
Di pekarangan masion itu tampak Elric dan Namira berdiri saling berhadapan, atmosfir yang diberikan pada keduanya berbeda seolah ada jarak diantara keduanya. Kendari demikian, Elric harus menanyakan apa yang selalu dipikirkannya.
"Namira, berbicara sesungguhnya padaku, apa kau sebenarnya adalah penyihir keserakahan Alina?"
Namira mengepalkan tangannya yang sejajar di paha selagi menggigit ujung bibirnya, sudah tidak ada alasan lagi untuk menyembunyikan hal ini dari Elric, lambat laun dia juga akan tahu.
Namira menguatkan dirinya lalu membuka mulutnya untuk menjawab.
"Itu benar, sesungguhnya namaku Alina dan yang ada di dalam peti tersebut merupakan Namira."
Namira berhenti sejenak untuk mengutarakan semua hal yang terjadi padanya, dari awal dia dibuang di hutan bersalju, diadopsi oleh sosok yang bisa dibilang sebagai ibunya sampai rencana kebodohannya untuk membangkitkan orang mati.
Hal itu diutarakannya dengan jelas.
Keheningan terasa diantara mereka berdua, jika ini adalah akhir bersama Elric, Namira merasa tidak keberatan, untuk dirinya yang dijuluki penyihir sudah sepantasnya orang menjauhinya atau mencemooh dengan perkataan kasar meski begitu jawaban Elric begitu tenang.
"Begitukah, sudah malam kita juga lebih baik tidur."
"Tunggu sebentar Elric, katakan sesuatu seperti kau menjijikan atau penipu."
"Kenapa aku harus mengatakan itu, Namira yang kukenal adalah Namira yang sekarang, aku tidak peduli dengan masa lalumu atau kau ini penyihir atau tidak, aku tetap akan bersamamu dan mengantarmu ke tempat itu."
"Tapi aku ini orang jahat."
__ADS_1
"Selagi kau masih hidup kau bisa menebusnya, meskipun aku tidak tahu kau akan dimaafkan atau tidak."
Air mata jatuh di pipi mulus Namira.
Elric yang melihatnya berjalan mendekat lalu memeluknya dengan erat.
"Kupikir tidak baik jika kau merebut nama Namira, alangkah lebih baik kau menggunakan nama yang lain dan biarkan dia memiliki namanya kembali, entah orang membencimu atau menjauhimu aku akan terus bersamamu."
"Elric."
Elric hanya mengelus rambut Namira dengan pelan, tanpa diketahui keduanya entah itu Mariella, Mina atau Fanilia ketiganya menonton selagi bersembunyi di balik semak-semak.
Keduanya saling menjauh satu sama lain dan Namira berkata.
"Lalu nama seperti apa yang cocok denganku?"
"Tentu saja, kau yang memintaku untuk merubah namaku jadi sudah sewajarnya."
"Apa yang bagus?"
Elric bisa saja meminta Namira menggunakan nama sebelumnya, hanya saja itu akan membuatnya tidak nyaman, Namira ingin melupakan masa lalunya yang kelam begitu juga orang lain tidak ingin mendengar nama Alina kembali.
Setelah beberapa saat memikirkannya satu nama muncul di dalam kepala Elric.
__ADS_1
"Anita"
"Anita?" Namira memandang Elric penasaran.
"Yah, kurasa itu nama yang imut bagi gadis imut sepertimu."
Pipi Namira berubah merah merona.
"Kalau begitu namaku Anita, bukannya sudah saatnya kalian muncul."
"Ketahuan yah," Mariella keluar dari semak-semak lebih dulu disusul dua orang lainnya.
"Sejak kapan."
"Aku hanya penasaran apa yang terjadi saat wanita dan pria bertemu di malam hari di udara yang sedingin ini," atas pernyataan Fanilia, Elric hanya tersenyum pahit.
Mina menambahkan.
"Yah, kalian semua akan jadi keluarga yang baik."
Semua orang hanya tersenyum sebagai balasan.
Walau Mina terlihat seorang anak kecil, umurnya lebih tua dari yang terlihat.
__ADS_1
Keesokan paginya seluruh kawasan kerajaan digemparkan dengan pernikahan sang putri, pangeran kerajaan lain yang mengincar sosok Fanilia terlihat shock dan memutuskan untuk mundur.
Mereka tidak terlalu bodoh untuk mengirim pembunuh bayaran demi mengincar Elric terlebih dalam situasi penyihir seperti ini.