The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 14 Mencari Benang Merah Sebenarnya


__ADS_3

EPISODE 14 MENCARI BENANG MERAH SESUNGGUHNYA


Tiga hari telah berlalu. Dan hari ini, Arora sudah diperbolehkan pergi kesekolah.


Arora, Chemira dan Fimela sudah bersia-siap untuk pergi ke sekolah. Chemira dan Fimela terlihat sangat lelah selama beberapa hari ini, mereka harus melakukan banyak hal selama Arora sakit. Arora yang hal tersebut merasa bersalah karena tidak dapat membantu kedua sahabatnya tersebut.


“Maafkan aku, teman-teman. Aku tidak dapat membantu kalian selama beberapa hari ini.” Ucap Arora dengan perasaan bersalah yang mendalam terlukiskan di wajahnya. Chemira dan Fimela yang mendengar permintaan maaf itu, menggelengkan kepala dengan cepat. “Kau tidak perlu minta maaf, Arora. Kau tidak bersalah, keadaanmu yang tidak memungkinkan mu untuk turut serta. Dan kami bisa mengerti itu.” Ucap Chemira.


Fimela menganggukkan kepalanya, tertanda bahwa ia setuju dengan ucapan Chemira. “Ya, itu benar. Sekarang kita sudahi dulu pembicaraan ini, dan ayo kita berangkat sekarang. Kita sudah hampir terlambat.” Mereka pun pergi kesekolah dengan langkah yang sedikit terburu-buru.


Sesampainya di sekolah,


“Huff, hampir saja.” Mereka bertiga akhirnya sampai di gerbang sekolah. Mereka terus berlari menuju kelas mereka, dan tiba-tiba tanpa sadar Fimela menabrak sesuatu yang keras, seperti dinding. “Aduhh!!” Seru Fimela. “Argh, sakit sekali. Hey! Kalau jalan tuh liat-liat.” Karena merasa kesal, Fimela membentak orang yang baru saja ia tabrak. Lelaki itu berbalik, dan menatap ke arah Fimela. “Jadi ini salahku? Bukankah seharusnya aku yang mengeluh sekarang? Kau tau, punggung sangat sakit. Terbuat dari apa kepalamu itu?” Seru lelaki itu sembari berbalik mengahap ke Fimela.


Fimela berdiri dan membersihkan debu yang menempel di seragamnya. “Apa? Kau bilang ini salahku? Yang benar saja, ini salahmu. Kenapa juga kau berdiri disana, menghadang jalan saja.” Ucap Fimela sembari mengangkat kepala nya untuk menatap lelaki itu.


Setalah pandangan mereka bertemu, mereka baru menyadari ada sesuatu yang janggal. “Tunggu, Kamu? Tunggu-tunggu, kenapa aku merasa kalau wajah mu tidak asing? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Fimela dengan polosnya. “Kamu? Fimela? Jadi memang benar bahwa itu kamu.” Lelaki itu menatap Fimela dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menyelidik yang ditunjukkan secara terang-terangan.

__ADS_1


Fimela merasa rishi ditatap seperti itu oleh orang yang tidak ia kenal. Ia segera menarik Arora dan Chemira melewati lelaki itu. “Dasar gila.” Mendengar umpatan dari Fimela, lelaki itu tidak bergeming. Ia hanya megulas senyum licik di wajah nya. ‘Menarik, sangat menarik.’ Batinnya.


Waktu istirahat,


“Fimela, kau masih kesal dengan lelaki itu?” Tanya Arora. “Haahh, jangan bahas soal dia lagi. Aku benar-benar kesal dengannya. Wajahnya begitu menjengkelkan.” Jawab Fimela dengan wajah kesal. “Sudah-sudah. Bagaimana kalau kita menumpang istirahat sebentar di ruang kesehatan? Aku sedikit lelah.” Ucap Chemira memberikan usulan. Arora dan Fimela menyetujui nya, mereka juga merasa lelah.


Sesampainya di ruang kesahatan,


“Permisi.” Arora membuka pintu ruangan. “Silahkan.” Tedengar jawaban dari dalam. Pintu pun terbuka lebar dan pandangan Arora langsung bertemu dengan sebuah pandangan dingin yang berangsur-angsur berubah menjadi hangat seiring berjalannya waktu. Pemilik pandangan itu mengulas sebuah senyum ramah. “Kau sudah baikkan?” Tanya Zhuzu. Arora yang pandangannya sempat terkunci untuk beberapa saat, akhirnya terlepas dan ia langsung mengalihkan pandangan nya ke arah lain seiring dengan ingatannya tentang pembicaraan nya dengan dokter Viona dua hari yang lalu.


