
EPISODE 7 MENEMUKAN KEPINGAN LAINNYA
“Robot?” Tanya Arora dan Chemira bersamaan. “Ya, aku yakin ini akan sangat berguna” Ucap Fimela sembari memamerkan barang temuan barunya. Sebuah robot dengan bentuk seperti seekor kupu-kupu kecil dengan perpaduan warna sayap yang indah tetapi tidak mencolok. “Apa fungsi robot ini?” Tanya Chemira dengan nada tidak sabar. “Robot ini memiliki fungsi yang sama seperti sebuah kamera pengawas. Kurasa untuk yang kali ini aku tidak perlu untuk menjelaskan detailnya.” Ucap Fimela. Arora dan Chemira hanya mengangguk kecil, menandakan kalau mereka mengerti arah pembicaraan Fimela.
“Lalu, bagaimana cara mengaktifkannya?” Tanya Arora. “Hal ini agak sedikit rumit. Hmm, sebentar, biar langsung aku contohkan saja.” Ucap Fimela sembari menyalakan laptop nya dengan gerakan tidak sabar.
Setelah laptop itu menyala, Fimela menggunakan sidik jari nya untuk membuka program khusus yang terpasang di laptop kecil nya itu. Kemudian, ia segera memasukkan sederetan angka yang terlihat acak namun penuh ketelitian. Setelah memasukkan rangkaian-rangkaian angka tersebut, Fimela akhirnya bisa mengaktifkan robot kupu-kupu yang indah itu.
Robot itu terbang berkeliling ruangan. Dan saat robot itu sedang asyik berkeliling, terlihat dengan sangat jelas rekaman pergerakan kupu-kupu itu. Semua benda yang ia lewati, dan segala macam suara berhasil terekam dengan jelas pada layar laptop Fimela.
“Bilangan biner? Kenapa kau memilih menggunakan bilangan biner sebagai kode?” Tanya Chemira. “Tentu saja agar lebih aman. Kau tau, musuh-musuh kita bukan orang biasa.” Fimela memasukkan beberapa kode lain pada laptop nya. “Aku sudah mengatur kode tersendiri untuk kalian. Kalian bisa langsung mengecek nya di laptop kalian.” Ucap Fimela.
Keesokan hari nya,
“Kenapa kak senior memanggil kami ke ruangan pengurus organisasi? Kami kan bukan anggota organisasi.” Celetuk Arora. “Aku memanggil kalian kemari untuk memberi kan ini.” Ucap Delvin sembari memberikan sebuah jas kehormatan. “Apa ini kak senior? Bukankah hanya pengurus organisasi yang mengenakan jas kehormatan?” Tanya Chemira. “Ya, itu benar. Tapi kasus kalian berbeda. Kalian adalah siswa undangan disini, kalian berhak mendapatkan itu.” Ucap Delvin dengan senyuman ramah di wajahnya. “Apa kmai harus memakainya setiap saat?” Tanya Femila. “Tidak, kalian tidak perlu memakainya setiap hari. Kalian hanya di wajibkan memakainya di hari-hari penting saja.” Jawab Delvin. Mereka masih memandangi jas itu untuk beberapa waktu.
__ADS_1
“Aku tidak pernah melihat orang lain memakai ini sebelumnya…” Tanpa ia sadari, Chimera menyuarakan apa yang ada di pikirannya. Mendengar hal itu, Delvin terkekeh pelan. “Ada beberapa orang lainnya yang juga mendapat jas kehormatan itu. Dan kebanyakan dari mereka memilih untuk memakai nya hanya saat mereka diwajibkan memakainya.” Jawab Delvin sembari memperhatikan ekspresi Chemira. Chemira tidak menjawab, ia hanya mendengarkan.
“Kak, apa kakak sudah selesai? Kami harus segera kembali ke kelas.” Ucap Arora. “Ah, baiklah. Terima kasih atas waktu kalian.” Ucap Delvin dengan senyuman ramah nya. Entah kenapa ia selalu menunjukkan senyum khas nya yang menyebalkan itu. “Sama-sama, kak senior. Terima kasih juga untuk jas kehormatannya.” Jawab Arora dengan nada mengejek yang tidak ditutup-tutupi. Mereka benar-benar ingin segera keluar dari ruangan itu. Mereka bahkan pergi meninggalkan Delvin sendirian diruangan itu tanpa berpamitan sedikitpun.
