
EPISODE 38 UNTUK SARALEE
Setelah mengantar Arora pulang, langkah yang dia ambil selanjutnya adalah kembali ke apartemennya. Ia benar-benar lelah dan butuh istirahat sekarang.
Saat tiba di depan apartemen, ponselnya bergetar dan memperlihatkan nama Georgy di layarnya. Zhuzu mengangkat telepon itu, “Apa?”
“Aku tidak tau apa yang terjadi dengan tubuhku, tapi ini sangat tidak nyaman. Bisa kau kemari dan memeriksanya?” Ucapnya dari sebrang sana.
Zhuzu menghela napas panjang, “Kau tau? Kau sangat merepotkan.” Lalu ia memutuskan sambungan telepon itu. Belum sempat ia menyentuh ranjang tercintanya, ia sudah harus pergi lagi.
“Bisa bapak tunggu sebentar disini? Aku akan turun sebentar dan mengambil beberapa barang. Lalu bisakah bapak mengantar ku ke alamat ini?” Ucapnya sembari menunjukkan sebuah foto dengan sebuah alamat yang tertulis disana.
“Hm, untuk perumahan seperti ini, taksi hanya bisa mengantar sampai gerbang depan. Apa tidak masalah?” Tanya pak supir. Lagi-lagi ia menghela napas, “Tidak masalah pak. Aku turun sebentar.”
Ia turun dari taksi itu dan berjalan cepat setengah berlari menuju tempat tinggalnya. ‘Kenapa aku bisa lupa jika taksi hanya dapat mengantar sampai gerbang depan? Apa aku harus berjalan dari gerbang depan sampai kerumah bocah itu? Untung saja hujannya sudah berhenti.’ Pikirnya kesal.
Setelah ia mengambil barang-barang yang ia perlukan, ia kembali menuju taksi yang meunggunya dibawah. Setelah keluar dari tempat itu, ia langsung membuka pintu dan segera masuk ke dalam taksi, kemudian menutup kembali pintu itu.
“Sudah, pak.” Ucapnya hampir terengah. Pak supir segera menancap gas dan melajukan mobilnya di tengah jalanan yang hampir tak pernah sepi ini.
Sesampainya di depan gerbang kompleks perumahan yang tampak mewah ini, mereka dihadang oleh dua orang satpam. “Maaf, tapi taksi dilarang masuk ke dalam.” Ucap salah seorang dari mereka.
Zhuzu segera membayar jasa pak supir yang telah mengantarnya ke tempat tujuannya dan tak lupa mengucapkan terima kasih, kemudian turun dari taksi. Ia menemui satpam tadi, “Permisi pak, aku punya urusan penting dengan Georgy Aldrick.” Ucapnya sembari menunjukkan semacam kartu izin dan tanda pengenal.
“Temannya tuan muda Aldrick ya? Baiklah, silahkan.” Ucap satpam itu lalu membukakan pintu gerbang itu untuknya. “Terima kasih, pak.” Jawabnya kemudian berlari masuk kedalam kompleks perumahan itu. Sialnya, rumah Georgy berada lumayan jauh dari gerbang depan.
‘Apa ini termasuk olahraga malam?’ Batinnya jengkel.
-----
“Sara, aku tak menyangka kau akan tetap disini dan mengabulkan permintaanku.” Ucap Georgy lirih. Ia belum bisa untuk berbicara dengan suara lantang karena energi nya yang terus menerus terkuras.
“Sudah, jangan banyak bicara. Makan saja makananmu.” Sahut Sara yang tetap menyuapkan sedikit demi sedikit makanan yang telah disediakan atas rekomendasi dokter Laura.
Georgy menggeleng, “Tidak mau. Tidak enak.” Ucapnya dengan sikap manja. “Dengan usiamu yang sekarang, sudah tidak cocok bagimu untuk menjadi anak kecil.” Sara mengubah ekspresi lembutnya menjadi sedikit galak.
“Ini, makan.” Sambungnya. “Boleh aku minum dulu?” Pintanya dengan memelas. Sara menghela napas, “Baiklah, tunggu sebentar.” Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah kan kakinya menuju nakas dengan nampan diatasnya.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, Georgy merasa ponselnya bergetar. Dan ia mendapati sebuah pesan dari Zhuzu.
Sara kembali ketempat duduknya dengan segelas air. Georgy segera menyembunyikan ponselnya. “Ah, terima kasih.” Ia meminum air yang ada di dalam gelas itu. “Sudah? Sekarang makan makananmu.” Ucap Sara.
