
Setelah berpamitan pada kepala desa kelompok Elric pergi ke sebuah kota di mana tempat bangsawan itu berada.
Kota ini begitu besar dengan pilar-pilar mirip menara di tempatkan di mana-mana, penduduknya terlihat bahagia namun tanpa mereka ketahui bahwa orang yang mereka kagumi telah menyewa penyihir untuk menghancurkan desa yang tidak bersalah.
Melihatnya, Elric hanya bisa menggigit ujung bibirnya dengan perasaan marah. Tepat saat mereka sampai di mansion, seorang pelayan mempersilahkan masuk.
Anita sesaat berhenti di depan pintu karena merasakan energi yang aneh namun dia segera mengurungkannya untuk melihat lebih jauh.
Mereka dibawa ke sebuah ruangan kerja yang mana di sana berdiri seorang pria dengan rambut dan jenggot memutih.
Dia tanpa basa-basi mempersiapkan pelayannya untuk pergi lalu berkata.
"Di mana barangnya?"
Elric merogoh sakunya untuk menunjukan cincin tersebut.
"Aku akan memberikannya setelah menjawab beberapa hal dulu?"
"Apa kau ingin tahu kenapa aku menginginkannya dan juga mempekerjakan penyihir?"
Elric mengangguk mengiyakan, penyihir bagaimanpun adalah makhluk mengerikan yang terobsesi dengan membunuh, jika bangsawan melakukan sejauh ini tanpa memikirkan nama baiknya akan tercoreng, pasti ada yang jauh lebih penting dari itu semua.
Elric membuka mulutnya.
"Sederhana saja, kenapa kau menginginkan cincin ini?"
__ADS_1
"Cincin itu bisa membuat pemakaiannya bisa menggunakan sihir apapun, dengan itu aku bisa menjadi penguasa mutlak dan mengambil kerajaan ini."
"Darimana kau mengetahui tentang cincin ini."
"Tentu saja dari buku ini, aku tanpa sengaja menemukan catatan soal cincin tersebut... karena aku bangsawan aku perlu cara untuk mengambilnya dengan mudah, tadinya aku ingin membunuh penduduk desa itu, sayangnya desa tersebut termasuk wilayahku juga, jika aku melakukannya aku tidak bisa punya kesempatan untuk bertemu raja jika sesuatu insiden terjadi di wilayahku."
"Jadi begitu."
"Karena kau sudah tahu, cepat berikan cincinnya?"
"Sayang sekali, aku berubah pikiran... cincin ini sangat berbahaya, lebih baik aku hancurkan."
Sebelum Elric menghancurkannya sebuah pedang membelah tubuhnya dari samping hingga dia tumbang, dia mengalihkan pandangan ke arah Anita sayangnya kepalanya juga sudah terpenggal.
Kepala itu berguling ke arah bangsawan lalu dia menginjaknya.
"Dari awal aku sudah tahu bahwa kalian tidak akan menyerahkannya, sekarang kalian matilah di sini hingga menjadi langkah awalku menguasai kerajaan ini.. Malpora."
"Para pasukan penyihir telah mengepung ibukota, saat tuan berhasil masuk ke dalam Istana kami akan langsung menyerang."
"Itu bagus, pastikan jangan membunuh mereka semua... aku akan menjadikan sebagian dari mereka menjadi budakku."
"Baik tuan."
Bangsawan itu berjalan di depan Elric yang hanya bisa menarik nafas kematian, dia mengambil cincin tengkorak yang ada di tangan Elric lalu memasangkannya di jarinya sendiri.
__ADS_1
"Biar aku beritahu satu hal. Aku juga seorang penyihir, namaku Highway, penyihir dosa kemalasan... karena aku malas bertindak secara terang-terangan, aku lebih suka mempergunakan banyak orang."
"Kau?"
"Selamat tinggal."
Dengan sekali injakan, kepala Elric hancur.
Darah bercampur cairan otak mengalir memenuhi lantai dan satu mata Elric menggelinding ke dekat tubuh Anita yang tak bergerak.
"Mari pergi, ada kerajaan yang harus kita ambil alih."
"Baik tuan."
Setelah beberapa menit kepergian mereka, tubuh Elric maupun Anita kembali memutar waktu, darah dan daging mereka terbang ke tubuh utama lalu menyusun dirinya sedia kala.
"Aku tidak merasakan kemunculannya, wanita itu sangat kuat."
"Sepertinya begitu, tapi kenapa penyihir kemalasan tidak mengenalimu?"
"Kurasa dia tidak menyangka aku masih hidup dan berada di dekatnya lagipula penyihir dosa yang sekarang merupakan penyihir dosa generasi kedua."
Dewi Venus mengetuk jendela hingga Elric berjalan untuk membukanya.
"Semua kesatria sudah siap, kita bisa pergi sekarang."
__ADS_1
"Dengan menyusuri aliran sungai kita bisa lebih dulu sampai dibanding mereka semua," ucap Elric mengepalkan tinjunya lalu melanjutkan dengan pandangan penuh keyakinan.
"Akan kutunjukan kengerian saat mereka harus berhadapan dengan orang yang selangkah lebih maju dari mereka."