
EPISODE 5 SIAL ATAU BERUNTUNG? (part 2)
Di kantor Bu Vicha
“Maaf kan kami, Bu. Ini memang kesalahan kami.” Ucap Arora dengan wajah memelas. “Sudahlah, lupakanlah masalah itu. Ibu memanggil kalian kesini bukan untuk membahas keterlambatan kalian.” Ucap Bu Vicha sembari mengambil beberapa file lalu membukanya. “Kalian adalah siswa berpretasi yang diundang untuk sekolah disini? Kalian berasal dari Indonesia?” Tanya Bu Vicha. ‘Hah? Diundang? Pasti Papah yang mengatur ini.’ Batin Chemira. “I-Iya, Bu.” Jawab Chemira gugup. Dia tidak tau harus bagaimana.
“Tidak perlu gugup. Apa aku seseram itu?” Ucap Bu Vicha untuk mencairkan suasana. “Ah, kembali ke topik. Kepala sekolah ingin menemui kalian. Mari, ikut Ibu.” Ucap Bu Vicha. “Baik, Bu.” Jawab mereka serempak.
Di depan ruang kepala sekolah.
Tok.. tok.. tok.. “Permisi, Pak.” Lalu tak lama kemudian pintu terbuka. “Bu Vicha?” Tanya seseorang yang baru saja membuka pintu. “Oh, Delvin.” Sapa Bu Vicha. “Apa yang kau lakukan disini?” Sambung Bu Vicha. “Kepala sekolah memanggilkan ku kemari untuk membicarakan tentang program sekolah untuk kedepannya. Dan kepala sekolah ingin mendengar pendapatku tentang siswa berprestasi yang diundang kemari.” Ucap nya. “Ibu kemari dengan membawa siswa berprestasi tersebut.” Bu Vicha melirik ke arah Arora, Chemira dan Fimela yang ada di belakangnya. “Begitukah?” Ucap Delvin, perhatiannya mengarah pada tiga gadis kecil di belakang Bu Vicha. ‘Cantik.’ Batinnya. “Kalau begitu, silahkan masuk.” Ucapnya sopan.
Di dalam ruangan,
“Silahkan duduk.” Ucap seorang pria dewasa yang merupakan kepala sekolah disini. “Arabella Arora Clarissa, Aristelya Chemira Kirania, Ayunindya Fimela Zhafira.” Ucap Kepala sekolah. “Delvin, bagaimana menurut mu?” Tanya Kepala sekolah. “Maafkan aku, Pak. Tapi aku tidak bisa menilai seseorang sepenuhnya hanya dari tampilan luarnya saja. Tapi aku yakin mereka memang siswa yang berprestasi.” Jawab Delvin. “Yah, aku percaya pada penilaianmu, karena kalian sama-sama berasal dari Indonesia.” Delvin hanya tersenyum mendengar ucapan kepala sekolah.
__ADS_1
“Aku memanggil kalian kemari hanya untuk memastikan. Dan sekarang aku yakin, benar-benar yakin.” Ucap kepala sekolah dengan nada misterius. “Baiklah. Sekarang, biar aku perkenalkan. Ini Delvin Caliandra. Dia adalah ketua organisasi siswa disekolah ini.” Sambung kepala sekolah. “Hallo, kak senior.” Sapa mereka bertiga serempak. “Delvin, kau temanilah mereka berkeliling area sekolah.” Pinta kepala sekolah. “Baik. Kami permisi dulu, Pak.” Ucap Delvin dengan nada sopan.
Saat sedang berkeliling area sekolah, Chemira terus memikirkan sikap kepala sekolah tadi. ‘Kenapa? Ada apa sebenarnya? Kenapa aku merasa ini bukanlah hal sederhana? Apa yang disembunyikan kepala sekolah?’ Batin Chemira. “Chemira, ada apa?” Tanya Fimela. “Hah? Apa?” Chemira balik bertanya. “Ada apa denganmu? Kau terlihat banyak pikiran?” Sambung Arora. “Apa kau tidak enak badan?” Tanya Delvin, ia terlihat khawatir. “Ti-tidak, aku baik-baik saja.” Jawab Chemira yang berusaha untuk fokus. “Kau benar-benar tidak apa-apa?” Tanya Fimela. “Aku benar-benar tidak apa-apa. Lanjutkan saja berkelilingnya.” Ucap Chemira meyakinkan.
