
Di dalam tempat yang sangat gelap Elric melihat seorang gadis kecil menangis di depannya, di sekelilingnya orang-orang bertudung gelap membunuh penduduk di sekitar gadis itu tanpa ampun.
Selain teriakan tidak ada hal bagus untuk diucapkan.
Darah menyembur ke udara memberikan hujan darah ke segala arah dan saat Elric sadari gadis itu telah menatapnya dengan berlinang air mata.
"Selamatkan aku," bertepatan saat gadis itu meminta pertolongan sebuah pedang telah menembusnya dari belakang hingga Elric pun terbangun dan menyadari bahwa hari telah sore.
Dia melihat Namira maupun Mariella yang sudah kembali bersama peti matinya.
Melihat itu Mariella tidak menyiakan kesempatan untuk melompat ke arah Elric lalu memeluknya selagi mengibas-ngibaskan ekornya yang lebat.
"Tuan, tuan, kami sudah membuat makanan untuk kita semua."
"Ah ya, ngomong-ngomong bagaimana peti itu ada di sini?"
"Sepertinya orang yang membawanya tak sengaja menjatuhkannya."
Walau terasa aneh Elric memutuskan untuk tidak melanjutkan pertanyaannya lagi dan berdiri selagi membawa Mariella di gendongannya.
"Mari buat makanan dengan Mariella juga."
"Kejam sekali."
Dengan lembut Elric mendudukan Mariella di sampingnya, sementara Namira yang sedang asyik mengipasi ikan bakar memberikan satu kepada Elric.
"Sudah matang?" tanyanya.
"Tentu saja, rasanya pasti enak karena aku yang memanggangnya."
__ADS_1
"Ini memang enak."
"Syukurlah."
Tak hanya ikan, Namira juga memanggang jamur serta sayur-sayuran yang terlihat asing bagi Elric namun memiliki citra rasa tidak kalah enaknya dengan makanan yang pernah di makannya.
"Tuan, ada bekas makanan di dekat bibirmu, biar aku bersihkan."
Tentu yang dilakukan Mariella adalah menjilatnya dengan lidahnya, tak ingin kalah Namira juga melakukan hal sama.
"Kalian berdua, tolong jangan lakukan hal barusan lagi."
Tidak ada yang merasa harus mendengarkan perkataan barusan, yang ada kini entah Namira atau Mariella saling menatap dengan pandangan permusuhan, di sisi lain Elric hanya bisa memakan makanannya dengan perasaan bingung.
Soal mimpinya.
Serta soal situasinya.
"Ada apa Elric?"
"Aku baru bermimpi buruk."
"Mimpi buruk?" Mariella juga memberikan tanggapan yang sama.
"Kupikir aku melihat para penyihir sedang membunuh banyak orang, dan seorang gadis kecil meminta pertolongan ke arahku namun aku tidak bisa menyelamatkannya."
"Itu pasti cuma mimpi lebih baik tuan tak usah terlalu memikirkannya."
"Kurasa kau benar."
__ADS_1
Namira hanya diam memperhatikan, bagi dirinya yang seorang penyihir keserakahan yang haus pengetahuan bahkan jika itu mimpi dia selalu ingin mempelajarinya lebih jauh.
Menyadari gerak-geriknya aneh, Namira segera menggelengkan kepalanya lalu menikmati makanannya dalam diam.
Walau membuat tiga tempat tidur, itu hanya akan sia-sia jika Namira dan Mariella terus menyelinap ke tempat istirahat Elric, pada akhirnya Elric membiarkan mereka berdua tidur di sebelahnya.
Di kanan Mariella dan di kiri adalah Namira yang masing-masing memegangi tangan Elric.
Meski ukuran dada Namira tidak sebesar milik Mariella itu masih saja teras lembut, Elric akhirnya memutuskan untuk tidak menyinggung lagi soal ukurannya dan bersiap untuk menutup matanya.
Paling tidak udara dingin tidak akan terasa buruk pada tengah malam, gumam Elric dalam hati sampai sebuah suara membangunkan ketiganya.
Elric lebih dulu bangun untuk memeriksa keadaan, disusul Namira selanjutnya Mariella, dengan penciuman miliknya dia akan mudah mengetahui suara apa yang mendekat tersebut.
Tak lama kemudian kumpulan bola mata berwarna merah muncul dari setiap semak-semak, dan salah satunya semakin mendekat sebelum akhirnya menunjukkan wajah aslinya yang merupakan serigala gunung.
Bagi Mariella yang memiliki jenis yang sama dia terlihat baru bertemu dengan keluarganya, dengan ringan Mariella mengelus setiap bulu abu ditubuhnya hingga serigala itu memamerkan perutnya selagi menjulurkan lidahnya senang.
"Kau menyukainya. Hora... maaf tapi aku sudah punya pasangan."
"Oop.. oop."
Elric berbisik ke arah Namira.
"Apa serigala itu memang sangat jinak?"
"Mana mungkin, serigala liar sangatlah buas, bahkan mereka bisa mengalahkan seekor beruang hanya beranggotakan beberapa ekor saja."
"Berarti kita beruntung karena ada Mariella."
__ADS_1
Namira mengangguk mengiyakan.