The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 40 Rencana


__ADS_3

EPISODE 40 RENCANA


“Ini, minumlah. Zhuzu bilang kalau kau harus menghabiskannya.” Sara memberikan segelas minuman pada Georgy. Setelah semalaman tak bisa tidur karena Georgy mual dan muntah sepanjang malam, kini akhirnya Sara bisa bernapas lega dan duduk dengan tenang.


Georgy hanya menatap gelas pemberian Sara. Melihat itu, Sara menghela napas, mencoba untuk tidak terbawa emosi. “Minumlah. Kau akan menyukainya.” Ucapnya sembari mendudukkan diri nya di pinggiran ranjang, berdampingan dengan Georgy. Ia berusaha untuk tetap tersenyum, bagaimana pun caranya.


Georgy menatapnya, menatap sepasang mata cantik yang bersinar dipenuhi aura keibuan yang entah kenapa membuatnya merasa nyaman. “Apa kau bisa menjamin kalau aku akan menyukainya?” Ucapnya dengan senyum licik.


“Kau akan menyukainya. Aku jamin.” Jawab Sara dengan percaya diri. Ia sendiri suka dengan rasa khas dari minuman itu. Rasanya seperti teh hijau? Dengan aroma vanilla? Dia tidak tau bagaimana menjelaskannya, tapi yang pasti, ia menyukainya. Juga, siapa yang tidak suka dengan vanilla?


“Apa jaminannya?” Tanya Georgy dengan sikap menjengkelkan yang disengaja. Sara dibuat gelagapan karenanya. Ia tidak menyangka jika dirinya akan terpojok seperti ini (lagi). “J-jaminan?” Ia gugup seketika, ‘Aku harus jawab apa?’


“Hm? Kau tidak tau? Bagaimana kalau kau mempertimbangkan saranku?” Sambungnya. “Bagaimana kalau jaminannya adalah dirimu sendiri?” Ucapnya dengan maksud terselubung. Sara teperangah mendengarnya, ‘Diriku sendiri? Apa dia memang sekurang ajar itu?’ Wajahnya merah padam.


“Hm? Ada apa? Kenapa wajahmu memerah? Apa kau demam? Tunggu, kau tidak berpikir yang aneh-aneh kan?” Ucapnya sengaja untuk menggodanya, ia benr-benar senang melihat Sara yang salah tingkah.


Wajahnya semakin memerah , ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar malu.


Georgy yang menikmati pemandangan itu, hanya tertawa setelah puas memandangi. “Sara, maksud ku, kau harus jadi teman kepercayaanku jika aku tidak menyukai minuman ini. Bagaimana?” Ucapnya dengan senyum puas.


‘Ada yang aneh. Dia mengatakan hal itu pasti ada tujuannya. Dan kurasa dia memang tidak suka dengan minuman itu. Tapi kenapa dia tega mempermainkan aku? Argh, apapun itu. Terserah.’ Batin Sara.


Ia menghela napas sebelum menjawab, “Baiklah, aku akan jadi temanmu. Dan sebaiknya kau segera menghabiskan minuman itu sebelum menjadi dingin. Walaupun kau tidak suka, kau tetap harus menghabiskannya.” Jawab Sara tegas tak terbantahkan.


Georgy menggeleng cepat, “Tidak-tidak, bagaimana kalau aku ganti? Aku ingin kau jadi teman sekaligus perawat pribadiku. Bagaimana?” Ucapnya dengan santainya. Sara terbelalak tak percaya, ia tak menyangka jika pria dihadapannya ini adalah seorang pria brengsek.


“Kau, aku tidak ma-“ Kalimat Sara terhenti ketika melihat Georgy tiba-tiba turun dari ranjang dan langsung berlari terbirit-birit menuju kamar mandi. Terdengar dari luar ruangan jika ia sedang memuntahkan isi perutnya. ‘Lagi? Ia baru saja selesai makan satu jam yang lalu.’ Batin Sara.


Georgy keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi, ia langsung terduduk lemas di atas tempat tidurnya yang nyaman. “Kau tidak apa-apa? Masih sakitkah?” Tanya Sara khawatir. “Aku lelah.” Jawabnya singkat tanpa menoleh sedikitpun.


