
Di atas benteng itu Elric menatap kereta kuda yang telah memasuki kerajaan. Anita di sampingnya membungkuk rendah selagi berkata.
"Walau hanya ada satu kereta, sepertinya ada sekitar 50 penyihir yang telah memasuki kota."
"Jejak mereka sangat banyak."
Elric mengalihkan pandangan ke arah semua orang yang telah siap di posisi mereka. Menyadari hal aneh penyihir kemalasan Highway segera berbalik arah, bagaimanapun cukup mencurigakan bahwa seluruh tepung di tabur di setiap jalannya.
Sebelum kereta bisa keluar gerbang lebih dulu diturunkan untuk menutup jalan mereka.
"Mustahil, apa sebenarnya yang terjadi?" tanyanya kebingungan.
Elric mengangguk ke arah salah satu komandan pasukan hingga dia bersiul untuk membuat seluruh penjaga bermunculan lalu melemparkan seluruh tepung ke arah kereta.
Awalnya yang hanya di isi kusir dan Highway kini orang-orang yang sebelumnya tidak terlihat tampak dengan jelas. Malpora berteriak.
"Hilangkan tepung dari tubuh kalian lalu menyebar."
Tentu hal itu sudah terlambat, seluruh panah telah menghujani mereka dari segala arah menghabisi semuanya tanpa ampun kecuali Highway yang menggunakan Malpora sebagai perisai hidup.
"Ke-kenapa?" ucap lemas Malpora kemudian tubuhnya di lemparkan menghantam dinding hingga seluruh organ tubuhnya berserakan.
__ADS_1
Elric naik ke atas benteng selagi menyilangkan tangannya di depan, rambutnya yang halus tertiup angin bersama pakaiannya.
"Yo penyihir kemalasan, kita bertemu lagi."
"Kau? Bagaimana kau masih hidup? Aku yakin aku telah... jadi begitu, kau penyihir dosa keserakahan yang memiliki keabadian."
"Bicara apa kau? Aku ini hanya manusia biasa."
"Jangan berbohong, kalian semua... ini jebakan. Aku bukan penyihir, dialah penyihir sesungguhnya. Aku bahkan tidak mengenal siapapun dari mereka."
Semua orang yang bersiaga tampak tak memperdulikannya, saat Highway melirik ke arah salah satu penjaga akhirnya dia mengerti sesuatu, sebagian dari mereka merupakan penjaga yang bekerja untuknya di wilayahnya sendiri.
Elric mengangkat tangannya kemudian menjatuhkannya agar semua orang menembakan panah berikutnya.
Para kesatria yang bersemangat serempak menyerang ke arahnya tanpa memperdulikan peringatan Elric alhasil seluruh tubuh mereka terkoyak-koyak bagaikan sebuah dedaunan yang terpotong oleh sebuah pedang, kepala mereka berterbangan bersama hembusan angin yang memotong tanpa arah.
Darah, tangan dan kaki mereka memenuhi seisi jalan hingga tepung putih yang sebelumnya telah ditebar menjadi berwarna merah.
Itu adalah sihir yang bisa mengendalikan angin, tak hanya angin, cincin tengkorak yang dipakai Highway bisa membuatnya menciptakan berbagai sihir.
Dia tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Biarlah, meski rencanaku ketahuan aku masih sanggup mengambil seluruh kerajaan ini... tapi pertama aku akan membunuhmu."
Highway melompat di udara dengan sihirnya sementara Elric hanya diam tanpa bergerak selagi mengejeknya.
"Apanya yang penyihir kemalasan, kau masih gigih."
"Mati kau, sialan."
Tepat saat Highway ingin mematahkan leher Elric. Anita lebih dulu muncul. Kemunculannya yang tiba-tiba membuat Highway terkejut namun sudah terlambat untuk menghindari serangan.
Pukulan Anita tepat mengenai wajahnya hingga dia menukik ke permukaan tanah dengan dentuman keras membuat material tanah menyembur ke atas bersamaan asap yang mengepul ke udara.
Elric merangkul pinggang Anita lalu bersama-sama dia menggunakan tali yang sebelumnya sudah dipersiapkan untuk turun, dengan menggunakan sarung tangan dia dengan mudah meluncur ke bawah dan Anita yang menahan pijakannya.
"Anita bukannya kau sedikit lebih berat."
"Tidak sopan, aku selalu menjaga berat badanku."
Di depan keduanya Highway berteriak.
"Sebenarnya kalian ini siapa? Kalian tidak bisa dibunuh... yang satu memiliki berkat penguatan fisik dan satu lagi orang gila yang merepotkan."
__ADS_1
Elric tersenyum sebagai balasan.
"Kau akan tahu saat melawan kami berdua."