
Pagi hari itu, Anita dan Elric telah memulai penyelidikannya, menyusuri jalanan utama kota mereka mulai dengan seksama memperhatikan setiap orang yang mereka lewati.
Walau iblis bisa meniru wujud manusia, ada beberapa bagian tubuh yang tidak bisa mereka sembunyikan yaitu tanduk maupun ekor.
Selagi memfokuskan hal itu, Elric terus memperhatikan pantat wanita di depannya yang bergoyang ke kiri ke kanan.
Anita memegangi kerahnya.
"Lihat juga yang pria."
Jelas Elric tidak bisa melakukannya, melihat pria membuatnya akan jijik, ketika mereka saling mempermasalahkannya... Dewi Venus menunjuk ke orang yang sedang membeli makanan dari penjual di tepi jalan, ia memakai jubah bertudung hingga hampir seluruh bagiannya tertutup baik.
"Dia orang yang mencurigakan," tungkas Anita sebelum memfokuskan pandangan ke arahnya, tak lama seseorang tak sengaja menubruknya hingga ekor iblis yang dia sembunyikan menyeruak keluar.
"Dia orangnya, kejar dia," mengikuti arahan Elric, semua pendeta yang melakukan hal sama bersama-sama mengejar.
"Sialan," umpat pria tersebut.
Anita memperkuat kakinya untuk melompat jauh meninggalkan angin debu di belakangnya, iblis yang mulai panik berbelok ke gang dan akhirnya terjebak di jalan buntu.
Para pendeta dan Elric berhasil mengikutinya dan iblis itu membuang jubahnya.
__ADS_1
"Kau tidak bisa lari lagi, kita harus segera menghabisinya."
Pria Iblis itu tersenyum atas pernyataan Anita selagi mengeluarkan pedang pendek dari balik pakaiannya, para pendeta mengeluarkan sihir suci namun Anita yang sudah tahu apa yang iblis itu lakukan segera meminta semua orang menunduk.
Pria di depan mereka menusukan pedang di tangannya pada dadanya sendiri, bersamaan itu, ledakan bercampur hempasan angin menyapu seluruh bangunan hingga berterbangan.
Setelah ledakan itu berhenti sesosok iblis setinggi 25 meter telah berdiri di depan mereka, iblis itu memiliki wajah berbentuk kerbau dengan tubuh manusia serba merah, dari setiap kulitnya menyemburkan asap panas ke udara.
"Dia pasti sudah memakan jantung lebih banyak dari yang kita bayangkan," ucap salah satu pendeta sebelum akhirnya meminta semua orang mundur.
Anita memegangi tubuh Elric lalu melompat ke atas bangunan tinggi, mereka bisa dengan jelas iblis yang sedang menghancurkan pemukiman.
"Benar-benar mengerikan, aku yakin bahkan dengan senjataku, itu tidak akan mempan."
Selagi membawa peti mati di punggungnya Anita melompat dari bangunan ke bangunan lain, tepat di depan wajah Iblis itu, Anita mengirim tinju dari tangannya hingga iblis itu terdorong sedikit ke belakang, hanya saja, itu tidak cukup kuat untuk membuatnya tumbang.
Sebagai balasan Iblis menangkap tubuh Anita sebelum dia lemparkan kembali menubruk beberapa rumah.
"Bagaimana ini Dewi Venus? Apa Anda bisa melakukan sesuatu?" tanya Elric.
"Aku saat ini sangat lemah, aku tidak melakukan apapun tapi kurasa Iris bisa berbuat sesuatu."
__ADS_1
"Tepat sekali," Dewi yang dimaksud muncul tiba-tiba di dekat Elric, dia melanjutkan.
"Dewi memang dilarang untuk ikut campur dengan dunia ini meski begitu mereka masih bisa memberikan kekuatan pada utusan terpilih.. apa kau mau mengambilnya dengan menjadi pengikutku?"
Elric hanya bisa terdiam memikirkannya.
Dia bisa menjadi pengikut Dewi Iris, kendati demikian dia juga pasti tidak akan bisa menjadi pengikut Dewi Venus lagi.
Dewi Venus berkata.
"Aku tidak keberatan Elric, tak apa.. nanti juga mungkin aku akan memiliki pengikut baru, lebih penting kita harus menyelamatkan semuanya."
Setelah memikirkannya Elric mengangkat wajahnya dengan tekad kuat.
"Maaf Dewi Iris, aku akan tetap bersama Dewi Venus.. untuk situasi ini, aku akan melakukan sesuatu."
"Elric."
Saat akan hendak melompat, Dewi Iris memegang tangan Elric yang kebingungan.
"Sungguh disayangkan, sepertinya Venus memiliki pengikut terbaik.. walau kau tidak menjadi pengikutku aku tetap akan membantumu, lagipula ini adalah tempat anak-anakku."
__ADS_1
"Kalau begitu sejak awal kau harusnya mengatakannya," teriak Dewi Venus.
"Aku hanya sedang bertaruh, kau tahu," balas Dewi Iris jahil.