
Beberapa hari berikutnya Elric dan Anita berpamitan untuk melanjutkan perjalanan mereka, Fanilia hanya melihat kepergian keduanya dengan tatapan kesepian.
Dalam hatinya dia ingin sekali mencegah kepergian keduanya, akan tetapi dia tidak bisa mengambil lebih dari ini. Ia sudah memaksa Elric untuk menikahinya meskipun dalam kenyataan mereka hanya mengenal dalam waktu singkat.
Bagi Fanilia itu lebih dari cukup dari sekedar keegoisannya.
Mina yang berdiri di sampingnya memegangi tangan Fanilia seolah bisa merasakan perasaan hati yang sedih tersebut. Menyadari hal itu Fanilia segera mengelus rambut Mina.
"Aku tidak apa-apa," yang dibalas anggukan kecil.
Yang bisa Fanilia lakukan hanyalah mendoakan mereka serta menunggu keduanya kembali dengan selamat.
Di sisi lain Mariella hanya memperhatikan tanpa mengatakan apapun dan kembali bersama masuk ke dalam masion.
***
Di penginapan itu, di dalam kamar, Anita duduk selagi berkaca pada cermin, dia merapikan rambutnya kemudian mengikatnya ke atas sementara itu Elric hanya berbaring di ranjang selagi menatap langit-langit kamarnya.
"Apa Elric sedang memikirkan untuk membuat bayi?"
"Jangan mengatakannya secara langsung."
"Eh... harusnya seorang prialah yang mengatakan itu."
__ADS_1
"Berisik."
Elric membiarkan perkataan itu berlalu begitu saja, setelahnya dia menutupi wajahnya dengan rasa malu. Ia telah menikah di umurnya belasan tahun, lebih cepat dari yang bisa dibayangkannya sementara mentalnya masih belum siap.
Walau tubuh Anita terbilang mungil seperti seorang anak kecil di umur sekolah menengah pertama tetap saja pesona wanita dewasa darinya terlihat jelas.
Terkadang Elric memikirkannya, jika seseorang salah akan hubungan keduanya, apa dia akan ditangkap oleh pihak berwajib dan kemudian di jebloskan ke dalam penjara? Syukurlah sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi.
Fanilia, Anita dan Mariella memang memberikan kebebasan pada Elric untuk menikahi banyak wanita namun, baginya tiga orang istri sudah lebih dari cukup, bahkan di dunia lamanya hal seperti poligami sangat jarang ditemukan.
Anita tersenyum jahil lalu memeluk Elric dengan mata menggoda.
Elric hanya tersenyum masam, sekarang jika seseorang menyebutnya lolicon dia tidak memiliki perkataan untuk membela diri.
"Apa kau masih mencari orang yang memanggilmu ke dunia ini?"
"Aku masih ingin tahu alasan kenapa aku datang kemari?"
Anita diam sesaat sebelum melanjutkan.
"Aku pikir yang memanggilmu adalah Dewi."
Atas pernyataan itu, Elric sedikit terkejut selagi memiringkan kepalanya. Saat Anita menjelaskannya seperti apa yang dia jelaskan pada Mariella, ekpresi Elric terlihat telah menyadarinya.
__ADS_1
"Itu memang masuk akal, tapi apa Dewi Venus itu secantik itu, hingga para pengikutnya bunuh diri?"
"Cantik sekali, karena kecantikannya juga dia sangat berbahaya.. aku terkadang kasihan padanya, namun kenapa Dewi Venus tidak menemuimu dulu agar kau tidak bernasib seperti pengikutnya," ucapan Anita menempatkan dirinya setara dengan Dewi.
Elric mendesah pelan.
"Sepertinya begitu, tapi aku tetap ingin menemuinya."
"Kau yakin? Di dekat sini ada kuil satu-satunya bagi Dewi Venus, aku bisa mengantarkanmu ke sana."
"Tolong yah, agar hal buruk tak terjadi, aku akan menutup mataku sebelum bertemu dengannya."
Anita mengangguk mengerti hingga di pagi berikutnya mereka meninggalkan penginapan, Anita dengan santai kembali mengangkut peti mati di punggungnya selagi memegangi tangan Elric menembus kerumunan banyak orang yang disibukkan dengan aktivitas mereka.
Elric sempat ingin menyewa kereta akan tetapi semua kusir tidak ingin pergi ke tempat yang dikatakan sebagai tempat terkutuk tersebut, pada akhirnya keduanya memutuskan untuk berjalan kaki.
Mereka melewati padang rumput, sungai berarus kecil, kemudian lembah dan akhirnya sampai di sebuah desa yang sudah di tinggalkan. Desa itu terlalu luas hingga bisa disebut sebagai kota juga, di setiap bagian beranda rumah, ada tali-tali yang di bagian ujung simpulnya berbentuk lingkaran.
Tanpa harus ditanyakan, Anita menjelaskan.
"Ini adalah tempat di mana mereka semua gantung diri."
Aura dingin senyap menembus punggung Elric seperti layaknya sebuah pedang, desa ini jelas memberikan suatu aura yang mengerikan.
__ADS_1