The Little Apple Garden

The Little Apple Garden
Chapter 48 : Penyihir Di Bukit Air Terjun


__ADS_3

Setelah memeriksa sumur, Elric juga memeriksa sungai, berbeda dari seharusnya, sungai itu berwarna ungu serta mengeluarkan aroma racun.


Tanpa mengatakan apapun sudah jelas seseorang sengaja melakukannya terlebih pelakunya menggunakan jasa penyihir untuk membuatnya.


"Apa Anita bisa mengembalikan sungainya?"


"Mustahil, sungai ini dicampur dengan berbagai ramuan beracun dalam jangka waktu panjang."


Dewi Venus muncul dari saku baju Elric dan berkata.


"Paling tidak sekarang mereka memiliki air, racun ini akan terus mengalir dan hilang secara alami jika seseorang yang melakukannya bisa kita tangkap."


Pada akhirnya ketiganya menyusuri aliran sungai ke bagian paling awal air ini berasal, yaitu dari air terjun di atas bukit.


Setelah perjalanan lama mereka bersembunyi di balik pohon dan menemukan orang-orang berjubah hitam yang dipimpin penyihir tingkat atas menjatuhkan beberapa tong kayu dengan cairan aneh.


"Hiyah, lakukan dengan cepat... sehari kita perlu membuang sekitar 10 tong, jika tidak kalian tidak akan dapat uang, dengar kalian."


"Baik."


Orang yang menyuruh anak buahnya itu berpenampilan aneh dengan jubah panjang serta mahkota mirip seorang raja.


Elric bertanya pada Anita untuk mengkonfirmasi bahwa lawannya bukan salah satu penyihir pendosa dan Anita mengangguk sebagai jawaban.


Jika bukan, mereka tidak akan kesulitan seperti sebelumnya.


Elric menjulurkan senapannya untuk mengunci targetnya, sayangnya musuh sudah berada di depannya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" mendapatkan kejutan itu, Elric mundur untuk menjaga jarak.


Orang yang sebelumnya dia lihat dari kejauhan tiba-tiba muncul di depan matanya selagi duduk melayang secara terbalik.


Anita yang mengetahui ada sesuatu yang aneh, mengeluarkan pisau lalu menusuk kepalanya, hingga darah menyembur layaknya air mancur.


"Hah? Kau berusaha membunuhku, dasar penyihir pendosa."


SRAK.


Tubuh Anita terbelah dua dari pinggang, dia tidak membawa peti matinya hingga hanya dirinya saja yang menerima serangan tersebut.


Dewi Venus berkata.


"Walau bukan penyihir pendosa, orang ini kuat."


"Iya."


Semua bawahannya mengepung Elric dari segala arah, sementara Anita berusaha meraih potongan dirinya untuk bisa menyambungkannya kembali.


Di sisi lain pria aneh itu melayang mendekati Elric.


"Siapa kau?"


"Namaku tidak penting, aku penyihir seperti yang kau lihat.. bagaimana seorang sepertimu bisa bersama penyihir keserakahan?"


"Kau langsung tahu bahwa Anita penyihir keserakahan."

__ADS_1


"Ini berkat mataku, aku bisa melihat semua yang orang sembunyikan."


SRAK.


Tangan Elric hancur beserta senjata miliknya hingga berkeping-keping, Elric hanya membantu selagi memegangi lengannya mencoba untuk menahan rasa sakit.


"Setiap benda yang kulihat bisa kutebas, sebaiknya kau mengatakan apa keperluanmu hingga datang kemari?"


Sebelum dia mengatakannya, Anita telah melompat di bahu pria tersebut, dia menekuk lututnya untuk mencengkeram bagian leher kemudian menusuk kedua matanya dengan pisau.


"Aaaaaaaaarh."


"Elric tusuk jantungnya. Selain itu, dia akan pulih sendiri."


"Aku mengerti."


"Apa yang kalian lihat... cepat serang mereka."


Setiap penyihir yang mengepung keduanya mengeluarkan buku di tangan mereka selagi menembakan sihir, sayangnya Elric lebih dulu menusuk musuh di depannya hingga dia terbunuh sebelum akhirnya Anita mencengkeram kerah Elric lalu membawanya untuk bersembunyi di balik pohon.


Tangan Elric sudah kembali sedia kala sementara senjatanya jelas telah rusak total.


"Mereka keras kepala sekali walaupun pemimpin mereka telah mati."


"Bagaimana Anita tahu bahwa orang itu hanya bisa mati dengan ditusuk jantungnya?"


"Mudah saja, setiap penyihir akan mati jika ditusuk di area tersebut kecuali mereka abadi."

__ADS_1


Dengan kata lain yang barusan hanya coba-coba.


__ADS_2