The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 37 Senyuman Indah


__ADS_3

EPISODE 37 SENYUMAN INDAH


Sara memandangi Georgy yang terbaring lemah tanpa daya. Keadaannya terlihat jauh lebih baik daripada sebelumnya setelah seorang dokter berparas cantik yang bernama Laura datang memeriksa dan memberi penanganan medis dan obat-obatan.


Setelah ia selesai, tiba-tiba saja ia memberi Sara tanggung jawab untuk menjaga pasiennya itu. Sara sempat menyesali keputusan impulsifnya untuk ikut kemari.


Apa? Kenapa aku? Apa hubungannya denganku? Aku ikut kesini karena aku kasihan padanya. Lalu kenapa tiba-tiba aku harus menjaganya?


Seketika itu ia teringat dengan kata-kata dokter Laura.


“Kondisinya sedikit aneh, tidak seperti biasanya. Tapi ini mungkin saja efek dari obat barunya. Aku akan menelitinya lebih lanjut. Dan, nona Sara. Aku berharap kau dapat meluangkan waktumu untuk menjaganya sementara ini. Kau tidak keberatan bukan?”


Dia mengatakan kalimat beruntun itu secara cepat, hingga otak Sara yang tergolong standar tidak dapat mencernanay dengan baik. Terlebih ia mengatakannya dengan nada tegas layaknya perintah mutlak, membuat Sara tak mampu menolak.


Ia terus memandangi wajah tampan dan mempesona itu, dengan pikiran yang ngelantur kemana-mana. Ia terus berpikir, apa yang harus ia lakukan selama menjaganya, apa yang akan ia lakukan ketika Georgy bangun nanti, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.


“Georgy, kau tau? Kau selalu merepotkan aku. Kau selalu melibatkan aku. Apa yang harus aku lakukan? Kau bahkan tak memberitahukannya padaku. Kau sangat jahat. Kau membiarkan aku larut dalam kebingungan ini sendirian.” Gumam Sara.


Tiba-tiba Paman Wen mengetuk pintu dan membuyarkan lamunan Sara dan mengembalikan pikirannya yang sempat memikirkan hal-hal lain yang tidak jelas bahkan tidak ada hubungannya sama sekali.


“Nona Sara. Ini pakaian ganti untuk anda. Jika anda ingin membersihkan diri, anda bisa menggunakan kamar mandi yang ada disudut kiri sana.” Ucap Paman Wen sembari menunjuk ke sebuah kamar mandi yang nampak sangat luas bahkan dari luar sekalipun.


Ia memberikan pakaian ganti yang ia bawa kepada Sara. “Terima kasih, paman.” Ucap Sara dengan senyum ramah. Paman Wen membungkuk hormat, lalu pergi dari ruangan itu.


“Apa aku harus mandi?” Gumamnya. Sara benar-benar malas untuk mandi karena suhu yang begitu dingin saat hujan seperti ini. Tapi rasa penasarannya ternyata melebihi kemalasannya. “Mandi saja lah. Aku penasaran dengan isi dari kamar mandi yang seluas itu.” Ucapnya lalu pegi membawa pakaian gantinya ke dalam kamar mandi.


Tak lama kemudian ia keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian tidur yang disediakan untuknya. Ia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, “Mandi ternyata lumayan juga. Aku merasa lebih segar dan santai dengan air hangat itu.” Ucapnya.


Ia berdiri didepan sebuah cermin berukuran besar yang mampu memantulkan bayangan dirinya sepenuhnya. “Hm, pakaian ini sangat bagus. Ukurannya juga pas.” Ia memutar tubuhnya. Pakaian itu cukup panjang hingga menutupi lututnya.

__ADS_1


Kemudian ia duduk di depan sebuah meja rias yang berukuran sedang, tidak terlalu kecil juga tidak teralu besar. Pernak-pernik diatas meja rias itu tidak sebanyak dan selengkap yang biasanya tersedia di meja rias pada umumnya. ‘Apa karena dia seorang pria?’ Batin Sara.


Ia mengambil sisir lalu menyisir rambutnya yang panjang. “Beginikah rasanya memakai perabotan mewah dengan harga yang dapat dipastikan sangat mahal itu?” Gumamnya. Ia tidak tau harus melakukan apa disana sendirian.


Setelah merapikan dirinya sendiri, ia kembali kepada kegiatan awalnya, yaitu memandangi Georgy yang tengah terlelap diatas ranjang besar itu. Ia terlihat lebih santai dengan pakaian yang telah diganti sebelum kedatangan dokter Laura. Walaupun begitu, pesona nya tetap saja dapat memukau setiap wanita yang melihatnya.


“Aku bosan. Apa yang bisa aku lakukan disini?” Lagi-lagi Sara menggumam. Ia memandangi setiap penjuru ruangan. Kemudian mata nya terpaku pada salah satu sudut ruangan yang dipenuhi beberapa rak dengan buku-buku yang menghiasinya.


Ia tertarik untuk kesana dan ia pun melangkah kan kakinya menuju ke tempat yang seperti surga bagi orang seperti dirinya yang sangat suka membaca. Ia mendudukkan dirinya di sofa yang berdampingan dengan rak-rak buku itu.