Sara kembali memberikan minuman yang belum sempat diminum oleh Georgy. “Ini minumlah dulu. Setelah nya kau bisa berbaring dan istirahat.” Ucapnya. Georgy segera menerima gelas itu dan meminumnya sampai tandas tak bersisa. Dikembalikannya gelas itu pada Sara dan segera membaringkan tubuhnya.


“Aku keluar dulu. Kau istirahatlah.” Setelah mengucapkan itu, Sara beranjak dari tempat duduknya. Ia hendak membawa nampan dengan piring dan gelas kosong itu ke dapur. Saat dia hendak pergi, Georgy dengan cepat meraih pergelangan tangannya, “Tidak, Sara. Jangan pergi.. temani aku, ya?” Ucapnya lirih hampir berbisik.


Sara kembali mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang, “Baiklah, aku tidak kemana-mana. Sekarang kau istirahatlah.” Ucap Sara mengalah. Georgy meletakkan tangan Sara dipucuk kepalanya, memberi kode. Sara mengerti maksudnya, ia menggeleng ‘Benar-benar seperti anak kecil.’ Batinnya.


Walaupun begitu, tak urung juga ia menuruti kemauan Georgy. Ia menggerakkan tangannya dengan gerakan lembut, mengelus perlahan disana. “Okay, anggap aku Ibumu hari ini.” Gumam Sara. Georgy tak mendengarnya, ia sudah terlelap dalam tidurnya.


-----


“Mari-mari, silahkan duduk semuanya. Ini hari libur dan mari kita bersenang-senang sejenak.” Chemira melontarkan kalimatnya dengan senyuman ceria yang jarang sekali ia tunjukkan.


Di hari libur yang indah ini, mereka memasak banyak sekali makanan untuk sekedar berkumpul dan mengobrol santai dengan melupakan keformalan yang biasa melingkupi mereka. “Mari, pak, buk. Dimakan makanannya.” Arora dan Fimela turut gembira dengan keputusan Chemira untuk bersantai walaupun hanya sehari saja.


Para pegawai dan pelayan yang telah terbiasa dengan hidup penuh keformalan setiap harinya, yang telah terlatih untuk selalu menjaga perilaku dan membatasi bicara yang tidak perlu, kini harus menghadapi kondisi dimana mereka akan bersantai dan makan-makan bersama dengan atasannya.


“Ah, se-sepertinya tidak perlu, nona. Kami.. merasa tidak enak.” Ucap seorang wanita paruh baya dengan pandangan tertunduk. “Iya, iya.” Sahut yang lainnya. Arora memicingkan matanya, “Baiklah, jika kalian tidak bersenang-senang hari ini, maka jangan salahkan aku bertindak kejam.” Ucapnya mengancam.


Semua orang disana bergidik ngeri, tidak ada lagi dari mereka yang berani berbicara apalagi membantah. Chemira menggeleng pelan, “Sudahlah, Arora. Ini hari yang istimewa, santai saja. Jarang-jarang kita bisa makan-makan bersama seperti ini.” Ucapnya menenangkan.

__ADS_1


Ia menoleh dan menatap semua pegawai serta pelayan yang ada disana. “Semua nya, nikmatilah hari ini. Lupakanlah tentang formalitas, dan bersenang-senanglah. Jangan sungkan.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Chemira mengambil tempak duduk di salah satu kursi yang tersedia disana. Arora dan Fimela ikut duduk disana, sehingga tempat duduk mereka berdampingan.


Pak Yan yang sedari tadi mengawasi sekeliling, hendak mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan atasannya. Setelah melihat bahwa mereka telah duduk dan dengan santainya mengobrol diselingi kekehan kecil, ia baru berani untuk menghampiri mereka.


“Permisi, nona. Ada yang ingin saya sampaikan.” Ucapnya ketika telah berada dihadapan Chemira dengan masih menjaga jarak. Chemira mendongakkan kepala, “Ya? Ada apa pak?” Tanyanya. Ia terlihat sedikit ragu, pandangannya tertunduk, kebeanian yang telah lama ia kumpulkan kini lenyap seketika.


“Ada apa pak? Katakan saja.” Ucap Fimela membuyarkan lamunan pak Yan. Ia sempat berpikir untuk tidak mengatakan yang sempat ingin dikatakannya, tapi ia sudah terlanjur mengganggu momen bahagia majikannya.