Setelahnya Arora, Chemira dan Fimela keluar dari ruangan itu, Delvin bergegas pergi menuju ruang kepala sekolah untuk melaporkan hal-hal yang telah Ia lakukan hari ini.
Sesampainya di ruang kepala sekolah,
“Pak, saya sudah melaksanakan apa yang Bapak perintahkan.” Ucap Delvin. “Bagus, bagaimana tanggapan mereka?” Tanya kepala sekolah. “Tidak ada perubahan, Pak. Masih seperti biasanya.” Jawab Delvin. “Haahh, aku harus bagaimana lagi. Mereka benar-benar merepotkan.” Ucap kepala sekolah. Delvin hanya berdiam diri dan menutup rapat-rapat mulutnya. Ia sempat berfikir untuk memberi tahu kepala sekolah mengenai pembicaraan yang ia dengar kemarin. Tetapi ia masih belum tau tujuan kepala sekolah yang sebenarnya. Walaupun secara tidak langsung ia terlibat, tapi ia tidak ingin menghancurkan hubungan nya dengan ketiga gadis cantik itu, terutama Chemira. ‘Chemira? Ada apa dengan nya? Apa untung nya jika aku berteman dengan Chemira? Kenapa aku selalu memikirkannya? Kenapa tanpa sadar aku selalu memperhatikannya? Ada apa sebenarnya dengan diriku?’ Batin Delvin.
‘Tapi kenapa harus kau? Apa aku sanggup menaklukkan perempuan dengan ekspresi super dingin seperti mereka? Kalau mereka itu selayaknya perempuan pada umumnya, akan sangat mudah untuk menaklukkan mereka. Tetapi kasus mereka sungguh berbeda. Kenapa bukan Georgy saja yang ditugaskan untuk ini? Bukankah ia lebih berpengalaman dalam hal menaklukkan perempuan? Kenapa kepala sekolah memilih aku?’ Batin Delvin. Ada banyak sekali hal yang ingin ia utarakan, tapi ia tak berani.
Waktu istirahat,
“Apa kalian merasa kalau sikap Delvin hari ini?” Tanya Chemira. “Ya, aku juga merasakannya.” Jawab Arora. “Tapi aku merasa bahwa sebagian besar perhatian nya hanya terpusat pada Chemira.” Ucap Fimela ragu-ragu. “Hm, begitukah? Aku tidak terlalu memperhatikannya. Kau tau kan kalau aku itu sangat anti dengan laki-laki?” Ucap Arora. “Ya, ya. Aku tau itu.” Jawab Fimela malas. “Hm, Chemira. Bagaimana menurutmu?” Tanya Arora mengalihkan topik. “Aku? Aku tidak tidak terlalu yakin tentang itu.” Jawab Chemira ragu-ragu. “Baiklah, kita sudahi dulu untuk topik ini. Mari kita bicarakan hal lain yang lebih menyenangkan.” Ajak Arora. “Setuju!” Jawab Chemira dan Fimela serempak.
__ADS_1
Waktu pulang sekolah,
“Dimana aku harus mencari buku panduan itu ya?” Tanya Sara. “Hm, kau bisa mulai mencarinya di perpustakaan mungkin?” Jawab Fimela. “Apa kalian bisa membantuku mencarinya?” Tanya Sara dengan nada memohon. “Kami? Hm, baiklah. Mungkin kami bisa membantumu.” Jawab Arora dengan mengulas sebuah senyuman. Lalu, tiba-tiba saja ada seorang lelaki yang menghampiri mereka. “Hallo, perkenalkan namaku Georgy. Aku sudah mendengar banyak hal tentang kalian. Dan, bisakah kita menjadi teman?”
‘Apa yang harus aku lakukan ketika aku bertemu dengan mereka? Posisi ku sebagai ketua organisasi memang memberikan banyak kesempatan bagiku untuk bertemu dengan mereka. Tapi, aku harus mengatakan apa? Aargh, aku tidak menyangka ini akan jadi sesulit ini.’ Batin Delvin sembari mengacak rambut nya Karena frustasi.
Lalu tanpa sengaja, pandangan Delvin menemukan secercah harapan. “Ah, itu mereka. Tapi, mereka sedang bersama siapa? Mungkinkah seorang teman?” Gumam Delvin. “Tunggu dulu, itu… Georgy? Apa yang akan dia lakukan pada mereka? Tidak, tidak bisa seperti ini. Aku harus segera kesana.” Ucap Delvin.
********************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~
__ADS_1