
EPISODE 28 KENCAN? (part 1)
Di cafe depan sekolah,
Luna dan Ignacio memilih tempat yang dekat dengan jendela. Mereka pun memesan menu, “Selamat datang, mau pesan apa?” Tanya kakak pelayan di cafe itu. “Kita pesan dua gelas air mineral aja.” Jawab Ignacio. “Baiklah, silahkan nikmati waktunya.” Ucap kakak pelayan itu dengan senyum ramah.
Di dalam pikiran kakak pelayan, ‘Cih, ganteng-ganteng gak modal.’
Di dalam pikiran Luna, ‘Kyaa, kak Cio memang mengerti aku.’
“Kenapa kakak gak pesan makanan atau minuman yang lain?” Tanya Luna. “Kenapa? Kamu mau?” Ucapnya balik bertanya pada Luna. “Ah, nggak. Aku gak mau. Air mineral aja cukup.” Jawab Luna.
“Permisi, pesanan datang.” Ucap kakak pelayan itu sembari menyajikan dua gelas air mineral. “Makasih, kakak.” Ucap Luna sambil senyum manisnya. “Sama-sama, adik.” Jawab kakak pelayan. ‘Adik manis ini mau-mau aja sama cowo gak modal. Aku sih gak mau.’ Pikirnya.
“Jadi, apa yang ingin kakak bicarakan?” Tanya Luna. Ignacio meneguk air di dalam gelas nya, lalu menjawab pertanyaan Luna. “Aku ingin memberikanmu beberapa tugas sekaligus mengajarimu bagaimana cara menyelesaikannya.” Jawab nya.
“Tugas apa?” Tanya Luna dengan semangat. “Kau benar-benar semangat ya. Baiklah, ini tugasnya.” Ucap Ignacio sembari memberikan sebuah flashdisk mini dengan boneka imut yang tergantung disana.
“Wahh, imutnya.” Seru Luna sembari memainkan boneka itu. Ignacio hanya tersenyum, ‘Syukurlah dia menyukainya.’ Batinnya. “Ehem, kembali ke topik. Jadi ini tugasnya kakak? aku harus apa?” Tanya Luna.
“Tugasmu ada didalam sana. Yang perlu kau lakukan hanya menyusun dan memeriksa serta memperbaiki kesalahan yang ada disana.” Jawab Ignacio. Luna memandangi benda kecil itu dan berpikir sejenak.
“Hm, baiklah kak. Aku mengerti.” Ucap Luna. Lalu ia menyimpan nya ke dalam tas. “Itu saja kak?” Tanya nya kagi. “Hm, hanya itu saja.” Jawab Ignacio. “Kalau begitu, aku permisi kak.” Ucap Luna sembari membungkuk memberi hormat.
“Tunggu, Luna. Hari masih terang, bagaimana kalau kita berkeliling sebentar?” Pinta Ignacio. Luna menimbang-nimbang waktu. “Hm, memang masih terang. Masih ada waktu. Berkeliling sebentar juga tidak masalah.” Gumam Luna.
“Baiklah, ayo.” Ajak Ignacio. “Hm, ayo.” Jawab Luna. Mereka pun berkeliling taman bermain yang ada di sebelah Barat sekolah setelah membayar tagihan dua gelas air mineral yang mereka pesan.
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’
“Baiklah, apa yang ingin kau katakan?” Tanya Sara dengan menyelipkan nada tidak sabar dalam kalimatnya. “Aku hanya ingin mengatakannya jika kau dalam keadaan tidak tertekan.” Jawab Georgy penuh kerahasiaan.
__ADS_1
“Katakan sekarang atau aku pulang.” Ucap Sara memberikan dua pilihan pada Georgy. “Kalau aku tidak memilih kedua nya?” Tanya Georgy yang bergerak mendekati Sara dengan gerakan pelan yang disengaja.
