The Little Apple Garden

The Little Apple Garden
Chapter 43 : Pulau Di Atas Awan


__ADS_3

Dalam perjalanan selanjutnya Elric telah menempuh beberapa dataran tinggi untuk sampai di tempat peristirahatan selanjutnya, yaitu sebuah kota yang berada di atas langit sering disebut sebagai kota suci.


"Aku pikir aku akan beristirahat di sini dulu."


"Jangan malas Elric, gunakan tenagamu lebih kuat lagi."


"Dewi hanya berada di kantong bajuku jadi Dewi tidak tahu selelah apa kakiku ini."


Dengan nafas berat Elric menjatuhkan dirinya terlentang menatap langit, di sampingnya Anita pun menjatuhkan peti matinya lalu bersandar di pohon.


"Kita sudah berjalan selama dua minggu dan belum menemukan kota ataupun desa yang bisa dijadikan untuk beristirahat."


"Mau bagaimana lagi, ini adalah kawasan hutan tanpa penduduk, satu-satunya tempat hanyalah kota suci itu," balas Anita mengipas-ngipasi tubuhnya.


Dalam perjalanan selama ini, Elric selalu dihadapkan melawan penyihir dan sekarang dia harus menghadapi ketidaknyamanan tinggal di hutan.


Yang masih bisa santai hanyalah tupai di saku pakaian Elric.


Tanpa mengatakan apapun lagi mereka kembali melanjutkan perjalanan, setelah melewati hutan akhirnya mereka sampai di kota suci, yaitu sebuah kota melayang di atas sebuah padang rumput.


Sekarang pertanyaannya bagaimana cara untuk pergi ke sana.


Jawabannya sederhana yaitu menggunakan pengendalian roh angin milik Elric, lagipula kebanyakan di atas sana mungkin memiliki hal yang serupa.


Elric mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Anita hingga keduanya melayang sebentar sebelum akhirnya menginjakkan kakinya di kota yang dimaksud.


Tidak jauh berbeda dengan kota yang berada di bawah permukaan, bangunan di sepanjang jalannya dihiasi berbagai kios, toko bahkan penginapan juga. Penyihir jelas dilarang memasuki kota ini, dan sebisa mungkin mereka harus mampu menyembunyikan identitas Anita.


Di depan penginapan itu, Elric menyewa satu kamar untuk mereka tinggali selama tiga hari, setelah berisitirahat sebentar keduanya mulai menyusuri kota tanpa membawa senjata apapun.


Setiap bangunan di sini hampir seluruhnya di cat warna putih sementara jalanannya dihiasi dari bebatuan marmer yang indah.


Beberapa pendeta terlihat lebih banyak dibanding penduduk lainnya dan ketika mengalihkan pandangan ke arah kota ada sebuah katedral megah bagaikan sebuah Istana.

__ADS_1


"Apa mereka pengikut Dewi lain?"


"Sepertinya begitu," balas singkat Anita sementara Dewi Venus hanya diam memperhatikan.


Para pendeta wanita itu mengenakan gaun hitam tipis tembus pandang dengan sobekan pinggir dari kaki sampai pinggang dan di kepala mereka menggunakan tudung yang khas dari seorang suster.


"Ah kurasa ini tempat Dewi Iris."


"Kau yakin?" tanya Anita pada Dewi Venus.


"Tidak salah lagi, apa kalian melihat pendeta pria di sini?"


"Memang benar tidak ada."


"Apa ada sesuatu?" potong Elric yang tidak tahu apapun dan Dewi Venus yang menjelaskan.


"Pengikut Dewi Iris disebut sebagai pengikut yang paling membenci iblis dan masing-masing dari mereka dilatih untuk memburu mereka."


"Tepat sekali, mereka semua menggunakan berkat."


Berkat adalah sebuah kemampuan seseorang yang dibawa sejak lahir, seperti Anita yang memiliki kekuatan peningkatan fisik selain sihirnya.


Salah satu pendeta mendekat ke arah mereka lalu menyapa ramah.


Ia memiliki rambut pirang panjang hampir menyentuh kaki, dan jika memfokuskan lebih jauh lagi dia sama sekali tidak memakai apapun di dalam gaun hitamnya.


"Selamat siang, apa kalian pendatang."


"Iya, kami hanya tinggal sebentar di sini karena dalam perjalanan."


"Begitu, kuharap kalian suka dengan kota kami... beberapa hari ini aktivitas penyihir sangat meningkat, kami selalu sibuk menghabisi mereka, kuharap kalian tidak terganggu dengan hal itu."


"Kalau boleh tahu, apa yang kalian lakukan pada penyihir?" tanya Elric.

__ADS_1


"Kami membakarnya di tiang," katanya selagi tersenyum riang lalu melanjutkan.


"Kuharap kalian bukan penyihir juga."


"Aku kontraktor roh meskipun roh yang kukontrak tinggal di kota lain."


"Heh, begitukah... lalu dia?"


Sudah jelas pendeta ini mencurigai mereka.


"Aku pemilik berkat."


"Berkat kah... kami akan senang kalau kamu mau bergabung dengan kami."


Elric jelas merasakan tingkat berbahaya di level tertinggi, ketika dia ingin segera melarikan diri, wanita di depannya menariknya mendekat lalu memasukan lidahnya dalam mulutnya.


Otak Elric langsung membeku sementara Anita terdiam kaget.


"Jangan menolak, keluarkan lidahmu."


"Apa-apaan ini?" teriak Anita dan Dewi Venus keluar dari baju Elric untuk pindah ke bahu Wanita tersebut.


Tangan mungilnya terus mengirim tinju kecil ke pipinya.


"Hentikan, kau jangan melakukan hal tidak senonoh di depan pengikutku."


Setelah beberapa saat akhirnya Elric bisa melepaskan diri dengan wajah memucat.


"Maaf, maaf, aku cuma menggoda kalian."


"Apa maksudnya ini?"


"Biar aku perkenalkan diriku, namaku Iris aku seorang Dewi... tapi jangan mengatakannya pada siapapun, oke," jawabnya selagi menjulurkan lidah dengan pose nakal.

__ADS_1


__ADS_2