Ia duduk di salah satu kursi kosong disana, lalu mengutarakan hal yang memang ingin dia katakan. “Em, maaf jika saya lancang nona. Tapi akhir-akhir ini saya melihat nona sangat sibuk, bahkan nona jadi tidak sempat untuk sekedar memasak makanan.” Ucapnya dengan penuh perhitungan agar tak membuat mereka salah paham.


Arora, Chemira dan Fimela tetap setia mendengarkan. “Jadi, bagaimana jika anak saya bekerja ikut bekerja disini, untuk membantu bersih-bersih dan memasak makanan.” Sambungnya. Mereka terharu dengan perhatian yang secara tidak langsung diberikan oleh pak Yan.


Mereka berpikir sejenak, mempertimbangkan tawaran yang sangat menggiurkan tersebut. “Tapi, bagaimana dengan sekolah nya mbak Ani?” Tanya Arora. “Dia baru lulus bulan lalu nona.”


Lagi-lagi mereka terdiam untuk kembali berpikir, “Apa mbak Ani gak lanjut kuliah pak?” Tanya Fimela. Pak Yan menghela napas dengan tatapan sayu, ia menggeleng pelan. “Tidak nona.” Jawabnya.


“Tapi, kenapa pak? Mbak Ani kan masih muda. Dia baru saja lulus SMA.” Kali ini Chemira yang menjawab. Ia merasa sangat sayang jika masa muda seseorang digunakan untuk bekerja keras (padahal dia sendiri juga bekerja keras).


“Dia bilang jika dia ingin bekerja untuk membantu orang tuanya. Dia bilang jika kuliah hanya menghabiskan uang saja, dan lebih baik ia bekerja untuk membantu pengobatan ibunya.” Jawab pak Yan yang semakin tertunduk, dilanda rasa bersalah.


“Lalu, kenapa bapak ingin mbak Ani kerja disini? Apa bapak menyetujui keputusannya untuk bekerja?” Tanya Chemira (lagi). Pak Yan kembali menggeleng, “Awalnya aku tidak menyetujuinya. Tapi dia terlalu keras kepala. Aku tak bisa menghentikannya.” Jawabnya dengan senyum tipis.


Fimela menyikut Chemira, “Sama sepertimu bukan?” Bisiknya dengan tatapan mengejek. “Huss, jangan ganggu orang lagi curhat.” Arora ikut-ikutan berbisik. “Bisa nggak sih kamu gak ikut campur urusan orang?” Bisik Fimela sarkas. “Lah, kau sendiri? Memangnya kau tidak mencampuri urusan orang lain?” Bisik Arora dengan sama sarkasnya.


‘Sabar, Chemira. Sabaarr…’ Batin Chemira pada dirinya sendiri. “Mm, pak. Akan aku pikirkan lagi. Bapak bisa kembali menikmati acara.” Jawab Chemira dengan senyum yang dipaksakan. Ia merasa kepalanya pusing dan sangat panas saat ini. “Baik, nona. Saya permisi.”


Setelah pak Yan benar-benar pergi dari sana, “Bisa nggak kalian sehari aja gak berantem? Ga ada baik-baiknya.” Tegur Chemira yang masih menahan emosinya yang hampir meledak. “Nggak. Kita ditakdirkan untuk berantem setiap kali bertemu.” Jawab Arora yang masih saja melanjutkan perdebatannya dengan Fimela.


“Emangnya aku ada bilang terus-terusan?” – Arora


“Ada.” – Fimela


“Apa? Mana? Aku Cuma bilang kalo kita berantem setiap kali ketemu.” – Arora


“Ya kita ketemu tiap hari, Arora. Makanya kalo ngomong tuh pake otak.” – Fimela


“Yee siapa juga yang ngomong pake otak? Ngomong tuh pake mulut.” – Arora


“Ya maksudnya sebelum ngomong tuh dipikir-pikir dulu. Jangan asal bicara yang nggak-nggak.” – Fimela


“Aku mikir dulu kok, kamu nya aja yang nggak ngerti.” – Arora


“Kata siapa aku yang nggak ngerti? Jelas-jelas kita ketemu tiap hari. Aku nggak salah.” – Fimela


“Ya, kita ketemu setiap hari, bukan berarti kita berantem terus.” – Arora


“Lah, tadikan kamu sendiri yang bilang kalau kita berantem setiap ketemu. Berarti setiap hari dong.” – Fimela


‘Pembicaraan apa ini? Kenapa aku mendengarkan pembicaraan yang sangat tidak jelas ini? Bukan, kenapa aku disini? Tunggu, aku siapa?’ – Batin Chemira yang tersiksa.