“Wah lihat itu, mereka sangat cantik.” – Siswa A
“Kau tidak lihat lelaki yang ada di depan? Dia tampan sekali.” – Siswa B
“Mereka seperti pangeran dan putri dari dunia dongeng.” – Siswa C
Mereka tidak memperdulikan semua komentar dari orang-orang disekitar. Mereka hanya fokus pada hal yang sedang mereka lakukan sekarang, mengenal lingkungan sekolah. “Sekarang kita akan menuju ke area asrama.” Ucap Delvin. Arora, Chemira dan Fimela hanya mendengarkan dan mengikuti saja.
Setelah berkeliling seluruh area sekolah, mereka memutuskan untuk pergi ke kantin dan membeli beberapa minuman. “Aku akan pergi ke pusat informasi sebentar. Kalian tunggulah disini.” Ucap Delvin yang beranjak dari tempat duduknya dan bergegas pergi. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang lain lagi disini, Chemira angkat bicara. “Apa kalian merasakan sesuatu terhadap sikap kepala sekolah tadi?” Tanya Chemira. “Hm, ya. Aku merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh kepala sekolah. Tapi aku tidak yakin.” Ucap Arora. “Ohya, Fimela. Apa kau membawa alat itu?” Sambung Arora. “Iya, aku membawanya. Sebentar.” Fimela merogoh kantong, mencari barang yang telah dia sempurnakan semalaman. “Ah, ketemu. Ini dia.” Fimela memberikan kedua sahabatnya sepasang anting. “Anting? Apa ini?” Tanya Chemira tak mengerti.
“Aku dan Fimela berfikir bahwa kita perlu alat-alat khusus untuk menyelesaikan misi. Jadi kami merancang benda ini.” Ucap Arora sembari memakai anting yang diberikan oleh Fimela. “Anting ini, walaupun terkesan sederhana dan biasa saja, tapi ini bukan anting biasa. Anting ini bisa mereka merekam berbagai macam suara. Prinsip nya sama seperti perekam suara yang ada di handphone mu.” Ucap Fimela. “Lalu, bagaimana cara mengaktifkannya?” Tanya Chemira.
__ADS_1
“Mudah saja. Anting itu hanya perlu sidik jarimu untuk mengaktifkannya. Kau hanya perlu menyentuhnya saja. Maka ia akan aktif dengan sendirinya. Dan itu hanya berlaku untukmu saja, karena hanya sidik jarimu yang dapat mengaktifkan serta me-nonaktif-kan anting itu.” Fimela memberikan penjelasan singkat pada Chemira. Chemira hanya mengangguk pelan, menandakan bahwa dia mengerti.
“Kami merancang ini semalaman, dan karena itulah kami bangun terlambat. Setidaknya kau harus memuji hasil kerja keras kami.” Ucap Arora dengan percaya diri. “Tunggu, kalian bilang bahwa hanya aku yang dapat mengaktifkan benda ini. Darimana kalian mendapatkan sampel sidik jariku?” Tanya Chemira dengan sikap menyelidik. “Aku meretas komputer mu.” Jawab Arora dengan santainya. “Kau menggunakan sidik jari mu pada komputer mu untuk membuka program, dan kau hanya menggunakan program itu pada komputer mu. Jadi aku berfikir bahwa meretas komputer mu adalah jalan terbaik.” Penjelasan dari Arora tidak mempengaruhi Chemira. Tapi Chemira juga berfikir demikian, jadi ia segera meredakan emosi yang tadi hampir saja ia lampiaskan.
Mereka terlalu sibuk dengan obrolan mereka, sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka. ‘Meretas komputer? Sepertinya Pak kepala sekolah benar, mereka bukan siswa biasa. Tapi.. Program? Program apa? Mereka sedang membicarakan apa? Seandainya saja aku mendengarkan percakapan mereka dari awal, aku pasti bisa menemukan jawabannya.’ Batin Delvin.
“Kenapa Delvin belum kembali? Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan?” Tanya Chemira. “Aku tidak tau. Dan aku tidak peduli.” Jawab Fimela. Mengdengar ucapan Fimela, Delvin merasa sedikit tersinggung. “Mungkin sudah saatnya bagi ku untuk keluar.” Ucap Delvin kepada dirinya sendiri. Lalu, ia menghampiri ketiga gadis cantik yang sedari tadi sudah menunggunya.
“Hay, aku kembali. Apa kalian merindukan ku?” Ucap Delvin dengan senyuman ramah diwajahnya. “Kak, kau menguping pembicaraan kami?” Tanya Arora tepat sasaran. “Eh? A-Aku? A-Aku tidak…” Delvin menjawab dengan ekspresi gugup yang tak bisa disembunyikan. ‘Bagainmana mereka bisa tau? Bukankah tadi kau sudah sangat berhati-hati?’
********************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~