‘Kenapa ia masih disini? Aku sudah susah payah mengendalikan emosi ku kembali, dan dia dengan mudahnya membuat emosi ku kembali menjadi berantakan.’ Arora terlihat seperti menahan emosi, Chemira yang melihat itu segera mengahmpirinya. “Mungkin bukan dia yang meraciknya. Kau harus kendalikan emosi mu.” Bisik Chemira.


Melihat respon Arora yang seperti nya tidak memperlihatkan pandangan yang bersahabat, Zhuzu memasang kembali ekspresi datarnya. “Baguslah kalau begitu.” Balasnya datar. Melihat suasana canggung di hadapannya, Fimela memutuskan untuk mencairkan suasana. “Senior, kami ingin menumpang istirahat sebentar. Apakah boleh?” Tanya Fimela dengan senyum palsunya. “Boleh. Ada banyak tempat tidur disini, kalian bisa pilih yang mana saja.” Ucap Zhuzu memberikan izin tanpa menoleh sedikitpun.


Beberapa saat kemudian,


“Zhuzu! Kami sudah lama menunggu saat ini. Sekarang boleh kah kami beristirahat sebentar? Kami sangat lelah.” Ivan dan Delvin memasuki ruangan dengan serampangan bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


Ketika mereka berdua hendak menghampiri Zhuzu, tanpa sengaja Ivan melihat tiga tempat tidur yang merupakan tempat favorit mereka untuk beristirahat sedang digunakan oleh orang lain. Ivan hendak membuka tirai nya untuk melihat siapa yang telah menggunakan tempat itu. Sebelum tirai terbuka, Zhuzu menghentikan gerakan Ivan. “Kau boleh melihatnya, tapi jangan ganggu mereka.” Ucap Zhuzu sembari menyusun barang-barang berupa botol obat kedalam kotak kecil.


Ivan terlihat bingung dengan sikap Zhuzu, biasanya ia tak akan ikut campur mengenai urusannya yang akan membangunkan orang atau tidak. Tetapi kali ini berbeda, dan ia harus menurutinya jika tak ingin diusir keluar dari sini. “Baiklah, aku hanya ingin melihat.” Jawab Ivan. Delvin yang juga penasaran, ikut membuka tirai-tirai itu.


Setelah tirai terbuka, Ivan tak bisa menahan diri untuk tidak berbicara. “Jadi kau menyimpan gadis-gadis kecil disini? Apa yang akan kau lakukan pada mereka? kau tidak menggunakan mereka sebagai tikus percobaan bukan?” Ucap Ivan dengan nada mengolok. “Aku tidak menyimpan mereka, tapi mereka sendiri yang datang kemari.” Jawab Zhuzu yang memutuskan untuk ikut bermain. “Lalu, apa kau akan menggunakan mereka sebagai tikus percobaan?” Tanya Delvin yang juga ikut dalam permainan mereka. “Tentu saja tidak. Aku masih punya rasa kemanusiaan.” Jawab Zhuzu sembari tersenyum.


Karena tempat favorit mereka sedang digunakan oleh orang lain. Mereka memutuskan untuk beristirahat di sofa yang terletak di samping masing-masing tempat tidur. Setelah Ivan dan Delvin melihat ketiga perempuan yang sedang tertidur pulas itu dengan lebih seksama, mereka baru sadar kalau orang yang mereka cari sekarang ada dihadapan mereka.


“Jadi mereka disini. Percuma saja kita berkeliling sekolah untuk mencari mereka.” Ucap Delvin sembari menepuk pundak Ivan. Ivan hanya mengelus dada nya, menahan emosi. “Kau benar. Dan sekarang aku rasa kalau aku akan segera meledak.” Ucap Ivan dengan senyum ironi. “Jika kau ingin marah, ya keluarkan saja. Tapi jangan sampai membangunkan mereka.” Ucap Zhuzu yang menyela pembicaraan.


Mereka duduk di masing-masing sofa, dalam keheningan. Tetapi, Ivan memecahkan keheninga tersebut. “Zhuzu, aku ingin bertanya. Tapi jika kau tidak ingin menjawabnya, tidak apa-apa. Aku tidak memaksa.” Ivan berhenti sejenak untuk melihat respon Zhuzu. “Silahkan.” Jawab Zhuzu. Setelah mendengar respon Zhuzu, Ivan melanjutkan perkataannya. “Bagaimana kau tau cara untuk meracik obat-obat dengan khasiat yang luar biasa itu?” Pertanyaan Ivan membuat Zhuzu terdiam untuk sejenak. Tapi tak lama kemudian ia menjawab pertanyaan Ivan dengan sebuah pertanyaan baru. “Apa kau tau tentang ‘Pandora Corporation’?”


********************


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.

__ADS_1


Thank you all ~~


__ADS_2