Sara merasakan tubuhnya mengirimkan sinyal bahaya dan seketika itu dia berusaha melangkah mundur untuk menjauhkan dirinya dari Georgy. “Ti-tidak ada pilihan lain. Kau.. kau menjauh dariku.” Ucapnya dengan penuh peringatan.
Tapi Georgy tidak menggubris ucapan Sara. Ia hanya terus melangkah maju yang semakin lama semakin jarak antara ia dan Sara semakin menipis. Sara terus melangkahkan kaki nya untuk mundur hingga ia menabrak tembok di belakangnya.
“Ka-kau berhenti.. jangan mendekat.” Ucap nya dengan nada panik. Walaupun ia sudah merapat dengan tembok, Georgy tidak menghentikan langkahnya, ia tetap melangkah maju. Dan baru menghentikan langkahnya ketika jarak antara ia dan Sara tidak lebih dari 5cm.
“Bagaimana kalau aku yang buat pilihannya sendiri?” Bisik nya tepat di telinga Sara. Karena perbuatan Georgy, Sara merasakan gelenyar panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sial, berani-beraninya lelaki ini menggodanya.
“Georgy, men-menjauh dariku.” Sara berusaha untuk menciptakan kembali jarak diantara mereka. Sebelah tangannya bergerak mendorong tubuh Georgy supaya menjauh darinya, sedangkan yang sebelah lagi memeluk dirinya sendiri.
Sial, kekuatan gadis ini lumayan.
Georgy merasa perih pada bagian yang didorong oleh Sara. Bagaimana tidak, dia punya bekas luka permanen disana. ‘Ini sakit.’ Batinnya. Georgy tidak punya pilihan lain selain menyingkirkan tangan Sara dari lukanya.
Sara seakan tidak bisa berpikir jernih sekarang, ia terlalu gugup dengan kedekatan yang dipaksakan ini. ‘Ah, apa saja asalkan aku bisa bebas.’ Pikirnya. “Ba-baiklah, tapi le-lepaskan aku dulu.” Pinta Sara. “Kalau begitu, berjanjilah padaku untuk tidak pergi meninggalkan ku.” Georgy benar-benar tidak ingin ditinggal pergi, apalagi jika yang melakukannya adalah Sara.
“Ba-baiklah. A-aku tidak akan meninggalkanmu. Se-sekarang lepaskan aku.” Ucap nya setengah memohon. Georgy mengalah dan menjauhkan dirinya dari Sara. Tapi, Georgy tetap tidak memberikan ruang untuk Sara. Ia langsung menarik Sara menuju toko itu.
Sesampainya di toko,
“Kau mau beli apa?” Tanya Georgy. “Apa saja.” Jawab Sara singkat. Georgy berpikir sejenak untuk menentukan apa yang akan ia beli. “Hallo, anak muda. Kalian mau beli apa?” Tanya Ibu penjual yang berjaga disana.
“Ah, bu aku mau beli dua es krim rasa strawberry.” Jawab Georgy. Ibu penjual itu mengambil dua batang es krim dari lemari pendingin. “Ini es krim mu.” Ucap nya sembari memberikan es krim itu pada Georgy. “Terima kasih, bu. Ini uangnya.”
Setelah membayar es krim itu ia duduk di bangku yang tersedia disana, dan ia sengaja duduk bersebelahan dengan Sara. “Bu, boleh kami menumpang disini sebentar?” Tanya Georgy. “Boleh-boleh, tentu saja boleh.” Jawab Ibu penjual dengan senyum ramah.
Georgy mengangguk kemudian memberikan es krim yang satu lagi pada Sara. “Ini, makanlah.” Ucapnya. Sara sedikit ragu untuk mengambilnya, tapi tak urung juga diambilnya es krim itu. “Hm, terima kasih.” Ucapnya dengan nada ketus.
__ADS_1
“Apa dia pacarmu?” Tanya Ibu penjaga pada Georgy. Ia melirik sedikit ke arah Sara dan mendapati wajahnya yang tersipu. “Ah, belum bu. Aku sedang berusaha.” Jawabnya dengan gamblang dan tidak melepaskan pandangannya dari Sara sedikit pun.
