The Little Apple Garden

The Little Apple Garden
Chapter 31 : Penyihir Api


__ADS_3

Sesampainya di tempat tujuan, ketiganya bersembunyi di dalam semak-semak, mereka menemukan beberapa penyihir berjalan mengawasi di sekitar perkarangan rumah.


Elric mengambil senapannya lalu menembak mereka dengan mudahnya, satu persatu rekan mereka tumbang tanpa bisa menemukan pelakunya, bersamaan itu entah Anita ataupun Mariella melompat keluar menerjang penyihir yang tersisa dengan kekuatan mereka.


Anita mengambil pukulan di wajah musuhnya hingga terpental ke segala arah sedangkan Mariella menggunakan kekuatannya tanpa kendala.


Keduanya menyelesaikannya lebih cepat dari yang dibayangkan Elric, saat ketiganya hendak membuka pintu seorang penyihir pria muncul dengan gagah, tidak seperti bawahannya yang menggunakan buku sebagai perantara, pria itu bisa menggunakan sihir secara langsung.


Ketiganya mundur ke belakang saat pria itu memunculkan kedua api di tangannya.


Elric yang sejak dulu merasa penasaran bertanya.


"Perlu roh untuk membuka gerbang mana bagaimana kalian bisa menggunakan mana tanpa bantuan mereka?'


"Mudah saja, pertama kami mengikat kontrak dengan salah satu roh kemudian memutuskannya."


Dugaan Elric selama ini memang benar tapi dari sinilah yang dia ingin ketahui.


"Kudengar kontrak roh sangat ketat, tanpa persetujuan kedua pihak sudah mustahil untuk dibatalkan."


"Mudah saja, dari awal kami memang membuat kontrak sesaat, seperti yang kubilang setelah gerbang mana dibuka kami langsung membatalkan kontrak, tentu saja kami juga memberikan imbalan yang mereka inginkan."

__ADS_1


"Apa yang diinginkan roh pada makhluk hidup?"


"Sebuah tubuh."


Tak bisa mencerna apa yang dikatakan pria itu, Elric melirik ke arah Anita.


"Apa maksudnya?"


"Roh juga ingin memiliki tubuh seperti manusia, tapi hanya tubuh homunculus saja yang bisa mereka gunakan."


"Tepat sekali, kami memberikan apa yang mereka inginkan dan setelahnya kami mendapatkan kekuatan juga."


"Tubuhku juga memiliki batas waktu, aku mengumpulkan mana untuk merubahnya menjadi tubuh, saat mana telah habis maka tubuhku yang seperti ini akan memudar, tapi jika kami menggunakan tubuh buatan kami bisa hidup tanpa harus beristirahat untuk memulihkan tenaga kami."


Jadi itu alasan kenapa Mariella kadang menghilang pada malam hari.


"Mari sudahi obrolan ini, aku yakin kalian ingin mengambil gadis itu sayangnya kami tak akan membiarkan kalian mengambilnya lagi, terlebih yang akan menjadi lawan kalianlah adalah aku, Piro."


"Mari kita lihat siapa yang jauh lebih unggul, kalian berdua majulah.. Biar aku yang menghadapinya," atas pernyataan Mariella, Anita dan Elric mengangguk mengiyakan.


Mariella melesat ke depan, dia menciptakan bilah angin ditangannya sebelum berhadapan dengan Piro.

__ADS_1


Piro bereaksi dengan itu dan lalu menembakan bola apinya, tentu tujuan Mariella adalah untuk membuat kedua rekannya bisa masuk ke dalam bangunan dengan mudah.


Mariella dengan sigap mencengkeram kedua tangan Piro, sementara itu Elric dan Anita lewat dari sebelahnya.


"Kau mengobarkan diri demi teman-temanmu, sungguh ironis."


"Siapa yang mengobarkan diri, melawanmu aku juga sudah cukup."


"Kau terlalu percaya diri, terbakarlah."


Seluruh tubuh Piro berubah jadi api yang mana membuat Mariella melompat mundur menjaga jarak, ia melirik kedua tangannya yang melepuh. Walau tubuhnya terbuat dari mana dia masih tetap merasakan sakit.


"Semakin besar angin yang berhembus maka semakin besar pula api yang akan tercipta, sayang sekali kau salah memilih musuh nona."


"Jika tidak dicoba mana kita tahu."


Mariella mengulurkan tangannya menembakan bilah-bilah angin dari sana kemudian disusul sebuah tornado yang yang cukup besar, di saat yang sama Piro pun menembakan apinya ke arah tornado untuk merubahnya menjadi tornado api hingga mampu merubah arahnya ke arah Mariella.


"Sudah kubilang angin hanya memperbesar seranganku saja."


Mariella hanya bisa mengatupkan mulutnya kesal lalu berlari untuk menghindari serangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2