“Tunggu. Aku sudah menghabiskan isi 2 mangkuk sup itu. Aku bosan. Bisakah kau buatkan aku sesuatu yang lain?” Pintanya lagi-lagi dengan wajah memelas. Sara berpikir sejenak, “Yasudah, aku akan minta koki di dapurmu untuk membuatkan sesuatu yang lain.” Ucapnya, lalu ia kembali beranjak dari tempat duduknya.
“Ah, bukan. Maksudku, aku ingin makan masakanmu, boleh ya?” Lagi-lagi ia menunjukkan wajah memelas andalannya, ia selalu menggunakan rasa kasihan Sara agar perempuan itu mau menuruti permintaannya.
“Haah, baiklah-baiklah. Tunggu sebentar.” Sara segera melangkahkan kaki keluar dari kamar Georgy, dan bergegas menuju ke dapur di lantai bawah.
Saat menuruni tangga, ia melihat seseorang yang tidak asing sedang berbicang-bincang dengan Paman Wen di bawah, dan ia juga menggunakan seragam yang sama persis dengan nya. Ia berhenti sejenak untuk mengenali siapa sebenarnya orang itu.
“Loh? Itukan..? Zhuzu? Kenapa dia ada disini?” Sara dengan segera menuruni tangga.
Sesampainya di lantai bawah, “Hm? Sara? Kau disini?” Tanya Zhuzu. “Lalu yang kau lihat ini siapa? Kau sendiri kenapa disini?” Tanya Sara balik. “Bertugas.” Jawabnya singkat, lalu pergi begitu saja menaiki tangga dan meninggalkan Sara dengan sikap terburu-buru.
“Ada apa dengannya? Haah, sudah lah. Lebih baik aku segera memasak.” Gumam Sara, kemudian ia pergi menuju ke dapur yang terletak dibagian belakang rumah itu.
Di kamar Georgy,
Zhuzu masuk dengan terburu-buru. Ia bahkan hampir menghancurkan pintu. “Bisa tidak kau masuk secara manusiawi?” Ucap Georgy kesal. Zhuzu melempar tatapan tajam, “Kau pikir untuk seseorang yang tidak sempat istirahat dengan tenang seharian penuh bisa berperilaku manusiawi saat malam sudah sangat larut seperti ini? Tidak, ini bahkan sudah lewat tengah malam.” Jawabnya dengan penuh peringatan.
“Jangan banyak bicara. Sebaiknya kau simpan saja energi mu.” Zhuzu mengeluarkan peralatannya, kemudian mulai memeriksa Georgy yang saat ini berstatus sebagai pasiennya.
Pemeriksaan berlangsung selama beberapa menit. Tepat setelah Zhuzu selesai, Sara masuk dengan membawakan makanan. “Oh, apa aku mengganggu?” Tanya Sara canggung. “Tidak.” Jawab Zhuzu singkat.
Ia melangkahkan kaki mendekat ke arah Sara, “Berikan ini padanya setelah ia selesai makan.” Ucapnya sembari memberikan sebutir kapsul. “Campurkan dengan segelas air, harus habis.” Sambungnya. Sara mengangguk dan menerima kapsul itu.
Ia menoleh ke arah Georgy, “Aku akan mendiskusikannya dengan dokter Laura. Kau istirahatlah dulu.” Ucapnya, ia segera keluar dari kamar itu dengan membawa peralatannya menuju ke lantai bawah dan menemui dokter Laura.
-----
Di ruang tengah,
“Apa yang dia lakukan disini?” Tanya dokter Laura yang tampak kesal. “Tenanglah, dokter Laura. Anda adalah dokter kepercayaan keluarga Aldrick selama bertahun-tahun. Tuan hanya ingin kalian bekerja sama untuk masalah ini.” Ucap Paman Wen menenangkan.
Tak lama kemudian, Zhuzu datang dengan secarik kertas laporan. “Dokter, ini yang aku dapatkan.” Ucapnya sembari memberikan kertas itu. Dokter Laura membaca laporan itu dengan teliti, tanpa terlewatkan apapun.
__ADS_1
“Racun? Tapi… kenapa bisa?” Gumam dokter Laura. Ia masih tak percaya dengan apa yang dia cerna dari isi laporan tersebut. “Tapi aku tidak tau racun apa itu.” Sambung Zhuzu.
