan kerjakan tugas yang aku berikan.” Sambungnya.
Aline segera mengeluarkan laptop yang sedari awal memang sudah ia bawa. Dengan gerakan sombong ia mengoperasikan laptop mewah nya, yang bahkan jauh lebih mewah yang Zhuzu gunakan sekarang.
“Baik, senior.” Jawabnya lagi-lagi dengan keimutan yang dipaksakan. Zhuzu tidak merespon, ia hanya memperhatikan pekerjaannya.
__ADS_1
Mereka terus bekerja hingga Delvin dan Ivan telah kembali dari rapatnya. Delvin sedikit kaget melihat kehadiran Aline disana. “Aline? Cepat sekali kau kesini? Bukankah aku sudah bilang bahwa tidak perlu terburu-buru untuk berbagi tugas dengan seniormu?” Tanya Delvin yang sedikit khawatir dengan reaksi Zhuzu. Ia tau kalau Zhuzu tidak suka jika ada yang mengganggunya bekerja.
“Tidak apa, lebih cepat lebih baik.” Jawab Zhuzu. Ia terlihat sedikit kesal dan terganggu, tapi ia menyembunyikannya. Mendengar bahwa Zhuzu membelanya, Aline merasa sangat senang dan sedikit salah tingkah. Sebenarnya, Zhuzu mengatakan itu dengan maksud menunjukkan bahwa ia tidak ingin diganggu terus menerus, tapi sepertinya Aline salah paham.
“Baiklah, kami tidak akan mengganggumu lagi. Selamat bekerja.” Ucap Ivan yang kemudian melangkah keluar pintu bersama Delvin. Tapi langkah itu terhenti ketika mendengar suara lirih yang datang dari ujung ruangan.
Ivan langsung mengurungkan niat nya untuk pergi dan segera mengambilkan segelas air untuknya. “Ini, duduk dan minumlah.” Ivan membantu Fimela untuk bangun dan duduk. Tanpa rasa sungkan, Fimela langsung mengosongkan gelas itu dan kemudian kembali tertidur.
“Zhuzu, apa efek nya selalu seperti ini?” Tanya Ivan. “Sepertinya begitu.” Jawab Zhuzu ragu-ragu. ‘Bagaimana ia bisa memberikan suplemen dengan efek meragukan seperti itu? Aku kagum padanya.’ Batin Ivan sembari menunjukkan ekspresi seperti ingin menghajar orang.
‘Jadi dari tadi mereka ada disini? Kenapa aku tidak menyadari keberadaan mereka sebelumnya?’ Batin Aline. “Apa yang kau lamunkan? Apa pekerjaanmu sudah selesai?” Zhuzu memecahkan lamunan Aline. “Eh? Ah, be-belum senior.” Jawab Aline terbata.
“Apa kau tidak merasa terlalu keras padanya? Mau bagaimanapun ia tetap perempuan.” Ucap Delvin. “Jika kau kasihan padanya, kau saja yang urus dia. Aku sudah terlalu pusing.” Jawab Zhuzu. Delvin tidak menggubris ucapan Zhuzu, ia segera mengalihkan topik.
“Bagaimana urusanmu dengan dia?” Tanya Delvin sembari menunjuk Arora. “Dia? Dia bahkan belum bangun sejak tadi. Apa yang bisa diselesaikan?” Jawab Zhuzu. Delvin dan Ivan saling bertukar pandang, mereka merasa Zhuzu terlalu temperamen hari ini.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Kau terlihat sangat kesal.” Tanya Ivan. “Hah? Apa maksudmu? Apa aku terlihat sedang kesal?” Balas Zhuzu. “Iya.” Jawab Ivan dan Delvin serentak. “Haah, benarkah? Aku bahkan tidak dapat mengendalikan diriku lagi.” Ucap Zhuzu lirih.
“Kurasa kau perlu istirahat, Zhuzu. Jangan terlalu membebankan pikiranmu.” Ucap Delvin. Zhuzu hanya mengangguk, lalu ia berjalan menuju sofa dan mendudukkan dirinya disana, mengistirahatkan pikirannya.
__ADS_1
Keheningan melingkupi mereka dalam waktu yang lumayan lama, sampai Zhuzu memcahkan keheningan tersebut. “Hey, apa kalian tidak merasa kalau kita ini aneh? Kita sudah lama berteman, tapi kita bahkan tidak tau tentang latar belakang satu sama lain.” Ucapnya.
“Ya, tapi kurasa itu tidak terlalu aneh. Wajar saja jika kita cenderung tidak tau tentang latar belakang teman sendiri, karena semasa kita masih di sekolah yang dulu, pembicaraan mengenai latar belakang keluarga merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan.” Jawab Ivan.
“Ohya, ngomong-ngomong, kalian masih ingat dengan kejadian di kantin 3 tahun lalu? Jika teringat hal itu, aku bisa tertawa semalaman.” Ucap Delvin. “Kau masih mengingatnya? Aku bahkan sudah hampir lupa tentang itu.” Sahut Zhuzu. “Bagaimana kau bisa melupakan momen bersejarah itu. Sangat disayangkan karena saat itu aku tidak sempat mengabadikannya.” Balas Delvin. “Kalian. Awas saja.” Balas Ivan sembari mengepalkan tangan dan dengan wajah yang memerah karena malu. Mereka melepas penat dengan tertawa sembari mengingat kembali memori indah semasa dulu.
Aline kembali ke kelas dengan rasa kesal yang hampit saja mempengaruhinya sepenuhnya. Beruntung ada seseorang yang menyapanya, sehingga membuat kekesalannya mereda. “Hay, Aline. Ada apa? Apa kau ada masalah?” Tanya seorang gadis bernama Luna. “Ah, aku tidak apa-apa Luna, kau tidak perlu khawatir.” Ucapnya dengan mengembangkan senyum imut terpaksa.
“Syukurlah. Ohya, aku ingin bertanya. Apa kau punya pasangan untuk pergi ke acara tahunan sekolah yang akan diadakan bulan depan?” Tanya Luna. “Acara tahunan?” Aline balik bertanya. “Iya, aku dengar dari orang lain bahwa kita harus punya pasangan untuk kesana.” Jawab Luna dengan polosnya.
‘Hm, pasangan ya. Apa aku bisa mengajaknya?’ Batin Aline. “Aline, kenapa kau melamun? Apa yang kau lamunkan?” Tanya Luna. “Ah, tidak apa. Aku hanya terlalu lelah. Aku pergi dulu.” Ucap Aline sembari pergi menjauh dari Luna. ‘Dia terlalu berisik. Benar-benar mengganggu.’ Batinnya.
********************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1