The Little Apple Garden

The Little Apple Garden
Chapter 11 : Mariella


__ADS_3

Ke mana Elric dan Namira berjalan, sosok wanita serigala itu terus mengikutinya. Elric menarik napas panjang lalu memanggilnya dan berkata.


"Aku mengerti, kau boleh ikut dengan kami."


"Terima kasih banyak."


"Walau dia bukan roh api atau es, aku pikir sangat membantu jika Elric mau membuat kontrak dengannya."


"Aku juga berfikir demikian, aku rasa aku akan memilihmu saja."


"Itu berarti hanya aku yang menjadi pelayanmu."


"Dibanding pelayan bagaimana kalau kita berteman saja."


"Itu mustahil, aku hanya menerima hubungan pelayan dan tuan."


"Begitukah."


Wanita serigala itu mengibas-ngibas ekornya lalu mengangguk dengan senang, Namira mendekat ke arahnya dan berkata.


"Tangan."


"Oop... Oop."


Elric yang yang memperhatikan menarik pipi Namira.


"Sakit, sakit."


"Jangan perlakukan dia seperti hewan."


"Maafkan aku."


"Lalu bagaimana cara membuat kontraknya?"


"Mudah saja, kita hanya saling menempelkan tangan."


Elric mengikuti apa yang dikatakannya dan lalu tangan mereka bersinar sesaat sebelum menghilang dalam sekejap.

__ADS_1


"Setelah ini tuan bisa harus menamaiku.. sudah sewajibnya tuan memberikan nama."


"Bagaimana kalau Mariella."


"Itu nama bagus."


Saat kami saling tersenyum Namira yang sejak tadi memperhatikan tertawa lepas.


"Apa ada yang lucu?" tanya Elric penasaran.


"Bukan apa-apa, hanya saja kontrak yang barusan bukan kontrak yang biasa dilakukan banyak orang, kontrak yang kau setujui adalah kontrak seumur hidup dengan cara memberikan nama pada rohmu."


"Apa itu buruk?" Elric kembali bertanya.


"Cuma rohmu akan terus menempel padamu, tidak lebih."


Saat Elric sadar Mariella telah memeluknya dari belakang.


"Jadi ini maksudnya menempel, Mariella apa kau pernah mendengar nama The Little Apple Garden?"


"Kau yakin."


"Kalau tidak salah aku pernah mendengarnya 100 tahun lalu, karena jarang dikunjungi orang aku rasa sudah tidak ada manusia yang mengetahuinya."


Namira memegangi kedua tangan Mariella dan berkata.


"Aku menyukaimu."


"Ba-baik, apa aku akan baik-baik saja nanti tuan?"


"Berharap saja Namira tidak menyelinap ke tempat tidurmu, dia selalu melakukannya padaku."


"Itu sungguh mengerikan."


Elric menghela nafas panjang lalu memanggil keduanya untuk mengikuti dirinya, ujung timur sangatlah jauh dan itu perlu berbulan-bulam untuk mencapainya.


Mariella mengibaskan ekornya sambil duduk di atas batu dengan buah apel di tangannya, sementara dia sibuk memanjakan dirinya, Namira sedang membersihkan peti mati dengan sapu tangannya sedangkan Elric tengah membuat persiapan untuk tidur mereka, menggunakan alas dedaunan dan semak-semak adalah tempat nyaman untuk dijadikan alas tidur.

__ADS_1


"Tuan, aku pikir aku hanya akan tidur di dekatmu saja," kata Mariella setelah menggigit setengah apelnya, disusul selanjutnya Namira.


"Aku juga begitu, kita harus saling mendekatkan tubuh kita agar menjaga tetap nyaman."


"Tidak, tidak, aku mengerti dengan apa yang diinginkan Mariella, tapi jika itu kau aku yakin kau memiliki niat yang lain."


Namira mendesah pelan lalu menatap Elric dengan pandangan memelas, bagi Elric itu pandangan seekor kucing yang meminta dipelihara.


"Aku wanita dewasa yang sedang tumbuh."


"Itu masalahnya," jawab Elric dengan suara yang nyaris tak bisa didengar keduanya.


Mari abaikan hal itu dulu untuk saat ini.


Elric yang sudah selesai dengan pekerjaannya berjalan ke arah peti mati dan untuk sekali lagi dia memeriksa sosok wanita di dalam peti tersebut, Namira dan Mariella turut mengawasi dari belakang.


Dengan ragu Elric menyentuh bagian dadanya, dia pikir dia bisa merasakan detak jantung dari wanita itu, namun seperti semua orang tahu itu benar-benar dingin.


"Aku masih penasaran, jika dikatakan Namira benar kenapa dia bisa bergerak."


"Mungkinkah, ini ritual terlarang."


"Ada kemungkinan seperti itu, lalu Mariella apa kau tahu sesuatu?"


"Kami adalah roh sudah jelas kami tidak tahu konsep dari kematian, tubuh kami bisa hancur tapi seiring waktu pecahan roh kami akan menyatu kembali kemudian membentuk wujudnya sendiri."


"Well... This is a fantasy world."


"Aku bisa memuaskan tuan tapi jika ingin punya keturunan dariku itu mustahil."


Elric mendesah pelan.


"Aku sama sekali tidak ingin menanyakan hal itu, menurut para penyihir mereka ingin meminum darah dari penyihir keserakahan, aku yakin berita tentang kita sudah menarik banyak orang, terutama ketujuh penyihir dosa besar."


Namira dan Mariella hanya mengangguk sebagai jawaban atas pernyataan Elric tersebut.


Mereka jelas telah menjadi incaran semua orang, namun tanpa disadari mereka, tidak hanya penyihir yang menginginkan keabadian akan tetapi orang-orang penting dari negara ini pun memiliki niat sama.

__ADS_1


__ADS_2