Suasana menjadi hening selama beberapa saat. Hingga dokter Laura memutuskan untuk angkat bicara. “Kalau kau tidak tau itu racun apa, kenapa kau bisa yakin kalau penyebab utama nya memang racun?” Tanya nya.
“Itu karena efek luka permanen dan obat-obatan tidak akan mencapai level itu. Juga bekas jarum perak di punggungnya.” Jawab Zhuzu dengan yakin. Keheningan kembali melingkupi mereka untuk beberapa saat.
‘Apa aku yang kurang teliti?’ Pikir dokter Laura, ia mencoba untuk menghubungkan kondisi sekarang dengan racun yang sedang mereka bahas. ‘Dan jika dipikir-pikir memang ada hubungannya. Tubuhnya yang sekarang terlalu lemah untuk dikaitkan dengan efek samping obat.’
“Baiklah, aku akan mencoba melakukan tes darah.” Ucapnya, kemudian pergi dari ruangan itu meninggalkan Zhuzu dan paman Wen disana, masih dalam keheningan.
Setelah dokter memastikan bahwa dokter Laura telah benar-benar pergi dari sana, paman Wen memberanikan diri untuk bertanya. “Em, kalau saya boleh tau, sebenarnya racun apa yang ada dalam tubuhnya?”
Zhuzu menoleh, “Jika perkiraan ku benar, itu toksin yang dihasilkan oleh bakteri, yang sengaja di masukkan ke tubuh melalui luka.” Jawab Zhuzu dengan sikap santai sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
“Tapi aku tidak tau jenisnya. Kita akan segera mengetahuinya nanti. Dan kuharap dokter Laura tidak terlambat.” Sambungnya. Paman Wen merasa semakin merasa cemas mendengar pernyataan mengerikan yang diucapkan dengan begitu santainya.
“Tidak apa, paman. Aku sudah memberikan obat yang dapat menghambat penyebaran racunnya untuk sementara ini. Jadi pama tidak perlu khawatir.” Ucapnya seakan mengerti tentang apa yang sedang dipikirkan paman Wen saat ini.
“Siapa yang punya dendam dengan tuan muda sampai-sampai melakukan hal seperti ini?” Tanya paman Wen. Zhuzu berpikir sejenak, “Kurasa Georgy bukan target racun itu. Jika dilihat dari bekas luka yang ditinggalkan, kemungkinan besar orang yang melemparkan jarum beracun itu salah sasaran.” Jawabnya.
“Salah sasaran? Apa.. apa ada kemungkinan bahwa sasaran yang sebenarnya adalah nona Sara?” Tanya paman Wen setengah berbisik. Zhuzu mengangguk setuju, “Ya, kemungkinan nya sangat besar. Bisa dikatakan bahwa Georgy melindungi Sara secara tidak sengaja.”
Praang…
Tepat setelah Zhuzu menyelesaikan kalimatnya, Sara yang telah berdiri disana menjatuhkan nampan berisi gelas-gelas kaca halus nan indah dengan air mineral didalamnya. Zhuzu dan paman Wen sontak menoleh bersamaan.
“Ah, m-ma-maaf.. a-aku ti-tidak sengaja. A-aku p-pasti akan me-menggantinya.” Ucapnya terbata, Ia mengulurkan tangannya hendak membersihkan pecahan gelas yang berseraakn di lantai. Seketika itu, paman Wen segera menghentikannya.
“Tidak, nona. Biarkan para pelayan yang melakukannya. Anda bisa terluka, dan saya yakin tuan tidak akan memaafkan kami jika hal itu terjadi.” Ucap paman Wen sembari membantu Sara berdiri.
“Ah, ba-baiklah paman. Terima kasih.” Sara berdiri dengan tubuh nya yang gemetar, lalu mengambil tempat duduk di sofa. Zhuzu memperhatikan sejenak, “Seperti yang kau dengar, jika bukan karena dia, maka kau lah yang akan terbaring lemah di tempat tidurmu dengan kondisi yang sama dengannya atau bahkan lebih buruk darinya.” Ucapnya, ia sengaja mengucapkan kalimat nya perlahan namun penuh penekanan.
“Maka, sebagai balasannya, bisakah kau merawatnya untuk saat ini?” Tanya Zhuzu dengan nada memohon juga mengancam disaat yang bersamaan. “Ba-baiklah. Aku.. aku pasti akan merawatnya dengan baik.” Jawab Sara sedikit terbata namun dengan tekad yang kuat.
*******************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
__ADS_1
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
Thank you all ~~