The Little Apple Garden

The Little Apple Garden
Chapter 21 : Roh Serigala Dan Akhir Dari Penyihir Keserakahan


__ADS_3

Rumus menciptakan pedang di tangannya kemudian melangkah maju, dia memutar dirinya bersama dengan pedang di tangannya, bahkan ketika Mariella menghindarinya bilah anginnya masih bisa menyayat kulitnya serta menghancurkan tanah di sekelilingnya menjadi berkeping-keping.


Beruntung karena mereka tidak bertarung di tengah kota yang dipenuhi darah segar dari makhluk hidup, karenanya kekuatan Rumus tidak sepenuhnya bisa digunakan.


Semakin banyak darah yang bisa dikendalikan maka semakin kuat pula kekuatannya tapi hal itu tidak mungkin berpengaruh pada roh.


"Roh sepertimu memutuskan menjadi budak manusia, bukannya itu terasa menjijikan."


"Terserah apapun yang kau katakan tapi bagiku tuanku sudah sangat sempurna."


Mariella mempersempit jarak dengan Rumus, dengan berani dia memegangi kepalanya lalu membenturkannya ke lututnya sembari berputar ke belakang penuh gaya.


"Penyihir dosa begitu lemah, apa kau benar-benar penyihir?"


"Aku belum serius loh."


Saat Rumus mengarahkan satu tangannya seluruh permukaan tanah melayang ke udara termasuk tanah yang dipijak Mariella.


Selanjutnya.


Suara mirip tebasan kilat membelah mereka menjadi potongan dadu, Mariella menghindarinya dengan melompat ke belakang namun tangan kanannya terpotong kemudian berubah menjadi potongan kecil lalu lenyap menjadi butiran cahaya.


"Aku sudah mengatasi kelemahanku sejak lama, meski tidak ada darah di sekitarku aku masih bisa menggunakan cara ini."


Sekali lagi Rumus mengarahkan tangannya ke arah Mariella.


Lalu.


DUAR!!


Sebuah cahaya ditembakkan padanya membuat jalur mirip sebuah sungai dengan ledakan luar biasa yang menciptakan kawah raksasa sekitar 50 meter, terlihat Mariella hanya berbaring di pusatnya dengan wajah babak belur.

__ADS_1


"Pertarungan yang menarik, sekarang matilah."


"Kau yang akan mati."


Sebelum Rumus menggunakan kekuatannya pada Mariella, kedua tangannya dikunci oleh Namira dari belakang.


Dia berbisik ke arah Rumus.


"Hoyah, kau lengah.. aku masih hidup loh."


"Bagaimana bisa, aku yakin sudah membunuhmu barusan.. Jangan-jangan?'


"Kau terlambat menyadarinya, akulah penyihir yang kau inginkan tapi maaf saja, setelah aku, tidak akan ada lagi penyihir yang menyandang keserakahan."


"Lepaskanlah aku."


"Sekarang akan kugunakan kemampuan yang sama yang kau gunakan."


"Ketika kau siap mengambil nyawa seseorang maka kau juga sudah siap untuk kehilangan nyawamu sendiri, itulah aturannya."


"Selain aku tidak ada orang yang boleh hidup."


"Dosamu membuatku muak, selamat tinggal."


Tubuh Rumus meledak yang mana menjatuhkan seluruh potongan tubuhnya hingga berserakan, membasuh seluruh rerumputan dengan darah segar.


"Aku tidak bisa kembali seperti ini."


"Mangkanya jangan diledakan," balas Mariella mendekat, tangannya juga telah pulih kembali sedia kala.


"Mau bagaimana lagi, tak hanya menggunakan berkatku aku juga bisa meniru kekuatan seseorang yang kulihat, hanya saja aku hanya bisa menggunakannya sekali."

__ADS_1


"Pantas saja kau tak terkalahkan, lebih baik kau mandi dulu, biar aku yang membawa petinya."


"Kau sangat pengertian meskipun aku tidak suka perkataan kasar sebelumnya."


"Itu hanya akting, Yah, walaupun sebenarnya aku memang ingin bisa berduaan dengan tuan."


"Aku jelas tidak akan membiarkannya, aku lebih dulu bertemu dengannya karena itu aku lebih dulu."


Mariella hanya membuang wajahnya ke samping kesal lalu membawa petinya pergi bersamanya, di bawah air terjun dia duduk di atas peti selagi menatap Namira yang sedang telanjang selagi membasuh rambutnya.


"Ukuran segitu mana mungkin aku bisa kalah," senyum sinis Mariella muncul kepermukaan.


"Kau sedang membicarakan dadaku, kurang ajar... Aku akan menghajarmu."


"Siapa takut, kemarilah."


Keduanya saling bergulat di dalam air sampai akhirnya mereka kelelahan sendiri hingga mengambang di air.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau ingin membawa peti ini ke tempat bernama The Little Apple Garden?"


"Tempat itu sepertinya sangat berarti bagi Namira, aku hanya ingin memakamkannya di sana."


"Begitu."


"Akan lebih baik kalau kau mengembalikan namanya juga, dan kembali menyandang namamu sendiri."


"Aku belum siap untuk itu," perkataan Namira diselimuti kesedihan.


"Aku yakin tuan akan menerima seperti apa dirimu bahkan di masa lalu."


"Kuharap begitu."

__ADS_1


__ADS_2