The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 23 Mengincar Mangsa


__ADS_3

EPISODE 23 MENGINCAR MANGSA


“Ya sudah, terserah kau saja.” Balas Friska. “Tapi kau jangan ganggu aku dan rencanaku.” Sambung Friska. “Kau mengincar yang satunya?” Tanya Aline. “Ya, kenapa? Ada masalah?” Jawab Friska dengan ketus. “Ya ampun, Friska. Apa yang kau lihat darinya? Apa karena dia tampan?” Tanya Aline dengan sikap tidak sabar.


“Dia? Kalau soal ketampanan, aku lebih suka senior Georgy. Tapi dia terlalu ketus dan galak, dia juga seorang playboy. Tapi senior Ignacio berbeda, dia mengeluarkan aura yang hangat. Dia juga terlihat ramah dan lembut. Aku lebih suka dia.” Jawab Friska antusias.


Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba Nicholas dan Raymond datang sambil menggebrak meja. “Hay, apa yang kalian bicarakan? Seru sekali.” Tanya Nicholas. “Kalian membicarakan tentang senior kita ya?” Sambung Raymond. “Aah, kalian mengagetkan aku.” Ucap Aline dengan ekspresi imut yang dibuat-buat. ‘Cepat sekali dia mengubah ekspresi dan nada bicaranya. Aku kagum’ Batin Friska diiringi dengan ekspresi jengkelnya.


“Datang-datang langsung bikin kaget orang, benar-benar tidak tau sopan santun.” Jawab Friska dengan ketus. “Hey, Aline. Aku heran denganmu, kenapa kau masih saja betah berteman dengan nenek lampir ini?” Ucap Nicholas sembari menunjuk ke arah Friska. “Apa? Nenek lampir? Coba katakan lagi.” Ucap Friska sembari memukuli Nicholas.


“Ah, aduh. Hey sakit, hentikan.” Seru Nicholas. “Apa? Aku gak kedengeran tuh.” Ucap Friska yang masih saja memukuli Nicholas. “Haah, dasar kalian ini. Jangan sering bertengkar, nanti jodoh loh.” Ucap Raymond untuk menghentikan pertengkaran Friska dan Nicholas. “Idih, aku gak bakal mau jodoh sama dia.” Ucap Nicholas dengan ketus. “Siapa juga yang mau sama kamu.” Jawab Friska dengan nada yang lebih ketus lagi.


Tak lama kemudian, Arora, Chemira dan Fimela datang. “Wih, target sudah datang.” Ucap Nicholas sembari memberikan kode pada Raymond. “Iih, dasar playboy.” Sindir Friska. “Biarin, terserah aku dong.” Jawab Nicholas.


Waktu istirahat,


“Friska, aku pergi dulu ya. Aku harus menemui senior untuk menyerahkan pekerjaanku.” Ucap Aline. “Hm, baiklah. Sampai jumpa.” Jawab Friska sembari melambaikan tangan.


“Hmm~~ Hmm~~ “ Aline pergi menuju kelas Zhuzu sambil bersenandung gembira. ‘Apa senior akan memujiku? Harusnya ia memujiku, aku sudah bekerja keras untuk menyelesaikan ini.’ Pikir Aline, ia berniat akan menyombongkan hasil kerjanya pada Zhuzu.

__ADS_1


Sesampainya dikelas 2A, ia tidak menemukan Zhuzu disana. ‘Hm, Mungkin di ruang kesehatan.’ Pikirnya. Lalu ia melangkah kan kaki nya menuju ruang kesehatan.


Sesampainya di ruang kesehatan, ia hanya mendapati suster Dairy yang sedang bertugas disana. “Permisi, suster. Apa senior Zhuzu disini?” Tanya Aline dengan wajah imut andalannya. ‘Wah, imut sekali.’ Batin suster Dairy. “Oh, Zhuzu sedang tidak ada disini. Ia baru saja keluar beberapa menit yang lalu.” Ucap suster Dairy.


“Oh, begitukah? Apa suster tau senior ada dimana sekarang? Aku harus menyerahkan laporan ini padanya.” Tanya Aline. “Hm, aku kurang tau. Tapi kurasa ia pergi ke kantor kepala sekolah bersama Delvin dan Ivan. Kau bisa menunggu disini jika kau mau.” Ucap suster Dairy.


Aline menimbang-nimbang jawaban atas tawaran suster Dairy. “Hm, seperti nya tidak dulu suster. Aku bisa menunggunya di kelas ku, karena aku juga masih punya pekerjaan lain.” Jawab Aline. “Oh, sayang sekali. Lain kali datang lah lagi kemari jika kau butuh sesuatu.” Ucap suser Dairy sembari tersenyum. “Hm, baik suster. Terima kasih.” Jawab Aline sembari membalas senyuman ramah suster Dairy.


