
Menambahkan kekuatan pada pijakannya, Namira mengirim dirinya dengan hentakan kaki hingga terbang meluncur ke udara, di sisi lain pria penyihir yang dikejarnya memanggil burung yang mana mampu membawanya terbang menjauh.
Si penyihir berbalik lalu dengan dua kalimat "Fire Ball," menembakan bola api ke arah Namira.
Penyihir tingkat atas memang memiliki variasi dalam penggunaan sihir dan mereka cenderung memiliki banyak sihir untuk dirinya sendiri. Namira menjadikan sebuah bangunan sebagai pijakannya demi menghindari bola-bola api tersebut.
Namira berkata dengan suara keras.
"Sebaiknya kau mengatakan apa yang kalian penyihir lakukan di sini?"
"Berisik, ini bukan urusan gadis tepos sepertimu."
"Aku benar-benar akan membunuhmu."
Bahkan berlari membawa peti mati di punggungnya Namira sama sekali tidak kesusahan. Dia kembali melompat tepat di atas si penyihir kemudian menekankan kedua kakinya di wajahnya hingga jatuh meledak ke tanah.
Si penyihir bangkit dengan debu menyelimuti tubuhnya sedangkan burung yang dia gunakan telah lenyap seutuhnya.
"Bagi seorang yang memiliki berkat kau sangatlah kuat, sebenarnya kau ini siapa?"
"Namaku Namira, seorang gadis yang suka berpetualang, dan kau?"
"Desel, seorang penyihir kelas atas, salam kenal."
"Apa kau melayani dosa besar?" saat Namira menanyakan itu Desel tertawa terbahak-bahak selagi memegangi perutnya dan berkata.
__ADS_1
"Dosa besar, mereka sudah menjadi sejarah sekarang, dosa besar hanyalah ada di masa lalu, sekarang sudah waktunya generasi mereka digantikan dengan pemimpin yang sebenarnya."
Namira menyipitkan matanya menunggu perkataan Desel selanjutnya.
"Ketika kegelapan menyelimuti dunia ini maka sang penguasa sesungguhnya akan terlahir kembali, dia adalah seseorang yang menelan segalanya serta memakan jiwa-jiwa terkutuk."
"Itu berarti saat gerhana matahari, dengan kata lain kau ingin membangkitkan penyihir kegelapan yang dulu menelan ketujuh dosa besar."
Sekarang pandangan Desel yang terbelalak terkejut.
"Bagaimana kau bisa tahu semua itu?"
"Hal itu termasuk pengetahuan umum yang diketahui banyak orang," balas Namira meletakkan peti matinya dan bersiap dengan posisi kuda-kudanya.
"Terserahlah, meski kau tahu rencanaku aku akan tetap membunuhmu... Dengan jiwaku aku memanggil sang bencana dari neraka terdalam, Dragon Flame."
"Habisi dia."
Sang naga meluncur dengan kekuatan luar biasa memaksa Namira melompat ke bangunan untuk menghindarinya, setiap dia bergerak bangunan yang dipijaknya hancur lalu meledak menjadi kepingan batu bata.
Boom.
"Inilah kekuatan diriku sebenarnya, dengan kekuatan ini bahkan penyihir dosa besar bukanlah apa-apa."
"Mengandalkan makhluk panggilan adalah sesuatu hal pengecut, kau tidak pantas menyebut dirimu kuat atau semacamnya."
__ADS_1
"Berisik kau, apa yang kau tahu tentang penyihir, dasar gadis cebol."
"Siapa yang kau panggil cebol?"
Namira melompat ke atas saat rahang naga itu hampir menerkamnya ke dalam rahangnya, memanfaatkan gravitasi, Namira mengepalkan tinjunya lalu tepat meninju kepala naga tersebut hingga dia sempoyongan ke belakang. Untuk Namira sendiri dia melompat ke depan peti matinya yang masih utuh.
Naga itu meraung menyemburkan material dari mulutnya.
"Dengan ini kau akan mati.. Aaaaaaaa," si penyihir memberikan seluruh energi miliknya pada hewan panggilannya hingga tubuhnya semakin besar, besar dan besar.
Api di tubuhnya pun semakin menyala-nyala.
Di sisi lain Namira menyiapkan tinjunya, ia menarik tangan kanan ke belakang sementara tangan kiri di depan selagi memasang kuda-kuda sempurna.
Saat ular itu meluncur ke depan bagaikan kereta api tak terhentikan, Namira melepaskan tinjunya membelah udara menghasilkan suaranya lengkingan yang menyayat telinga, udara itu menghantam naga dari depan menghancurkan segala tubuhnya sampai menjadi puing-puing kecil lalu hancur tak tersisa.
Si penyihir ingin melarikan diri sayangnya Namira sudah berada di depannya, dengan sekali pukulan tubuhnya di dorong ke belakang menembus rentetan dinding bangunan lalu tertahan di salah satunya sebelum jatuh tersungkur ke depan.
Namira berjalan mendekat setelah mengambil peti matinya.
"Sekarang aku tahu siapa kau sebenarnya," ucap Desel selagi menahan batuk darah yang menyakitkan.
"...."
"Kau adalah si penyihir keserakahan Alina," bersama ucapannya si penyihir telah menyerah dan mati dalam sekali hembusan nafasnya, di sisi lain Namira hanya diam dengan rambut putih pucatnya yang berkibar tertiup angin dan mengkilap tertimpa sinar matahari pagi yang telah muncul dari balik pegunungan.
__ADS_1
"Aku sudah membuang nama itu sejak lama."