
Di tengah hutan itu Elric sedang berlatih mengayunkan pedangnya ke batang pohon di depannya, sementara kedua rekannya mengawasi dengan duduk di atas peti mati.
"Aku pikir Elric harus membuka baju, dari buku yang kubaca melepaskan pakaian membuat orang semakin kuat."
"Buku aneh seperti apa yang kau baca Namira?"
"Buku yang sangat bermanfaat."
Mariella menambahkan.
"Jika kita sampai ke tempat itu, apa yang akan terjadi dengan wanita di dalamnya."
"Itu juga yang ingin kuketahui, bahkan Namira hanya pergi karena penasaran," balas Elric demikian.
"Ini adalah petualangan besar, karena itu seharusnya kalian bersemangat.... Mari lanjutkan perjalanan lagi."
Atas pernyataan Namira Elric hanya Mariella hanya menuruti tanpa kata, di sisi hutan yang rimbun mereka sampai di sebuah tempat yang aneh, berbeda dari hutan sebelumnya semua pohonnya tampak mengering dan mati, ada kabut yang tersebar ke segala arah dan dari itu sosok bayangan hitam bermunculan.
Sosok itu menyerupai manusia pada umumnya.
"Sebaiknya kita pergi," kata Elric memandu semua orang menjauh, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan kumpulan penduduk desa yang beramai-ramai sedang mencari sesuatu.
__ADS_1
"Kalian bertiga, apa kalian masuk ke dalam hutan penyihir itu," kata salah satu pria paruh baya.
"Tidak, kami berusaha menghindarinya," yang menjawab itu adalah Namira.
"Baguslah, kalau kalian memasukinya maka kutukan akan merubah kalian menjadi mayat hidup."
"Apa jangan-jangan yang kami lihat itu?"
"Mereka para penduduk desa serta pelancong yang ingin mencari harta karun di dalamnya, katanya di dalam sana terkubur harta yang sangat berlimpah tapi kami tahu itu hanya kebohongan."
"Jadi begitu, lalu kalian sedang apa di dalam sini?"
"Kami mau mencari anak-anak kami, saat pagi tadi mereka tiba-tiba menghilang dalam sekejap."
Elric bertanya pada Namira.
"Apa kau tahu sesuatu?"
"Ada kemungkinan anak-anak kalian akan ditumbalkan oleh penyihir, jika begini aku yakin kita harus memeriksa hutan penyihirnya."
"Kami hanya penduduk biasa, mana mungkin bisa mengalahkan penyihir."
__ADS_1
"Kami beberapa kali melawan penyihir bagaimana jika kalian membayar kami, lihat dia adalah roh."
Namira memegangi pundak Mariella dan menunjukkan telinga dan ekornya.
"Hanya tuan yang boleh memegang ekorku."
"Bagaimana, sebagai balasan, kalian bisa membayar kami dengan imbalan uang."
Semua orang mengangguk setuju sementara kelompok Elric kembali ke lokasi hutan tersebut, di dalam kabut itu mereka mulai mencari jalan masuk, para bayangan yang terlihat mulai menunjukkan dirinya dan seperti apa yang semua orang pikirkan mereka hanyalah zombie.
Pedang Elric mengiris leher mereka, dengan rapih, di saat yang sama Namira mengirim pukulannya yang mampu menghempaskan seluruhnya ke segala arah, untuk serangan akhir bilah angin Mariella memotong-motong mereka.
Akan lebih baik jika salah satu dari mereka bisa menggunakan elemen api, sayangnya hal itu mustahil.
Ketiganya terus melanjutkan perjalanan, di sela-sela perjalanan mereka kembali berhadapan dengan zombie hingga sampai ke sebuah gubuk kecil.
Terdengar suara-suara dari anak-anak yang mereka culik tanpa menunggu lagi Namira mendobrak pintu dan melihat anak-anak yang sedang dipasung, tangan mereka di tahan oleh paku besi, selain itu mereka masih hidup
Si penyihir mengambil buku dari balik jubahnya untuk memunculkan kabut hitam, sebelum dia tahu apa yang terjadi tubuhnya telah terbelah dua dan jatuh ke lantai.
"Aku benci sekali penyihir," ucap Mariella santai setelah mengirim bilah anginnya.
__ADS_1
"Kita selamatkan mereka dulu."
"Baik."