“Haah, sialan. Aku pergi berkeliling sekolah hanya untuk mendapati dia yang sedang bermasalah dengan kepala sekolah. Buang-buang waktu dan tenaga ku saja.” Gumam Aline. Karena tidak tau harus melakukan apa, Aline memutuskan untuk pergi ke kantin.


Sesampainya dikantin,


“Huh, kenapa aku kesini? Ah, aku tidak tau harus melakukan apa.” Ucapnya. Ia berkeliling sedikit dan ia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. “Tunggu, itu? Senior Ignacio? Dia mau kemana?” Aline memutuskan untuk mengikuti Ignacio secara diam-diam, ia benar-benar ingin tau kemana Ignacio akan membawa kantong yang ada ditangannya itu.


“Se-senior, a-apa aku melakukan k-kesalahan lagi?” Tanya Luna yang masih terbata ketakutan. “Tidak, kau tidak bersalah apapun padaku. Ini, aku membawakanmu beberapa makanan untukmu. Anggap saja sebagai permintaan maafku padamu.” Ucap Ignacio sembari memberikan kantong yang ia bawa dengan wajah yang sedikit memerah.


Luna membuka kantong itu dan mendapati beberapa roti, permen, dan sebungkus es krim didalamnya. “Ah, a-aku tidak tau apa yang kau suka. Jadi aku..” Ucapan Ignacio terhenti karena sebelum ia sempat menyelesaikannya, Luna menyela ucapannya. “Terima kasih, senior.” Jawab Luna dengan senyum merekah diwajahnya.


“Em, jadi.. apa kau masih takut padaku?” Tanya Ignacio. Luna tertunduk, kali ini kebahagiaan yang terpancar dari dirinya sebelumnya, hilang begitu saja. “M-maaf kan aku, senior. Aku sudah salah paham padamu.” Jawab Luna dengan rasa bersalah yang terukir jelas dalam nada bicaranya.

__ADS_1


“Salah paham?” Ignacio mengulangi kalimatnya untuk membantunya mencerna ucapan Luna. “Aku mengira kau akan sama dengan mereka yang selalu menyalahkan aku dan menghukumku. Aku sedikit trauma karena itu.” Sambung Luna. ‘Eh? Dia mau terbuka padaku?’ Pikir Ignacio.


Karena Luna tidak pernah menceritakan masalah ini pada siapapun sebelumnya, ia jadi sedikit terbawa perasaan dan hampir menangis. “Kenapa kau menangis lagi, hm?” Tanya Ignacio sembari menghapus air mata Luna. “Maaf, kak. Aku belum pernah membahas ini dengan siapapun sebelumnya.” Jawab Luna sembari mencoba menguatkan dirinya agar tidak terbawa emosi lagi.


“Kau ingin bercerita? Bagaimana kalau ke ruang kerjaku? Kau bisa melampiaskan semuanya.” Ignacio menawarkan dirinya sebagai teman curhat untuk pertama kalinya. “Eh? Boleh?” Tanya Luna untuk memastikan. “Tentu saja boleh. Mari ikut aku.” Ignacio menarik Luna untuk mengikutinya.


Sesampainya di ruang konseling,


“Eh? Kakak bekerja disini?” Tanya Luna. “Iya.” Jawab Ignacio dengan senyuman hangat. Ia mengetuk pintu yang ada dihadapannya. “Permisi, Bu Vivian. Boleh aku pinjam ruangannya sebentar?” Tanya Ignacio dari luar ruangan. “Oh, Ignacio? Masuklah.” Seseorang yang ada didalam ruangan itu memberikan izinnya.


“Selamat siang, Bu Vivian.” Ucap Ignacio sembari membungkuk memberi hormat kepada seorang guru yang ada didepan mereka saat ini. “Ignacio, jarang sekali kau kesini. Sekarang, kau ada masalah apa?” Tanya Bu Vivian. “Ini bu, aku ingin pinjam ruangan ku sebentar untuk sesi bimbingan konseling. Apa boleh?” Tanya Ignacio.


Bu Vivian melirik ke arah Luna. “Ini orangnya?” Tanya Bu Vivian. “Iya, Bu.” Jawab Ignacio. “Hm, dia seorang perempuan. Dia tidak boleh melaksanakan sesi ini denganmu. Laki-laki dan perempuan tidak boleh berdua saja dalam satu ruangan.” Ucap Bu Vivian tegas. “Biar aku saja yang melakukannya.” Sambung nya.


“Baik, bu.” Jawab Ignacio. “Luna, kau ikutlah dengannya. Kau bisa menceritakan semua masalahmu padanya.” Ucap Ignacio pada Luna dengan senyuman hangat. “Kemarilah, sayang. Kau bisa menceritakan masalahmu padaku. Dan tenang saja, Ibu bisa jaga rahasia.” Ucap Bu Vivian sembari mengulurkan tangan nya pada Luna.


*******************


Terima kasih untuk para pembaca semua.

__ADS_1


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.


Thank you all ~~


__ADS_2