Ia melihat rona merah yang semakin jelas di wajah Sara akibat dari ucapannya tadi. Ia hanya tersenyum puas penuh kemenangan.
“Wah, kalau begitu tetap semangat ya, nak. Menghadapi perempuan itu harus dengan perlakuan lembut, maka hatinya akan luluh. Jangan menyerah ya.” Ucap ibu penjaga itu sebelum ia pergi meninggalkan Georgy dan Sara berdua disana.
Ia ingin mengeluarkan kata-kata untuk kembali menggoda Sara, tapi belum sempat satu katapun yang lolos dari bibirnya, tiba-tiba ia merasakan rasa sakit yang amat perih dari lukanya. Ia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara agar Sara tidak menyadarinya.
‘Tahan Georgy. Rasa sakit ini hanya akan terasa sebentar saja.’ Pikirnya. Tapi, tanpa ia sangka rasa skit itu bertahan lebih lama dari biasanya. Ia sadar yang membuat rasa sakit ini terasa lebih perih dan lebih lama disebabkan oleh Sara. Sara menekan tepat di bagian lukanya, tapi ia tidak ingin menyalahkan nya karena Sara tidak tau apa-apa.
Sara merasa ada yang aneh. Sejak tadi Georgy tidak mengatakan sepatah katapun. Ia pu memutuskan untuk menoleh dan hendak mengeluarkan kata-kata. Tapi tidak tersampaikan karena saat ia menoleh, yang ia lihat hanya tubuh Georgy yang gemetar dan dipenuhi keringat yang mengucur deras.
Sara seketika berubah panik, ia tidak tau harus berbuat apa. “P-ponsel.. ponsel ku..” Ucapnya lirih. Saat itu juga Sara segera merogoh tas Georgy dan mengambil ponsel nya. “A-aku harus hubungi si-siapa?” Tanya nya yang juga gemetar panik.
“Pa-paman.. Wen..” Ucapnya yang masih dalam keadaan meringis kesakitan. “Ah, ba-baiklah. Ta-tahan sebentar.” Sara menggunakan sidik jari Georgy untuk membuka ponselnya dan segera menelpon seseorang bernama ‘paman Wen’ itu.
“Ha-halo, paman. A-aku temannya Ge-georgy. Di-dia.. sa-sakit..” Ucap Sara dengan terbata, ia tidak tau bagaimana harus menyampaikannya. “Apa?! Beritahu dia, kami akan segera sampai di sana dalam beberapa menit.” Jawab paman Wen dari sebrang sana. Kemudian ia langsung memutuskan sambungan telponnya.
“Sa-sara.. o-obat ku..” Ucap Georgy lirih sembari mencengkram tangan Sara. “Ah, obat.. baiklah, lepaskan dulu tanganku.” Ucapnya kemudian kembali mengacak isi tas Georgy untuk mencari obat yang dia maksud.
Saat obat itu sudah ada di tangannya, terdengar bunyi mobil-mobil yang berdatangan. Setelah mobil-mobil itu sampai, seseorang keluar dari mobil itu dan segera menghampiri Georgy. “Tu-tuan, anda tidak apa-apa? Mari saya bantu masuk ke dalam mobil.” Ucap orang itu yang kemungkinan adalah paman Wen.
Setelah mereka selesai memindahkan Georgy kedalam mobil, mereka segera kembali menyalakan mesin dan hendak menancap gas. “Tunggu, Sa-sara… aku ingin dia.. ikut.” Ucapnya lirih.
Sara tak habis pikir dengan sikap kekanak-kanakan lelaki itu. Disaat ia sedang kesakitan seperti ini, ia masih saja berpikir untuk bersama dengan Sara. Karena lelaki itu sedang sakit, Sara tidak punya pilihan lain selain menurut dan ikut bersama mereka.
*******************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~