“Sangat empuk. Aku jadi ingin tinggal disini.” Ucapnya. Kemudian ia kembali berdiri dan mengambil beberapa buku yang menarik perhatiannya. Ia kembali duduk di sofa yang empuk itu, lalu mulai membuka lembaran demi lembaran buku dan membacanya dengan teliti.


Setelah membaca selama hampir 3 jam, Sara melihat sedikit pergerakan dari arah ranjang raksasa itu. Ia mendekat, “Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? Apa ada yang terasa sakit?” Tanya nya dengan lembut.


Georgy menoleh dan terlihat sedikit ekspresi kaget diwajahnya. “S-sara? Itu kau?” Tanya nya sembari memegangi kepalanya. “Iya, ini aku. Apa kepalamu sakit?” Ucap Sara dengan nada khawatir saat ini.


Georgy menggeleng, “Aku haus.” Ucapnya lirih. Dengan sigap, Sara mengambil gelas berisi air di atas nakas dan memberikannya pada Georgy. Ia langsung menghabiskan air itu sampai tandas, tanpa sisa.


Tak lama kemudian, Sara kembali dengan membawa sebuah nampan dengan teko air dan semangkuk sup diatasnya. Sara meletakkan nampan itu diatas nakas, kemudian menuangkan air kedalam gelas.


Setelah Georgy menghabiskan segelas air itu, Sara lalu menyuapi Georgy sup kaldu secara perlahan dengan lembut dan penuh kasih sayang.


-----


“Arora, boleh aku meminta sesuatu?” Tanya Zhuzu yang masih betah memeluk Arora. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya ia melepaskan pelukannya. Ia mendapati Arora yang sedang tertidur pulas.


“Dia tertidur? Dia pasti sangat lelah.” Zhuzu menggendong tubuh Arora dan membawanya ke salah satu kamar kosong yang tersedia dirumah itu.


Sesampainya dikamar, ia membaringkan Arora disana. Kemudian ia memilih untuk kembali berkutat dengan pekerjaannya yang seakan tak ada habis-habisnya.

__ADS_1


Setelah beberapa lama ia tenggelam di alam mimpinya. Arora terbangun dan mendapati dirinya saat ini berada di ruangan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Yang lebih membuatnya terkesiap adalah kenyataan bahwa seniornya kini sedang tertidur dalam posisi duduk di sebuah kursi yang letaknya tepat disebelah ranjang yang ia pakai saat ini.


“Senior?” Panggil Arora mencoba membangunkannya. Zhuzu terbangun dan langsung mengangkat kepalanya dengan tiba-tiba serta aura mengintimidasi yang juga datang dengan tiba-tiba, hingga Arora terkesiap dibuatnya.


“Ah, aku ketiduran?” Gumamnya. Arora diam, tak menjawab. Ia hanya memandangi Zhuzu dengan tatapan menyelidik. “Hm? Kau sudah bangun rupanya.” Ia berdiri, mencoba untuk menyingkirkan semua aura mengerikan yang sempat ia tunjukkan walaupun sejenak.


“Kenapa kau menatapku seperti itu? Ini sudah sangat larut, apa kau tidak ingin pulang?” Tanya nya dengan seulas senyum tipis. Arora tidak menggubrisnya, tapi ia menyingkirkan tatapan curiganya dan menggantinya dengan senyuman manis.


“Apa maksudnya itu?” Zhuzu kembali mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang. Senyum Arora semakin lebar, “Apa senior akan mengantarku pulang? Seperti yang kau katakan, ini sudah sangat larut. Kau tidak akan membiarkan gadis cantik nan lugu sepertiku ini pulang sendirian bukan?” Ucapnya dengan sikap manja yang disengaja.


Zhuzu menghela napas, “Tentu saja. Mari, aku antar kau pulang.” Jawabnya mengalah.


Di perjalanan pulang, “Arora, boleh aku minta sesuatu?” Tanya Zhuzu. Arora menoleh, “Apa?”


“Aku minta kau menjadi pasanganku di acara bulan depan. Kau mau?” Pintanya. “Acara? Bulan depan ada acara apa?” Tanya Arora. “Perayaan hari jadi sekolah.” Jawabnya. Arora berpikir sejenak, ‘Hari jadi sekolah, ya?’


Arora mengangguk, “Ya, aku mau.” Jawabnya. Zhuzu trsenyum tipis, “Terima kasih.” Ucapnya lirih. Arora terlalu lelah untuk bisa membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan sembari tersenyum.


Setelah percakapan yang cukup singkat itu, keheningan kembali melingkupi mereka. Mereka sudah cukup lelah untuk melanjutkan pembicaraan.


‘Ini sudah sangat larut. Apa yang dilakukan Chemira dan Fimela dirumah? Apa mereka akan menungguku pulang?’ Pikir Arora. Sekarang ia tidak bisa fokus sama sekali. Bahkan untuk sekedar menelaah sikap impulsif yang muncul secara mendadak dan alamiah seperti tadi.


Apa maksud dari sikap mengintimidasi yang sempat ia tunjukkan tadi?


*******************


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.

__ADS_1


Thank you all ~~


__ADS_2