__ADS_1


“Setiap hari kan bukan berarti terus-terusan.” – Arora


“Yee, udah salah, masih aja dibela-belain. Makanya kalo mau ngomong tuh disaring dulu. Baru diomongin.” – Fimela


“Masa iya disaring dulu. Emangnya saringan bisa masuk ke kepala?” – Arora


“Bukan masuk ke kepala. Masuknya ke mulut kamu tuh.” – Fimela


Chemira merasa sangat jengah sekarang. Ia memilih untuk pergi dari pada meledak disini.


“Chemira, mau kemana?” Tanya Fimela. “Aku mau pergi makan. Tenang, kalian bisa lanjutin. Nanti kalau udah ada yang sekarat tinggalin aja. Atau kalau mau sekalian di injek-injek juga gapapa.” Ucapnya dengan wajah datar dan tatapan kosong, lalu pergi begitu saja.


“Ada apa dengannya?” Tanya Arora. “Apa kita salah?” Sambungnya. “Entahlah, kurasa tidak.” Jawab Fimela. “Sudahlah, makan yuk.” Ajak Fimela, Arora hanya mengikuti dibelakangnya.


Setelah menghabiskan beberapa porsi makanan (beserta piringnya), Arora dan Fimela mendekati Chemira. “Chemiraa~~” Panggil Fimela. Chemira menoleh dengan wajah datar, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. “Em, kami ingin minta maaf.” Sambung Fimela.


“Kenapa?” Tanya Chemira datar dan singkat, tidak ada ekspresi apapun, membuat pikirannya tak terbaca sama sekali. “K-kami tau kalo kami salah, jadi.. kami mau minta maaf.” Kali ini Arora yang menjawab, berharap agar Chemira dapat memperhatikan mereka saat ini.


“Apa salah kalian?” Tanya Chemira yang masih setia dengan wajah datarnya. Keringat dingin mengucur deras, mereka tau, sangat-sangat tau jika mereka salah menjawab pertanyaan ini maka akan ada konsekuensi yang harus mereka tanggung.


Ketika mereka memutar otak, berpikir keras mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Chemira, tiba-tiba Chemira menghela napas, “Sudah lah, aku maafkan. Lain kali jangan sering-sering berantem, gak baik tau.” Ucapnya lembut disertai senyuman.


Kalimat itu merupakan penolong sejati bagi mereka yang sedari tadi merasa gugup luar biasa. Mereka menganggukkan kepala dengan bersemangat, “Baik-baik, terima kasih sudah memaafkan kami.” Jawab Arora dengan antusias.


Chemira terkekeh pelan, itu membuatnya terlihat sangat cantik dan elegan. Membuat siapapun yang melihat akan merasa iri dengannya (kecuali dua sahabat sepergilaan nya). Saat mereka sedang mengobrol ria, para pelayan sibuk menggosipkan majikan mereka yang lama dan membanding-bandingkannya dengan yang sekarang.


-----


Malamnya,


“Kau sudah mau pulang?” Tanya Sara yang masih setia dengan posisinya. “Iya.” Jawab Zhuzu singkat yang kemudian pergi mengambil secarik kertas dan memberikannya pada Sara. “Jika keadaan mendesak saja.” Ucapnya lalu bergegas pergi dari sana.


Sara membaca tulisan yang tertera di kertas itu. “Nomor telepon?”


-----


“Haah, setelah sekian lama akhirnya aku bisa kembali ke kamarku yang sangat nyaman ini.” Gumamnya sembari membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Tidak sampai beberapa menit, tiba-tiba ia kembali mendudukkan tubuhnya, “Aku harus ganti pakaian. Sudah seharian aku memakai seragam ini.” Ucapnya pelan.


Karena tubuhnya terasa sangat lelah, ia memilih untuk berendam air hangat terlebih dahulu. Setelah selesai dengan semua kegiatannya, ia kembali membaringkan tubuhnya. Ia berencana untuk kembali terlelap dalam mimpi indahnya, tapi dering ponselnya tidak mengizinkan hal itu.


“Haah, apa yang mereka inginkan sekarang?”


Walaupun merasa sangat sungkan, tapi tak urung juga ia menerima panggilan yang datang tiba-tiba di layar ponselnya itu.


*************


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.

__ADS_1


Thank you all ~~


__ADS_2