
Elric melemparkan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk, di sisi lain Anita menyimpan peti matinya di sudut ruangan dan beralih ke tempat duduk di depan cermin untuk merapihkan rambutnya.
Adapun Dewi Venus dia masih dalam bentuk tupainya dan duduk di atas perut Elric selagi mengunyah kacang.
"Aku tahu kalian sudah menikah, sebisa mungkin tolong tahanlah diri kalian untuk tidak melakukan hal aneh di depanku."
Anita memotong.
"Aku lebih suka melempar tupai ini keluar jendela sekarang."
"Jika kau lakukan, aku akan berikan hukuman ilahi."
"Apa?"
"Tenanglah kalian berdua, mulai sekarang kita akan selalu bersama berusahalah rukun satu sama lain."
Keduanya mengalihkan pandangan ke arah berbeda sampai sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar penginapan.
Elric memindah Dewi Venus ke samping sebelum berjalan untuk membuka pintu dimana seorang gadis berdiri di sana.
Dia pemilik penginapan ini.
"Ada yang bisa aku bantu?"
"Maaf menganggu, tapi ini ada sedikit makanan, kalau mau."
Gadis ini sangat baik, dia bahkan memberikan mereka potongan buah segar yang sudah dikupas untuk dinikmati.
__ADS_1
"Terima kasih banyak."
"Besok akan diadakan festival di kota ini, kalian bisa bersenang-senang."
"Begitukah... kami tidak sabar menunggu besok."
"Iya, pemandian air panas juga sudah dibuka, karena tidak ada pengunjung lain, kalian bisa memakainya bersama."
Elric mengangguk mengiyakan lalu melihatnya pergi dari kejauhan.
Padahal pemilik penginapan ini sangat baik, tapi tidak banyak orang tinggal di sini dan memilih menginap di tempat yang lebih mewah, pikir Elric dalam hatinya.
Semenjak neneknya meninggal gadis itu telah mengambil alih bisnis ini.
Elric menaruh potongan buah-buahan itu di meja, bagi Dewi Venus yang sudah menjadi tupai makanan seperti ini tidak bisa ditolaknya.
"Enak sekali."
"Aku ingin melakukan sesuatu untuk pemilik penginapan ini, apa yang yang bisa kulakukan?"
"Lupakan saja, kita tidak bisa melakukan apapun, pertama kota ini hanya mewajibkan orang-orang masuk dengan pakaian merah dan kedua, tempat ini terlihat sudah ketinggalan jaman, aku yakin para pelancong lebih suka menyewa kamar mewah."
Hal yang baik yang bisa digambarkan dari penginapan ini hanyalah harganya yang murah, Elric pun sudah mengerti hal itu.
Untuk sekarang dia memutuskan untuk mengesampingkan hal itu, untuk mencoba pemandian air panasnya.
Dewi Venus melompat dari kepala Elric hingga jatuh meluncur ke air lalu mengambang dengan posisi wajah menghadap langit.
__ADS_1
"Nikmatnya, lihat Elric aku bisa melakukan ini, ini dan ini."
"Aku bisa melihatnya."
Tupai ini banyak pamer.
Anita yang sedang menggosok badannya berkata.
"Kurasa tempat ini tidak terlalu buruk, yang menjadi masalah adalah peraturannya.... kalau saja setiap orang diizinkan memakai warna apapun, aku yakin orang-orang dari luar akan banyak datang kemari dan penginapan ini juga akan mendapatkan banyak pelanggan."
Elric hanya menghela nafas panjang, kemudian Anita masuk ke dalam kolam dan bersandar padanya.
"Kita tidak boleh terlibat dengan kota maupun gadis penginapan ini, sebisa mungkin kita hanya fokus pada tujuan kita."
Itu memang pilihan terbaik jika dilihat dari segi pendatang, meski begitu Elric memilih untuk terlibat di dalamnya, paling tidak dia ingin sedikit membantu gadis yang terlihat kesepian tersebut.
Hingga pada malam harinya, Elric memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian di luar kota.
Walau sudah malam kota ini tetap terlihat ramai, kebanyakan setiap jalan diterangi oleh lumut-lumut bercahaya yang disatukan menjadi satu lalu dimasukkan ke tiang jalan layaknya sebuah lampu yang Elric kenal.
Jika melihat ke setiap toko mereka juga meletakkan lampion-lampion berwarna merah yang memukau.
Pilihan Elric jatuh ke sebuah bar yang tidak terlalu sepi maupun ramai di mana seorang pria tua menyambutnya ramah.
"Selamat datang."
"Tolong tehnya."
__ADS_1
"Silahkan."
Elric mengambil cangkir itu lalu menyeruputnya dalam diam.