The Little Apple Garden

The Little Apple Garden
Chapter 10 : Hal Tak Terduga


__ADS_3

Di antara orang-orang yang berlalu-lalang itu kedua sosok berlari menembusnya, mereka adalah gadis berambut pucat dengan membawa peti mati di punggungnya sementara di sampingnya yang terus memegangi tangannya adalah seorang dari dunia lain bernama Elric.


"Orang-orang itu kurang kerjaan, dibanding mengejar kita seharusnya mereka mengejar penyihir," kata Elric yang nyaris suaranya tak terdengar oleh siapapun karena keributan di sekelilingnya.


Elric sekali lagi melirik ke belakang untuk memastikan para Hunter tersebut berada di sana, sejak meninggalkan kedai mereka terus bersusah payah lari dari kejaran.


Diam-diam Elric mengambil pedang dari toko lalu menggantinya dengan beberapa koin perak tanpa sepengetahuan pedagangnya.


Dia berkata setelah mengatur nafasnya.


"Larilah duluan, aku akan mengatasinya."


"Kau ini tidak bisa bertarung, sudah pasti kau akan mati."


"Kau lupa, aku ini abadi."


"Meski begitu."


Saat para pengejar tersenyum puas dengan kemenangan yang akan diraihnya, tiba-tiba saja kepala mereka meledak satu persatu hingga tubuh yang kehilangan nyawanya tumbang dengan mudah.


"Mereka sangat lemah rupanya."


Elric terus bersiaga dengan sosok dari pemilik suara itu dimana keempat orang muncul secara serempak, masing-masing dari mereka memegang buku yang mengeluarkan api dari dalamnya.


"Kalian penyihir?" atas pernyataan Elric salah satu orang tertawa.


"Benar sekali, kami akan melepaskan kalian asal kalian mau memberikan peti mati itu pada kami."

__ADS_1


"Aku menolaknya, walau kami memberikannya kalian tetap membunuh kami bukan."


"Kau ternyata mengerti, bagi kami nyawa kalian tidak berharga dibandingkan dengan orang yang berada di dalam peti itu."


Elric mengangkat bahunya ringan lalu berkata setelah saling menatap sekilas dengan Namira.


"Di dalam sana hanya ada wanita tak berbusana, lebih baik kalian mencari peti mati lain."


"Apa kalian suka meniduri mayat," suara Namira tidak didengar siapapun membuatnya mengembungkan pipi.


"Karena itulah kami menginginkannya, dengan meminum darahnya kami bisa hidup abadi selamanya."


Elric memutar otaknya lebih keras dari biasanya, Namira memang kuat hanya saja berkat miliknya cukup menguras tenaga, terlebih empat orang penyihir terlalu berat untuk diatasi.


Apa yang bisa aku lakukan?


"Kita lawan bersama," mendengar perkataan itu dari Namira, keempat penyihir tertawa lalu menembakan sihir api mereka secara bersamaan, sebelum mengenai keduanya seseorang telah berdiri di depan menghalaunya dengan perisai angin.


Wanita itu memiliki rambut hitam dengar tubuh ideal yang diselimuti gaun berenda, yang paling mencolok darinya dia memiliki telinga serigala serta ekor yang lebat.


"Elric, dia roh... Cepat culik dia."


"Culik dengkulmu, dia sedang menolong kita."


"Dasar roh menyebalkan, cepat habisi mereka."


Dengan mengibaskan tangannya, angin menerjang keempatnya membuat mereka terlempar bagaikan sehelai bulu tak berdaya.

__ADS_1


Saat para penyihir bangkit, sebuah bilah angin telah memotong tubuhnya beberapa bagian.


Elric memindahkan pedang dari tangannya ke punggungnya untuk memeluk rubah yang ada di depannya.


"Tunggu, apa yang kau lakukan? Aku sudah menolongmu bukan... Ini pelecehan."


"Bagus Elric, paksa dia mengikat kontrak denganmu."


Elric yang telah kembali ke akal sehatnya memutuskan untuk melepaskan ikatannya. Dia sedikit malu dengan apa yang barusan dilakukannya.


"Bukannya aku malah menjadi orang jahat di sini."


"Mana mungkin, lihat dia sangat menyukainya."


Saat Elric melirik ke arah wanita itu dia sedang duduk dengan wajah memerah, tangan memegangi kedua pipinya dengan nafas terengah-engah.


"Ini pertama kalinya seseorang melakukan hal seperti ini padaku, tolong lakukan lagi."


"Aku tahu karakter ini, mari pergi Namira."


"Kau yakin Elric, dia roh loh."


"Aku yakin ada roh baik di luar sana."


Elric hendak melangkah namun kakinya di pegang oleh wanita tersebut, dengan susah payah dia berusaha melepaskannya akan tetapi sulit untuk melakukannya.


"Kau membuatku takut, kami memang berterima kasih untuk barusan, tapi tolong lepaskan kakiku."

__ADS_1


"Kau bilang kau ingin mengikat kontrak roh denganku, aku bersedia."


"Tidak, tidak, kami salah roh."


__ADS_2